Nikah Muda Karena Perjodohan

Nikah Muda Karena Perjodohan
Seratus sepuluh


__ADS_3

"Astagfirullah hal adzim!!." Seru Roy.


"Halah sok sok Lu Bhi ngomong jijay-jijay, Lo pasti juga punya sifat mesum itu kan, udah deh akui aja." Kata Abdiel sambil menyikut lengan Abhi pelan dan menaik turun kan alis nya memasang wajah jail.


"Gua mesum juga sama bini Gua sendiri, ngga ada ceita nya Gua mesum sama temen, ihhhhh." Abhi bergidik jijik, sambil berjalan menjauh dari Abdiel.


"Deket ama Lu bisa-bisa ikutan gesrek Gua." Kata Roy, dia juga ikut menjauh dari Abdiel.


"Ihhhh." Rafka sudah berlari menjauh dari Abdiel.


"Jahat Lu pada! Awas kalian yak!." Seru Abdiel yang ikut berlari menyusul 3 kawan nya yang lain.


Acara terlaksana dengan lancar dan baik.


Semua orang menikmati suasana kekeluargaan dari acara pernikahan Sari dan Roy.


Nanti sore pukul 15.00 ba'da ashar, resepsi di lakukan di aula hotel milik Roy.


-


-


-


...L A N J U T A N...


...P A R T...


...K E M A R I N . . ....


-


-


-


Acara sudah mau selesai, sekarang sudah pukul 11.00 siang, sebentar lagi dzuhur tiba.


Hanya tinggal beberapa orang yang tinggal di rumah Sari, yang pasti di sana ada 7 serangkai, dan para orang tua lain nya ikut berkumpul semua di sana.


"Ini udah tinggal beberapa orang, kita semua pamit pulang yah Sar." Ucap Zarine mewakili semua orang.


"Eh?! Ngga boleh! Di antara kalian semua ngga ada yang boleh pulang, titik!." Seru Sari yang membuat semua orang tercengang.


"Kenapa ngga boleh pulang Sar?." Tanya Bunda lembut.


"Kalian semua sekalian ikut kita aja ke hotel, saya sudah siapin segala nya buat kalian di sana." Ajak Roy.


"Tapi kita semua ngga ada yang bawa baju ganti." Cetus Mama Tika berbicara.


"Kak Roy juga udah siapin di sana Te, kalian semua tinggal berangkat dari sini." Jelas Sari bersemangat.


"Bener Kak?." Tanya Tika meminta kepastian dari Roy.


"Ya! Sari bener." Singkat Roy sambil mengangguk kan kepala nya sekali.


"Siapa yang nyiapin?." Tanya Mama Rafka mimta detail nya.


"Sekretaris Kak Roy yang namanya Kak Sati yang nyiapin." Jawaban Sari ikut mendetail, dia tau memang jawaban seperti itu yang di ingin kan Mama Rafka.


Lalu, Mama Papa Rafka dan lain nya saling pandang meminta pendapat.


"Ayo dong... ini kan pengantin nya yang minta, please semua nya, ayo ikut ke hotel langsung." Pinta Sari sambil mengatup kan ke dua tangan nya memohon.


'Khemmm... Huufffh.' Helaan nafas pasrah terdenhar dari keluarga Rafka Zarine.


"Ok kita ikut!." Putus Papa Rafka.


"Ahhh!!! Makasih Om Tante semua nya, makasih!." Jerit Sari bahagia.


"Kalo gitu ayo kita cus ke hotel!." Seru Papa Sari.


"Ayo!." Jawab Sari bahagia.


Para muda-muda jalan terlebih dahulu menuju parkiran mobil tadi pagi.


"Girl's nanti kita kumpul di kamar aku yah, aku tunggu, Kak Rain juga harus ikut!." Pinta Sari pada para sahabat nya ini.


"Emang ngga papa kalo kita ke kamar kamu sama Roy?." Tanya Kak Rain yang sedari tadi diam mendengar kan.


"Ngga papa lah, ngapain juga dia marah." Kata Sari ringan tanpa beban.


"Yaa siapa tau aja dia pengen punya watu berdua sama kamu?." Terka Zarine.


