Nikah Muda Karena Perjodohan

Nikah Muda Karena Perjodohan
S2 ==> NMKP 233


__ADS_3

SEBELUM LANJUT BACA, TOLONG BACA YANG DI BAWAH INI.


MINTA MAAF BANGET SAMA KALIAN SEMUA KARENA CERITA KU MAKIN HARI MAKIN NGACO DAN NGGA NYAMBUNG, TERUTAMA MEMBOSAN KAN, AUTHOR MINTA MAAF YANG SEBESAR-BESAR NYA🙏🙏.


******************************


-


-


Papa Zaidan mengangguk-angguk kan kepala sambil mengelus dagu nya menimbang-nimbang omongan sang istri.


"Lebih cepat lebih baik sih, ok lah nanti kita bicara in bersama." Ucap setuju Papa Zaidan yang di balas dengan senyuman bahagia semua orang.


-


-


-


...L A N J U T A N...


...P A R T...


...K E M A R I N . . ....


-


-


-


Kita berkunjung ke Ayah dan Ibu Agnez kuy😉.


Di rumah tepat nya dapur.


Ayah Cakra tengah memperhati kan sang istri yang memasak di atas kompor.


Tak ada pembicaraan dari ke dua nya, mereka sibuk dengan kegiatan nya masing-masing.


'Khemmm... huuffhhh... .' Helaan nafas lelah terdengar dari ke dua pasangan paruh baya ini.


"Yah? Ibu kangen jeh sama Agnez." Ucap Ibu Dewi lesu, pandangan nya menoleh pada sang suami yang duduk di kursi belakang nya.


"Nanti sore kan kita jemput genduk ayu Bu, mbok ya seng tenang gitu loh, wong dia juga ndak ke mana-mana, ndak ke luar kota, kita jalan dari sini ke rumah nya Pak Zaidan juga nyampe kok, tenang, seloww." Kata sang Ayah Agnez di bawa santuy.


Asli nya dalam hati Ayah Cakra sangat merindu kan genduk ayu nya, Agnez.


"Huuu Ayah kalo ngomong selow-selow, asli nya dalam hati kangen juga to?." Cibir sang istri yang langsung ngena di hati Ayah Cakra.


"Hais ya jelas lah, ya wajar lah kalo Ayah kangen, tapi kan kita harus sabar, kita bakal ketemu nanti sore." Celutuk Ayah lesu.


Selama Agnez di rumah Mommy Za dan Daddy Rafka, dia juga sering berkirim pesan dan juga telepon, karena memang Agnez juga merindu kan ke dua orang tua nya.


Walau pun di rumah Mommy Za dan Daddy Rafka ramai orang, tetap saja Agnez merindu kan ke dua orang tua nya.


Kembali ke dapur rumah Agnez.


"Eh Yah? Kira-kira yang mau di sampai kan sama Pak Zaidan apa yah? Ibu kepikiran dari semalam loh Yah, takut." Papar Ibu Dewi jujur.


"Berdoa saja Bu semoga ndak ada apa-apa, Ibu ndak boleh dan jangan pernah berpikiran negatif, ndak baik." Nasihat Ayah Cakra pada sang istri.


"Iya Yah, Yah? Ibu mau nya habis sarapan kita ke sana nyusulin si Agnez, kelamaan kalo nunggu sore, ke buru karaten Ibu nunggu nya, udah sana Ayah siap-siap." Perintah Ibu Dewi menyuruh sang suami bersiap hendak ke rumah Mommy Za dan Dadsy Rafka.


"Ck! Dasar Ibu ndak sabaran dan kaya nya memang ndak punya rasa sabar." Celutuk Ayah Cakra dengan suara sedikit keras agar istri nya mendengar.


Walau pun Ayah Cakra mengomel, beliau tetap menuruti kemauan sang istri untuk menyuruh nya mandi.


Ibu Agnez, Bu Dewi tak marah mendengar suami tercinta nya mengomel, wanita paruh yang melahir kan Agnez itu malah terkekeh geli.


Kita ke 8 serangkai.


8 orang itu berhenti di lapangan komplek dan menatap indah nya matahari terbit di sana.


