
SEBELUM LANJUT BACA, TOLONG BACA YANG DI BAWAH INI.
MINTA MAAF BANGET SAMA KALIAN SEMUA KARENA CERITA KU
MAKIN HARI MAKIN NGACO DAN NGGA NYAMBUNG, TERUTAMA MEMBOSAN KAN, AUTHOR MINTA MAAF YANG SEBESAR-BESAR NYA🙏🙏.
******************************
-
-
"Kenapa?." Tanya Rafka pada Zarine.
"Emang selama ini aku bukan istri yang rajin yah? Sampe ngomong gitu." Kata Zarine ketus.
'Aish! Kenapa aku bisa lupa kalo bumil satu ini sensitif? Duh! Dasar Rafka oon!.' Rutuk Rafka dalam hati mengumpati diri nya sendiri.
"Hehehe... bukan gitu maksud nya Yang, udah ah jangan cemberut, bantu pake in baju nya yah?." Pinta Rafka lembut yang sebenar nya berniat mengalih kan pembicaraan yang membuat nya terancam itu. Terancam apa? Terancam tidur di luar tak memeluk Zarine.
-
-
-
...L A N J U T A N...
...P A R T...
...K E M A R I N . . ....
-
-
-
Liburan di Puncak terjadi hingga 5 hari lama nya, sabtu malam ahad pagi 6 serangkai memutus kan pulang kembali ke Jakarta dan menempati rumah para tetuah.
Esok hari adalah hari raya Idul Fitri, hari kemenangan bagi umat islam yang berpuasa yang jatuh tepat hari minggu pagi.
Kesedihan 6 serangkai sudah tak ada lagi, mereka sudah ikhlas lahir batin dan lapang dada menerima ketiadaan para tetuah.
Di dalam mobil perjalanan pulang.
"Eh? Nanti kita ikut takbiran kuy di masjid." Ajak Akifa antusias mengikuti acara takbir di masjid.
"Kaya nya jangan dulu deh Yang, kalian tuh ngga boleh begadang, takbir di masjid kan sampe pagi tuh." Ujar Abdiel melarang.
"Ck! Ya cara nya kita nanti pulang jam 11 aja, ngga usah pulang pagi-pagi buta." Kata Akifa sambil menoel pipi sang suami gemas.
"Hmmm... kita liat nanti aja deh gimana jadi nya." Jawab Abdiel tak pasti.
"Ini Za sama Alfi mau ikit ngga?." Tanya Abdiel.
"Engga." Balas kompak dua bumil itu.
"Yah... ikut dong, ngga seru kalo aku sendiri." Akifa meminta dengan raut muka memelas.
"Ya udah ngga usah berangkat juga." Acuh Abdiel berucap pada sang istri tercinta.
"Huuuh." Akifa merajuk, dia memanyun kan bibir nya.
"Duh tuh bibir kok di maju-maju in gitu sih? Kode buat di kuncir kah hahaha... ." Tawa Zarine menggoda Akifa yang duduk di sebelah kanan nya, tak lupa tangan Zarine menoel dagu Akifa yang sontak mendapat tepisan kasar dari sang empu dagu.
"Ngga udah colak colek, aku bukan saos sambel." Ketus Akifa berucap.
"Kek lagu aja yah, yang nyanyi Mami DePe judul nya Halalin Aku Dulu Bang, hahahaha... ." Tawa Alfi sekarang yang pecah dalam mobil sampai ujung mata nya mengeluar kan setitik air mata.
Akifa mendengus jengkel karena tawa an 5 sahabat nya yang ada dalam mobil.
"Udah dong Fa, jangan cemberut mulu, iya nanti kita ikut takbir deh, jam 11 pulang nya." Setuju Alfi yang di angguki oleh Zarine, Rafka, Abhi, juga Abdiel.
"Yeayyy." Seru Akifa senang, dia sampai memeluk Alfi yang duduk di sebelah kanan nya.
"Jangan peluk-peluk ih Fa, sesek tau!." Sungut Alfi jengkel.
"Hahaha... maaf, abis nya aku kesenengan." Cetus istri Abdiel ini tanpa dosa.
