
SEBELUM LANJUT BACA, TOLONG BACA YANG DI BAWAH INI.
MINTA MAAF BANGET SAMA KALIAN SEMUA KARENA CERITA KU MAKIN HARI MAKIN NGACO DAN NGGA NYAMBUNG, TERUTAMA MEMBOSAN KAN, AUTHOR MINTA MAAF YANG SEBESAR-BESAR NYA🙏🙏.
******************************
-
-
6 serangkai juga melakukan itu, tak lupa pula mereka menghubungi Bang Rafa Kak Rain, mereka tak menghubungi Bang Idan Tika karena di London ini masih dini hari, pasti mereka masih tidur.
Lebaran kali ini Zarine, Akifa, Alfi di liputi tangis lagi, mereka mengingat para tetuah. Tadi setelah mengucap maaf maafan Rafka, Abdiel, Abhi pergi ke makam para tetuah tanpa mengajak para wanita.
Di rumah kediaman Fathan, 3 bumil sedang asik sarapan, walau pun sedang sedih tapi tetap masalah perut nomer satu, mereka tak mau Baby ikutan lapar dan berakibat berbahaya nanti bagi Baby.
-
-
-
...L A N J U T A N...
...P A R T...
...K E M A R I N . . ....
-
-
-
Waktu bergulir dengan indah dan sangat bahagia.
Lebaran kali ini kebahagiaan dan kesedihan bercampur jadi satu di dalam hati 6 serangkai.
Pukul 19.00 kediaman Fathan.
6 serangkai kembali menghubungi Bang Rafa Kak Rain, juga Bang Idan Tika.
Mereka melakukan tradisi maaf memaaf kan sebelum berbincang hal lain.
"Kalian tadi ke makam para tetuah kan?." Tanya Bang Idan.
"Iya tapi cuma Rafka, Abdiel, Abhi, kita bertiga ngga boleh ikut." Rungut Akifa mengadu pada Bang Idan.
"Ngga baik ibu hamil ke sana." Cetus Abdiel menjawab adu an sang istri tadi pada Bang Idan.
Saat Akifa hendak menyahut lagi ucapan sang suami, Bang Rafa di seberang sana sudah melerai terlebih dahulu perdebatan suami istri ini.
"Udah- udah, kalian nih pagi, siang, sore, malam ribut mulu, debat mulu, pusing denger nya." Kata Bang Rafa di seberang sana.
Akifa yang mendengar perkataan Bang Rafa malah mencebik kan bibir nya kecut.
"Hahaha... udah-udah Fa, jangan di asemin gitu muka nya jelek tau." Ujar Tika menggoda Akifa.
Perkataan dari istri Bang Idan itu di tanggapi dengan putaran bola mata malas oleh Akifa.
"Abang-abang ini kapan kira-kira pulang nya?." Tanya Zarine.
"Belum bisa di tentu in kapan Za, perusahaan ku kritis banget, ini kita berjuang buat bangkit lagi." Jawab Bang Idan yang di iya kan oleh Bang Rafa.
"Kalian ngurus Cafe sama perusahaan di sana gimana? Lancar kan?." Tanya Bang Rafa.
"Alhamdulillah lancar Bang, Asisten kita semua bantu in juga, kalo engga udah pasti kuwalahan kita dan mungkin aja tiap hari lembur." Jawab Rafka panjang lebar.
Perbincangan terus berlanjut hingga waktu menginjak larut malam, panggilan pun di mati kan dan 6 serangkai tidur untuk mengistirahat kan tubuh lelah mereka.
Hari-hari terus berjalan tanpa mau menunggu dan berhenti.
Bulan demi bulan terus di lewati 6 serangkai dengan bahagia dan kesedihan pula, karena 2 hal itu bersandingan, jika bahagia pasti akan mengalami kesedihan juga.
Tak terasa waktu persalinan Zarine sudah dekat, dokter Lexa mengatakan bahwa prediksi waktu Zarine melahir kan adalah di minggu-minggu ini, dan prediksi itu membuat Rafka was-was, dia sampai tak berangkat ke kantor dan lebih memilih bekerja di rumah.