Posisi mereka saat ini adalah menghadap ke timur dengan para pria masih di atas sepeda dan para wanita turun dari sepeda merentang kan ke dua tangan nya menikmati suasana yang begitu indah.


Mata mereka juga terpejam, hembusan angin pagi dan hangat nya sinar matahari membuat para gadis betah tak mau di ajak pindah dari tempat itu.


"Cewek kalo udah ketemu yang kaya gini alamat kagak bakalan mau deh di ajak pulang." Bisik Pamungkas di telinga 3 pria lain nya.


"Udah lah ikutin aja, ngga susah juga kan permintaan nya, terkesan simple dan sederhana." Ujar Damar santai.


Mata nya menatap punggung kecil Kristal yang tengah merentang kan ke dua tangan nya.


Susana hening sesaat sebelum... .


"Aku masih pensaran sama yang di bahas para tetuah ama Kak Rain nih, mana Kak Rain di tanya malah mengalih kan pembicaraan lagi, kepo asli Gua!." Pekik Pamungkas dengan suara pelan nya.


"Ya udah sih berenti cari tau, Kak Rain juga bilang kalo pembicaraan nya sama para tetuah itu bakal menguntung kan buat kita terutama buat para ciwi-ciwi dan kamu tentu aja." Celutuk Damar pelan.


"Huuhhh... kagak bisa tenang Gua Anjir!." Umpat Pamungkas gusar.


"Terserah Lo deh, kalo menurut Gua Lo harus tahan rasa kepo Lo itu, pasti ngga lama lagi Kak Rain bakal bilang semua nya." Jengah Angkasa menyahuti Pamungkas.


Lama mengobrol hanya 4 orang, para gadis menghampiri para pria yang tengah berbicara dengan suara pelan.


"Apa yang kalian omongin?." Tegur Kristal sambil menyipit kan mata nya curiga.


"Kita lagi bahas hal privasi, mau dengar juga?." Tawar Damar santai.


"Engga makasih!." Tolak Kristal spontan tanpa basa-basi.


"Ayo kita kembali berkeliling sekiraran komplek baru nanti pulang." Ujar Damar mengajak yang langsung di iya kan oleh para gadis ini.


8 serangkai kembali mengendarai sepeda dan berjalan keliling.


Saat di perjalanan suasana di sepeda Pamungkas dan Kak Rain.


Dua sejoli ini sedang bersenandung kecil dengan sepeda nya di laju kan dengan seidikit lamban.


"Pamungkas?." Panggil Kak Rain lembut.


"Hm?." Sahut Pamungkas dengan pandangan ke depan memperhati kan jalan.


"Kemarin malam pas aku manggung di Cafe aku ada liat orang aneh duduk di bangku Cafe bagian paling pojok." Cerita Kak Rain mulai mengalir soal semalam pandangan nya.


"Aneh gimana maksud Kak Rain?." Tanya Pamungkas ingin penjelasan lebih lanjut.


'Apa jangan-jangan dia?, Haris sama asisten nya?.' Batin Pamungkas berasumsi.


"Dia tuh liatin aku sama liatin kamu juga yang lain waktu duduk di bangku depan, aku pikir aku salah liat doang, tapi ternyata engga Kas, penglihatan aku ngga salah, dia merhati in kita, tapi aku abai kan aja soal nya dia juga ngga berbuat apa pun." Sambung Kak Rain pada cerita nya.


'Udah ketebak dah.' Cetus Pamungkas yakin bahwa orang yang di maksud kan Kak Rain adalah Haris.


"Ciri-ciri orang yang kata Kak Rain semalam itu gimana? Masih ingat ngga?." Tanya Pamungkas lebih lanjut.


"Iya aku masih ingat! Kaya nya dia se umuran sama kalian gitu, dia seorang pria, tatapan tajam, nyeremin deh, tapi lebih sereman kamu sih kalo lagi berbicara dengan nada dingin, hehe... ." Kata Kak Rain jujur.


Pamungkas yang di kata kan nyeremin pas ngomong pake nada dingin pun terkekeh geli sendiri.