"Aku ama dia udah hampir tiap hari bareng, aku juga pengen bareng sama sahabat-sahabat ku, emang ngga boleh?, emmm... ngomong-ngomong sahabat... aku ini sahabat kalian kan?." Tanya Sari ragu.


Zarine, Akifa. Alfi, Tika juga Kak Rain saling pandang lalu melempar senyum ke arah Sari yang sedang menanti jawaban.


"Menurut kamu, kita ini gimana?." Tanya Akifa.


"Menurut ku... kita... sa... ha... bat, maaf kalo aku terlalu percaya diri menganggap bahwa kita saha-." Omongan Sari tak berlanjut alias terpotong, karena perbuatan 4 wanita yang ada di sebelah kanan kiri nya.


'Grep!.' Tiba-tiba mereka memeluk Sari erat.


"Yaaa! Tentu saja kita sahabat!." Seru Zarine, Akifa, Alfi, Tika, juga Kak Rain.


"Aaahhhh!! Makasih! Aku serasa mau nangis." Haru Sari.


"Jangan nangis dong... luntur nanti make up kamu, cup... cup... jangan nangis sayang." Kak Rain menenang kan Sari bak menenangkan balita yang menangis.


Mereka kembali berpelukan dan tertawa cukuo keras.


"Yuuuhuuuu!!! Ada apa tuh? Kenapa peluk-peluk gitu? Kalian mau jadi lesbian yak? Hahahaha." Ejek Abdiel yang langsung mendapat tatapan tajam dari 6 wanita yang tengah berpeluk kan itu.


"Mam**s Lo!." Ejek Bang Rafka berbisik tepat di telinga kanan Abdiel.


"Makan tuh lesbian." Giliran Abhi sekarang yang mengejek.


"Siap-siap tidur di luar Abdiel." Kata Roy sambil cekikikan.


"Sinar leser menembus mata ku!! Tidak!!." Bang Rafa dan Bang Idan menirukan gaya sinetron dengan berbisik lirih di telinga nya.


"Hehehe... becanda Yang." Kata Abdiel sambil menunjuk kan jari telunjuk dan tengah nya membentuk huruf V tanda perdamaian.


Para wanita itu pun tak lagi menghirau kan Abdiel.


"Huhhh... ." Abdiel menghembus kan nafas lega.


"Hahahaha!!." Tawa Orang-orang yang menggoda Abdiel tadi pecah, walau dengan suara pelan.


Mereka menertawa kan Abdiel yang konyol mananggapi ekspresi para wanita tadi.


"Dasar durjana Lu pada, bukan nya di tolong malah di ketawa in." Sungut Abdiel jengkel.


"Salah sendiri, ngapain Lo ganggu macan betina tidur? Untung bangun nya ngga terlalu parah, kalo sampe di keroyok ama mereka, Lo bakal kena juga dari kita, ya ngga? Gua bener ngga?." Bang Idan meminta persetujuan.


"Banar banget!." Seru lain nya menanggapi.


"Haduh udah lah, jangan mojokin Gua mulu, nanti kita ngumpul di hotel kuy." Ajak Abdiel.


"Males! Gua mau dua-dua an sama istri." Jawab cepat Roy yang di angguki oleh Rafka juga lain nya.


"Gau yakin mereka juga bakal ngumpul sendiri dan kalian pasti ngga boleh ikut, kalo berubah pikiran Gua tunggu in kok tenang aja." Percaya diri Abdiel yang setinggi langit tak membuat nya jatuh sedikit pun.


"Iya in dah biar cepet." Cetus Bang Idan.


"Yeee... di bilangin juga, nanti juga bakal berubah pikiran, Gua tunggu in kok tenang." Abdiel masih keukeuh.


Para perempuan tiba-tiba berhenti berjalan lalu berbalik menghadap ke arah pria yang menatap mereka dengan polos nya.


"Kalian para cowok? Nanti sampe hotel kita bakal ngumpul di kamar aku sama Kak Roy, kalian ngumpul di kamar Rafka Zarine aja ya." Pinta Sari yang spontan mendapat angguk kan dari para pria.


