Nikah Muda Karena Perjodohan

Nikah Muda Karena Perjodohan
Seratus empat


__ADS_3

"Bang Idan?." Tebak Rafka tepat sasaran.


'Huuuffffh.' Helaan nafas lelah terdengar dari bibir mungil Tika.


"Emang kenapa sama dia?." Tanya Alfi.


"Ngga papa sih, cuma kadang Gua kepikiran aja, pernikahan beda usia ini bikin Gua takut." Kata Tika.


"Takut kalo Bang Idan berpaling cari wanita matang, gitu maksud nya?." Tebak Akifa blak-blak an, Tika mengangguk kan kepala meng iya kan.


"Lo percaya ngga sama cinta nya Bang Idan?." Tanya Alfi.


"Percaya lah, 1000% malah." Jawab cepat Tika.


"Kalo percaya ya udah jangan mikir jauh-jauh, ngga baik mikir negatif." Sambung Abdiel.


Tika diam mencerna segala pembicaraan nya bersama 6 serangkai.


"Kalian bener, Gua ngga boleh berpikiran negatif, Kak Zaidan mencintai Gua tulus, dan Gua pun juga mencintai dia tulus." Semangat Tika berucap.


Mereka kembali memakan makanan di depan nya samai habis tak tersisa.


-


-


-


...L A N J U T A N...


...P A R T...


...K E M A R I N . . ....


-


-


-


Selesai makan mereka membayar dan kembali ke sekolah.


Bel masuk masih lumayan lama, jadi 7 serangkai memitus kan untuk nagkring di lapangan basket out door.


Di sana lumayan ramai karena di huni oleh junior-junior yang sedang main, seperti nya sih.


"Yang?." Panggil Zarine sambil menarik-narik kemeja seragam Rafka.


"Apa?." Tanya Rafka menoleh pada sang istri.


"Kamu main dong." Pinta Zarine manja.


"Main?." Beo Rafka sambil menatap ke arah junior nya yang main basket.


"Iya main sana, please." Manja Zarine.


Rafka tersenyum miring melihat tingkah manja sang istri.


"Cium dulu, baru aku mau main." Kata Rafka sambil tersenyum dan menaik turun kan alis nya.


"Huuuuuu, malu tau banyak orang." Tolak Zarine.


"Ya udah ngga usah main, aku mau duduk di tribun." Rafka berpura-pura merajuk, dia sudah berbalik dan ingin melangkah ke arah tribun, Zarine sudah tak ada pilihan lain.


Dan... .


"Iya deh iya, tapi setelah itu main." Zarine menyanggupi permintaan Rafka.


Sang pelaku mengulum senyum lalu membalik kan badan lagi, kemudian dia mengarah kan pipi nya ke arah Zarine sambil sedikit membungkuk kan badan mensejajar kan dengan badan Zarine.


Zarine menoleh ke kanan dan ke kiri untuk melihat situasi.


Di rasa orang-orang tak memperhati kan mereka, Zarine mencium pipi Rafka secepat kilat.


"Udah! Sana main." Usir Zarine.


"Kok bentar banget?." Lesu Rafka bertanya.


"Nanti kalo minta lebih, kita lakuin di rumah!." Sungut Zarine sambil mendorong tubuh tegap Rafka untuk ke tengah lapangan.


"Ok! Aku bakal tagih nanti, hehehe... aku main dulu, semangatin aku yah." Kata Rafka.


"Pasti!." Jawab cepat Zarine sambil memberikan 2 jempol tangan nya.


"Abdiel?! Abhi?! Ikut Gua main!." Panggil Rafka.


Tanpa kata 2 cowok yang di panggil itu pergi menghampiri Rafka.


Para pria di lapangan basket terlibat sedikit perbincangan.


Setelah itu, pertandingan pun di mulai.


"Rafka!!! Semangat Rafka!!." Teriak Zarine menggebu-gebu.


"Abdiel semangat!!." Akifa ikut-ikut an.


Alfi dan Tika hanya bertepuk tangan meriah tanpa berteriak, mereka tak mau ternggorokan nya kering.


Banyak siswa siswi melihat pertandingan sengit itu, walau bukan pertandigan serius, tapi bagi mereka yang menonton, ini sangat menegang kan.


