
SEBELUM LANJUT BACA, TOLONG BACA YANG DI BAWAH INI.
MINTA MAAF BANGET SAMA KALIAN SEMUA KARENA CERITA KU MAKIN HARI MAKIN NGACO DAN NGGA NYAMBUNG, TERUTAMA MEMBOSAN KAN, AUTHOR MINTA MAAF YANG SEBESAR-BESAR NYA🙏🙏.
******************************
-
-
"Iya Ma ampun Ma, ngga lagi-lagi deh, lagian kan aku ngga takut sama Mama, cuma Papa menghormati Mama biar di kasih 'itu' ngga di kasih juga ngga papa." Papa Abdiel berbicara dengan meringis-meringis kesakitan.
-
-
-
...L A N J U T A N...
...P A R T...
...K E M A R I N . . ....
-
-
-
"Hah! Gua juga sama kaya Lu dodol! Gua kagak takut ama Alfi, Gua cuma menghormati nya dengan cara ngga membuat dia ngambek apa lagi cuekin Gua, ya walau pun muka ngambek Alfi gemesin, tapi Gua berusaha buat ngga buat dia ngambek." Jelas Papi Abhi detail.
"Tuh! Papa denger kan?! Minta maaf sekarang!." Perintah Mama Akifa tak terbantah kan.
"Iya-iya, Gua minta maaf Bhi, sorry, niat nya becanda, udah Ma! Lepas yah?." Pinta Papa Abdiel pada sang istri dengan menampak kan muka memelas nya.
Dengan segera Mama Akifa melepas jeweran tangan nya dari telinga sang suami tercinta nya.
"Ashhh!! Ya Allah sakit banget!." Keluh Papa Abdiel sambil mengusap-usap telinga nya yang panas dan merah.
"Hahaha... bisa jatuh harga diri Lu Diel kalo anak-anak liat adegan drama ini, maka nya jangan lagi-lagi Lu ngomong aneh-aneh." Cetus Daddy Rafka di iringi tawa nya.
"Hahahaha... ." Suara tawa mereka para tetuah kecuali Papa Abdiel menggemah di ruang santai rumah Daddy Rafka dan Mommy Za yang luas ini.
Ok readers, kita balik ke mall.
Kini 8 serangkai tengah mengerubungi kotak kaca berisi penjempit boneka.
Siapa lagi yang membawa ke kotak ini kalau bukan para wanita.
Terutama Agnez, gadis manis penuh dengan ke enerjik kan bak robot yang batrai nya baru di carger full itu merengek manja pada Angkasa agar mengambil kan nya teddy bear berukuran sedang berwarna coklat di dalam kotak.
Angkasa yang melihat Agnez merengek dengan menampak kan muka imut nya dan puppy eyes nya tentu saja tak dapat menolak.
Dengan terpaksa Angkasa menuruti permintaan gadis manis nya ini.
Sudah 5 kali Angkasa mencoba untuk mengambil mainan itu, tapi tetap saja dia tak berhasil.
"Aggh!." Angkasa emosi dan menendang kotak kaca penuh boneka itu.
Agnez di samping nya mengelus lengan Angkasa lembut.
"Wes lah Mas, jangan marah, aku ndak papa kok kalo Mas ndak dapet itu kita bisa beli di toko boneka nya langsung, iya to?." Tanga Agnez dengan senyum manis nya.
Angkasa menarik nafas nya dalam-dalam dan menghembus kan nafas nya dengan perlahan.
Tatapan lesu dari Angkasa terlihat jelas di mata nya, Agnez melihat itu dan dia berusaha mengalih kan dengan mengajak Angkasa bermain hal lain nya yang lebih seru.
"Ya wes lah, tinggalin nih kotak kaca, ayo kita main hal lain nya, masih banyak loh permainan yang belum kita main kan." Ajak Agnez antusias.
Angkasa menyadari bahwa gadis nya tengah berusaha mengalih kan diri nya dari kotak kaca di depan nya ini, tapi yah... yang nama nya Angkasa tetap lah Angkasa, dia tak mau menyerah sampai mendapat apa yang ia mau, 'Tidak ada kata menyerah dalam kamus ku!.' Begitu lah dalam hati nya bersuara.