"Makasih pengertian nya." Ucap Tika tulus lalu melanjut kan berjalan ke arah mobil dengan wajah bahagia.


"Tuh kan Gua bener, ahhh!! Gua bener!." Seru Abdiel girang.


"Lo janji an kan sama mereka?." Tanya Rafka sambil menyatu kan alis nya yang tebal itu.

__ADS_1


"Idih? Apa untung nya? Jangan ngarang Lo pada! Ngga ada hubungan nya sama Gua!." Abdiel membela diri, memang benar, dia tak melakukan apa pun.


Semua orang menaiki mobil dan kendaraan roda empat itu pun meluncur meninggal kan rumah Sari menuju ke hotel tempat acara resepsi pernikahan Sari dan Roy yang akan di gelar nanti pukul 15.00 ba'da ashar.


Di perjalanan, dalam mobil Rafka Zarine.


"Yang? Kamu nanti jangan ikut sama Sari ya, di kamar aja sama aku." Pinta Rafka manja pada istri nya.


"Ngga mau! Aku mau nya ngumpul sama Sari dan lain nya, lagi an kita udah tiap hari bareng Yang, kamu kan juga jarang ketemu sama Kak Rot tuh, ngobrol aja sama dia juga lain nya." Kata Zarine penjang lebar.


"Tapi aku mau nya sama kamu doang Yang, berdua hanya aada aku dan kamu doang." Gumam Rafka yang masih bisa di denger Zarine walau samar.


"Malem nanti kan bisa? Kita nanti pulang ba'da isya' sampe rumah aku milik kamu, hanya kamu." Zarine menekan kata 'Hanya kamu' pada Rafka.


"Berarti boleh dong nanti aku minta jatah?." Tanya Rafka senang, menampil kan binar bahagia di mata nya, dengan sesekali melirik ke arah Zarin sang istri.


"Untuk yang satu itu, aku ngga bisa kasih, maaf sayang ku." Ucap Zarine sambil di iringi senyuman yang mania merekah.


"Padahal aku udab berharap banget loh." Lesu Rafka berbicara.


"Sabar Yang, nanti kalo udah di bolehin sama Dokte Lexa kita bakal kaya gitu." Jelas Zarine menenang kan Rafka.


"Aku bakal ingat janji-janji kamu ini, awas aja kalo sampe ingkar!." Ancam Rafka sengit.


"Emang kenapa kalo aku ingkar? Kamu mau nagpain emang nya Raf?." Goda Zarine pada Rafka.


"Kalo kamu ingkar, aku kasih hukuman." Tegas Rafka menjawab.


"Uh... hukumam apa tuh kalo boleh tau?." Tanya Zarine makin gencar menggoda.


"Ngga aku ijinin kamu keluar dari pintu kamar selangkah pun, jangan kan keluar kamar, turun ranjang pun ngga akan aku biarin." Kata Rafka dengan seringai jahat nya.


"Kyaaa!! Rafka kamu menakut kan!." Seru Zarine sambil memejamkan mata nya erat.


"Hahahaha... boong Yang, gitu aja udah takut, apa lagi kalo sampe beneran, nangis mungkin kamu." Ledek Rafka.


"Rafka keterlaluan!." Sungut Zarine.


"Becanda Yang, maafin yak, hehehe." Ucap Rafka sambil terkekeh pelan.


Rafka melihat sang istri mengericut kan bibir nya ke depan, Rafka gemas dengan raut muka Zarine.


"Jangan di kerucutin gitu ah bibir nya, minta di cium yah? Wah wah istri aku pinter banget sekarang goda suami nya ya, kalo aja lagi ngga di mobil udah aku cium tuh bibir." Kata Rafka sambil mendekat kan wajah nya ke wajah sang istri tapi masih pandangan ke arah depan.


"Rafka! Udah fokus aja sama jalan nya!." Zarine mendelik kan mata nya lebar pada suami tercinta nya.


"Ok ok." Dia pun tak lagi menggoda istri nya itu dan fokus pada jalan di depan nya.


Tepat saat adzan dzuhur mobil rombongan Sari dan Roy tiba di hotel milik Roy.


Setelah memarkir kan mobil mereka langsung menuju ke kamar dengan bantu an Roy tentu nya.


