
"Eh katanya mau nyari Shita?, ngga jadi nih?." Tanya Zarine.
-
-
-
-
-
"Kalian beneran mau ikut?." Tanya Raina.
"Kenapa engga?, kan sambil keliling desa." Kata Akifa.
"Ayo kalo gitu." Ajak Raina.
Raina memimpin jalan.
Mereka semua melewati sungai dan sawah.
"Sungainya jernih banget Kak." Kagum Abdiel.
"Orang desa Singo Joyo ini memang terkenal kebersihannya, di desa ini ngga ada yang buang sampah ke sungai atau pun di tempat-tempat terlarang, jika ada yang melakukan pelanggaran, maka harus bayar denda dan membersihkan tempat yang di buangi sampah." Jelas Raina.
"Ketat bat yak." Kata Akifa.
"Kepala desa sini sangat menjaga kebersihan memang, udah 2 periode, dan kayanya pilihan selanjutnya anaknya yang akan mencalonkan diri." Jelas Raina.
"Kita besok ke B29 nya berapa jam kira-kira dari sini?." Tanya Bang Idan.
"Berapa jam?, hahaha, ngga sampe berjam-jam kok, 45 menit aja udah nyampe." Jawab Raina.
"Deket banget." Kata Abhi.
"Itu kalo naik kendaraan, kalo jalan kaki ya lama, 1 setengah jam an ada." Imbuh Raina.
20 menit berjalan.
Mereka pun sampai di depan rumah seseorang.
"Ini rumah siapa Kak?." Tanya Zarine.
"Ini rumahnya Panji temennya Shita." Jawab Raina.
Raina masuk ke dalam rumah langsung tanpa mengetuk.
Karena pintu rumah terbuka lebar.
Walaupun ngga sopan tapi Raina tak acuh.
"Shita?, ayo pulang." Kata Raina dingin.
Shita sedang duduk di samping tempat tidur menghadap ke arah lelaki yang sedang babak belur ke adaannya.
Shita sedang menyuapi Rendra makan.
Dia menoleh ke arah Raina sejenak.
"Sebentar lagi Kak." Kata Shita.
"Heh Rendra?!, jauhi adik sepupuku." Pinta Raina dengan nada ketus pada Rendra, seseorang yang duduk bersandar di kepala ranjang dengan kondisi penuh luka itu.
Rendra menatap Raina kemudian beralih menatap Shita.
"Ayo tinggal satu suap." Kata Shita yang sudah mau menyuapkan suapan terakhir.
Rendra diam tidak mengatakan apapun.
Membuka mulutnya saja tidak.
"Rendra?, ayo buka mulut." Kata Shita dengan penuh kesabaran dan kelembutan.
Rendra membuka mulut.
Selesai menyuapi, Shita bangun dari duduk, mangambil obat dan memberikannya pada Rendra.
Setelah meminum obat, Shita pamit.
"Aku pulang dulu, jaga kesehatan, berenti berbuat konyol yang akan membuat kamu sakit dan terluka-." Belum selesai ngomong, Raina menarik tangan Shita untuk pulang.
"Assallammu'allaikum." Salam Raina dengan menyeret Shita dan di ikuti lainnya.
"Wa'allaikum sallam." Jawab Rendra, Andi, dan Panji.
Di jalan menuju ke rumah suasana tampak hening.
"Besok kita ke B29, kamu pemandu jalannya." Perintah Raina.
"Iya." Jawab singkat Shita.
Kembali diam dan hening.
Hanya ada suara para tetangga yang menyapa Raina dan lainnya.
Di belakang 6 serangkai, Bang Rafa, Bang Idan dan Tika saling pandang.
Sampai di rumah, mereka semua berkumpul di teras rumah sambil minum teh dan makan pisang goreng anget.
"Ouh ya, bisa jelasin soal tadi malam?." Pinta Tika.
6 serangkai saling tatap.
"Ada apa semalam?." Tanya Raina.
"Mereka ber 6 masuk ke kamar secara bersamaan, Rafka masuk sama Zarine, Akifa sama Abdiel, dan Abhi sama Alfi." Jelas Tika.
"Hah?!, kalian ngapain masuk ke kamar yang sama?." Tanya Raina.
"Ya jelas dong kalo mereka-mereka ini satu kamar, orang mereka udah pada nikah." Jawab Bang Rafa dengan nada pelan.
"Hah?!." Seru Tika dan Raina.
"Ni.. nikah?!." Tanya Tika.
"Gi.. gimana ceritanya?." Tanya Raina.
"Rafka Zarine udah nikah satu tahun lamanya, kalo Akifa Abdiel sama Abhi Alfi baru 6 bulan mereka menikah." Jawab Bang Idan.
"Bisa kasih bukti?." Tanya Tika.
6 serangkai mengeluarkan buku nikahnya masing-masing.
Diam.
Suasana sunyi dan hening.