Malam hari tanggal 11 Sep pukul 23.00 malam di kamar Rafka Zarine.
Zarine masih membuka mata nya lebar-lebar, dia tak dapat memejam kan mata nya di karena kan perut nya yang mulas.
"Yang?." Panggil Zarine lembut di telinga Rafka.
"Hmmm? Ada apa?." Tanya Rafka dengan suara serak nya khas orang bangun tidur.
Rafka mengerjap kan mata nya dan menoleh ke arah Zarine.
"Loh? Kamu belum tidur?." Tanya Rafka yang mendapati sang istri tersenyum dengan sangat manis nya.
"Aku ngga bisa tidur." Jawab Zarine pelan.
"Kenapa?." Tanya Rafka begitu lembut dan penuh ke sabaran.
"Perutku mulas." Jawab jujur Zarine dengan sesekali meringis.
"Ayo kita ke RS sekarang, perkiraan dokter Lexa persalinan kamu kan minggu-minggu ini, ayo kita ke RS." Ajak Rafka dengan raut muka cemas dan khawatir.
Jantung Rafka berdetak 2 kali lebih cepat dari biasa nya, Rafka gugup karena sebentar lagi dia akan menjadi Daddy.
Rafka segera berlari ke kamar mandi untuk mencuci muka menyegar kan wajah nya.
Beberapa menit kemudian, Rafka kembali, dia pamit hendak menyiap kan mobil terlebig dahulu, dia juga membangun oara ART untuk membantu sang istri berjalan masuk ke dalam mobil.
"Tuan muda? Apa kami boleh ikut?." Tanya ART yang suda memasuk kan Zarine ke dalam mobil dan kini tengah menyerah kan perlengkapan persalinan Zarine ke tangan Rafka.
"Bibi jaga rumah aja dan berdoa semoga persalinan istri saya lancar." Ucap Rafka meminta doa pada ART nya.
"Iya Tuan, kami akan mendoa kan Nona Zarine." Balas para ART itu kompak.
"Kalo gitu kami pergi dulu assallammu'allaikum." Salam Rafka dan tanpa menunggu jawaban dia masuk ke dalam mobil duduk di balik kemudi.
"Wa'allaikum sallam, hati-hati Tuan!." Pesan para ART.
Mobil pun melaju meninggal kan pekarangan rumah keluarga Fathan.
"Ya Allah perut ku." Keluh Zarine menahan sakit.
"Sabar ya Yang, bentar lagi kita akan sampai, tahan dulu." Ujar Rafka menenang kan sang istri.
Jam menunjuk kan hampir tengah malam, jalanan sepi jadi Rafka bisa sedikit ngebut agar sampai di RS tepat waktu.
Beberapa menit perjalanan, mobil Rafka berhenti di depan pintu RS, dia segera memanggil perawat agar membantu istri nya ke ruang persalinan.
Rafka segera menghubungi dokter Lexa untuk memberi tau beliau bahwa Zarine akan segera melahir kan, kata perawat tadi pembukaan sudah sampai 7.
Segera dokter Lexa meluncur ke rumah sakit untuk membantu sang pasien bersalin.
Tepat dokter Lexa masuk ke ruang bersalin pembukaan Zarine sudab 10 yang aryi nya sudah siap untuk melahir kan.
Dokter Lexa menyuruh Rafka sang suami untuk mendampingi Zarine.
Zarine sudah mulai mengejan di bantu dengan instruksi dari dokter Lexa.
"Ahhhkkk!!! Bunda!!!." Teriak Zarine menggemah memanggil nama sang Bunda, dan... .
'Oek... oek... oek... .' Suara tangisan bayi menggemah indah di ruangan bersalin dan di telinga Rafka Zarine.
"Selamat yah Rafka, Zarine anak kalian yang pertama Laki-laki." Ucap Dokter Lexa seneng, di raut muka Zarine yang lelah pun juga demikian, kebahagian, dan haru bercampur jadi satu.
Dokter Lexa menyerah kan sang Baby pada perawat untuk di bersih kan.
