
SEBELUM LANJUT BACA, TOLONG BACA YANG DI BAWAH INI.
MINTA MAAF BANGET SAMA KALIAN SEMUA KARENA CERITA KU
MAKIN HARI MAKIN NGACO DAN NGGA NYAMBUNG, TERUTAMA MEMBOSAN KAN, AUTHOR MINTA MAAF YANG SEBESAR-BESAR NYA🙏🙏.
******************************
-
-
"Ngga mau cari yang ganteng sama mapan?." Celutuk seorang pemuda yang duduk di sebelah sang gadis.
"Hei! Ngga sopan tau dengerin doa orang!." Cetus sang gadis.
"Hahahaha... Allah pertemu kan kita lagi, Alifia." Ujar Panji dengan memasang senyum manis di bibir nya.
Gadis itu ternyata Alifia Fazzurah, dan pemuda itu adalah Panji.
"Om? Ngga usah sok akrab yah, kita tuh ngga saling kenal!." Judes Alifia dia sudah mau pergi tapi tangan nya di cegal oleh Panji dan kontan saja Alifia kembali duduk di kursi nya.
"Kenalin, nama ku Panji, umur ku akan menginjak 23, aku belum terlalu tua dan jangan panggil aku Om." Tegas Panji memperkenal kan diri nya.
"Ngga naya." Cuek Alifia berucap.
"Jangan judes-judes Neng, nanti cowok pada lari loh." Goda Panji pada Alifia, yang di balas dengan tatapan tajam oleh nya.
-
-
-
...L A N J U T A N...
...P A R T...
...K E M A R I N . . ....
-
-
-
"Om? Lo tuh kurang kerja an yah goda in bocah ingusan kaya Gua? Sadar umur woy!." Seru Alifia yang jengkel pada Panji.
"Hahahaha... jangan marah-marah ah, cepet tua nantu loh." Panji masih menggoda Alifia.
Alifia menatap Panji dengan menyipit kan mata nya tajam.
Karena lelah berdebat si Alifia memutus kan duduk tapi memilih menjauh dari Panji.
"Nah gitu dong duduk." Cetus Panji sambil tersenyum bahagia.
Suasana hening di meja Alifia dan Panji.
Di atas pelaminan semua orang terlihat bahagia dan itu juga membuat bibir Panji ikut tersungging manis.
Alifia memandangi Panji aneh dan sial nya, Panji mengetahui tingkah Alifia.
"Kenapa ngeliatin mulu?." Tanya Panji akhir nya.
"Ngga usah Ge-Re ya Om, diem deh!." Ketus Alifia bersuara.
Panji hanya terkekeh pelan dan suasana kembali hening.
'Huufffhhhh... .' Helaan nafas Alifia terdengar keras di telinga Panji.
"Kenapa?." Tanya Panji dingin.
"Tidak ada." Balas Alifia singkat.
"Butuh bantu an tempata tinggal kah?." Tebak Panji yang tepat sasaran.
"Jangan ikut campur urusan ku!." Cetus Alifia judes.
"Dengar Gadis kecil! Aku punya solusi untuk tempat tinggal." Beri tahu Panji pada Alifia.
Alifia menatap Panji bertanya 'Di mana?' dengan mengangkat sebelah alis nya tinggi.
"Di desa ku, desa Singo Joyo, tepat nya kota Lumajang." Detail Panji berucap.
"Berarti aku harus ikut situ dong?." Tanya Alifia sambil melirik Panji dengan ekor mata nya.
"Ya terserah sih kalo ngga mau, ngga maksa juga." Acuh panji berucap dengan mengangkat bahu nya.
Alifia melirik Panji dengan wajah bingung nya.
Dia diam berpikir menimbang-nimbang ajak kan Panji.
'Ngga ada rugi nya sih sebener nya, tapi iya kalo dia baik, kalo jahat? Kan Gua sendiri yang susah! Akkhh pusing kepala ku.' Batin Alifia berkecamuk dia bertengkar dengan diri nya sendiri antara mau mengikuti Panji dan menolak nya.