6 serangkai yang melihat drama di depan mata mereka ini tersenyum kecil.
Mereka tak ada niatan ingin meninggal kan 2 sejoli ini karena ingin melihat hal apa yang dapat di lakukan Angkasa bila ke inginan gadis nya belum terpenuhi.
Dalam hati Damar Wulan, Kristal, Albhi, dan Pamungkas bersuara 'Aku yakin pasti Angkasa bakal terus mantengin nih kotak sampai ke inginan Agnez terwujud, huhuhu... mari kita lihat.' Mereka membatin kan hal yang sama walau tak bekerja sama.
Dan benar saja, Angkasa menolak untuk berpindah ke game lain, dengan suara lembut nya Angkasa menolak ajak kan Agnez.
"Little girl? Aku ngga mau main lain nya, aku mau di sini, berusaha dapetin boneka yang kamu mau itu, kamu kalo mau main, ajak aja Kakak-kakak yang di belakang kita itu, aku bakal main lagi kalo udah dapet tuh teddy bear." Kata Angkasa yang membuat Agnez menatap nya dengan kedipan polos nya yang menggemas kan.
Kemudian Agnez pun menjawab.
"Ya wes lah, kalo Mas Angkasa ndak main, Agnez juga ndak main, mau di sini aja nunggu in Mamas." Papar Agnez dan menduduk kan bokong nya ke bangku yang letak nya tepat di belakang nya.
Angkasa kembali menghela nafas pelan.
"Ya udah gini, sekali lagi aku akan main, kalo masih ngga dapet, kita ke toko boneka nya langsung aku beli in yang lebih gede dari yang kamu minta, kalo perlu yang gede nya se aku." Serius Angkasa berucap.
"Maafin Agnez nyusahin Mas Angkasa." Ucap Agnez tak enak hati.
"Stt! Ke inginan mu adalah perintah bagi ku little girl!." Tegas Angkasa berucap dengan menatap mata Agnez dalam.
"Tapi-." Belum tuntas Agnez berucap Angkasa sudah memotong nya.
"Ngga ada tapi! Kamu cuma boleh liat tanpa banyak bicara, doa in aku biar bisa dapet teddy bear yang kamu mau." Pinta Angkasa.
"Duh! Kalian mau ambil boneka aja kaya mau berangkat perang yah, hihi... ." Goda Kak Rain di akhiri cekikikan pelan.
"Hahaha... iya loh, pake doa in segala." Imbuh Wulan tertawa.
Agnez menanggapi omongan dari Kak Rain dengan cengiran polos nya sedang kan Angkasa membalas nya hany dengan sunggingan senyum miring nya.
Setelah sedikit berbincang dan bercanda, Angkasa fokus pada kotak boneka di depan nya.
Tangan nya dengan cekatan menggerak kan penjepit boneka dengan lihai.
Lalu... .
Hap!
Apa yang di ingin kan gadis nya terwujud setelah 6 kali percobaan, Angkasa memberi kan boneka nya pada Agnez.
Gadis itu sangat bahagia, dia sedikit berjingkrak kegirangan.
"Terima kasih Mas Angkasa, makasih banyak-banyak." Ucap tulus Agnez sambil memeluk tubuh Angkasa di depan nya secara tiba-tiba.
Tindak kan Agnez yang secara tiba-tiba itu mengakibat kan pria itu menegang dengan jantung berdegug kencang.
'Jantung sialan! Bisa kondisi in kagak sih detak kan Lo?! Bisa ketahuan nih sama Agnez kalo Lo salah tingkah, gugup, deg deg an, udah dong jangan kenceng-kenceng detak nya!.' Sungut Angkasa merutuki detak kan jantung nya.
Karena gugup Angkasa tak membalas peluk kan Agnez, dia hanya menatap rambut sang gadis tecinta nya.
Tak lama Agnez memeluk Angkasa, hanya 3 menitan, kemudian Agnez melepas peluk kan nya dan mulai berbicara lagi.