__ADS_1
Zarine kembali merasa kan mulas yang sangat hebat, dia akan kembali melahir kan anak nya yang ke dua.
"Lakukan seperti tadi ya Zarine." Dokter Lexa kembali memberi arahan.
Rafka yang melihat sang istri berjuang untuk Baby twins nya itu ikut meringis saat Zarine berteriak.
Dan setelah berjuang cukup lama, tangisan Baby ke dua terdengar di sana.
"Alhamdulillah." Ucap semua orang di sana lega.
"Zarine, anak kamu perempuan, cantik banget, selamat yah, Baby nya twins dan laki-laki perempuan." Kata dokter Lexa bahagia.
Hari ini tanggal 12 September pukul 00.20 menit Baby twins Rafka Zarine telah lahir ke dunia dengan jenis kelamin Laki-laki perempuan.
Zarine yang kelelahan hanya mengangguk kan kepala dan di detik kemudian dia menutup mata nya entah tidur atau pingsan.
"Dokter? Istri saya kenapa?." Tanya Rafka panik.
"Tenang Raf, Zarine hanya tidur, dia kelelahan tenang lah, sekarang, kamu adzan kan anak-anak kamu gih." Titah dokter Lexa pada Daddy baru itu.
Rafka mengumandang kan adzan di telinga baby twins nya secara bergantian.
Setelah itu Rafka memberi kan nya pada sang perawat lagi agar Baby di letak kan di ruang bayi.
Zarine di pindah kan ke ruang rawat inap VVIP RS atas permintaan Rafka tentu nya.
"Dok? Apa boleh kalo Baby nya di dekat kan sama kami di sini?." Tanya Rafka pada dokter Lexa.
"Boleh, nanti biar perawat yang ngurus yah, sebaik nya kamu istirahat juga Raf." Kata Dokter Lexa menyuruh Rafka beristirahat.
Rafka hanya mengangguk kan kepala patuh.
Setelah keluar nya dokter Lexa dari ruangan Zarine, Rafka duduk di sebelah ranjang pesakitan sang istri, memandangi wajah cantik Zarine yang terlelap damai dalam tidur nya.
Jam dinding rumah sakit di ruangan Zarine ini telah menunjuk kan angka 02.00 tepat.
"Makasih udah lahirin 2 permata indah dalam hidup aku, Love You Dear." Ucap Rafka tulus, bibir Rafka menyentuh kening Zarine lembut.
Karena kelelahan juga, Rafka ikut tidur dengan posisi duduk di kursi sambil mengenggam tangan Zarine erat.
Pukul 04.30 pagi Rafka terbangun dari tidur nya, mata nya langsung menatap ke arah Zarine yang sedang mengerjap kan mata nya mencoba bangun.
"Good morning Dear." Ucap lembut Rafka dengan mencium punggung tangan Zarine dan juga kening nya.
"Morning Yang." Balas Zarine dengan suara serak nya khas orang bangun tidur.
Rafka menunai kan sholat subuh sendiri di masjid RS meninggal kan Zarine di kamar dengan ke dua Baby twins.
Beberapa menit kemudian, selesai menunai kan Sholat subuh suara tangis Baby Rafka yang pertama menggemah di seluruh ruang rawat inap VVIP ini, segera Rafka mengangkat Baby yang belum ia beri nama itu ke peluk kan nya untuk menenang kan.
Rafka tadi sudah memanggil perawat untuk membantu Zarine cara menyusui Baby.
Tak lama terdengar suara ketuk kan pintu dan seorang wanita paruh baya datang menghampiri Zarine dan memberi instruksi cara menyusui yang benar.
"Nona? Mau saya bantu cara menyusui ke dua nya?." Tawar sang perawat itu saat mendengar Baby satu nya menangis histeris juga.
"Ouh iya Sus boleh." Kata Zarine meng iya kan.
Dan Baby twins pun menyusu pada Ibu nya dengan lahap, terdapat pancaran kebahagiaan di raut muka Zarine melihat dua malaikat tampan ini.