"Masa sih aku nyeremin kalo lagi kaya yang Kak Rain omongin? Perasaan engga deh, biasa aja." Kata Pamungkas tak percaya.


"Ya mungkin bagi kamu sama lain nya biasa aja tapi bagi aku engga biasa, apa lagi aku hampir ngga pernah dapet perkataan dingin." Cerita Kak Rain sambil pandangan nya menatap Pamungkas lekat.


Pamungkas langsung ngerem sepeda nya mendadak.


Kak Rain sampai terkejut dia terpental ke depan.


"Allahu Akbar!." Pekik Kak Rain sedikit keras.


"Ma... maaf Kak Rain maaf." Ucap Pamungkas penuh penyesalan karena telah mengerem sepeda secara mendadak.


"Iya ngga papa, lagian kenapa sih Pamungkas ngerem mendadak kaya gitu?." Tanya Kak Rain.

__ADS_1


"Aku kaget aja sama omongan Kak Rain, beneran aku yang pertama berkata dengan nada dingin ke Kakak?." Tanya Pamungkas menatap Kak Rain dalam.


"Ya kurang lebih seperti itu." Jawab Kak Rain di iringi senyum manis nya.


Pamungkas menatap Kak Rain dengan mata terpancar penyesalan.


"Maaf ya Kak, Pamungkas salah." Ucap Pamungkas sambil menunduk kan kepala nya dalam.


"Ngga papa kok Pamungkas." Ucap Kak Rain sambil mengelus kepala Pamungkas lembut.


Mereka berdua ini tadi ber sepeda nya ada di bagian paling belakang, dan kini mereka tengah berhenti di lokasi tak jauh dari lapangan komplek yang 8 serangkai kunjungi tadi.


Kini Kak Rain dan Pamungkas tertinggal jauh dari 6 orang lain nya.


"Kalo Kak Rain ngga pernah kena omongan yang dingin dan menusuk, kalo kerja gimana? Ngga pernah kena marah kah pas salah atau gimana gitu?." Tanya Pamungkas mendongak kan kepala nya.


"Alhamdulillah aku kalo kerja selalu baik dan ngga pernah buat salah." Cetus Kak Rain tersenyum manis.


"Alhamdulillah." Ucap Pamungkas bersyukur.


"Eh? Kita di tinggal ama lain nya nih Pamungkas, ayo segera goes sepeda nya." Kata Kak Rain dengan pandangan mengarah ke arah depan.


"Udah biarin aja mereka ninggalin kita, aku kan tau jalan pulang nya Kak, jadi tenang aja." Celutuk Pamungkas ringan, seringan dia bernafas.


"Huuuhh iya deh terserah di iya in aja." Pasrah Kak Rain sambil terkikik geli sendiri.


Pamungkas juga sama dia terkekeh sendiri dengan ucapan nya, kemudian Pamungkas kembali menggoes sepeda nya dan menjalan kan nya ke arah rumah Mommy Za dan Daddy Rafka.


"Kita jangan pulang dulu lah, bosen tau di rumah terus." Pinta Kristal memelas.


"Iya bosen di rumah mulu." Sahut Wulan ikut-ikutan.


"Little girl? Kamu mau ke mana?." Tanya Angkasa lembut sambil mencium pucuk kepala Agnez.


"Ini jam berapa to?." Tanya Agnez memandang Angkasa dengan pandangan menggemas kan.


Angkasa menatap jam tangan yanga melingkar di tangan kiri nya.


"Jam 6 kurang 5 menit, kenapa emang?." Tanya Angkasa.


"Nah banyak waktu tuh kita, sarapan nya kita kan pukul 06.30 tuh, masih ada banyak waktu." Antusias Wulan berucap.


"Ke mana mau nya?." Tanya Damar lembut pada gadis nya.


"Muterin komplek aja lagi." Ujar Kristal tanpa dosa.


"Dih?! Capek goes nya Kristal lain nya aja." Damar menolak dengan sangat halus permintaan gadis nya.


Para gadis pun turun dari sepeda.


"Loh? Kenapa turun? Mau apa? Mau kemana? Mau ngapain?." Tanya beruntun para pria secara bersamaan.