Lalu tiba-tiba Rafka berlari membawa bola sambil berteriak keras.


"Zarine! Ini buat kamu Yang! I Love You Zarine." Seru nya, seluruh lapangan berteriak histeris kala Rafka menyebut nama Zarine.


Rafka memasuk kan bola ke dalam ring dan... .


Masuk!. Tim Rafka berhasil mencetak point.


Zarine tersipu malu mendengar gemahan suara Rafka yang nyaring.


"Cieeee Zarine... ." Goda Tika, Alfi, dan Akifa.


"Ish! Apa an sih." Kata Zarine.


"Hahahaha." Tawa 3 wanita itu kompak.


Lalu pandangan Rafka dan Zarine bertemu.


Rafka mengedip kan mata genit pada Zarine yang mendapat senyum tertahan dari Zarine.


Pertandingan kembali di lanjut.


Kini giliran Abdiel yang menggiring bola.


"Ayo Yang!! Semangat!!." Teriak Akifa menyemangati Abdiel.


Mendengar teriakan sang istri, hati Abdiel menggebu-gebu ingin memasuk kan bola ke dalam ring.


Dan... .


"Untuk bidadari dunia akhirat ku!! Akifa!!." Sekali lagi, lapangan riuh dengan teriakan semua orang.


"Acieeeee Akifa, hahahaha." Goda Zarine juga Alfi, Tika.


Akifa berbinar senang mendapat ucapan seperti itu dari Sang suami.


"Sekarang tinggal Alfi, Abhi kan manusia dingin-dingin gimana gitu, ucapan cinta nya ke Elo kek mana yak? Penasaran Gua." Cetus Tika berucap.


"Si Abhi tuh cuek orang nya, kagak bakal ngungkapin pasti." Kata Alfi.


"Kita liat aja nanti." Ujar Akifa.


"Ayo kalian para junior semangat juga dong!!!." Teriak Alfi.


"Woy?! Lu ngapain nyemangatin orang? Suami Lo ngga di semangatin?." Tanya Tika heran.


"Skor mereka seri, junior kita kaya lesu gitu, jadi mending nyemangatin mereka." Kata Alfi seringan bernafas.


"Duh iya in deh." Pasrah Tika.


Pria di lapangan kembali bermain, skor seri, berarti permainan ini adalah babak penentu.


"Ayo Bhi, Lo belum masukin bola ke ring." Kata Abdiel sambil melempar bola kepada Abhi.


Abhi menerima bola, mendribel nya dan membawa bola menuju ring, Abhi sangat pandai memgecoh lawan, dan... .


"Alfi?! Stay With Me forever!." Seru Abhi kencang bersamaan dengan bola yang masuk ke dalam ring.


Alfi yang mendengar perkataan Abhi hanya menyungging kan senyum nya sekilas.


"Asli sekali kaku tetap kaku." Kata Tika yang melihat ekspresi Alfi yang biasa saja.


Siswi yang mendengar teriakan Rafka, Abdiel, juga Abhi pada baper semua.


"Aaaa... Kak Abdiel, Kak Rafka, sama Kak Abhi so sweet banget, baper Gua nya njir." Kata salah satu siswi yang duduk tepat di depan Alfi, Zarine, Akifa, Tika.


"Moga langgeng deh mereka sampe ke jenjang yang serius, aamiin." Doa teman di sebelah nya.


Zarine dan 3 wanita lain nya menahan tawa yang hampir pecah mendengar doa itu.

__ADS_1


Tapi mereka bersyukur bahwa banyak yang mendoakan hubungan mereka.


"Bakal gempar nih satu sekolah kalo tau kita dah nikah." Bisik Tika lirih.


"Hahaha... ngga kebayang sih gimana mereka😂." Kata Zarine menimpali.


'Tring... ring... ring... .' Bel tanda masuk berbunyi.


Semua murid berbondong-bondong masuk ke dalam kelas.


Di jalan menuju kelas, 7 serangkai berbincang-bincang.


"Keren ngga aku tadi?." Tanya Abdiel pada sang istri.


"Biasa aja." Jawab cuek Akifa.


"Masa sih? Padahal aku berharap kamu bilang 'iya' loh." Kata Abdiel kecewa.