"Ya sudah Nona, Tuan, saya pamit dulu kalau ada apa-apa hubungi kami lagi." Kata sang perawat undur diri yang langsung mendapat angguk kan dari Rafka Zarine.
Setelah kepergian perawat.
"Uhh lahap banget anak-anak Daddy minum nya, haus banget yah sayang?." Rafka mengajak dua buah hati nya berbicara.
"Iya Daddy kami haus." Balas Zarine meniru kan gaya berbicara anak-anak.
"Yang?." Panggil Rafka lembut.
Zarine yang mendapat panggilan itu menoleh dan menatap manik mata indah Rafka dalam. Terlihat di sana ada pancaran cinta yang amat sangat besar.
"Sama-sama, Love You Too Honey." Balas Zarine lirih, mata nya terpejam merasa kan kecupan Rafka di kening nya itu.
'Oek!!!.' Sedang asik menyalur kan cinta, Baby yang ada dalam pangkuan sebelah kanan menangis dan di pangkuan sebelah kiri pun ikut-ikutan menangis.
"Haduh anak Daddy ngga mau ngalah bentar yah, ya udah iya nih ambil nih Mommy nya." Kata Rafka dengan pura-pura merajuk.
Zarine hanya terkekeh pelan melihat tingkah Rafka itu.
"Yang? Ini twins udah di kasih nama belum?." Tanya Zarine pada sang suami.
"Belum, aku nunggu kamu bangun, takut nya kalau sendiri yang ngasih nama ngga cocok sama kamu, maka nya aku nunggu kamu aja." Jawab Rafka dengan jujur.
Zarine membalas perkataan Rafka dengan senyuman manis lalu mencium pipi nya.
"Ok sekarang mari kita cari nama." Kata Zarine semangat.
"Gimana kalo yang di kanan ini nama nya Damar dan yang kiri Wulan?." Tanya Rafka.
"Bagus, aku suka, terus? Tengah nya apa?." Tanya balik Zarine.
"Damar-Wulan Ansharri Fathan." Sebut Rafka sambil tersenyum bahagia.
"Aku setuju." Balas Zarine dengan ikut tersenyum senang. Lalu Rafka membisik kan ke dua nama itu ke telinga Baby nya ini. Mereka tersenyum se akan benar-benar tau maksud dari sang Ayah.
Setelah kenyang minum ASI dari sang Ibunda Baby Damar-Wulan di ambil oleh seorang perawat untuk di bersih kan.
Pukul 8 pagi kembali Baby Damar-Wulan ada di peluk kan Daddy Mommy nya, di dalam ruangan itu juga ada Dokter Lexa yang datang lebih awal untuk memeriksa keadaan Zarire.
Beliau juga mneginformasi kan bahwa Zarine boleh pulang bezok lusa. Selesai memeriksa keadaan pasien nya ini, Dokter Lexa keluar ruangan dan memeriksa pasien lain.
Sepeninggalan Dokter Lexa.
'Tring... ring... ring... ring... .' Ponsel Rafka di atas meja berdering dan bergetar.
Saat di cek oleh Rafka.
"Astaghfirullah!." Rafka sedikit berteriak pelan sambil menepuk dahi nya pelan.
"Ada apa Yang?." Tanya Zarine khawatir.
"Abhi ama yang lain belum aku beri tahu kalo twins dah lahir Yang." Kata Rafka heboh.
"Ya udah sekarang aja hubungi mereka." Suruh Zarine.
"Ini mereka telepon, kamu aja gih yang angkat, ini pasti Akifa sama Alfi bakal marah sama aku." Kata Rafka sambil menyerah kan ponsel nya ke tangan Zarine.
Zarine mengangguk dan kemudian mengangkat panggilan via video itu.
"Assallammu'allaikum." Salam sapa Zarine lembut.
"Wa'allaikum sallam, Zaaa!!." Pekik Akifa dan Alfi kompak.
"Ada apa?." Tanya Zarine bak orang tanpa dosa.
"Kamu di RS mana? Rafka mana? Bini nya lahiran ngga ngasih kabar, keparat tuh anak, mana dia?!." Seru Akifa jengkel.