"Sekarang kalian turun." Suruh para gadis kecuali Agnez, tanpa menjawab pertanyaan para pria yang beruntun itu.


Tanpa di suruh dua kali para pria turun dari sepeda, kecuali Angkasa.


Setelah turun dari sepeda Wulan dan Kristal naik ke sepeda.


"Loh loh?! Mau kemana?." Tanya Damar dan Albhi.


"Mau keliling komplek sendiri, kata nya kalian capek, ya udah kita sendiri aja." Celutuk Wulan ringan.


'Huufffhh... ." Helaan nafas pasrah terdengar dari hidung Albhi dan Damar.


"Iya deh kalian boleh sepeda an sendiri, kita tunggu di depan rumah Mommy Za dan Daddy Rafka." Ujar Damar pada dua gadis itu.


"Yeayyy." Sorak senang dua gadis itu.


"Ayo Nez." Ajak Wulan yang lupa kalau gadis nya Angkasa itu tak bisa mengendarai sepeda.


Tatapan lesu dan sedih terpancar jelas di mata Agnez.


"Agnez kan ndak bisa goes itu Mbak." Ucap pelan Agnez.


Yang tadi nya Agnez sedih dan lesu, kini senyuman terbit di bibir manis nya.


"Boleh emang Mbak?." Tanya Agnez memasti kan.


"Ya boleh lah, kenapa engga? Ayo naik!." Ajak Wulan.


Agnez mengangguk kan kepala antusias, langkah kaki nya sudah akan mengarah pada Wulan tapi... .


Tiba-tiba tangan Angkasa mencekal tangan kecil Agnez dan kontan saja Agnez terhantul dada bidang Angkasa.


"Aduh! Mas Angkasa apa an sih? Sakit tau dahi nya Agnez!." Seru Agnez tak suka.


"Ayo aku aja yang ajak kamu keliling komplek ini, aku takut kamu jatuh kalo sama Mbak Wulan, ayo naik!." Perintah Angkasa yang tak dapat di bantah.


"Huh!." Dengus Agnez yang tak bisa membantah.


Dia menurut dan kembali naik ke sepeda Angkasa.


"Nah kalo nurut gini kan makin cantik." Cetus Angkasa sambil terkekeh geli melihat mimik wajah Agnez yang cemberut gemas.


Saat akan menjalan kan sepeda, Pamungkas dan Kak Rain datang.


"Loh? Kalian mau ke mana? Ini kok para cewek yang naik sepeda cowok nya mau jalan?." Tanya Kak Rain heran.


"Kita masih mau sepeda an Kak, tapi 2 cowok ini capek kata nya, ya udah deh kita aja yang main mereka nunggu di rumah Mommy Za dan Daddy Rafka." Jelas Wulan panjang.


"Hmmm... gitu toh." Ujar Kak Rain singkat.


"Kak Rain mau ikut?." Tanya Kristal.


Kak Rain menatap ke arah belakang meminta persetujuan dari Pamungkas.


Pamungkas yang tau arti tatapan itu menghembus kan nafas pasrah, kemudian dia tersenyum sambil mengangguk kan kepala meng iya kan.


Wulan, Kristal, dan Agnez yang melihat Pamungkas mengangguk kan kepala tanda setuju tersenyum senang.


"Ayo kalau gitu kita jalan!." Seru Agnez sambil mengepal kan tangan kanan nya dan mengangkat nya ke atas sambil mengayun kan nya ke depan.


Dan itu mengundang senyum gemas dari Wulan, Kristal, dan Kak Rain yang notabe nya gadis bersifat dewasa berbeda dengan Agnez yang masih ke kanak kanak kan.


Maklum aja Agnez ke kanak kanak kan, asli nya Agnez tuh umur nya baru nyentuh 16 bulan di bulan April.


Jadi sifat anak-anak nya masih lengket banget.


Jangan kan Agnez, Author nya juga gitu😂, ke kanak-kanak kan wajar, orang umur nya sama kaya Agnez😭 BoCil donggg😭.


Ehem! Maaf curhat😂, kita lanjut ke cerita.