"Udah ngga usah ngambek, jelek kalo kamu ngambek." Sembur Akifa tepat menancap pada jantung Abdiel.


"Gitu banget sih kamu Yang." Rajuk Abdiel.


"Hahahaha... udah ah jan ngambek, iya tadi kamu keren, saking keren nya sampe aku mo pingsan." Lebay Akifa.


"Uyyy lebay." Kata Tika menimpali.


"Apa sih, diem Lu jones." Ledek Abdiel.


"Jahat bat Lo pada, huhuhu." Drama tika sudah mulai.


"Jan nangis, jatuh nya ke mbak kunti Lo kalo gitu." Ledek Rafka.


"Njir." Umpat Tika kesal, dia menjauh pergi dari 6 serangkai mendahului masuk kelas karena memang sudah sampai di depan pintu kelas nya.


"Hahahaha." Tawa 6 serangkai pecah menertawa kan Tika.


Pelajaran kembali terlaksana di seluruh kelas sekolah SMA Merdeka.


Ekspresi murid sudah menampil kan berbagai bentuk, ada yang antuasias, ada yang ngantuk, ada malas, ada juga yang tak tertarik pada mata pelajaran yang di terang kan guru di papan tulis.


Seperti 6 serangkai saat ini, di kelas mereka sedang ada guru PPKN sedang mengajar.


"17 Agustus tahun 1945... ." Panjang kali lebar kali tinggi Guru menjelas kan, tapi murid-murid nya tak ada yang tertarik dengan pejaran PPKN.


Pasal nya memang tak ada lagi bahan yang di bahas selain Kemerdekaan Republik Indonesia.


"Denger ceramah Bu Wiwik bikin Gua ngantuk aja." Kata Abdiel sambil memejam kan mata nya perlahan.


"Janga tidur Lo Diel, mau kena hukum Lo?!." Semprot Abhi sambil berbisik.


Bu Wiwik sang pengajar materi PPKN merasa lelah mengajar tapi tidak di dengar kan serius oleh murid nya, beliau pun memberes kan buku-buku nya di meja dan duduk di kursi guru sambil memperhati kan seluruh penghuni kelas.


"Ada apa?." Tanya Zarine heran.


"Kenapa Bu Wiwik berhenti jelasin?." Alfi bertanya.


"Ayo Bu lanjutin." Kini Akifa meminta.


"Kalian bertiga lihat seluruh teman sekelas kalian." Suruh Bu Wiwik.


3 wanita itu menurut.


"Allahu Akbar! Ini kenapa pada molor? Oy?! Kalian yang tidur! Bangun!!." Seru Akifa berteriak sambil menggebrak meja.


Sontak saja satu kelas langsung membelalak kan mata nya lebar.


'Huuufffffh.' Helaan nafas lelah terdengar dari mulut Bu Wiwik.


"Anak-anak? Kalian bentar lagi ujian, ayo dong lebih serius, saya juga capek tau ngoceh ke sana kemari-." Belum selesai Bu Wiwik berucap sudah ada yang memotong nya.


"Membawa alamat deng... deng... namun yang ku temui bukan diri nya sayang-" Sambar Abdiel bercanda.


'Pletak!.' Sebuah spidol melayang tepat mengenai kening Abdiel.


"Adohhh." Ringis Abdiel, dan seketika dia berhenti bernyanyi, beralih mengelus kening nya.


Semua penghuni kelas menahan tawa mereka agar tidak pecah.


"Maaf Bu." Ucap Abdiel tulus.


"Kalian buka buku paket halaman 127 kerjakan latihan soal di sana, kumpul kan sebelum jam saya berakhir!." Tegas Bu Wiwik, kemudian beliau pergi keluar kelas.


Kelas pun manjadi riuh.


"Hahaha... gimana rasa nya Diel? Enak ngga kena timpuk spidol?." Ejek Banu.


"Uh sangat nikmat, apa lagi Lo Gua timpuk juga, mau ngga?." Garang Abdiel.


"Kamu sih Yang bercanda ngga tau tempat." Sungut Akifa sambil mengelus-elus kening sang suami.