"Sebaik nya kalian para perempuan yang yadi berencana kumpul, mending ngga usah yah, habis sholat kita bakal makan siang lalu tidur!." Tegas Abhi.


"Ahhhhhhh... ngga mau! Kita bakal tetep mau kumpul!." Keukeuh Alfi dengan wajah memelas nya.


"Ayo dong... kalian para laki-laki ngumpul juga, kita nanti satu ruangan deh, tapi beda tempat, kita di atas ranjang, kalian di depan tv." Tawar Sari memohon.


"Engga!." Kompak Rafka, Abhi, dan Abdiel.


"Kalian bakal ngantuk nanti kalo ngga tidur siang pas acara resepsi, apa lagi pengantin nya, butuh istirahat total biar stamina buat sore dan nanti malem." Jelas Bang Idan yang sangat ambigu di pendengaran Sari.


"Stamina?." Beo Sari.


"Udah keputusan udah di ambil dan tidak bisa di ganggu gugat! Kita sholat, makan siang, habis itu tidur!." Giliran Bang Rafa yang bersabda😂.


"Ok! Terserah!." Seru Sari, Akifa, Alfi, juga Tika pasrah.


Para perempuan masuk dalam kamar dan menutup pintu bersamaan tapi tida dengan suara keras.


Pasangan muda-muda ini berdebat di depan pintu kamar, para orang tua tak mau ikut campur dan memilih masuk lebih dulu ke dalam kamar.


"Haduh... ngambek dah nih, bisa di tebak dah nih." Cetus Roy.


"Kalo bini kita yang ngambek ngancem nya ngga bakal macem-macem, kalo Sari yang ngambek semoga aja ngancem nya ngga nunda malam pertama, hahaha... bye guys!." Pamit Abdiel dan dia masuk menyusul Akifa ke dalam kamar.


"Hemmm... mamam tuh gagal malam pertama." Ejek Bang Rafa.


"Gagal buka segel kaya nya malam ini." Datar Abhi berbicara tepat di telinga kanan Roy.


"Uhuyyy... Mas Roy kalo gagal main solo aja di kamar mandi bareng sabun, hahaha... ." Tawa Rafka meledek teman nya yang satu ini.


Mereka yang menggoda Roy sudah masuk dalam kamar dan hanya tersisa Roy sendiri di luar.


"Dasar ngga ada akhlak kalian senua!!." Jerit Roy lumayan keras, hingga di dalam kamar terdengar samar-samar.


"Hehehehe... ." Rafka yang mendengar teriakan itu hanya terkekeh pelan.


Lalu Rafka masuk lebih dalam ke kamar hotel yang di sedia kan oleh Roy.


"Luas juga." Gumam Rafka memuji.


Dia sadar di sana tidak mendapati Zarine sang istri tercinta.


"Yang? Where are you?." Tanya Rafka sedikit berteriak.


Dia diam sejenak, lalu dia mendengar suara gemericik air di kamar mandi.


"Mandi ternyata." Ucap Rafka pelan.


Rafka membuka lemari yang ada di kamar itu, berniat mengecek apa benar Roy telah menyiap kan kebutuhan sandang nya dan Zarine.


"Udah ada, lengkap juga, emang pengetian si Roy." Cetus Rafka berkomentar.


10 menit berlalu, Zarine keluar dari dalam kamar mandi hanya mengguna kan jubah mandi yang hanya sampai menutupi paha mulus nya, rambut basah dan membawa handuk kecil di tangan nya.


Zarine tak sadar bahwa ada Rafka di sana, tadi dia tidak mendengar teriak kan Rafka saat memanggil.


Rafka terpesona dengan penampilan segar Zarine.


Dia sudah menelan ludah kasar dan susah payah, jantung dia sudah dag dig dug tak menentu, nafas nya pun sudah memburu.


Sesuatu di bawah mendesak minta keluar, dia menegang dan mambuat Rafka kelimpungan.


'Tahan Rafka... tahan... .' Batin Rafka bersuara, dia memejam kan mata nya erat lalu menarik nafas dalam-dalam dan mengeluar kan nya perlahan.


