Nikah Muda Karena Perjodohan

Nikah Muda Karena Perjodohan
Forty-three


__ADS_3

Pagi hari pukul 07.00 di rumah Rafka Zarine tepatnya meja makan suasananya sangat bising.


"Et dah Bang Idan!, itu bakwan Gua ngapa Lo ambil?, dipiring masih ada noh." Kesal Abdiel pada Bang Idan yang main menyomot bakwan miliknya.


"Haduh!!, ini masih pagi, udahlah Yang, kamu ambil aja lagi, nih aku ambilin." Kata Akifa melerai dan mengambilkan Abdiel bakwan lagi di piring.


"Kaya anak balita aja kalian, berantem karena makanan." Sungut Bang Rafa.


"Udah lanjut makan!, kalian bakal sibuk nyiapin buat besok bentar lagi, harus banyak makan biar ngga pingsan." Kata Mami Alfi.


"Lebay banget pake acara pingsan Mi?." Celutuk Alfi.


"Kalo kecapean kan bisa pingsan." Sahut Mama Abhi.


"Iya deh iya." Pasrah 6 serangkai, Bang Rafa, dan Bang Idan.


6 serangkai dan Bang Rafa, Bang Idan, makan dengan masih bertengkar karena saling mengambil makanan dari piring satu ke piring lainnya.


Para orang tua hanya menggelengkan kepala melihat tingkah anak-anak mereka yang seperti bocah itu.


Pukul 08.00 pagi.


Bang Rafa dan Bang Idan meluncur untuk memesan travel.


25 menit perjalanan Bang Rafa dan Bang Idan sampe di rental mobil travel.


Mereka bertemu dengan pemilik rental travel langsung dan terlibat negosiasi disana dengan sang pemilik rental.


Setelah 30 menit bernegoiasi, keputusan pun telah dibuat.


2 mobil travel sudah di sewa.


1 untuk berangkatnya 6 serangkai juga Bang Rafa, Bang Idan, Tika, serta Raina, satu lainnya untuk berangkantanya para orang tua.


Meski berangkatnya masih hari rabu tapi Papa Rafka meminta untuk di sewakan sekalian.


Mobil satunya di bawakan oleh petugas untuk diantar ke kediaman Rafka Zarine, sedangkan satunya lagi dibawa Bang Idan dan Bang Rafa untuk menjemput Tika juga Raina.


Mereka tidak membawa mobil tadi saat pergi ke rental, mereka berdua tadi menaiki taksi.


"Kesiapa dulu nih?." Tanya Bang Idan dengan fokus ke arah jalan raya.


"Ke Raina aja dah." Kata Bang Rafa.


"Ok, ouh iya, Gua nanti bakal agak lama di rumah Tika, Lo iku masuk atau diam di mobil?." Tanya Bang Idan.


"Di mobil aja." Jawab Bang Rafa.


"Ok." Jawab singkat Bang Idan.


Bang Rafa dan Bang Idan menjemput Raina terlebih dahulu dengan Bang Rafa sebagai petunjuk jalan.


Sampai di depan rumah Raina.


"Ayo ikut." Ajak Bang Rafa.


"Ogah, sana Lo sendiri aja." Jawab Bang Idan.


"Ok, tunggu sini bentaran." Kata Bang Rafa.


Bang Rafa keluar dari mobil lalu berjalan ke rumah Raina.


'Tok... tok... tok... Assallammu'allaikum.' Salam Bang Rafa dengan mengetuk pintu.


2 menit kemudian Raina keluar rumah dengan membawa kopernya.


"Wa'allaikum sallam." Jawanb Raina.


"Udah siap aja nih, ayo." Kataa Bang Rafa dengan meraih tangan Raina dan menyeretnya pelan.


Raina tertegun melihat tangannya dan tangan Bang Rafa menyatu.


Dia mengikuti langkah Bang Rafa dengan melamun hingga sampai di dekat mobil Raina menabrak punggung tegap Bang Rafa.


"Aduh!." Keluh Raina.


"Kamu melamun ya?, jangan melamun aja kalo jalan entar jatuh." Nasihat Bang Rafa.


Raina mengangguk meng iya kan nasihat Bang Rafa.


Bang Rafa membuka pintu mobil bagian belakang lalu mempersilahkan Raina untuk masuk dia juga ikut duduk disebelah Raina.


"Duh jatuhnya kek supir Gua nih." Celutuk Bang Idan.


"Elah Dan, Lo juga bentar lagi bakal ada Tika." Kata Bang Rafa.


"Ayolah kita ke tempat Tika sekarang." Ucap Bang Idan.


Dia melajukan mobil ke tempat Tika.


Dalam mobil suasana hening.


"Rain? Lo udah hubungin sepupu Lo kalo kita bakal kesana?." Tanya Bang Idan memecah keheningan.


