
Arini beberapa kali mencoba menghubungi Intan tetapi tidak ada jawaban...
Arini memutuskan untuk mendatangi Intan langsung besok kerumah nya..
***
" bun....Daffa sudah tidur" tanya Bagas saat masuk ke kamar nya,karena tidak mendengar lagi celoteh kecil dari Daffa
"sudah Pih... pih besok aku izin kerumah Intan ya,kata Arkan om Bram lagi patah hati karna orang tua Intan menolak nya" ucap Arini menarik tangan Bagas untuk berbaring bersama nya di ranjang
Arini membaringkan kepalanya di dada Bagas, sesekali Bagas mencium pucuk kepala Arini..
" tapi jangan kelamaan bun,kasihan Daffa di tinggal lama,kasihan juga nasib Bram,dulu di tinggal nikah sekarang malah di tolak camer" ujar Bagas
" iya...aku yakin saat ini Intan juga pasti sedang patah hati pih,aku tau Intan tidak pernah mengenal lelaki,sekali nya mau serius ada saja halangan nya"
__ADS_1
" memangnya kamu dulu pernah mengenal lelaki" Bagas mencubit hidung Arini pelan
" ada....tapi bukan pacaran hanya lirik-lirik kan saja"
" jadi aku bukan cinta pertamamu?" tanya Bagas sedikit kesal
" hahaha.....mulai deh kumat cemburu buta nya,kan tadi aku bilang bukan pacaran,hanya lirik-lirik saja,itu pun langsung aku tolak sejak mengenal mu" ucap Arini langsung mencium pipi Bagas takut bayi besar nya ini merajuk
"jangan coba-coba pergi dari ku bun,aku tidak akan semudah itu melepaskan mu" ancam Bagas
" makanya izin kan aku hamil lagi,biar bertambah sulit jauh dari mu" bujuk Arini
memeluk erat dan mencium seluruh wajah Arini...
" selalu saja begitu,bulan depan aku tidak mau suntik KB lagi pih,kata dokter akan lama hilang pengaruh KB nya di tubuh ku,jadi tidak mungkin langsung hamil...." ucap Arini memajukan bibirnya
__ADS_1
"baiklah,tapi aku punya Syarat kalau kamu hamil harus menuruti semua perkataan ku,aku tidak ingin sampai kecolongan seperti kemarin,dan kita cari satu orang pembantu lagi yang sebaya dengan bik Sumi, bagaimana??" ujar Bagas tangan nya sudah menggosok pelan paha mulus Arini dan bibir nya mengigit kecil bibir Arini gemas
" baiklah....tapi nanti biar aku minta tolong dengan ibu saja mencari kan nya,jangan dari yayasan lagi,aku trauma pih"
" hmmmm" Bagas menjawab sambil membuka satu persatu pakaian yang dia dan Arini kenakan
" jadi aku harus berbagi ini lagi bun?" tanya Bagas menunjuk dada Arini
" apa salah nya pih,dia kan anak mu, mengalah saja dulu menjelang mereka besar,aku janji cuma hanya dua, setelah itu semua nya untuk mu sampai kita tua"
" baiklah,, seperti nya beberapa tahun ini aku harus lebih bersabar lagi berbagi dirimu dan anak kita,, setelah mereka dewasa aku ingin menikmati hidup berdua dengan mu,tanpa gangguan siapapun" ucap Bagas mencium leher Arini dan meninggalkan tanda kepemilikan nya di sana
" pih....." Arini mendesah pelan
Tidak bisa dia pungkiri permainan suaminya ini selalu membuat nya melayang,Arini selalu puas dengan suaminya ini begitu juga dengan Bagas Arini sudah pintar bermain di ranjang....
__ADS_1
cukup lama pertempuran mereka kali ini,,karena Daffa tidur nyenyak di dalam box besar nya...
Arini memang belum membiarkan Daffa tidur di kamar nya sendiri karena takur sewaktu-waktu Daffa terbangun mencari nya,jadi Bagas menempah Box besar untuk tempat tidur Daffa yang di letakan di dekat Ranjang mereka,jadi saat Daffa terbangun mereka mendengar kan nya...