
selesai pemakaman Karin Arini dan Bagas hendak beranjak pulang tetapi Arini iba melihat anak perempuan yang menangis di batu nisan tersebut,hati nya tersentuh...andai saja dia yang berada di posisi tersebut tidak bisa di bayangkan nya, walaupun saat ini dia sudah memiliki suami dan anak... kehilangan merupakan hal yang paling di takutkan Arini
" pih...dia anak mbak Karin?" tanya Arini
" ya...aku pernah sekali bertemu dengan nya saat Almarhumah masih hidup" jawab Bagas
Arini melihat sekeliling sudah tidak ada lagi pelayat bahkan suami Karin pun tidak ada lagi...
Arini ingin mendekati perempuan muda tersebut
" pih..kamu tunggu di sana dulu sebentar" ucap Arini mendekat ke arah Perempuan tersebut
" hay.....siapa nama mu?" tanya Arini
" Kirana kak" jawab nya sopan
" mbak Karin mama mu?" lanjut Arini
" ya...dia mami ku,aku sangat menyayangi nya kak,tetapi tuhan lebih sayang padanya" ucap perempuan muda tersebut
" yang sabar ya,,mungkin ini sebagai ujian bagimu,semoga kamu bisa berlapang dada menerima nya,aku yakin tuhan sudah punya rencana indah untuk Perempuan cantik seperti mu" ungkap Arini tersenyum
" terima kasih kak,do'a kan aku bisa lebih kuat ya,kakak siapa?" tanya Kirana
" aku...aku istri dari papi Bagas,kamu kenal beliau?" tanya Arini menunjuk Bagas yang menunggu nya sedikit jauh dari Makam Karin
__ADS_1
Karina menganggukan kepalanya
" tapi Beliau tak ingin bertemu dengan kami...dulu pernah sekali kami ke kantor nya tetapi beliau menolak,mami pernah bilang kalau dia papi tiri ku" jelas Karin
" maafkan beliau mungkin sedang banyak pekerjaan,jika kau tidak keberatan bisa datang ke rumah kami bila butuh bantuan,atau pun bila butuh pekerjaan,aku harap kau berbeda dengan ibu mu,lebih kenal lah pada kakak mu Naura pasti dia senang" terang Arini memberikan satu buah kertas yang berisi nomer ponsel nya
"saya pamit dulu" ujar Arini berjalan kearah suaminya
" ayo pih kita pulang" ajaknya merangkul tangan Bagas
****
sesampainya di rumah Arini segera membersihkan diri dan keluar untuk masak makan malam
" bik...biar saya yang masak untuk malam ini" ucap arini sudah memasang celemek nya dan mulai berkutat di depan kompor dan wajan...
" semua sudah garis tangan nya bik,kita belum tau juga nasib kita kedepannya bagaimana, Sekarang perbanyak berbuat baik saja bik terhadap sesama"
" iya buk,tidak menyangka saya nasib nya bisa tragis seperti itu"
" kita do'a kan beliau bisa di lapangkan azab kubur nya bik,semoga tenang di sana"
" amiiinnnn" ucap Bik sumi
****
__ADS_1
malam ini semua anggota keluarga sudah berkumpul,,,Raka yang di letakkan Naura di dalam stroller bayi nya di temani bik sumi yang sedang melihat Daffa mewarnai
" sudah di makam kan Rin jenazah nya?" tanya Oma
" sudah ma,,tadi sore....karena mbak Karin meninggalkan tadi pagi jam 11...jadi segera di urus,lagi pula tidak ada Keluarga yang harus di tunggu" jelas Arini
" hmmm,,dia punya satu anak kan"? tanya Oma lagi
" ya,,hampir sebaya dengan ku,palingan beda 2 atau 3 tahun ma,tapi dia terlihat sangat terpukul dengan kepergian mami nya"
" kamu mengenal nya ra?" tanya Arini menatap Naura
" dulu mami pernah meminta pekerjaan untuk Karina tetapi Aku menolak karena pasti akan di kendalikan oleh mami,aku tidak ingin berurusan dengan mami bun,tetapi tadi aku melihat nya begitu terpuruk,aku berencana untuk membawanya bekerja di kantor Arkan" jawab Naura
" hati-hati ra,takut nya dia seperti mami nya" ingat Oma
" seperti nya tidak ma,dia gadis yang polos dan juga baik" sahut Arini
" aku sependapat dengan bunda ma,semoga saja tidak ada kejahatan dari diri nya" ucap Naura
"tadi aku sempat menawarkan dia pekerjaan di kantor papi,tapi kalau dia mau bekerja di kantor Arkan juga tidak masalah" ujar Arini santai
" kenapa jadi kalian yang menentukan siapa yang bekerja" potong Bagas
" ya.... karena kami nyonya nya" jawab Arini cuek masih menguyah makanan nya
__ADS_1
Bagas menggeleng kan kepala tidak percaya dengan Jawaban istrinya ini...
" memang dunia ini tidak adil,kami para lelaki yang bekerja para perempuan yang banyak uang nya,,kami para lelaki sudah merasa menjadi bos tetapi para perempuan lebih tinggi satu tingkat pangkat nya" gumam Bagas...