"Udah dari hari jum'at lalu." Jawab Raina.


Bang Idan hanya ber 'oh' ria.


25 menit perjalanan.


Mobil sampai di depan rumah Tika.


"Bener nih ngga ikut?." Tanya Bang Idan pada Bang Rafa.


"Ngga." Jawab singkat Bang Rafa.


"Ya udah, ingat! Kalian cuma berdua, jangan macem-macem." Peringat Bang Idan dengan senyum menggoda.


"Gua masih paham batasan, Gua kagak mau mati muda karena digantung Ayah." Jawab Bang Rafa sewot.


"Ya siapa tau aja Lo khilaf." Makin gencar Bang Idan menggoda.

__ADS_1


"Udah sana Lo susul Tika." Usir Bang Rafa jengah mendengar godaan Bang Idan.


"Hahaha, tenang aja Rain, dia baik kok orangnya!." Seru Bang Idan dari jauh.


"Dasar Idan gila." Umpat Bang Rafa.


Raina disebelahnya terkekeh pelan.


"Ngga usah dengerin dia." Celutuk Bang Rafa pada Raina.


Di depan rumah Tika.


'Ting... tong... ting... tong... .' Bang Idan memencet bel rumah.


'Ceklek.' Pintu dibuka oleh seseorang.


"Hai Bang Idan." Sapa Tika yang membuka pintu rumah.


"Hai." Sapa balik Bang Idan.


"Ayo Kak, Mama Papa udah di dalem." Kata Tika.


"Kamu bilang sama Mama Papa kamu?." Tanya Bang Idan.


"Iya, soalnya kalau ngga bilang takut Mama Papa pergi." Kata Tika.


"Ouh, ok ayo deh, di mobil ada 2 orang bukan mahram yang ngga mau masuk, kita harus cepat biar laki-lakinya ngga khilaf." Beri tahu Bang Idan.


"Kenapa ngga mau masuk?." Tanya Tika.


"Takut lama mungkin." Jawab Bang Idan.


"Ayo kalo gitu, masuk Kak." Ajak Tika.


Bang Idan masuk dan langsung dituntun ke ruang santai rumah Tika.


"Ma Pa? Ini orangnya." Kata Tika menunjuk Bang Idan di sampingnya.


"Assallammu'allaikum Om Tante?." Sapa Bang Idan.


Dia menyalami kedua orang paruh baya yang duduk di depannya.


"Kamu yang namanya Zaidan?." Tanya Papa.


Bang Idan seperti di introgaasi dengan 2 orang tua ini.


Pasalnya Bang Idan tidak dipersilahkan duduk dulu, dia masih posisi berdiri mengahadap orang tua Tika.


"Iya Om." Tegas Bang Idan menjawab dengan tersenyum.


"Pa, Kak Zaidan nya belum duduk, belum di kasih minum juga, malah udah di introgasi sama Papa." Sungut Tika.


Mama Papanya hanya diam tak menanggapi Tika.


Tika mendengus.


"Ngga papa Tika, aku berdiri aja." Kata Bang Idan lembut.


"Ramean kok Te, adek saya dan teman-temannya, sahabat saya juga ikut, Mama Papa saya juga sahabat-sahabatnya ikut tapi masih tanggal 22, soalnya beliau semua ada acara pengambilan raport." Panjang lebar Bang Idan.


Mama Papa Tika menatap Bang Idan dari atas ke bawah.


Bang Idan gugup dan deg-deg an sebenarnya.


Tapi dia berhasil menyembunyikan rasa itu.


"Berapa lama di sana?." Tanya Papa.


"2 minggu kurang lebih Om." Jawab Bang Idan tidak ragu.


"Kamu bisa jamin kalau anak saya pergi sama kalian dia akan baik-baik aja?." Tanya Papa Tika.


"Saya berani jamin Om." Tegas Bang Idan.


Papa Tika menatap Mata Bang Idan dalam mencari kebohongan, tapi yang dia temukan hanya keseriusan.


Papa Tika memandang istrinya.


Mama Tika mengangguk meng iya kan.


"Tika?, ambil koper kamu." Kata Papa Tika.


Tika girang tidak terkira.


Dia berlari memeluk Mama Papanya erat.


"Makasih Ma Pa." Ucap Tika tulus.


"Sama-sama, udah gih cepet ambil kasian kalo nunggu lama." Kata Mama lembut.


Tika pergi mengambil kopernya.


"Jaga dia Zaidan, Om dan Tante percaya sama kamu." Pinta Papa Tika dengan menepuk pundak Bang Idan.


"Iya Om pasti." Jawab Bang Idan.


"Kamu anaknya Pak Yusuf sama Bu Diyar kan Zaidan?." Tanya Mama Tika.


"Iya Te." Jawab Bang Idan.