Saat Zarine akan membuka jubah nya, Rafka sesegera mungkin beranjak dari tepi ranjang tempat dia duduk, lalu memeluk Zarine dari belakang.


"Jangan di buka." Kata nya dengan suara parau.


Gairah nya sudah naik ubun-ubun, kepala nya mendadak pusing, mungkin karena menahan gairah yang tak bisa di salur kan.


"Yang? Kamu mulai dari kapan ada di sini?." Tanya Zarine sedikit terkejut.


"... ." Rafka tak menjawab, dia sibuk menghirup dalam-dalam aroma wangi menenang kan milik Zarine.


"Yang?." Panggil Zarine karena dia masih tak mendapat jawaban.


"Udah dari tadi kamu di kamar mandi aku masuk ke kamar." Jelas Rafka dengan suara serak nya.


"Kamu mandi gih sana, bawah kamu tegang loh." Suruh Zarine pada suami nya ini.


"Kamu kerasa?." Tanya Rafka lembut.


"Iya lah Raf, itu nya kamu nempel di... haahh gitu lah pokok nya sana mandi, tenangin adik kecil kamu dulu." Perintah Zarine sambil mendorong suami nya menjauh dari tubuh nya.


Pasal nya Rafka mulai nakal, dia menyibak jubah mandi yang di pake Zarine hingga memperlihat kan pundak yang putih mulus tanpa cela milik istri nya ini.


"Kamu mau bantu in adik aku tenang ngga?." Tanya Rafka menampil kan wajah polos tanpa dosa.


Zarine yang di tanya seperti itu langsung menunduk malu, pipi nya sudah bersemu merah.


"Sana masuk kamar mandi!." Perintah Zarine tanpa menjawab pertanyaan Rafka yang membuat nya malu sendiri.


"Hehehe iya deh iya." Kekeh Rafka menertawa kan tingkah lucu Zarine.


Rafka berlari ke arah kamar mandi, sebelum menutup pintu nya, Rafka berteriak.

__ADS_1


"Yang? Baju ku tolong siapin yah!." Pinta Rafka.


"Ok, udah sana mandi!." Suruh Zarine.


Rafka pun masuk ke dalam kamar mandi.


"Hehehe... maaf ya Yang aku ngga bisa ngasih kamu jatah dulu, nanti kalo kata dokter Lexa dah aman, baru aku bakal kasih." Monolog Zarine di akhiri senyuman manis nya.


Di kamar Roy dan Sari.


2 sejoli yang baru menikah itu sudah sama-sama selesai mandi dan kini bersiap untuk sholat dzuhur.


"Ayo atur shaf nya Yang." Kata Roy mengintruksi.


Sari menurut, walau pun dia sedang mode marajuk karena madalah kumpul-kumpul tadi.


Pukul 12.30 siang, semua orang keluar dari kamar untuk makan siang.


Di restauran tempat duduk antara para orang tua dan para muda-muda.


Di tempat para tua-tua, suasana sangat hangat dan penuh canda tawa.


Berbeda dengan kumpulan para muda-muda, suasana di sini tampak dingin sangat tak bersahabat, para wanita duduk diam fokus dengan makanan nya, para pria yang di acuh kan hanya saling lirik lalu menghembus kan nafas lelah.


Lalu mereka berbicara dengan bahasa telepati se akan-akan mereka paham maksud nya.


'Istri kita masih ngambek.' Kata Abdiel.


'Terus gimana?.' Tanya Rafka.


'Apa kita ijinin aja mereka buat kumpul?.' Tanya Abhi.


'Iya deh bolehin, biar ngga ngambek-ngambek lagi.' Setuju Bang Idan.


Lalu mereka mengangguk kan kepala kompak dan Bang Rafa pun memulai pembicaraan.


"Ehem!." Dehem nya berniat memecah keheningan.


Para perempuan diam tak merespon, mereka fokus makan tak menghirau kan.


Roy berniat turun tangan, dia mengkode rekan-rekan nya.


'Aku aja yang ngomong ke mereka.' Kata nya tanpa suara yang di angguki Rafka juga lain nya.


"Girl's?." Panggil Roy.