"Ngga kerasa yah, udah 30 hari aja kita puasa, besok udah lebaran." Kata Zarine sambil menatap sahabat-sahabat nya di dalam mobil dengan menebar senyum.
"Ya kan waktu ngga nunggu kita Yang, kita yang ngejar waktu." Papar Rafka bijak.
"Nanti malam aku mau makan martabak manis, beli in ya boy's." Pinta Akifa mengalih kan topik pembicaraan.
"Wah pasti enak tuh, aku mau juga." Imbuh Zarine meminta.
"Ck! Masih puasa girl's, jangan bahas makanan dulu ngga baik." Nasihat Rafka pada para wanita yang duduk bertiga di bangku tengah sedang kan Abdiel di buang di bangku belakang sendirian.
"Ini kita berapa lama sih sampe nya?." Gerutu Abdiel jengkel.
"Kenapa emang?." Tanya Rafka sambil melihat Abdiel dari sepion mobil yang ada di tengah.
"Gua duduk sendiri di belakang kagak nyaman woy!." Jengkel Abdiel berucap.
"Yang? Masih untng kamu duduk di belakang, kalo duduk di atas gimana? Makin ngga nyaman tau, kepanasan, kehujanan, dan bisa juga kamu bakal kepentok sesuatu di atas sana." Seru Akifa pada sang suami.
"Iya juga sih." Abdiel membenar kan ucapan sang istri tercinta nya ini.
"Dah jangan banyak protes." Kata Alfi ketus.
"Duh jahat banget Gua di kutusin." Gerutu Abdiel lirih yang untung nya tak dapat di dengar oleh macan betina nya Abhi yaitu si Alfi.
"Bi? Bini Lu jahat banget sih?! Heran Gua, lembut dikit kagak bisa yah?!." Tanya Abdiel yang langsung mendapat delik kan setajam silet dari Alfi.
"Ups!." Kata Abdiel dengan mendekap mulut nya agar tak bicara lagi.
Lama perjalanan, pukul 10 siang mobil yang di tumoangi 6 serangkai sampai di rumah para tetuah, lebih tapat nya di halaman rumah beliau semua.
Jarak rumah para tetuah sangat dekat satu sama lain nya, hanya perlu jalan kaki beberapa meter saja.
Di rumah kelurga Fathan.
"Ayo masuk." Ajak Rafka pada dang istri. Zarine memganguk kan kepala dan mulai melangkah kan kaki ke depan pintu rumah itu.
'Ceklek!.' Pintu di buka oleh Rafka dengan kunci rumah nya yang di titip kan orang tau nya pada Rafka.
"Assallammu'allaikum." Salam Rafka Zarine kompak.
"Wa'allaikum sallam." Jawab para ART di rumah Mama Papa Rafka.
"Tuan muda? Nona muda? Selamat datang." Sapa para ART sumringah senang dan bahagia karena kedatangan Rafka Zarine, anak dan menantu keluarga Fathan.
"Bibi apa kabar?." Tanya Zarine ramah.
"Alhamdulillah kami di sini baik dan sehat semua Nona, kalau Nona dan Tuan muda sendiri sehat kan?." Tanya para ART.
"Alhamdulillah kami sehat Bi." Balas Rafka mengganti kan Zarine.
"Apa Nona dan Tuan muda berniat akan tinggal dan menatap di sini?." Tanya ART senior dengan muka berharap.
Zarine tersenyum manis dan kemudian mengangguk kan kepala nya sebagai jawaban.
"Alhamdulillah." Ucap syukur para ART rumah Rafka Zarine itu.
"Ya udah Bi kita masuk ke kamar dulu yah, Bibi silah kan lanjut kan pekerjaan nya." Pamit Rafka pada para ART di rumah nya ini.
__ADS_1
Sampai di dalam kamar Rafka di lantai dua yang kini jadi milik Zarine juga.
Zarine menduduk kan bokong nya di tepi ranjang dan meneliti setiap sudut kamar sang suami.
"Kenapa?." Tanya Rafka oada sang istri.