"Alhandulillah kalo emang kalian ngga berbuat aneh-aneh." Kata Raina yang mengagetkan semua orang yang duduk di teras rumah itu.
__ADS_1
"Kak Raina ngagetin aja sih." Gerutu Tika memukul lengan Raina pelan
"Hehe sory." Cengir Kak Raina.
"Tadinya aku mau suruh kalian pulang kalo berbuat yang engga-engga di sini, ahahaha." Tawa garing Raina.
"Iya sih, siapa aja bakal ngga percaya kalo kita udah nikah, soalnya usia kita tergolong masih muda, bahkan mungkin di mata orang masih anak-anak." Panjang lebar Zarine.
"Siapa aja yang tau kalo kalian udah nikah?." Tanya Shita yang sedari tadi diam.
"Ngga ada orang lagi selain kalian ber 3 ini." Jawan Akifa.
"Dan kita harap kalian ngga akan bilang ke siapa-siapa soal ini." Pinta Alfi.
"Tenang, rahasia kalian aman." Kata Raina yang diangguki Tika dan Shita.
"Emmmm, Shita?." Panggil Zarine.
Shita mengangkat kepalanya.
"Iya?, ada apa?." Ramah Shita menjawab.
"Boleh kami tanya sesuatu sama kamu?." Tanya Zarine hati-hati.
"Boleh, tanya aja." Kata Shita.
"Ehem, siapa cowok tadi?." Tanya Rafka hati-hati.
Shita yang sedang mengetik keyboard labtop berhenti dan mendongakkan kepalanya menatap semua orang yang ada di teras ini.
"Rendra." Jawab Shita.
"Yang mereka tanya ada hubungan apa kamu sama dia?." Jelas Raina.
"Temen." Singkat Shita.
"Temen?, yakin?, bukannya... ." Perkataan Raina menggantung.
Shita diam dan kembali fokus sama labtopnya.
"Maaf kalo kita kepo Ta, soalnya perlakuan kamu ke dia bikin kita bertanya-tanya." Kata Zarine lembut.
Suasana hening.
Sampai... .
"Dia Rendra Anugrah Prasetyo, temen ku sejak masih taman kanak-kanak." Jelas Shita dengan melamun menatap kosong kedepan.
"Aku maklum kalo kalian tanya siapa dia ke aku, apalagi tadi penampilan dia banyak luka." Kata Shita.
"Shita mencintai dia sejak umur 10 tahun, cinta bertepuk sebelah tangan, tapi dengan bodohnya dia masih bertahan." Tambah Raina.
"Haha, udahlah, berhenti nge bahas aku, ngga ada gunanya, mending kita bahas kalian semua aja." Kata Shita.
"Bahas tentang kami apa?." Tanya Zarine.
"Tau dari mana soal B29?." Tanya Shita.
"Di internet kan banyak infonya Dek, ya tau dari sana lah." Jawab Raina.
"Aku ngga tanya Kakak." Sungut Shita.
Semua terkekeh melihat perdebatan antara Raina dan Shita.
"Kita tau B29 dari... Abdiel." Jawab Alfi dengan menunjuk Abdiel.
"Ouh, kenapa kemarin kesininya ngga naik kereta aja?." Tanya Shita.
"Besok kita berangkat malam." Beri tahu Shita.
"Jam?." Tanya Akifa.
"Jam 3 pagi." Jawab Shita.
"Kenapa pagi banget?." Tanya Alfi.
"Sekalian liat matahari terbit disana." Jawab Shita.
"Emmmm, kita ngga jalan-jalan lagi nih?." Tanya Alfi.
"Nanti malam aka kita ke Alun-Alun Kota Lumajang." Jawab Raina.
"Kenapa ngga sekarang?." Tanya Bang Idan.
"Lebih indah kalo malam liatnya." Jawab singkat Shita.
Mereka berbincang banyak hal diteras.
Hingga Raina melihat seseorang mendekat ke arah mereka dan menyapa.
"Hai Ta?." Sapa seorang gadis seumuran Shita.
"Hai juga Tara." Sapa balik Shita dengan senyum yang menurut 6 serangkai serta lainnya senyum terpaksa.
"Wah, ada tamu ya?." Tanya Gadis bernama Tara itu.
"Iya, ini temennya Kak Raina dan para Pacarnya temen Kak Rain." Jawab Shita dengan menekan kata 'Pacarnya'.
"Ouh, datang dari mana?." Tanya Tara yang sedang menatap Rafka saat ini.
"Datang dari Jakarta." Jawab Shita.
"Emmmm, ke sini mau liat B-."
"Tara?!, pulang!!, pagi-pagi udah malah kelayapan!, ayo bantu in Ibu jualan ke pasar." Wanita paruh baya yang ternyata Ibunya Tara, memanggil Tara untuk pulang.
Tara menghampiri Ibunya dengan berlari tanpa berpamitan.
"Yang rajin jualannya Tar! Jangan males!." Seru Shita.
Tara menoleh ke arah Shita dan menatapnya tajam.