"Hmmm... ." Sahut mereka tanpa menoleh melihat Roy, hanya mata nya yang bergerak memandang Roy.


"Kalian boleh ngumpul nanti habis makan siang." Kata Roy dengan terpaksa.


Binar mata bahagia terpancar dari mata para wanita ini.


"Wahhh! Makasih Kak Roy!." Seru Zarine dan Tika bersamaan.


"Kalian nanti para cowok ikut juga, duduk di depan tv aja." Antusias Sari berkata.


"Iya deh." Pasrah para pria sambil tersenyum.


'Senyum ini yang pengen Gua liat dari istri tercinta Gua.' Batin para pria bersamaan tanpa di rencana kan atau merencana kan nya.


Lalu mereka makan dengan penuh suka cita, tanpa ada wajah cemberut atau merajuk lagi.


Selesai makan, sesuai janji tadi, mereka akan berkumpul di kamar Roy dan Sari sang pengantin.


Baru sampai di lift Zarine, Akifa, Alfi, Tika, juga Kak Raina berhenti mendadak.


"Ada apa Yang?." Tanya Rafka pada Zarine.


"Ayo anterin aku ke mobil dulu buat ambil sesuatu." Ajak Zarine.


"Iya ayo kita ke mobil ambil sesuatu dulu, Kak Roy sama Sari ke kamar aja dulu, kita bakal nyusul." Ujar Tika.


"Ambil apa an sih Yang?." Tanya Abdiel pada Akifa.


Lalu Akifa berbisik pelan di telinga Abdiel sang suami.


"Ouhhhh... kita para cowok aja deh yang ambilin, kalian para cewek ke kamar aja." Cetus Abdiel.


"Bener tuh, kalian para cewek ke kamar aja deh." Suruh Rafka, dia juga sudah tau apa yang ingin di ambil oleh Zarine di mobil.


"Iya deh kita ke kamar aja." Kata Alfi.


"Roy? Titip istri-istri kita, jaga in bentaran." Celutuk Bang Rafa.


"Emang kita barang di titipin segala?." Gerutu Kak Raina.


Saat akan melangkah pergi ke parkiran hotel, Zarine kembali memanggil para pria itu.


"Kalian cowok nya?!." Seru Zarine.


"Ada apa Yang?." Tanga Rafka sabar.


"Emmmm... bisa bawa in sesuatu ngga nanti pas ke kamar?." Kata Zarine.


"Kalian mau apa?." Tanya Abhi.


Sontak saja binar bahagia muncul di mata 3 ibu hamil yang suka jajan itu.


"Pizza!." Seru Zarine, Akifa, Alfi bersamaan.


"Buset dah!." Kejut Abdiel di belakang Rafka.


"Kalian yakin? Kalian baru aja makan siang loh." Peringat Abhi.


"Kita bertiga mau itu!." Seru ibu hamil itu kompak.


"Ok ok, kita bakal order bentar lagi, tunggu di kamar ya sayang-sayang ku." Titah Bang Idan dengan senyuman manis nya.


Para pria pergi ke parkiran mobil dan para wanita pergi ke kamar Sari dengan Roy bak bodyguard mengikuti dari belakang.


'Udah kek bodyguard aja Gua, hahaha... .' Batin Roy sambil di iringi tawa yang di tahan, hanya bibir nya yang tercengir lebar.


"Kak Roy kenapa? Kok senyum-senyum sendiri sih?." Tanya Tika dengan ekspresi aneh.


"Ngga papa ayo lanjut jalan." Singkat Roy dengan menghenti kan senyum nya.


-


-


-


-


-


Bersambung... .


Like & komennya ditunggu ya guys... .


Maaf ngga nyambung😢🙏.


Maaf kalo garing😢🙏.


Maaf typo di mana-mana🙏😢.


Maaf banget kalo makin hari ceritaku makin ngga menarik.


Maaf cerita nya membosan kan😢.


Maaf gantung cerita nya😂.


Di lanjut besok ya readers😂.


Jangan marah karena di gantung yak guys😂.


Saya penulis yang masih pemula dan amatiran mohon memahami nya😊.

__ADS_1


Jaga kesehatan selalu readers.


Salam sayang dari ViCa😍.


__ADS_2