"Sory guys, Gua panik maka nya ngga ngasih kabar, maaf banget yah, maaf banget, gini deh, kalian ke RS Cinta Bunda ruang VVIP lihat Baby twins sini." Kata Rafka menyuruh sahabat-sahabat nya datang.
"Ok tunggu kita OTW, Baby Twins?! Tunggu Aunty ya." Seru Akifa lalu cepat-cepat dia mengakhiri panggilan tanpa mengucap salam.
"Dasar, saking seneng nya sampe lupa ngucap salam." Gerutu Rafka pada sahabat nya itu.
Zarine menanggapi hanya dengan kekehan lirih nya.
Lama menunggu ke datangan Abhi dan lain nya yang di tunggu pun datang.
"Assallammu'allaikum." Salam Abhi Alfi, Akifa Abdiel, dan juga Roy Sari.
__ADS_1
"Wa'allaikum sallam, sini masuk." Zarine mempersilah kan 6 tamu itu masuk.
Alfi, Akifa, Sari memberi kan buah tangan mereka pada Rafka dan mengambil Baby Damar. Kini Baby Damar ada di gendongan Akifa.
"Uh lucu banget sih, siapa nih nama nya?." Tanya Akifa mengajak bicara Baby Damar.
"Hai Aunty, nama ku Baby Damar, dan itu yang di gendongan Mommy adik ku, nama nya Wulan." Jawab Zarine meniru kan saura anak kecil.
"Kembar cewek cowok nih cerita nya?." Tanya antusias Sari.
"Iya, alhamdulillah, aku juga ngga nyangka bisa dapet cewek cowok." Balas Zarine dengan senyuman cantik nya.
4 wanita itu kemudian duduk di ranjang pesakitan bercanda bersama Baby Twins.
Di tempat para pria.
"Haduh, kalo udah ketemu gini pasti dah kita di lupain." Keluh Abdiel sambil menepuk dagi nya pelan.
"Dah ah jangan gerutu kaya gitu, kalo mereka denger, habis Lu." Papar Roy.
4 pria itu duduk di sofa yang ada dalam ruang VVIP itu untuk berbincang.
"Raf? Lu udah kabarin Bang Rafa ama Bang Idan belum?." Tanya Abhi.
"Belum, kalo Bang Rafa paling jam segini sibuk, apa lagi Bsng Idan, di sana kan masih malem, entar malem aja dah Gua hubungi, biar ngobrol nya agak panjang." Jawab Rafka yang hanya di jawab angguk kan paham dari para sahabat.
Hari sudah berganti malam, Roy Sari memutus kan pulang ke rumah dan akan kembali lagi besok jika Roy tak sibuk.
Di dalam ruang rawat Zarine. Baida isya' selesai makan malam.
"Raf? Gih hubungin Bang Rafa sama Bang Idan, kasian mereka ngga tau kalo twins udah lahir." Suruh Zarine sang istri.
Rafka mengangguk kan kepala patuh, dia kemudian mengambil ponsel nya yang terletak di atas nakas samping ranjang pesakitan Zarine dan mulai mencari nomor kontak Bang Rafa dan Bang Idan.
Rafka melakukan panggilan via video agar memudah kan mereka melihat Baby Twins.
'Tut... tut... tut... .' Panggilan tersambung.
Sesaat kemudian 'Berdering... .'
"Duh lama amat, mereka dah tidur kali." Kata Akifa.
"Belum, nih pasti mereka lagi nyantai-nyantai aja." Rafka berpikiran positif.
Dan... .
"Halo? Assallammu'allaikum." Salam ke ke empat orang di seberang sana dengan serempak.
"Wa'allaikum sallam." Balas 6 serangkai kompak.
"Ada apa Raf? Ada kabar apa nih?." Tanya Bang Rafa dan Bang Idan bersamaan.
"Wisss kompak bener, janji an?." Ledek Rafka sambil terkekeh pelan.