"Gua ngga akan jahat sama kamu Gadis kecil, masa saya tega sih, di rumah saya juga punya Ibu, beliau perempuan, kalo aku nyakitin kamu sama aja aku nyakitin beliau kan?." Kata Panji panjang lebar.
Alifia mencuri pandang pada Panji dia tak menjawab omongan Panji hanya diam saja mendengar kan.
Merasa tak ada tanggapan dari lawan bicara nya Panji pun berniat pergi.
Tapi... .
"Tunggu Om!." Panggil Alifia dengan menarik kemeja Panji bagian bawah nya.
Panji meyungging kan senyum nya, dia diam di tempat nya berdiri tak berbalik menatap Alifia, dia menggeleng kan kepala pelan, sebenar nya Panji kurang suka di panggil Om, mendengar panggilan itu dari gadis ini membuat Panji hanya memejam kan mata pusing.
"Ada apa lagi?." Tanya Panji acuh.
"Duduk dulu sini." Ajak Alifia bak anak kecil yang takut di tinggal Ibu nya.
'Menggemas kan sekali ekspresi nya, hihihi... .' Kekeh Panji mengulum senyum nya.
Panji menduduk kan kembali bokong nya di kursi yang tadi dia tempati.
"Apa?." Tanya Panji sambil mengangkat alis nya ke atas.
"Bisa kita bicara berdua keluar dari sini? Aku ngga nyaman kalo ngomong di sini." Kata Alifia meminta.
"Ayo." Ajak Panji.
Dua pemuda berbeda gender ini keluar ballroom hotel tempat acara resepsi 5 keluarga junior.
Di pelaminan, 5 keluarga junior, Rendra Shita, juga Dini Andi saling pandang.
"Tuh curut mau kemana?." Tanya Andi dengan memanjang kan leher nya mengikuti langkah Panji.
"Ama cewek loh." Beri tahu Rendra.
"Udah ah jangan di curigai, siapa tau si cewek itu gebetan nya Panji, semoga aja gitu, bosen liat dia sendiri mulu, kerjaan nya rusuh soal nya." Cetus Shita acuh.
"Hahahaha... ya udah ayo lanjut kita foto bareng." Tawa Akifa terdengar.
Di sebuah taman di dekat hotel Papa Tika itu.
Panji dan Alifia duduk di bangku panjang dengan jarak yang lumayan.
Keheningan menyelimuti 2 pemuda berbeda gender ini.
Panji menatap ke depan dengan tatapan kosong dan Alifia juga sama. Sesekali dua orang itu saling mencuri pandang satu sama lain.
Sampai... .
"Kenapa Om sok akrab sama aku?." Tanya Alifia yang berbicara dengan nada ketus, kini dia memakai panggilan aku-kamu pada Panji.
"Sok akrab? Ngga ada tuh, aku kan cuma ngelakuin hal yang menurut aku bener." Cuek Panji berucap sambil mengedik kan bahu nya.
"Jangan-jangan sikap sok akrab Om ini sering di sebarin sama cewek-cewek lain buat modus yah?." Tuduh Alifia sambil meyipit kan mata nya menoleh ke arah Panji.
__ADS_1
"Sembarangan! Sory yah, aku bukan cowok murahan!." Sembur Panji cepat.
"Idih!." Sahut Alifia sambil memasang wajah konyol nya.
"Jadi gimana? Mau ikut ke Lumajang ngga?." Tanya Panji to the point.
"Om-." Ucapan Alifia terpotong.
"Stop panggil Om! Aku bukan Om kamu, panggil aku Panji jangan Om!." Jengkel Panji pada gadis kecil di sampingnya ini.
Wajah Panji bahkan sampai memerah kesal tak terima di panggil Om oleh Alifia.
Melihat Panji yang jengkel membuat Alifia menahan tawa nya agar tak meledak, menurut Alifia Panji menggemas kan jika seperti itu.
Sampai... .
"Buahahahhaa... ." Tawa Alifia pecah tak dapat tertahan.
Panji membelalak kan mata nya tak percaya bahwa Alifia tertawa sampai terpingkal-pingkal.
