Sahabatku Anak Ku

Sahabatku Anak Ku
perasaan


__ADS_3

pagi ini hari Arini datang dengan di antar oleh ayah nya,karena sebelum berangkat ke pasar pak Bastian ayah Arini selalu mengantar anaknya terlebih dahulu dengan menggunakan motor bututnya..


Arini menyalami Ayahnya lalu berjalan masuk ke arah kelas


" Rin..." panggil seseorang


Arini berhenti pas di depan pintu kelas menoleh pada lelaki tampan berlesung pipit ini..


" ada apa Tam?" tanya Arini pada Tama


" tadi ayah kamu?"tanya nya basa-basi


" iya.....kamu lihat?" tanya balik Arini


Tama mengangguk


" Rin,istirahat nanti aku tunggu di perpustakaan bisa?" tanya Tama


" aku usahakan ya Tam" jawab Arini masuk kedalam kelas


" kenapa lagi si Tama rin?" tanya Tami


"nggak tau tu,dari kemaren kaya' nya mau bicara sesuatu" jawab Arini mendudukkan bokongnya


Bel tanda masuk berbunyi tapi belum ada tanda-tanda Naura datang


" tumben tu anak telat" gumam Arini


pelajaran dimulai tapi Naura belum juga datang


setelah bel istirahat berbunyi Arini meraih ponsel jadulnya dan menghubungi nomer Naura tapi tidak diangkat


" bagaimana cara menghubunginya,kemaren aku yang menyimpan nomer ponsel ku di ponselnya" gumam Arini mengingat kalau dia tidak menyimpan nomer ponsel Bagas


Arini keluar kelas menuju perpustakaan ,tempat dimana Tama menunggunya


" ada apa?" tanya Arini pelan agar tak mengganggu pengunjung lain


" duduk rin" ucap Tama menarik kursi disebelahnya


" rin,pulang sekolah mau nggak aku ajak kamu nonton" tanya Tama


" nggak bisa Tam,aku harus cepet pulang,bantuin ibu bikin kue" alasan Arini yang memang tak ingin terlalu dekat dengan Tama


" tapi kita bisa temenan kan rin?" tanya tama

__ADS_1


" iya..." jawab Arini singkat


" rin,ini aku beli kan untuk kamu tadi" Tama menyodorkan sebuah coklat kepada Arini


" terimakasih tam,kalau sudah aku permisi dulu,takut ganggu pengunjung lain" ujar Arini pelan


saat keluar ruangan ponsel Arini berbunyi ada nomer baru menghubunginya


" assalamualaikum" ucap Arini


" Walaikumsalam" jawab diseberang sana


" rin,,ini aku papi Naura"


"iya pi,ada apa?kenapa Naura gak masuk sekolah hari ini?" tanya Arini


" iya tadi sudah saya hubungi pihak sekolah,minta izin untuk Naura,Naura sekarang demam rin,kemaren sehabis dari rumah kamu Naura minta beli Es karena kehausan makan pekyek dari ibu mu,mungkin yang buat tidak menggunakan air masak,jadi Amandel nya meradang dan sekarang sedang batuk dan demam" jelas Bagas


" ya sudah....nanti sepulang sekolah saya kesana pih lihat Naura" jawab Arini


" hmmm....cuma mau lihat Naura? " goda Bagas


" iy-a lihat Naura,kan dia sedang sakit" ucap Arini gugup


" papi nya gak di lihat sekalian" ucap Bagas


sepulang sekolah Arini menghubungi ibunya memberitahu pulang telat karena menjenguk Naura sakit, lalu pergi naik angkot ke rumah Naura


" assalamualaikum" ucap Arini tegak di depan pintu rumah Naura


" Walaikumsalam" terdengar jawaban dari dalam sana


" udah datang,Naura ada di kamarnya" ucap Bagas


" saya ke-atas dulu pi" ucap Arini menunduk


" kenapa buru-buru,apa kamu tidak mau bertemu saya dahulu" tanya Bagas


" lihat Naura dulu pi,nanti saya turun lagi" ujar Arini berlari keatas


sesampainya di depan pintu kamar Arini menetralkan degup jantungnya


clek...


Arini berjalan mendekati Naura

__ADS_1


" Ra,mana yang sakit?" tanya Arini


" susah buat telen makanan rin,minum air aja sakit" ucap Naura pelan


" gue kompres ya" ucap Arini


Naura mengangguk pasrah


" Makan dulu ya ra,gue bikinin bubur dulu sebentar" ucap Arini lalu keluar dari kamar


Arini menuruni anak tangga menuju dapur,disana dia mulai membuat bubur,Arini membasuh beras dan menanak nya di kompor dengan di beri garam sedikit Arini terus mengaduk.


selesai dengan buburnya dia membuatkan teh tawar untuk Naura,lalu membawa nampan ke arah atas,Bagas yang melihat Arini ingin menaiki tangga memanggilnya


" Rin....saya mau bicara" ucap Bagas


" aku kasih Naura makan dulu pih,nanti aku kebawah" jawab Arini


dengan sabar dia menyuapi Naura,biarpun di tolak Arini tetap membujuk,setelah makan dia memberikan Naura obat dan mengompresnya.


hampir satu jam dia menemani Naura di atas ,mulai dari memberi makan,obat dan menguras kepala Naura dengan air serta mengganti baju nya.


dirasa nya panas Naura sudah berkurang, Arini pamit ingin pulang


" cepat sembuh ya ra,aku pulang dulu" bisik nya


Arini turun dari tangga mencari Bagas ingin pamit,dia melihat bagas yang membaca koran di ruang keluarga


" pih, aku pamit dulu ya,sudah sore...panas badan Naura juga sudah berkurang" ujar Arini


" tadi kan saya bilang mau bicara..." ucap Bagas


" memang nya papi mau bicara apa?' tanya Arini


" sini...." ajak Bagas menarik tangan Arini ke taman belakang


" duduk sini" ucapnya menepuk sisi kursi


Arini duduk dengan canggung... setiap dekat dengan Bagas jantungnya selalu berdetak tak beraturan...


"maaf....kalau saya lancang,tapi saya tidak bisa menyembunyikan perasaan saya,saya merasa nyaman didekat kamu rin,saya merasa di perlakukan sebagai seorang suami saat kamu layani makan,saat kamu buat kan teh,saat kamu temani saya mengobrol,ntah perasaan apa yang saya punya saat ini yang pasti saya selalu memikirkan kamu dua hari ini,saya sulit untuk tidur selalu membayangkan kamu,dari awal saya melihat kamu saya sudah tertarik sifat kamu yang dewasa dan keibuan membuat saya mengagumimu kalau untuk cinta mungkin belum ada tapi saya yakin lama kelamaan perasaan itu akan tumbuh dengan sendirinya" ungkap Bagas jujur tentang perasaannya pada Arini


Arini tak bergeming sedikit pun dia terlalu syock mendengar pengungkapan Bagas


" saya hanya menyampaikan perasaan saya yang beberapa hari ini mengganjal,saya tau pasti kamu tidak akan mau dengan seorang Duda beranak seperti saya,karena kamu seorang gadis remaja yang cantik sedangkan saya hanya lelaki tua" lanjut Bagas merendahkan dirinya

__ADS_1


"maaf....sekali lagi maaf...jika membuat kamu merasa tidak nyaman dengan perkataan saya lupakan saja" ujar nya hendak beranjak pergi


" tunggu..." cegah Arini menahan tangan Bagas


__ADS_2