"Mama kok tau sih?." Tanya Papa Tika.


"Hehe, kemarin Mama tanya Tika, dan sekarang Mama bertanya cuma memastikan aja." Kekeh Mama Tika.


Dari lantai 2 Tika turun dengan membawa kopernya.


"Ma Pa, Tika pamit." Ucap Tika setelah berada dihadapan orang tuanya dengan memeluknya.


"Iya, jaga kesehatan disana, jangan nyusahin orang, jangan jauh dari Zaidan biar kamu selalu aman, ok?." Kata Mama.


"Ok Ma laksanakan, ayo Kak." Ajak Tika.

__ADS_1


"Om Tante, saya pamit dulu, dan saya bawa dulu putrinya, assallammu'allaikum." Salan Bang Idan.


"Iya, wa'allaikum sallam." Jawab Mama Papa Tika.


"Ayo kita antar ke depan." Kata Papa.


Sampai di depan pintu, Tika dan Bang Idan pergi masuk mobil.


Di dalam mobil Tika melambaikan tangannya dan mobil pergi jauh.


"Lama bat kalian?." Tanya Bang Rafa.


"Tadi masih minta ijin sama Mama Papa Kak." Jawab Tika.


"Ouh, pantes aja." Gumam Bang Rafa.


Di teras depan rumah Tika.


"Tatapan mata Zaidan ke Tika tadi beda banget, Papa liat kan?." Tanya Mama.


"Iya, biarlah seberjalannya aja, kalo emang jodoh ngga akan bakal ketuker." Jawab Papa.


Lalu beliau berdua masuk rumah.


Di perjalanan menuju rumah Rafka Zarine.


4 orang di dalam mobil itu diam dan sibuk dengan kegiatannya sendiri.


25 menit kemudian mobil masuk ke pelataran rumah.


"Ayo turun guys!, kit udah sampe nih!." Seru Bang Idan sang supir.


3 orang itu turun dari mobil.


Bang Rafa menggandeng tangan Raina dan Bang Idan menggandeng tangan Tika.


4 orang itu tanpa sadar melakukannya.


Mereka masuk dengan senyum mengembang manis.


"Assallammu'allaikum." Salam 4 orang itu setelah memasuki ruang santai dengan ceria.


"Wa'allaikum sallam." Jawab seluruh orang di ruang santai.


Mata para orang tua dan 3 keluarga junior menatap kearah tangan 4 orang yang bergandengan.


"Wah... wah... , mau nyebrang jalan ya? Ngikut dong." Goda Abdiel.


"Kuylah Gua juga ikut." Timpal Akifa.


4 orang itu menatap bingung.


"Ngga akan hilang kali Bang, udah lepas itu tangannya." Blak-blak an Ayah menggoda.


Bang Rafa, Bang Idan, Raina, dan Tika menatap ke arah tangan mereka lalu melepaskannya.


"Ahahaha." Tawa semua orang pecah.


Mereka ber 4 yang canggung memilih untuk menghampiri para orang tua dan bersalaman.


Tika dan Raina memberikan bingkisan untuk Mama Bang Idan dan Bunda Zarine.


"Ini kue kering untuk Bunda dan lainnya, kemarin Rain buat, semoga rasanya cocok." Kata Raina.


"Ini juga bolu pandan untuk Tante dan lainnya." Tika Memberi paperbag pada Mama Bang Idan.


"Makasih ya, kalian kok reput sih?." Ucap Bunda Zarine.


"Ngga repot kok Bun." Balas Raina.


"Ayo silahkan duduk kalian berdua." Ucap Mama Rafka.


Raina dan Tika duduk di dekat Bang Idan dan Bang Rafa.


ART datang dengan membawa nampan berisi 4 jus dan meletakkannya dimeja lalu pergi kedapur lagi.


"Udah dapet ijin Tika dari Mama Papa?." Tanya Mama Bang Idan.


"Udah Te, tadi Kak Zaidan langsung yang ijinin." Jawab Tika.


"Ouh iya, kalian taruh dulu itu kopernya di kamar, Za? Tolong antar." Pinta Bunda Zarine.


Zarine mengangguk lalu berdiri.


"Ayo Tika, Kak Raina." Ajak Zarine.


2 gadis beda usia itu mengikuti Zarine.


Sampai di depan pintu kamar Zarine membukanya.


"Ini kamar Kak Raina, dan di sebelah sana kamar kamu Tika." Tunjuk Zarine.


Setelah menaruh koper mereka kembali ke ruang santai dan berbincang hingga hampir jam makan siang.


-


-


-


-


Bersambung...


Like & komennya ditunggu


Maaf ngga nyambung😢🙏


Jaga kesehatan selalu readers


Salam sayang dari ViCa😍.

__ADS_1


__ADS_2