Panji tanpa sadar menyungging kan senyum tipis nya.
'Dua cantik kalo lagi ketawa gini.' Batin Panji berucap.
'Ni Om-om imut juga kalo lagi marah yak, hahaha... suka Gua liat nya.' Isi hati Alifia berkomentar.
"Ok aku ngga manggil Om deh, aku panggil kamu paman aja gimana?." Tawar Alifia yang membuat Panji melotot kan mata nya tajam.
"Hahahahaha... ok ok engga deh iya Panji, Kak Panji, Abang Panji, gitu kan mau nya?." Tanya Alifia yang di jawab ketus oleh Panji.
"Iya gitu." Kata Panji.
Suasana di taman kembali hening.
"Fia? Kalo boleh tau... kenapa kamu... kaya kemarin malam?." Tanya Panji takut-takut.
Akifia diam memejam kan mata belum menjawab.
"Kalo ngga mau cerita juga ngga papa, kita emang baru kenal, aku maklumi kalo kamu ngga mau cerita." Kata Panji dengan tersenyum walau tak di lihat oleh Akifia.
"Aku di usir dari rumah." Jujur Alifia akhir nya.
Sontak kepala Panji menoleh ke arah Alifia cepat.
"Kemarin, Papa ku meninggal dunia, sebelum meninggal Papa nikah sama seorang wanita yang sifat dan sikap persis ama Nenek Lampir, dia nikah sama Papa cuma buat ngeruk uang nya doang, Papa ku seorang Chef di restaurant nya sendiri, beliau termasuk jajaran orang sukses yang masuk majalah perbisnisan terkenal di manca negara, Papa bahkan mendiri kan restaurant di berbagai negara." Cerita Alifia mengalir.
"Aku sudah memperingat kan Papa untuk mencerai kan Mak Lampur itu, tapi beliau menolak dan malah mengata kan aku egois, Papa sendiri bahkan sudah sering kali aku bawa kan bukti perselingkuhan Mak Lampir itu, tapi tetap beliau tutup mata dan telinga, Papa terlalu percaya dengan Mak Lampir itu." Cetus Alifia dengan mata memerah menahan tangis dan juga marah.
"Titik puncak nya ada pada hari selasa kemarin, pagi jam 7 pagi Papa bertengkar dengan Mak Lampir itu di rumah karena Mak Lampir ketahuan selingkuh lagi yang di pergoki Papa sendiri, lalu Mak Lampir itu berlari menuruni tangga menghindari Papa, Papa mengejar nya dan... buk!! Papa terpelesat dari tangga karena tak memperhati kan langkah nya, beliau meninggal di tempat karena... aku lupa karena apa, aku tak terlalu memperhati kan penjelasan dokter akibat shock." Terang Alifia.
"Yang aku ingat dari penjelasan dokter, Papa juga mengidap penyakit serangan jantung, aku hancur karena meninggal nya Papa, baru beberapa jam Papa meninggal Mak Lampir itu menikah dengan selingkuhan nya semalam, dan aku di usir dari rumah ku sendiri." Lanjut Alifia mencerita kan kehidupan nya.
'Grep!.' Panji menarik tubuh mungil Alifia ke dalam peluk kan nya, dan... .
"Hiks... hiks... aku sendiri an sekarang, aku ngga ada siapa pun sekarang." Kata Alifia di tengah tangis nya.
"Mama meninggal kan ku sejak aku usia 13 tahun, Papa menikah dengan Nenek Lampir itu saat usia ku 15 tahun pertama kali Mak Lampir itu menginjak kan kaki di rumah aku bisa langsung tau kalo dia ngga baik, tapi Papa lebih percaya tuh Lampir, huaaa... hiks!." Alifia sesengguk kan.
Panji menenggelam kan tubuh mungil Alifia dalam dekapan nya yang hangat dan nyaman, dia mengerat kan peluk kan nya pada Alifia, dia ikut sakit mendengar cerita Alifia.
"Keluarin semua nya, jangan di pendam, nangis aja sekeras kamu." Suruh Panji berbisil lirih di telinga Alifia.
