
Tami sudah di pindahkan keruang perawatan,mereka semua sudah masuk kedalam menanti Malaikat kecil yang baru hadir di tengah-tengah mereka ini...
" Lucunya..." ucap Intan menatap bayi perempuan putih itu " Menurut ku malah lebih mirip sama kak Vino ma" ujar Intan melihat keponakan nya yang sedang dalam gendongan mama nya ini..
" iya,,hidung dan dagunya mirip Vino...tapi bibirnya mirip Tami" sahut mama Intan menatap cucu ketiga nya ini
" gemes deh lihat kamu sayang..." ucap intan mencium pipi keponakan nya ini
" jangan minta lagi yank,,kita sudah sepakat hanya ada Kembar D,makanya kemarin ikut program" potong Bram mengingat kan istrinya yang kadang suka tak terkontrol melihat bayi perempuan
" tenang aja mas,kalau aku kepengen anak perempuan bisa nyulik Bianca atau gadis kecil ini" senyum intan
" kenapa tidak boleh tambah lagi Bram,kalau rezeky tidak boleh di tolak lo,apa lagi kalian memang belum ada anak perempuan" ucap Mama Tami
" nggak tan,,cukup dua saja..kan sudah ada program pemerintah dua anak cukup,nanti Bianca saja yang di bawa pulang kerumah kami" jawab Bram terkekeh
" enak saja memangnya Anak ku barang mainan apa di bawa-bawa,kalau kepengen buat sendiri donk" cebik Arini
__ADS_1
" buat sering bun,tapi nggak pernah jadi" celetuk Intan membuat mama nya mencubit pinggang ibu dua anak tersebut
" aww....ma,, sakit,,mas....tangan ku di cubit" adu Intan mendekat pada suaminya
" kalau ngomong nggak di saring dulu" kesal mama Intan
" mentang-mentang punya suami langsung ngadu,dulu aja kalau kena marah nangis....meweknya ke kamar aku" ucap Vino ikut nimbrung pembicaraan adik dan mama nya ini
" ya beda lah kak, kalau sekarang harus ngadu ke suami,mas Bram mau nya aku selalu bergantung kepada nya,, tidak boleh mandiri,katanya itu membuat rasa cinta nya semakin bertambah pada ku" jelas Intan menatap Mesra suaminya
" awasss.... ntar lama-lama bisa bosan Bram padamu" goda Vino
Bram menarik Intan dan membekap perempuan cantik itu di dadanya" nggak ..nggak akan pernah bosan yank" jawab Bram tersenyum
" so sweet...." ucap Arini tersenyum
" jangan membuat ku iri kalian,,ayo kita pulang bun" ujar Bagas menatap Arini membuat Bram dan Intan tertawa
__ADS_1
" masih siang pih" Sindir Naura membuat wajah Arini merona malu
" kalau melihat kebersamaan kalian membuat mama ingin mengulang masa muda kembali" ucap Mama Tami menggenggam tangan suami nya
" om...kode itu,,,Tante mau nambah anak lagi" canda Arkan
" nambah anak apa nya kan,,sudah punya cucu juga" jawab papa Tami terkekeh,dan di ikuti Semua nya
" mama nggak mau pulang?" tanya Intan
" kenapa nyuruh mama Pulang,anak nggak ada akhlak kamu ya,mama nya lagi asik gendong cucu di suruh pulang" kesal Mama Intan
" mana tau pengen cepat-cepat ketemu sama papa" goda Intan yang memang papa nya belum bisa datang karena masih ada pekerjaan di kantor karena papa Intan bukan bos seperti para Suami-suami Sultan mereka ini
__ADS_1
Arini dan Tami menggeleng kan kepala,dulu intan yang paling polos di antara mereka,sejak menikah dengan Om Bram intan yang lebih pintar bicara kearah sana