"Bukan gitu, dari tadi pagi nih jantung Gua deg deg an nya ngga kaya biasa nya, kaya bakal dapet kabar menggempar kan gitu, dan pikiran Gua tuh tertuju ama Zarine doang sedari tadi, maka nya Gua tanya ada kabar apa?." Panjang lebar Bang Rafa menjelas kan.
"Kok Lo sama kaya Gua sih Bang? Gua juga gitu dari tadi pagi." Imbuh Bang Idan cepat.
"Tunggu dulu! Itu... kalian di mana?." Tanya Kak Rain yang melihat dinding putih dan pakaian pasien melekat pada tubuh Zarine.
"Za? Kamu sakit apa?." Pekik Tika histeris.
"Tenang lah wahai Kakak dan Kakak ipar ku, kami mau mengabar kan bahwa keponakan kalian udah lahir nih, cewek cowok, nama nya Damar-Wulan." Beri tahu Rafka semangat.
"Alhamdulillah, sungguh kabar yang indah dan membahagia kan ini Raf." Ujar Bahagia Bang Rafa.
"Wah kalo Zarine udah, berarti 3 minggu lagi giliran Alfi dong?." Tanya Kak Rain ikut semangat.
"Iya Kak In syaa allah, doa kan lancar yah." Balas Alfi dengan menunjuk kan senyum indah nya.
"Aamiin." Ucap Bang Rafa Kak Rain dan Bang Idan Tika kompak.
"Itu lahiran nya jam berapa Raf?." Tanya Tika kepo.
"Dini hari jam 00.20 Baby twins lahir." Jawab cepat Rafka di sertai senyuman bahagia nya.
"Za? Gimana rasa nya mengejan buat keluarin mereka? Sakit ngga?." Tanya Kak Rain sambil meringis pelan, Tika, Akifa, Alfi juga demikian, mereka menatap Zarine dengan meringis seperti ikut merasa kan sakit nya.
Zarine hanya tersenyum simpul menanggapi 4 wanita di depan nya ini.
"Aku ngga mau bilang sakit atau engga, nanti kalian rasa in sendiri aja deh, soal nya rasa sakit nya menurut ku ngga sebanding sama kebahagiaan nya, menurutku lebih banyak kan bahagia nya dari pada sakit nya." Cerita panjang lebar Zarine.
"Kalo denger gini aku jadi ngga sabar nyambut hari itu, pasti bakal membahagia kan banget." Ujar Akifa dengan tangan nya mengelus perut buncit nya itu.
"Maaf banget ya Dek, Abang ngga bisa ke sana jengukin kamu, Abang banyak kerjaan di sini." Ucap Bang Rafa penuh penyesalan di dalam raut wajah tampan nya.
"Bang Idan juga minta maaf sama kalian ngga bisa ke sana, mungkin juga pas Akifa, Alfi lahiran kami ngga bisa ke sana." Ucao Bang Idan tak enak hati.
"Udah kalian fokus dulu aja sama perusahaan yang kalian diri kan, jangan bingung sama kita di sini." Zarine menghibur para Abang-abang yang kini tengah jauh dari mereka di Jakarta Indonesia ini.
"Ya tapi kan seharus nya kita bareng-bareng." Ucap Bang Rafa raut muka nya sedih.
"Bang? Kita emang jauh, tapi jangan berenti soal saling mendoa kan dan jaga kesehatan di rantauan sana." Papar Zarine menenang kan kesedihan Abang-abangnya itu.
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
B E R S A M B U N G . . .
Lanjut besok ya guys😁.
Like & komennya ditunggu ya guys... .
Maaf ngga nyambung😢🙏.
Maaf kalo garing😢🙏.
Maaf typo di mana-mana🙏😢.
Maaf banget kalo makin hari ceritaku makin ngga menarik.
Maaf cerita nya membosan kan😢.
Maaf gantung cerita nya😂.
Di lanjut besok ya readers😂.
Jangan marah karena di gantung yak guys😂.
Saya penulis yang masih pemula dan amatiran mohon memahami nya😊.
Jaga kesehatan selalu readers.
__ADS_1
Salam sayang dari ViCa😍.