Ke adaan taman sedang sepi, jadi Alifia bisa bebas menangis.
"Yang ku kira Nenek Lampir itu bisa ku jadi kan Ibu ke dua ternyata semua hanya khayalan ku saja." Sambung Alifi dengan masih menangis.
Panji diam mendengar kan racau an Alifia.
30 kemudian Alifia melepas peluk kan dan duduk dengan tegak lagi, dia mengusap air mata nya dengan kasar.
"Maaf Kak Panji kemeja kamu jadi kotor." Ucap Alifia menyesal.
"Udah ngga usah ngurusin kemeja aku, kamu udah mendingan?." Tanya Panji serius.
"Udah." Balas Alifia singkat.
"Terus?." Tanya Panji yang membuat Alifia menaik kan ke dua alis nya.
"Aku perjuangin lah, apa guna nya aku sekolah kalo ngga buat restaurant Papa?! Tapi saat ini biar asisten Papa dan orang-orang kepecayaan Papa dulu yang pegang, untung nya semua aset kekayaan udah ada di tangan aku, jadi aku ngenes-ngenes amat, hehehe... ." Kekeh Alifia dengan sisa-sisa air mata nya.
"Lah? Kalo kamu udah punya segala nya di sini, kenapa mau pergi dari sini?." Tanya Panji heran, di sudut hati nya dia berdoa agar Alifia tetap ikut dengan nya.
"Bosen kota mulu, aku mau cari pengalaman lain." Cetus Alifia acuh.
"Jadi?." Tanya Panji harap-harap cemas.
"Aku putus kan aku ikut Kakak ke Lumajang." Jawab Alifia dengan memperlihat kan senyuman manis yang dia miliki.
"Hmmm ok kalo gitu." Balas Panji.
'Apa ini? Kenapa aku seneng banget dia jadi ikut ke Lumajang? Ngga pernah tuh hati aku rasa nya dag dig dug kaya gini kalo deket sama cewek, apa beneran aku jatuh cinta?.' Batin Panji sambil menatap lekat Alifia yang juga menatap nya dengan tersenyum cantik.
'Ada apa ama jantung Gua? Kenapa deg deg an gini? Kenapa Gua sampe cerita in segela nya ke dia barusan? Sampe nangis lagi, dia tadi cuma manggil nama Gua jantung nih ngga kontrol detak nya.' Suara hati Alifia bersuara.
Waktu terus berputar, tak terasa kini hari telah beranjak siang, di lokasi acara resepsi semua nya sudah pada pulang.
Panji kembali ke ballroom sedsri 10 menit yang lalu.
"Lo dari mana tadi Ji? Ngilang lama bengat." Gerutu Shita pada sahabat nya ini.
"Eh iya, Lu tadi keluar sama cewek, siapa tuh cewek?." Tanya Abdiel penasaran.
Panji tak menjawab, dia menggeser tubuh nya ke kanan dan menampak kan gadis se usia Dini di sana.
"Loh? Kamu... anak nya... Almarhum Pak Adira kan?." Tanya Papa Rafka terkejut.
"Iya Om, nama saya Alifia Fazzurah." Jawab Alifia sambil memperkenal kan diri.
"Kami semua turut berduka cita yah Fia atas meninggal nya Papa kamu, maaf kita ngga bisa melayat, karena sibuk dengan acara ini." Ucap Mama Rafka mewakili semua nya.
"Iya ngga papa kok Om, Tante." Cetus Alifia dengan tersenyum.
"Terus kalian kenapa bisa saling kenal?." Tanya Bang Idan.
"Kemarin malam nih anak teriak-teriak di tepi pantai dekat sini, Gua ada di sana, jadi kenal deh." Singkat Panji bercerita.
"Alifia? Kamu ngga di apa-apa in kan sama nih cowok?." Tanya Shita khawatir.
"Oy? Lu kalo ngomong di jaga yah." Kesal Panji pada istri Rendra ini.
"Hahaha... ngga papa kok Kak, aku baik-baik aja, Om Panji baik." Jawab Alifia sembari menggoda Panji.