Wulan, Kristal, Agnez Angkasa, dan Pamungkas Kak Rain kembali bersepeda.


Sampai... .


"Stop!!." Teriak Agnez mendadak yang membuat Angkasa mengerem sepeda nya mendadak di iringi lain nya.


"Little girl? Jangan mendadak, minta maaf sama yang lain, mereka pasti terkejut." Suruh Angkasa lembut.


Agnez nyengir kuda sambil mengangguk kan kepala nya patuh.


Dia pun turun dari sepeda dan meminta maaf karena mengejut kan semua orang.


Wulan dan lain nya memaaf kan dan bertanya, apa yang membuat Agnez sampai meminya berhenti mendadak.


"Agnez mau tanya, ini tanaman beneran atau mainan?." Tanya Agnez yang menunjuk tanaman milik orang di depan rumah nya.


Pandangan Angkasa juga lain nya menatap tanaman yang di tunjuk oleh jari mungil Agnez.


"Kaya bunga mainan deh itu." Jawab Pamungkas.


"Bukan! Itu bunga beneran, liat tuh nempel di tanah, masa bunga mainana di tanam di tanah?." Cetus Kak Rain.

__ADS_1


"Iya juga yah." Balas Pamungkas mengangguk kan kepala membenar kan ucapan gadis nya.


"Eh? Adek-adek? Kalian ada apa ini pada ngumpul di sini?." Tanya sang Tuan pemilik rumah yang baru keluar dari dalam rumah nya ini.


"Ouh! Selamat pagi Tante, maaf menganggu kenyamanan nya pagi-pagi, saya cuma penasaran dengan tanaman punya Tante ini, ini mainan apa nyata ya Te kalau boleh tau?." Sapa Agnez dan langsung bertanya tentang apa yang membuat nya penasaran.


Suara medok Jawa milik Agnez membuat Tante-tante itu tau bahwa Agnez orang Jawa, tapi tak tau Jawa mana.


Suasana di perumahan ini memang sudah agak ramai karena aktifitas semua orang di rumah masing-masing.


Terutama para Ibu-ibu yang sedang berbelanja dan menggosip pagi-pagi di tukang sayur keliling.


Tentu saja Agnez juga lain nya dan Tante-tante pemilik bunga yang di tanyai Agnez menjadi perhatian.


"Bunga ini maksud nya?." Tanya Tante itu sambil mengambil pot bunga yang di susun di rak.


"Ha... iya Te." Agnez mengangguk kan kepala antusias.


"Ini bunga beneran, memang sih tampilan nya kaya bunga mainan, coba pegang biar tau ini nyata atau asli." Kata Tante itu sambil menyodor kan pot bunga itu.


Agnez dengan semangat menyentuh bunga itu, tangan nya merasa kan tesktur dari bunga yang di pegang nya.


"Wah iya asli, hahaha... kira in mainan, soal nya di rumah Ibu punya kaya gini Te, tapi cuma mainan." Agnez berkata dengan sangat polos nya.


"Kamu mau tanaman ini?." Tawar Tante itu dengan senyum manis nya.


"Wah? Boleh kah Tante?." Tanya balik Agnez.


Tante itu mengangguk kan kepala meng iya kan.


Kemudian Agnez berpikir.


"Hmmm... ndak usah deh Te, Agnez ndak hobi tanaman jeh, ini aja cuma mau liat-liat penasaran aja, makasih ya Te tawaran nya hehehe... ." Ucap Agnez sopan menolak pemberian Tante baik hati itu.


"Little girl? Ayo pulang, udah jam 6.10 menit nih, pasti Mama nyari in kita semua." Ajak Angkasa dengan nada lembut.


Agnez menoleh pada Angkasa dan mengangguk kan kepala meng iya kan.


"Te? Saya pergi dulu yah, terima kasih sudah mau jawab pertanyaan saya, permisi, assallammu'allaikum." Salam Agnez.


"Wa'allaikum sallam." Jawab Tante itu dengan senyuman manis nya.


Agnez naik ke sepeda, mereka pun pergi setelah kembali berpamitan pada Tante itu.