"Ayo main lagi!." Suara ajak kan dengan penuh semangat dari Agnez itu membuat Angkasa sadar tertarik ke kembali ke dunia nyata nya.
"Hah? Apa Nez?." Tanya gelapangan Angkasa yang di tertawa kan dengan suara kecil oleh 6 orang lain nya di sana.
Agnez yang tak paham pun mengulang ajak kan nya.
"Kita ngga main lagi deh, kita ke toko boneka aja, terus pulang." Putus Angkasa dengan suara tegas nya yang tak dapat di bantah.
"Jam berapa sih emang kok ngajak pulang?." Tanya Wulan dengan mata nya menatap jam di pergelangan tangan kiri nya.
__ADS_1
"Eh? Udah jam 10.30 aja, ya udah yuk kita ikutin saran Bang Angkasa." Cetus Wulan, kaki nya melangkah lebih dulu meninggal kan lain nya sedikit jauh di belakang.
8 orang kemudian berjalan menuju ke toko boneka.
Sampai di dalam toko.
"Beuh istana nya anak-anak nih." Heboh Wulan berucap.
"Kalian para cewek-cewek duduk situ aja, kita mau tanya-tanya sama Kakak-kakak yang di sana." Pamit Damar pada para gadis.
"Tanya apa Dam?." Tanya Krisyal LoLa (Loading Lama).
"Tanya-tanya soal boneka sebesar badan kita ini, kita ke sini kan mau beli itu." Terang Damar singkat.
"Hehe... iya deh sana-sana! Jangan lama-lama loh." Peringat Kristal yang di angguki oleh Damar yang sudah melangkah menjauhi tempat duduk para gadis.
Sepeninggalan para pria.
"Eh girl's? Bener ngga sih kalo kita numpuk-numpuk banyak boneka terus ngga di pake tuh entar boneka nya ada isi nya?." Tanya Kristal serius.
"Nggs tau juga sih, aku di rumah boneka udah pada ngga ada, satu aja engga, Mommy udah kasih-kasih ke panti." Wulan menjawab dengan mata tak menatap Kristal, mata nya sibuk menatap jajaran boneka di bagian dinding atas toko.
"Kalo kata si Mbah nya Agnez dulu, barang yang ndak boleh di telantarin tuh ada 2 Mbak, cermin sana lukisan, kalo dua barang itu ndak di pake mending di jual, di kasih orang, atau bisa juga di rusak, soal nya kalo di biarin ndak terurus bisa-bisa ada isi nya." Cerita Agnez mengalir.
"Isi? Maksud nya tuh isi apa sih Nez?." Tanya Kak Rain yang memang tak paham.
"Isi tuh maksud nya setan, jin, hantu itu loh Mbak." Terang Agnez detail.
"Ouh gitu... terus kalo boneka gimana?." Pertanyaan Kristal kembali di lontar kan dari bibir Kak Rain.
"Nah itu dia, Agnez juga ndak tau, hihi... si Mbah nya Agnez ndak ada bilang boneka dulu, cuma 2 benda itu aja." Balas Agnez lengkap dengan kekehan geli nya.
"Wes lah ojo bahas mistis-mistis gini, takut sendiri jeh jadi nya Agnez." Ucap Agnez menghenti kan obrolan tentang makhluk Allah yang tercipta dari api itu.
"Iya nih Kakak sendiri ikut merinding, mana sendirian lagi di rumah." Cetus Kak Rain bersuara.
"Kita ini derajat nya lebih tinggi dari pada tuh makhluk Kak, tapi emang sih, siapa sih yang ngga takut pas dia muncul depan kita nampakin wajah rusak, hiiii serem!." Celutuk Wulan dengan bergidik ngeri.
4 gadis itu bercerita ngalor ngidul untuk menghilang kan bosan menunggu para pria bertanya tentang boneka sebesar badan manusia.
15 menit berlalu, terlihat dari bangku para gadis duduk, Angkasa mendekat menghampiri 4 gadis yang tengah asik duduk itu.