"Om lagi, apa Gua setua itu yah?." Lesu Panji berucap.
"Bauhahahaha... ." Tawa semua orang pecah.
"Ouh iya Akifia kok di sini? Para tamu udah pada pulang loh." Tanya Bunda.
"Hehehe... Alifia bukan tamu Te, masuk sini cuma pengen liat manten nya aja sama mau makan gratis." Jujur Alifia sambil meringis malu.
"Jujur ya Wak jawaban nya." Cetus Panji.
"Kenapa? Om sama Tante aja no problem tuh." Cuek Alifia.
"Terus? Kalo boleh tau... Alifia ada kepentingan apa datang kemari?." Tanya Papa Tika.
"Alifia nginep di salah satu kamar sini Om." Jelas Alifia.
"Kenapa nginep?." Tanya Abhi.
"Mak Lampir ngusir saya dari rumah." Blak-blak kan Alifia berucap.
"Ibu tiri kamu maksud nya?." Tebak Mami Alfi yang di angguki Alifia.
Para tetuah tau kalo Papa Alifia ini menikah dengan orang tak baik, bagaimana tak tau, Papa Alifia ini teman akrab para tetuah, mereka sering berbicara tentang bisnis yang di geluti Papa Alifia di restaurat Papa Abdiel.
"Terus kamu kamu mau kemana ini?." Tanya Bunda khawatir.
__ADS_1
"Ikut Kak Panji ke desa nya." Jawab Alifia.
"Hah?!." Seru Zarine dan para muda-muda lain nya.
"Kenapa?." Tanya Panji heran.
"Kenapa ke desa? Apa semua aset kekayaan Papa kamu di rebut sama Ibu tiri kamu?." Tanya Bang Rafa.
"Engga, aku cuma bosen sama hiruk pikuk kota, jadi mau cari pengalaman baru, lagi pula tadi yang nawarin Kak Panji sendiri." Jawab Alifia apa ada nya.
Semua orang menatap Panji dan yang di tatap memalingkan wajah nya ke arah lain.
"Modus nya gampang banget di baca ya Wak." Ujar Shita dan Panji malah cengengesan mendengar nya.
"Ya ngga papa sih kalo kamu mau ikut Fia, nanti kamu bisa tinggal sama Dini dan Ibu nya d rumah ku." Sambung Shita yang di angguki Dini.
"Tunggu! Aku satu nih yang ngga paham." Ujar Zarine.
"Apa?." Tanya Rafka.
"Kalo Alifia putri dari pengusaha kuliner mendunia, kenapa kita ngga tau dia?." Tanya Zarine.
"Papa nya menyembunyi kan identitas nya Za, hadi ngga ada yang tau, hanya orang-orang tertentu yang tau." Jelas Papa Rafka yang di angguki paham oleh Zarine.
"Udah sekarang kita balik ke kamar masing-masing, mandi, sholat dan ayo makan siang bersama, kamu juga nyusul ya Alifia, di restaurat hotel ini kok tempat nya." Tutur Mama Rafka pada Alifia yang langsung di angguki nya.
Semua nya kembali ke kamar.
Di kamar Rafka Zarine.
"Ngga nyangka yah, si Panji akhir nya kenal ama cewek, hahaha... ." Tawa Rafka terdengar. Zarine menggelengkan kepalanya pusing melihat tingkah suaminya.
"Udah jangan ketawa mulu, ngga baik, mending mandi." Kata Zarine.
Rafka menghenti kan tawa nya dan dia menatap sang istri nya itu.
"Mandi bareng yuk." Ajak Rafka berbisik pada telinga Zarine.
Zarine menyipit kan mata nya mencurigai Rafka.
"Janji cuma mandi!." Kata Rafka sambil mengangkat ke dua jari nya membentuh huruf V.
"Ayo." Ajak Zarine.
"Yes!." Seru Rafka senang.
Selesai mandi Rafka Zarine menunai kan ibadah sholat dzuhur berjamaah di kamar dan kemudian ke restaurant hotel untuk makan siang.