Shita menaik turunkan alisnya menggoda Tara.
Tara pun pergi.
"Hati-hati sama dia." Kata Shita.
"Terutama untuk kamu." Tunjuk Shita pada Rafka.
"Iya aku tadi liat pandangan matanya ke kamu Raf." Timpal Raina.
"Dia ganjen gitu ya emang orangnya?." Tanya Akifa.
"Ya gitu deh, kadang sampe buat orang yang nginep di tempatku ngga betah." Jawab Shita.
"Ternyata ada banya ya orang modelan kek Medusa, ngga cuma satu, hahaha." Tawa Akifa.
"Udah ah, ngga baik ngomongik orang." Kata Zarine lembut.
__ADS_1
"Perempuan itu boleh lembut, tapi kalo kelembekan kita ngga akan ada harganya." Ucap Shita menatap Zarine.
"Shita bener." Timpal Alfi.
"Lalu?, apa kabar kamu sendiri sama dia?." Tanya Raina.
Diam.
Shita tak bisa menjawab.
Dia fokus pada labtopnya tak menguhiraukan ucapan Raina.
"Ngga sadar diri." Gumam pelan Raina yang masih bisa didengar Shita.
Suasana kembali hening.
"Ngomong-ngomong, kita tau nama Shita, tapi dia ngga tau nama kita loh." Kata Zarine.
"Hahaha, iya bener, kenalan gih semuanya." Kata Raina.
Shita menyalami teman Kakaknya ini, tapi hanya perempuan yang bersalaman, laki-lakinya hanya berbicara tak berkontak fisik.
Mereka berbincang sampai adzan dzuhur berkumandang.
-
-
-
Malam telah tiba.
Ba'da isya' 6 serangkai, Bang Rafa, Bang Idan, Tika, Raina, dan Shita pergi ke Alun-Alun Kota Lumajang.
Di sana mereka duduk di bangku yang tersedia.
"Indah banget air mancurnya." Kata Alfi.
"Kalian berdua sering kesini?." Tanya Bang Idan.
"Aku lebih suka laptobku dan halusinasiku dari pada disini." Jawab Shita yang maksudnya adalah novel onlinenya.
"Kalo aku lebih suka kasur dari dari pada keramaian seperti ini." Jawab Raina.
"Jadi?." Tanya Bang Rafa.
"Jarang kesini." Jawab kompak Raina dan Shita.
"Eh kita jajan kuy." Ajak Akifa.
"Kamu barusan makan loh Yang." Kata Abdiel.
"Itu kan makan, jajan sama makan beda Yang." Jawab Akifa dengan menyeret tangan Abdiel mengajaknya ke tukang sosis bakar.
Mereka menikmati jajanan di Alun-Alun itu.
Hingga pukul 9 malam mereka pulang.
Sampai di penginapan dan rumah mereka semua masuk kamar dan tidur untuk pergi ke B29 besok.
.
.
.
.
Pukul 02.45 pagi semua penghuni tempat penginapan Shita bangun dan sudah bersiap untuk ke B29.
"Dingin bat yak." Kata Abdiel dengan mengusap lengannya yanh sudah memakai jaket.
"Nanti di sana juga lebih dingin." Sahut Shita dari belakang mereka.
Posisi mereka semua ada di luar sedang menunggu Raina dan Shita.
Setelah menunggu lama, yang di tunggu pun muncul.
"Ayo!, udah siap semuanya?." Tanya Shita.
"Udah!." Jawab 6 serangkai dan lainnya kompak.
"Emmmm, boleh kalo aku yang setirin aja?." Pinta Shita.
"Beneran?." Tanya Bang Rafa.
"Iya, masa bercanda." Kata Shita.
"Terus kita para cowok gunanya apa?." Tanya Bang Idan.
"Kalian nyantai aja duduk, kalo kalian yang setirin jalannya pasti nurut sama GPS, bakal lama nantinya." Jelas Shita.
Para cowok saling pandang.
"Ok kalo gitu." Kata Bang Rafa.
Dia sudah ingin memberikan kunci mobil kepada Shita.
"Tunggu!." Cegah Raina.
"Kenapa Rain?." Tanya Bang Rafa.
"Lebih baik kalo kalian para cowok aja deh yang supirin." Kata Raina dengan senyum garing.
"Lah?, kenapa Kak?." Tanya Abdiel.
"Kalo dia yang supirin ngga jamin seneng deh kalian." Kata Raina.
"Kok gitu?." Tanya Zarine.
"Di kalo nyupirin mobil ugal-ugalan, memang cepet sampe, tapi jantung mau lepas rasanya." Sambung Raina.
6 serangkai dan lainnya menatap Shita.
Yang di tatap malah nyengir tanpa dosa.
-
-
-
-
Bersambung...
Like & komennya ditunggu
Maaf ngga nyambung😢🙏
__ADS_1
Jaga kesehatan selalu readers
Salam sayang dari ViCa😍.