"Ngga sebaik nya kita pilih kamar di bawah aja?." Tanya Zarine.
"Sementara di sini dulu, aku capek habis nyetir tadi aku minta tolong pijitin pundak aku ya Yang." Kata Rafka lembut.
"Ok." Balas singkat Zarine sambil tersenyum manis.
Rafka membuka kaos yang di pake nya dan melempar nya asal, lalu dia memposisi kan diri nya duduk di depan Zarine bersiap untuk di pijat.
"Ngga pake minyak atau body lotion gitu?." Tanya Zarine.
"Ngga usah deh." Ujar Rafka menolak.
Zarine mulai memijit pundak sang suami.
"Uh enak banget Yang, agak ke ke samping dong Yang." Pinta Rafka pada sang istri.
"Di sini?." Tanya Zarine memasti kan.
"Nah, Allahu Rabb enak banget, capek ku hilang rasa nya." Ucap Rafka sambil memejam kan mata menikmati pijatan Zarine yang sangat nyamam bagi nya.
10 menit berlalu, Zarine sudah tak memijat dengan benar tubuh kekar Rafka, Zarine malah bermain-main dengan punggung Rafka yang putih mulus nan bersih itu.
Kadang menciumi punggung Rafka, mencubit, mengendus bak kucing, memeluk punggung Rafka, sampai menelusup kan kepala nya di ketiak Rafka.
"Hahaha... kamu ngapain sih Yang? Hm?." Tanya Rafka yang masih sibuk sama handphone nya.
"Aku bau kamu, wangi nya bikin tenang." Ujar Zarine jujur.
"Hahaha... ada-ada aja, aku belum mandi, bau asem tau." Kata Rafka dengan tawa lebar nya dan dia mencium pucuk kepala Zarine yang ada di sebelah kanan kepala nya. Kemudian Rafka kembali fokus oada handphone nya.
"Ck! Kamu fokus banget sih sama handphone." Rajuk Zarine, dia langsung menjauh kan tubuh nya dari tubuh Rafka. Bibir nya mengerucut pertanda dia merajuk.
Rafka dengan sabar meladeni tingkah manja Zarine, dia kemudian meletak kan handphone nya dan beringsut mendekat kepada sang istri.
"Atututu... istri aku ngambek nih, jan cemberut dong sayang, aku lagi banyak kerjaan maaf ya sampe cuekin kamu, maaf banget." Ucap Rafka tulus dari hati.
Zarine tetap tak bergeming dan diam tak menatap Rafka sama sekali.
Rafka tak kehilangan akal, dia membujuk Zarine dengan ciuman di pipi Zarine secara bertubi-tubi.
'Muah muah muah muah.' Ciuman itu terus datang sampai Zarine tertawa pelan dan berlanjut sampai terpingkal-pingkal.
"Udah iya aku maafin, aduh perut ku, hahaha... ." Rafka langsung menghenti kan aksi nya yang menciumi wajah sang istri karena keluhan perut nya tadi.
"Yang? Perut kamu kenapa? Ngga papa kan? Baik-baik aja kan? Apa nya tadi yang sakit?." Rafka kalang kabut sendiri mendengar keluhan perut Zarine tadi.
"Udah Yang, aku ngga papa cuma kram aja tadi karena kebanyak kan ketawa udah aku ngga papa, sini aku mau tidur di peluk kamu." Manja Zarine sudah on.
"Aku khawatir banget tadi pas kamu ngeluh perut." Jujur Rafka sambil memposisi kan diri nya di sebelah Zarine sang istri.
Tangan Rafka terulur memeluk tubuh berisi milik Zarine.
"Yang?." Panggil Rafka lembut.
"Apa?." Sahut Zarine sekenanya.
"Menurut ku yah, kamu tuh makin ke sini body kamu makin sexy." Kata Rafka berbisik lirih di telinga Zarine.
"Adududuh... sttt apa sih Yang? Kok di cubit? Aku beneran tau." Cetus Rafka menggerutu.
"Ngga malu kamu, udah mau punya Baby kembar juga, pikiran nya mesum banget." Ujar Zarine ketus, dia menampak kan delik kan tajam ke arah Rafka sang suami.