"Bu Wiwik kan terkenal sabar dan hobi bercanda, ya aku anggap dia tadi bercanda." Jujur Abdiel.


"Udah jangan merungut, ayo kita kerjain tugas Bu Wiwik biar ngga dapet timpuk kan spidol nya" Alfi sebagai penengah juga yang menyindir Abdiel.


Mereka mengerjakan tugas dari Bu Wiwik.


5 menit sebelum bel berbunyi tugas satu kelas selesai dan sudah terkumpul juga di meja Rafka, Bu Wiwik datang mengambil pekerjaan mereka lalu beliau kembali pergi setelah mengakhiri kelas nya.


Pukul 15.30 sore sekolah berakhir.


Sesuai janji kemarin siang di rumah Rafka Zarine, sekarang mereka, 7 serangkai OTW menuju makam Ayah Zarine.


Di dalam mobil sebelum pergi, ponsel mereka berbunyi bersamaan tanda ada pesan dari grup yang mereka ikuti.


"Bhi? Cek HP Lo, liat siapa yang chat." Suruh Rafka.


Yang di suruh menurut dan Abhi pun mengecek serta membaca pesan.


"Kita di suruh meluncur langsung ke makam, semua nya juga udah jalan ke sana." Kata Abhi.


"Ok, let's go! Kita berangkat." Seru Abdiel.


Rafka menjalan kan mobil Abhi meninggal kan sekolah.


Di perjalanan, se isi mobil diam tak ada yang berbicara.


Sunyi dan hening, itu lah suasana nya.


"Yang henti kan mobil!." Pinta Zaeine tiba-tiba.


Dan Rafka pun terkejut lalu mengerem mendadak, sampai Abdiel terantuk kursi di depan nya.


"Aduh! Ada apa an sih Za? Ngagetin aja Lu." Kesal Abdiel.


"Hehehe, maaf semua nya, tunggu sini dulu, aku mau beli bunga di sana." Tunjuk Zarine pada toko bunga di seberang.


"Aku ikut!." Seru Tika.


"Ayo." Ajak Zarine.


2 wanita itu keluar mobil dan melakukan apa yang mereka mau.


5 menit kemudian meraka kembali ke dalam mobil dan mobil melaju kembali ke arah tujuan.


Tak berapa lama, mobil Abhi sampai di TPU Kembang Kamboja (hanya nama karangan).


Lalu menyusul mobil 2 mobil lain yang yang di tebak oleh 7 serangkai itu adalah mobil Mama Papa Rafka dan lain nya.


Mereka masuk ke pamakaman secara bersama-sama dan langsung menuju ke tempat makam Ayah Zarine.


"Assallammu'allaikum." Salam mereka semua bersamaan.


Rafka memimpin membaca doa-doa untuk almarhumah, mereka ada yang duduk dan ada juga yang berjongkok di dekat makam Ayah.


Hanya membutuh kan waktu 20 menit, pembacaraan doa-doa pun selesai, kini hanya tertinggal Bunda, Rafka Zarine, Bang Rafa Kak Raina.


Lain nya pergi meninggal kan memberi waktu pada keluarga inti.


"Ayah? Za bawa kabar baik buat Ayah, Za mengandung cucu pertama Ayah, udah 8 minggu Yah." Kata Zarine sambil mengelus batu nisan sang Ayah tercinta.


"Ayah pasti bajagia denger ini di sana, kamu yang tegar ya." Rafka menguat kan Zarine.


"Yah? Udah sore nih, kita semua panit dulu ya, Ayah yang tenang di sana, kita semua sehat dan baik-baik aja di sini, assallammu'allaikun Yah." Pamit Bunda juga lain nya.


Hari memang sudah semakin sore.


Di perjalan kembali seperti saat mereka berangkat, keadaan mobil sangat sunyi dan sepi.


Rafka menenang kan sang istri agar tak menangis, karena mata Zarine memang tampak sudah berkaca-kaca.


"Jangan nangis, kasian Baby nya ikut sedih loh nanti Yang." Bujuk Rafka lembut.


Zarine mengangguk lalu menghapus air mata nya yang sudah menetes.


Mereka pun sudah sampai di rumah, para orang tua memutus kan untuk menginap hari ini karena permintaan Zarine juga lain nya.