Setelah sampai di depan gadis-gadis, Angkasa berbicara.
"Ayo ikut aku pilih boneka yang kalian suka." Ajak Angkasa, tangan nya menggandeng dan menarik lembut tangan Agnez yang mungil.
Langkah Agnez dan Angkasa pun sejajar.
Pilih memilih boneka terjadi cukup lama.
Apa lagi Agnez, gadis mungil tapi manis itu sedikit rewel dalam memilih boneka.
Dengan sabar yang lain nya menunggu, dan Kakak perempuan yang melayani Agnez pun dengan sabar pula melayani.
"Little girl mau nya yang kaya gimana emang boneka nya?." Tanya Angkasa lembut.
"Panda." Singkat padat dan jelas Agnez berucap.
"Ouh yang itu, tunggu di sini Kak, saya ambil kan dulu." Kata Kakak peremuan yang melayani Agnez.
Agnez membalas nya hanya dengan angguk kan dan di sertai senyuman manis nya.
"Maaf loh Mbak nya nyusahin." Ucap Agnez tak enak hati.
"Sudah tugas kami Kakak, di tunggu yah boneka nya." Balas Kakak SPG nya.
Dengan langkah 1000 Kakak SPG itu mencari boneka Panda di bantu rekan nya.
Pantas saja gadis nya Angkasa rewel saat memilih, yang di mau boneka Panda ternyata, sedang kan pilihan yang ada tadi hanya Teddy bear dan Doraemon saja.
Sebelum beli tadi tentu saja ada perdebatan antara Kak Rain dan Pamungkas.
Kak Rain yang tak mau beli boneka, di paksa memilih oleh Pamungkas.
Berondong itu bilang, sebagai hadiah atas ke mauan Kak Rain jalan-jalan ke mall bersama, padahal tanpa di beri hadiah, Kak Rain memang mau ke mall.
Tapi yah... yang nama nya Pamungkas tetap Pamungkas, dia memaksa Kak Rain sampai membawa-bawa nama Bunda Raina dan dengan desak kan gadis-gadis lain nya Kak Rain pun memilih boneka.
Kak Rain sebener nya tidak terlalu perlu dengan boneka, dia berpikir mending uang nya di beli kan makanan atau apa gitu yang berguna, Kak Rain juga sudah bukan anak-anak atau remaja yang masih suka boneka.
Tapi ya sudah lah demi Pamungkas dia menerima boneka itu.
Lama menunggu boneka Panda nya pun sudah ada di depan mata Agnez.
"Yah Agnez mau ini!." Antusias gadis itu berucap.
"Alhamdulillah." Ucap semua orang berucap syukur, bagaimana tidak?! Sedari tadi mereka semua bingung dengan Agnez, apa yang di ingin kan gadis itu?.
Tapi alhamdulillah Agnez langsung menjatuh kan pilihan nya pada boneka Panda.
Setelah memilih dan membayar 4 boneka itu, 8 serangkai sekarang dalam perjalanan pulang kerumah.
Boneka mereka di letak kan di bagasi, sebelum nya di masuk kan dalam kardus agar tak kotor.
Dalam perjalanan, Kak Rain hendak mengatakan ingin di antar pulang ke rumah nya sendiri tapi sebelum ity terucap, Pamungkas mengatakan, "Kita ke rumah Mommy Za dan Daddy Rafka, Kak Rain nanti sore aja pulang, ini perintah bukan penawaran." Yah begitu lah akhir nya.
Kak Rain pun hanya bisa menurut tak bisa mengata kan apa pun selain mengangguk kan kepala.
Setelah perjalanan, mobil yang di kendarai 8 serangkai pun sampai di rumah Mommy Za dan Daddy Rafka.
Semua orang dalam mobil turun.
Para gadis berlari terlebih dahulu ke dalam rumah sambil berteriak mengucap salam, bak anak kecil yang baru saja pulang dari sekolah.
Di luar para pria mengeluar kan barang-barang dalam bagasi untuk di bawa masuk.
Di pintu utama rumah Mommy Za dan Daddy Rafka, seorang gadis berteriak.