"Hahaha... ya emang kenapa kalo mau punya Baby? Baby kita kalo udah besar juga butuh adik kan?." Tanya Rafka dengan menaik turun kan alis nya menggoda Zarine.
"Udah ah jangan bahas itu." Kata Zarine manja.
"Cieee yang malu, tapi beneran Yang, kamu makin sexy." Keukeuh Rafka pada Zarine.
Dan... buk!.
"Ashh jangan di pukul sayang ku sakit, kamu pukul nya pake tenaga keras banget loh." Rafka memelas.
Zarine memukul dada bidang Rafka untuk menghenti kan omongan mesum Rafka.
"Lagi puasa ngga boleh ngomong jorok nanti batal puasa nya." Sewot Zarine tanpa menatap mata sang suami dan dia tak menghirau kan kicau adu an Rafka.
"Ya udah iya aku ngga ganggu lagi, aku pergi aja deh." Kata Rafka menggoda Zarine.
"Aaaa... jangan... ." Manja Zarine mencegah, dia mengerat kan peluk kan nya pada Rafka.
"Hahaha... ok ok, aku ngga pergi, tapi jangan tidur deh Yang, bantar lagi adzan dzuhur berkumandang, kita sholat dulu habis itu baru tidur, sepuas nya deh." Saran Rafka yang di benar kan oleh Zarine.
"Yang? Gimana kabar Cafe?." Tanya Zarine.
"Alhamdulillah makin hari pengunjung makin bertambah banyak, omset nya makin naik." Cerita Rafka yang di balas Zarine dengan menampak kan binar mata bahagia nya.
"Kalian para cewek tuh aneh, suami kalian dah kaya, bahkan alhamdulillah, tapi tetep aja mau Cafe kecil kaya gitu." Heran Rafka pada istri juga sahabat-sahabat nya itu.
"Ya kan perusahaan kalian yang pegang, lagi pula yah, kita minta Cafe tuh biar ada kegiatan dan ngga lesu di rumah, kita kan aktif orang nya, kalo di uruh diem terus di rumah bawa an nya jenuh, bosen, pengen keluar jalan-jalan dan berakhir ngga jelas, kalo ada Cafe kan jelas tujuan kita keluar rumah." Panjang Zarine berbicara bak rel kereta api.
"Cerewet nyaaa... ." Kata Rafka sambil terkekeh pelan mendengar ocehan Zarine.
Zarine mendengus kesal mendengar perkataan Rafka.
Perbincangan Zarine dan Rafka terjadi ngalor ngidul entah apa saja yang di bahas, inti nya mereka membicara kan topik yang asik dan mampu membuat mereka tertawa.
Di tempat berbeda tapi di waktu yang sama, Abdiel Akifa duduk di atas ranjang dengan bersandar di kepala ranjang.
Tangan Abdiel dan Akifa mengelus perut Akifa sambil sesekali mengajak anak mereka berbicara.
"Bentar lagi yang lahiran dulu Zarine, terus Alfi, lanjut ke tiga aku, beberapa minggu kemudian Tika, habis itu terakhir Kak Raina." Panjang Akifa menjabar kan jadwal kelahiran Baby 5 keluarga junior yang sangat dinanti-nanti.
"Loh? Kok Tika dulu yang lahiran? Bukan nya waktu periksa Kak Raina dulu yang berangkat?." Tanya Abdiel heran.
"Emang bener Kak Rain dulu yang berangkat periksa tapi pas dokter Lexa periksa usia kandungan Kak Rain, beliau mengatakan bahwa usia nya baru 2 minggu, sedang kan usia kandungan Tika 5 minggu." Cerita Akifa detail.
"Ouhhh gitu toh, berarti selisih 3 minggu dong persalinan mereka?." Tebak Abdiel yang di iya kan oleh Akifa.
"Yang? Kalo tiba-tiba lahiran kalian massal gimana?." Khawatir Abdiel.