Di perjalanan pulang.


"Little girl beneran ngga mau sama tanaman tadi? Kalo mau biar aku beli in." Ujar Angkasa menawari.


"Ndak usah wes Mas, Agnez ndak bisa ngerawat nya, liat bunga mainan nya aja Agnez udah seneng hehehe... ." Tolak Agnez dengan cengiran nya.


"Kalo mau bilang aja nanti aku beli in." Ujar Angkasa yang di angguki oleh Agnez.


Sampai di depan rumah Mommy Za dan Daddy Rafka.


Di trotoar depan, Albhi dan Damar duduk bak orang tak punya rumah berdua di sana.


"Kalian ngapain duduk di sini? Kaya ngga punya rumah aja." Celutuk Kristal sambil menggeleng kan kepala nya heran dengan 2 orang itu.


"Sengaka nunggu kalian di sini, kalo di dalem males." Alasan yang di beri kan Damar tak dapat di terima oleh logika Wulan dan Kristal juga lain nya.


"Ayo masuk! Aku dah laper nih." Ajak Wulan sambil memasuk kan sepeda nya ke halaman rumah Mommy Za dan Daddy Rafka.


Saat sudah berada di halaman rumah Mommy Za dan Daddy Rafka, mata Agnez menangkap sebuah mobil terparkir manis di sana.


"Kaya kenal sama mobil itu." Celutuk Agnez sambil mengusap dagu nya berpikir.


"Ada apa little girl?." Tanya Angkasa.


"Ini loh! Mobil itu, kaya punya Ayah, tapi kan mobil kaya gitu ndak satu, terus Ayah juga ke sini nya masih sore, jadi kaya nya kalo Ayah ke sini kemungkinan kecil." Kaya Agnez dengan menatap Angkasa.


"Udan ayo masuk, aku laper." Ajak Angkasa yang di angguki Agnez.


8 serangkai masuk ke dalam rumah.


"Assallammu'allaikum!!." Teriak mereka bersamaan.


Di ruang makan.


"Wa'allaikum sallam!!." Balas para tetuah dari meja makan.


"Nah tuh anak-anak pada datang, bentar lagi pasti langsung ke sini." Ujar Mama Tika senag.


"Pasti kaget Agnez liat kita di sini." Papar Ibu Agnez sambil tertawa kecil.


"Pasti kalo itu, hehhee... ." Jawab Mama Tika ikutan terkekeh.


Ternyata benar, yang di depan adalah mobil Ayah Agnez, beliau datang ke rumah Mommy Za dan Daddy Rafka hendak menjemput Agnez, bukan hanya menjemput, tapi juga berkenalan dengan orang tau Angkasa dan juga lain nya.


Saat Agnez dan lain nya sampai di pintu meja makan.


"Selamat datang." Sapa para tetuah serempak.


Pandangan mata Agnez langsung mengarah pada Ayah dan Ibu nya, mata nya membulat sempurna dan senyuman bahagia nan lebar langsung muncul di bibir Agnez.


"Ayah? Ibu? Ahh!! Agnez kangen!." Pekik Agnez senang, dia langsung berlari dan menghambur ke peluk kan ke dua orang tua nya itu.


Dengan rasa bahagia juga Ayah Ibu Agnez membalas peluk kan anak gadis semata wayang nya ini.


-


-


-


-


-


-


-


-


-


-


Bersambung... .


Lanjut besok ya readers tersayang ku, tercinta ku, wkwkwk😁.


Like & komennya ditunggu ya guys... .


Maaf ngga nyambung😢🙏.


Maaf kalo garing😢🙏.


Maaf typo di mana-mana🙏😢.


Maaf banget kalo makin hari ceritaku makin ngga menarik.


Maaf cerita nya membosan kan😢.


Maaf gantung cerita nya😂.


Di lanjut besok ya readers😂.


Jangan marah karena di gantung yak guys😂.


Saya penulis yang masih pemula dan amatiran mohon memaklumi kalo banyak kekurangan nya yah🙏😊.


Jaga kesehatan selalu readers.

__ADS_1


Salam sayang dari ViCa😍.


__ADS_2