Sampai rumah Rafka Zarine, semua orang masuk ke kamar masing-masing untuk mandi dan bersiap menyambut maghrib.


Kita ke kamar Bang Rafa Raina.

__ADS_1


Terlihat Bang Rafa duduk termenung di depan jendela kamar.


Kak Raina yang melihat itu menghampiri nya dan memeluk nya dari belakang.


"Are you ok?." Tanya Kak Raina.


"Yes, aku ok, ngga papa." Jawab Bang Rafa.


"Jangan sedih terus dong Yang, kamu ngga sendiri, masih ada aku dan mereka di luar sana yang sayang banget sama kamu, jangan ngerasa sendiri." Kata Raina lembut sambil mengecupi pucuk kepala Bang Rafa.


"Aku ngga sedih, cuma kaget aja Bee, rasa nya kaya baru kemarin aku bareng-bareng sama Ayah, tapi sekarang... semua tinggal kenangan." Jelas Bang Rafa.


"Semua makhluk akan kembali pada pemilik nya, kita manusia hanya bisa berencana tapi tak bisa memasti kan." Ujar Raina pada sang suami.


"Kamu bener." Kata Bang Rafa.


Dia memeluk Raina dari depan menenggelam kan wajah nya pada perut rata Raina.


Bang Rafa mengunyel-unyel kan wajah nya di sana.


"Dah mandi sana, ini udah mau maghrib." Suruh Raina.


"Mandi bareng yuk." Ajak Bang Rafa dengan mendongak kan wajah nya menatap Raina.


"Males ah, kalo mandi cuma mandi biasa aja aku mau, tapi selain itu aku ngga mau." Tolak Raina.


"Iya cuma mando biasa, ayo kita mandi." Keukeuh Bang Rafa.


Sang istri pun meng iya kan dan mereka mandi bersama.


Keluarga besar berkumpul di ruang santai rumah Rafka Zarine dan berbincang segala hal di sana.


'Ting... tong... ting... tong... .' Suara bel rumah berbunyi di bunyi kan oleh orang, (ya iya lah di bunyi kan orang, masa di bunyi kan hantu😂 #AuthorGesrek).


"Ada tamu tuh, buka in sana tuan rumah." Suruh Akifa.


Zarine berdiri dari duduk nya dan berjalan ka arah pintu, Rafka juga mengikuti nya.


'Ceklek!.' Pintu di buka.


"Assallammu'allaikum." Salam tamu yang terdiri dari 2 orang.


"Wa'allaikum sallam." Jawab Rafka Zarine bersamaan.


"Wah Sari! Ayo silah kan masuk." Zarine berbinar senang mendapati bahwa yang bertamu adalah Sari dan Roy.


Zarine langsung memeluk Sari erat seperti sudah 1 abad tak bertemu, Roy dan Rafka bertos ala pria.


"Kita ber dua ganggu kalian ngga?." Tanya Sari menggoda.


"Ya engga dong... ayo ikut masuk ke ruang santai, kebetulan di sana keluarga besar lagi ngumpul.


'Deg!.' Jantung Sari bertedak lebih cepat dari biasa nya.


"Ke... ke... keluarga?." Tanya Sari gagap, dia langsung menghenti kan langkah kaki nya dan menatap khawatir ke arah Roy di samping nya.


"Ngga papa ayo." Semangat Roy mendorong Sari untuk terus maju.


Zarine menggandeng tangan Sari lembut membawa nya ke ruang santai.


"Hai hai semua nya... liat nih ada tamu yang dateng." Kata Zarine menarik perhatian.


Semua orang menatap 2 orang yang di bawa oleh Rafka Zarine dengan tatapan yang tak bisa di arti kan.


Sari menunduk tak menatap wajah-wajah mereka dan Roy tersenyum menyapa sambil menggenggam tangan Sari erat.


Seperti mengatakan 'jangan takut, aku ada di samping kamu, mendukung kamu, serta menjaga kamu' ya seperti itu lah.


Sari lumayan tenang mendapat genggaman tangan itu.


"Assallammu'allaikum semua nya? Apa kabar?." Salam sapa Roy.


"Wa'allaikum sallam, alhamdulillah kita semua sehat wal'afiat." Jawab Mama Rafka tenang.