"Mas supir! Bawa boneka nya hati-hati yah! Hahaha... ." Siapa lagi kalo bukan Wulan? Dia mengejek 4 pria yang berdiri membawa kotak berisi boneka itu bak supir pribadi.
"Cis! Diem!." Seru Abang nya, Bang Damar dengan mendelik kan mata nya lebar-lebar.
"Jangan di gitu in mata nya Bang! Nakutin tau!." Cetus Wulan, sebelum mendapat semprotan lagi, Wulan masuk ke dalam rumah, tawa nya masih terdengar nyaring di telinga para pria yang masih di luar rumah.
"Huh! Anak satu itu!." Gumam Damar jengkel.
"Jangan di marahin, udah lah Lo juga kagak sendiri, kita juga bawa kotak nih." Kata Albhi membela Wulan.
"Bucin." Singkat Damar mengejek Albhi.
"Ehem! Sadar diri itu penting ya Bre." Cetus Albhi dengan melirik tajam Damar.
"Jangan ngejek kita bucin, Lu kalo Kristal di ambil orang nyahok Lu." Ketus Angkasa berucap.
"Ya jangan ampek lah! Kalo ada yang ambil jangan harap selamat deh dari Gua." Dengan nada suara dingin dan datar Damar berucap.
"Nah! Itu juga termasuk bucin." Cetus Pamungkas acuh.
4 pria tampan itu mengobrol sampai di ruang santai.
"Assallammu'allaikum." Salam 4 pria itu kompak dengan mendarat kan bokong nya di karpet berbulu.
"Apa tuh?." Tanya Mommy Za memunjuk kotak boneka yang di bawa para pria.
"Ini isi nya boneka Momm, Abang-abang ini tadi beli in kita satu satu." Bukan para pria yang menjawab, tapi Wulan yang menjawab.
__ADS_1
"Boneka?." Beo Mami Alfi.
"Iya Mi." Balas Albhi.
Wulan, Agnez, Kristal, dan Kak Rain membuka kotak boneka itu dan mengeluar kan isi nya.
Mereka kemudian membuka bungkusan plastik yang membungkus boneka itu agar mengecil.
Dan wala!
Setelah boneka nya keluar tampak lah ukuran yang sebenar nya.
"Allahu Akbar! Yang meluk sampa ngga nampak yak." Ejek Mommy Za pada para gadis ini, makna tersirat dari ejek kan Mommy Za adalah mengatakan para gadis lebih pendek dari boneka yang mereka peluk.
"Mommy... ." Wulan, Kristal, dan Agnez merengek manja saat di kata kan pendek, walau dalam bahasa halus.
Kak Rain tak ikut merengek, karena memang benar bahwa dia lebih pendek dari boneka nya, Kak Rain hanya terkekeh pelan mendengar penuturan Mommy Za.
"Hahahaha... ." Tawa semua orang pecah mendengar rengek kan para gadis manis ini.
Wulan yang tak terima di kata kan pendek pun buka suara.
"Kita tuh ngga pendek Momm." Serius Wulan sambil pandangan nya menatap sang Ibunda.
"Lalu? Kalo ngga pendek apa dong?." Tanya Mommy masih setia dengan sisa-sisa tawa nya.
"Tapi ukuran boneka nya yang terlalu tinggi, kita ngga pendek kok, kita sudah standart." Bela Wulan yang di angguki Kristal dan Agnez.
"Sama aja, tinggi standart itu arti nya pendek." Cetus Bang Damar masih dengan tawa pelan nya.
Wulan dan Kristal menatap tajam Bang Damar lalu menyerbu nya dengan pukulan bantal sofa sekeras mungkin.
"Adoy iya deh iya kalian ngga pendek, tapi boneka nya yang terlalu tinggi, iya kalian menang, udah dong ampun ngga lagi-lagi bilang kalian pendek deh." Bang Damar yang di kroyok tentu saja memilih mengalah dan meminta ampun.
Dan setelah lama berperang Wulan dan Kristal pun mengakhiri nya.