"Hahaha... ada-ada aja sih kamu Yang, in syaa allah itu ngga akan terjadi, kalo pun massal, dokter kandungan kan banyak di RS, pasti bisa lah nanganin kita ber tiga." Kata Akifa.
"Iya yah." Balas Abdiel membenar kan.
"Lagian yah, jarak antara aku, Zarine, dan Alfi itu lumayan jauh, sekitar kalo sama Za aku selisih 4 minggu, kalo sama Akfi... selisih 1 minggu an kira-kira." Jelas Akifa.
"Tapi semua itu kan cuma prediksa doang Yang, kalo kamu sama Zarine bisa lah selisih, tapi kalo sama Alfi... bisa-bisa kamu barengan lahiran nya sama dia." Cetus Abdiel yang ada benar nya.
"Kalo lahiran bareng lucu yah, dulu kita nikah nya barengan, terus lahiran nya juga barengan, hahaha... ." Tawa Akifa menggemah di seluruh kamar Abdiel.
Akifa Abdiel sekarang ada di rumah keluarga Gilbert (Abdiel) memilih menetap di rumah ini, untuk rumah orang tua Akifa, biar lah di tempati para ART untuk di rawat.
Akifa Abdiel sepakat akan mengunjungi rumah itu setiap satu minggu sekali di hari minggu.
"Kaya mimpi ya Yang kita bisa bareng-bareng kaya gini sekarang." Ujar Abdiel dengan senyuman manis dan pandangan mata jauh ke depan.
"Lah? Kenapa ngga nyangka?." Tanya Akifa heran.
"Dulu waktu aku ngelamar kamu di lapangan basket kamu lama jawab nya, aku pikir bakal di tolak." Jelas Abdiel mengingat masa-masa jaman lamaran.
"Ck! Ya ngga mungkin lah aku tolak, sekarang gini yah, aku tuh dah luama buanget suka sama kamu, masa di lamar aku jawab nya engga?! Rugi dong! Udah cukup aku nyimpen rasa sendiri, lagi pula yah, aku sebener nya dah punya rencana." Ujar Akifa panjang.
__ADS_1
"Rencana apa?." Tanya Abdiel kepo.
"Aku punya rencana mau lamar kamu dulu an." Jawab Akifa tanpa malu.
"Serius kamu yang?." Kejut Abdiel tak percaya.
"Serius lah, ngapain aku becanda? Ngga guna!" Cetus Akifa ketus.
"Kamu ngga malu ngelamar aku dulu an?." Tanya Abdiel.
"Buat apa? Ada loh kebudayaan mana gitu aku lupa, pokok nya perempuan nya yang harus lamar dulu, kalo masalah di tolak, aku don't care itu urusan belakang, yang penting perasaan aku udah tersampai kan." Panjang Akifa berceramah.
"Kalo boleh tau kamu mulai dari kapan suka sama aku?." Tanya Abdiel kepo.
"Udah lama, kapan pasti nya aku ngga ingat dan ngga mau ngingat, inti nya sekarang kita dah bareng." Cuek Akifa berbicara sambil mengedik kan bahu nya acuh.
"Kalo kita ngga nikah, kamu gimana Yang?." Tanya Abdiel serius.
"Minta Mama Papa jodohin." Balas Akifa cepat.
"Hah?!." Seru Abdiel terkejut.
"Kenapa?." Tanya Akifa.
"Terus kamu bakal nikah tanpa dasar cinta gitu?." Tanya balik Abdiel.
"Ada peribahasa jawa bilang 'Tresno kuwi jalaran saka kulino' yang arti nya, cinta itu datang dari kebiasaan, paham kan maksud ku?." Kata Akifa menjelas kan. (Maafin Aku kalau salah dalam peribahasa dalam dialog ini ya Readers🙏).
"Haduh udah ah jangan bahas masa lalu." Abdiel memutus perbincangan soal masa lalu itu.
"Dih! Padahal situ sendiri yang tanya, aku mah tinggal jawab." Acuh Akifa berucap.
"Aduh iya deh iya maaf, mari bahas hal lain yang asik." Ujar Abdiel meminta.
Tiba-tiba... .