Di meja makan restaurant.
Tempat duduk para muda-muda dan para tetauh terpisah.
"Alifia? Kamu bakal kemana lagi bentar lagi?." Tanya Zarine setelah dia menghabis kan kunyahan nya di mulut nya.
"Tetep di sini aja sih Kak kaya nya." Jujur Alifia.
"Mau ikut ke rumah kita?." Tawar Bang Rafa yang di angguki Kak Raina antusias.
"Engga deh Kak, aku di sini aja." Alifia menolak dengan tersenyum manis.
"Kata nya mau ikut ke desa Singo Joyo? Nanti gimana berangjkat nya kalo pisah-pisah gini tempat tinggal nya?." Tanya Shita.
"Gini aja deh, kita berangkat sendiri-sendiri aja, nanti kalo sampai di kota Kakak sana aku bakal cari sendiri nama desa kalian." Cetus Alifia memberi solusi.
"Ribet itu nama nya Gadis kecil!." Cetus Panji yang sontak mendapat tatapan aneh dari lain nya kecuali Alifia. Dia biasa saja saat di panggil Gadis Kecil.
Alifia memanyun kan bibir nya saat ide nya di bantah Panji.
Sedang kan Rafka dan lain nya berbisik membicara kan panggilan Panji pada Akifia.
"Gadis Kecil?." Beo Shita sambil menahan tawa nya.
"Sweet banget mereka yah." Puji Zarine.
"Hihi... si Alifia juga ngga masalah tuh di panggil kek gitu." Akifa terkikik geli sendiri.
"Ngga enak tau aku ngerepotin Kak Rafa sama Kak Raina kalo ikut kalian." Cemberut Alifia mengata kan isi hati nya.
Tangan Panji mencapit bibir Alifia dan sedikit mencubit nya.
"Bibir mu itu loh kondisi in." Ujar Panji datar dengan bahasa sedikit medok jawab.
"Diem ah! Tangan mu bau terasi." Balas Alifia ikut meniru kan gaya biacara Panji.
"Aduh! Meja makan rasa nya hareudang yah." Sindir Shita sambil mengibas-ngibas kan tangan nya ke wajah bak kipas.
"Iya nih, padahal di restaurant ini di pasang AC loh." Timpal Tika dengan menatap dinding-dinding retaurant yang ada AC nya.
"Iri? Bilang Boss." Cetus Panji yang paham bahwa dia tengah di sindir.
"Adudududu... sensi banget sih Wak, hahahaha... ." Tawa Akifa pecah mengejek Panji.
Dan tanggapan Panji hanya senyum tipis se tipis kulit wortel, eak😂.
"Dah lanjut makan kalian." Perintah Alfi dengan nada tegas.
"Dan kamu harus ikut kami pulang sore ini Alifia, ini keputusan mutlak tak ada bantahan!." Tegas Bang Rafa berucap.
"Ok deh." Balas Alifia pasrah.
Makan siang berjalan dengan damai kembali, tak ada lagi obrolan di antara para muda-muda di meja, hanya ada dentingan sendok garpu yang beradu dengan piring.
Mohon maaf cerita ku keluar dari cerita awal, otak ku nih udah bingung mau nulis apa, jadi gini deh, apa aja yang muncul dari kepala langsung di ketik, ngga mikirin deh itu termasuk cerita atau bukan pokoknya tulis😂.
-
-
-
-
-
-
-
-
-
B E R S A M B U N G . . .
Lanjut besok ya guys😁.
Like & komennya ditunggu ya guys... .
Maaf ngga nyambung😢🙏.
Maaf kalo garing😢🙏.
Maaf typo di mana-mana🙏😢.
Maaf banget kalo makin hari ceritaku makin ngga menarik.
Maaf cerita nya membosan kan😢.
Maaf gantung cerita nya😂.
Di lanjut besok ya readers😂.
Jangan marah karena di gantung yak guys😂.
Saya penulis yang masih pemula dan amatiran mohon memahami nya😊.
__ADS_1
Jaga kesehatan selalu readers.
Salam sayang dari ViCa😍.