Karena memang waktu sudah menunjuk kan dzuhur akan tiba, jadi semua orang memutus kan untuk masuk ke dalam kamar masing-masing, membersih kan diri dan sholat dzuhur di mushollah secara berjamaah.
Kak Rain pun ikut, dia di pinjami mukena dan baju Wulan.
Selesai menjalan kewajiban sebagai umat islam, semua orang pergi ke meja makan, duduk di kursi nya masing-masing dan makan siang bersama.
Tak ada obrolan sama sekali di meja makan, hanya ada suara dentingan sendok garpu yang menyatu dengan piring.
Habis makan siang, pa tetuah pamit undur diri ke dalam kamar, sedangkan yang muda-muda masih duduk anteng di kursi meja makan.
"Kita ngapa in nih enak nya?." Tanya Wulan.
"Kita bikin kue?." Usul Kak Rain.
Wulan, Kristal, dan Agnez saling melempar pandang, kemudian mereka menatap Kak Rain sambil menggeleng kan kepala tanda tak menyetujui usulan Kak Rain.
"Terus?." Tanya Kak Rain.
"Baca novel aja kuy di ruang baca." Ajak Wulan antusias.
"Nah boleh juga tuh, ayo deh ke sana." Setuju Kristal, dia sudah berdiri dari duduk nya.
"Sebelum ke sana alangkah baik nya kita buat minum dan bawa camilan buat nyamil di sana." Kata Wulan yang di angguki lain nya.
Para gadis pun beralih ke dapur dan menyiap kan camilan untuk di bawa ke ruang baca.
Sedang kan para pria sudah lebih dulu ke ruang baca atas suruhan para gadis.
Di ruang baca.
"Guys? Gua ada kabar penting dan buruk nih buat kita semua." Angkasa tiba-tiba berucap serius dengan pandangan mata menatap satu persatu 3 pria di depan nya.
"Kabar apa?." Tanya Damar dingin dan datar.
"Si Bang Sat itu bakal sekolah di SMA Merdeka." Beri tahu Angkasa.
"Tau dari mana Lu info ini?." Tanya Pamungkas.
"Orang-orang kita pasti nya, dia pindah dari L.A 2 hari yang lalu dan mungkin senin ini dia akan mulai ke sekolah." Jelas Angkasa.
"Kenapa ngga dari kemarin Lu bilang nya?!." Sungut Albhi marah.
"Gimana Gua mau ngomong kalo kita semua sibuk ama gadis kita masing-masing, dan lagi Gua ngga mau tampak punya masalah kalo bareng Agnez, Gua ngga mau dia tau, dan jangan ampe tau, kalian juga gitu kan? Kagak mau kalo gadis kalian kenapa-napa, Gua juga gitu!." Seru Angkasa berucap.
"Ini bukan saat nya marah Al, ini saat nya tenang dan mikir cara buat lindungi gadis-gadis." Damar menenang kan suasana mencekam di ruang baca ini.
Saat akan membuka suara, suara tawa para gadis terdengar di luar. 4 pria itu saling pandang.
"Kita bahas nanti, sekarang kita lupain dulu masalah itu, jangan sampe para gadis tau." Kata Pamungkas yang di angguki oleh lain nya.
Mereka pun bersikap biasa seolah tak terjadi apa pun diruangan ini.
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
Bersambung... .
Lanjut besok ya readers tersayang ku, tercinta ku, wkwkwk😁.
Like & komennya ditunggu ya guys... .
Maaf ngga nyambung😢🙏.
Maaf kalo garing😢🙏.
Maaf typo di mana-mana🙏😢.
Maaf banget kalo makin hari ceritaku makin ngga menarik.
Maaf cerita nya membosan kan😢.
Maaf gantung cerita nya😂.
Di lanjut besok ya readers😂.
Jangan marah karena di gantung yak guys😂.
Saya penulis yang masih pemula dan amatiran mohon memaklumi kalo banyak kekurangan nya yah🙏😊.
Jaga kesehatan selalu readers.
Salam sayang dari ViCa😍.
__ADS_1