'Allahu akbar allahu akbar.'
Adzan dzuhur berkumandang merdu di seluruh komplek perumahan ini.
"Alhamdulillah." Ucap Abdiel dan Akifa secara bersamaan.
Segera mereka melaksana kan sholat dzuhur di dalam kamar secara berjamaah.
Waktu bergulir begitu cepat.
Tak terasa takbir di masjid sudah berkumandang dengan merdu menggemah terdengar indah di telinga tiap-tiap insan yang mendengar nya.
'Allahu akbar... Allahu akbar... Allahu akbar... .'
Suara merdu seorang uztadz Ariz yang di iringi rebana mengalun indah sekali di telinga.
6 serangkai belum berangkat ke masjid mereka masih melakukan panggilan via video dengan Bang Idan Tika juga Bang Rafa Kak Raina.
"Kalian ngga ikut ke masjid? Ini udah jam 7 loh, uztadz Ariz pasti udah mulai takbir nya." Tanya Bang Rafa pada 6 serangkai itu.
"Bentar lagi Bang, habis VC sama kalian kita berangkat." Ujar Abdiel menjawab.
"Tika? Kamu gimana sama pergaulan di sana? Udah bisa menyesuai kan belum?." Tanya Zarine pada Kakak Ipar nya ini.
Di sebarang sana Tika memanyun kan bibir nya cemberut.
"Sampai sekarang aku belum punya temen Za." Jujur Tika sedih.
"Loh? Bahasa Inggris kamu lancar kan Tik?." Tanya Alfi.
"Lancar sih, bukan itu alasan nya, masa di sini kebanyak kan yang tinggal Ibu-Ibu paruh baya?! Anak-anak seumuran aku atau kalian ngga ada, huhuhu... ." Tika akting menangis.
"Ya udah ngga papa Tik temenan sama Ibu-ibu malah enak bangak pengalaman kan." Hibur Kak Raina lbut menenang kan Tika.
"Hiks! Ngga mau." Manja Tika mode on.
"Di sana juga kamu ngga akan lama Tik, paling beberapa bulan lagi, kalian kan ngga akan menetap." Kata Alfi ikut menghibur.
"Aku pengen main sama kalian, aku kangen kalian, aku kangen sama tingkah konyol kalian." Panjang Tika mengutara kan perasaan nya.
"Ouh iya ngomong-ngomong main, kabar Cafe gimana?." Tanya Tika yang ingat tempat itu.
"Alhamdulillah berkembang pesat Tik, kalian cepet pulang deh, semua nya baik yang di Surabaya juga, ouh iya ada yang belum kami sampe in, mulai dari tadi siang kami sepakat bakal nempatin rumah para tetuah, rumah kita yang lama biar di urus aja sama ART." Kata Zarine menjelas kan panjang lebar.
"Ya kami setuju saja." Cetus Bang Rafa yang di angguki Bang Idan Tika juga Kak Rain.
"Ini ngomomg-ngomong kalian ada di rumah siapa?." Tanya Tika kepo.
"Di rumah keluarga Fathan." Jawab Akifa cepat.
"Ouh, ya udah sana pada pergi takbir, dan maaf yah kami ngga bisa kembali ke tanah air buat rayain lebaran bareng, maafin kita sekali lagi." Ucap Tika tulus dari hati nya.
"Maafin kita juga yang ngga bisa pulang yah, maaf banget." Ucap Kak Rain tulus.
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
B E R S A M B U N G . . .
Lanjut besok ya guys😁.
Like & komennya ditunggu ya guys... .
Maaf ngga nyambung😢🙏.
Maaf kalo garing😢🙏.
Maaf typo di mana-mana🙏😢.
Maaf banget kalo makin hari ceritaku makin ngga menarik.
Maaf cerita nya membosan kan😢.
Maaf gantung cerita nya😂.
Di lanjut besok ya readers😂.
Jangan marah karena di gantung yak guys😂.
Saya penulis yang masih pemula dan amatiran mohon memahami nya😊.
Jaga kesehatan selalu readers.
Salam sayang dari ViCa😍.
__ADS_1