"Ayo duduk kalian berdua." Ajak Zarine senang.


2 tamu itu pun duduk, pandangan orang-orang di ruang santai khusus nya para orang tua tak dapat di arti kan oleh Roy.


Suasa ruangan tampak sedikit tak nyaman karena canggung.


"Sari kapan keluar RS?." Basa basi Papa Rafka.


"U... udah beberapa minggu yang lalu Om." Jawab gugup Sari.


Diam lagi.


"To the point aja, ngapain kalian dateng?." Tanya Mama Rafka yang blak-blak an.


"Ma?." Tegur Papa Rafka lembut.


"Se... sebelum ke inti nya, saya mau meminta maaf sama keluarga besar ini atas segala kejahatan saya di masa lalu." Ucap Sari akhri nya.


"Saya mengaku salah karena melakukan cara kotor untuk mendapat kan sesuatu, dan memang seharus nya saya tidak melakukan hal bodoh seperti itu kepada Rafka Zarine juga semua nya, yang sudah jelas-jelas saya di tolak tapi saya masih keukeuh untuk mendapat kan sesuatu yang tak bisa saya dapat kan." Sambung Sari panjang lebar bak kereta api.


"Mohon maaf kan saya yang di masa lalu." Kata nya lagi.


Semua diam mendengar kan.


Terlihat oleh para orang tua, Mama Rafka tersenyum manis ke arah Sari.


Melihat itu sang suami melebar kan mata nya tak percaya.


Tiba-tiba, Bunda dan Mama Rafka berdiri dan mendekat duduk di samping kanan kiri Sari menyuruh Roy dan Zarine menyingkir.


Bunda dan Mama Rafka mengelus surai hitam Sari yang di gerai rapi.


"Kita semua sudah memaaf kan kamu Sari." Ucap Mama lembut.


Sari mendongak dari posisi menunduk nya, mata nya berkaca-kaca menatap 2 wanita paruh baya di samping nya.


"Walau pun awal nya Tante ngga mau terima maaf dari kamu, tapi setelah di pikir dan Tante mendapat pencerahan dari Papa Rafka, Tante milih memaaf kan kamu, karena dendam ngga ada guna nya." Panjang Mama Rafka.


"Ma... makasih Te, makasih udah mau maafin aku." Senang Sari sampai air mata nya jatuh tak terbendung lagi.


Bunda dan Mama Rafka memeluk Sari bersamaan.


Semua orang di ruang santai itu tersenyum bahagia dengan lebar nya.


'Allahu akbar... Allahu akbar... .' Adzan maghrib berkumandang.


"Dah, sedih-sedihan nya di tunda dulu, lanjut nanti, adzan maghrib tuh, ayo kita sholat dulu, ayo Roy dan sari ikut sholat juga." Ajak Papa.


"Mukena nya pinjem punya aku aja Sari." Kata Zarine.


Semua nya bersiap untuk sholat.


30 menit kemudian mereka selesai sholat di mushollah rumah Rafka Zarine.


Selesai sholat Sari dan Roy di paksa untuk makan malam di sana.


Pukul 18.45 mereka kembali berkumpul di ruang santai.


"Ouh iya kalian ada apa sateng ke sini? Ngga mungkin dong dateng tanpa alasan?." Tanya Mama Akifa.


Sari tanpa bicara mengeluar kan sesuatu dari dalam tas selempang nya dan meletak kan nya di atas meja.


Mama Rafka mengambil dan memperhati kan benda yang di pegang nya.


"Widih! Minggu ini." Kata Alfi bersuara setelah ikut membaca benda di tangan Mama Rafka.


-


-


-


-


-


Bersambung...


Like & komennya ditunggu


Maaf ngga nyambung😢🙏


Maaf kalo garing😢🙏


Maaf typo di mana-mana🙏😢


Maaf banget kalo makin hari ceritaku makin ngga menarik.


Maaf cerita nya membosan kan😢.


Maaf gantung cerita nya😂.


Di lanjut besok ya readers😂.


Saya penulis yang masih pemula dan amatiran😢.

__ADS_1


Jaga kesehatan selalu readers.


Salam sayang dari ViCa😍.


__ADS_2