
siang ini Bagas pulang tergesa karena telponnya tidak di jawab Arini, Bagas takut kalau terjadi sesuatu pada istri nya itu..
" ma,,mana Arini?" tanya Bagas pada mama nya yang terlihat sedang menemani Daffa bermain
" masih di kamar,tadi sudah di antar kan makanan oleh bibi" sahut Oma
Bagas segera masuk kedalam kamar dan memegang dahi Arini,memang sedikit hangat membuat Bagas khawatir
" bun,,ganti baju mu,kita kedokter" ajak Bagas
Arini mengerjapkan matanya melihat suaminya sudah pulang
" pih..peluk" rengek Arini
tidak biasanya istrinya ini manja,biasanya malahan Bagas yang selalu manja pada Arini membuat Bagas sedikit curiga
" ayo kita kedokter sayang" ucap Bagas mengangkat tubuh Arini
Bagas berjalan ke arah lemari pakaian dan mengambil pakaian Arini lalu membantu nya memasangkan pakaian tersebut
mereka pamit pada Oma dan Daffa untuk kerumah sakit
" pih..aku mau rujak dulu pih" pinta Arini
" kamu belum makan apapun sayang,nanti sakit perut"
" sudah pih, makanan yang di bawa bik Sumi tadi aku makan kok walaupun cuma dua suap, selera ku pahit pih,pengen yang pedes" rengek Arini
" baiklah sedikit saja, setelah itu langsung berobat" ucap Bagas memutar mobilnya mencari penjual rujak
setelah keinginan Arini tercapai mereka segera ke dokter
__ADS_1
" seperti nya ibu sedang hamil muda" jelas sang dokter
" tapi untuk lebih pastinya saya rujuk ke dokter kandungan ya"
Arini dan Bagas saling berpandangan,Arini tersenyum manis,tapi berbeda dengan Bagas menampakkan wajah cemas nya
" kamu kenapa pih?" tanya Arini melihat wajah khawatir Bagas saat mereka sedang duduk di depan poli kebidanan
" bun,,jujur aku takut...takut kamu seperti melahirkan Daffa bun,aku nggak siap" ucap Bagas meraih tangan Arini dan mencium nya,tak peduli banyak pasien yang memperhatikan kemesraan pasangan ini
" yakin saja pih,usia ku juga sudah dewasa....dulu sewaktu melahirkan Daffa aku 19 tahun memang belum mengerti Sekarang aku sudah banyak membuka artikel ibu hamil,dan banyak mempelajari masalah kehamilan...percaya ya" ucap Arini menenangkan Suaminya
" bun....aku mau kamu turuti semua kemauan ku bun,semua larangan ku,aku tidak mau kejadian tempo hari terulang lagi, aku tidak bisa hidup tanpa kamu" peluk Bagas
" iya..iya...."
" ibu Arini" panggil salah satu perawat yang berjaga
" ayo pih...sudah di panggil" ajak Arini menarik tangan Bagas
" benar dok?" tanya Arini tak percaya
" iya,,,karna kehamilan kedua saya tak perlu memberikan penjelasan detail lagi ya bu, saya rasa ibu sudah memahami pada kehamilan pertama,untuk mual nya saya resepkan obat dan Vitamin,jangan lupa di minum" ucap Sang Dokter
" kondisi nya bagaimana dok?" tanya Bagas
" kandungan ibu Arini cukup kuat,sejauh ini tidak ada masalah,jika mual itu wajar ya bu,sama seperti kehamilan pertama,tetapi biasanya pada kehamilan kedua ini tidak begitu parah,beda anak beda-beda bawaan hamilnya" jelas Sang dokter
" baiklah terima kasih dok,saya permisi dulu" ucap Arini tersenyum
" pih..mampir dulu di supermarket,beli susu hamil" ajak Arini saat mereka berjalan di koridor rumah sakit
__ADS_1
" itu bukan nya Kirana pih" tunjuk Arini pada perempuan yang sedang di apotek rumah sakit
" iya bun"
" dia sakit??" tanya Arini
" nggak tau, tadi masih masuk kantor kok" jawab Bagas
mereka menghampiri Kirana yang sedang menebus obat...
"Kirana "panggil Arini lirik
" bunda Arini..." jawab Kirana sedikit gugup
" kamu kenapa? sakit?" tanya Arini
" tidak bun,,,hanya ada keperluan" jawab Kirana
" sini..." tarik Arini dan duduk pada kursi yang ada di sana
" kamu menganggap kami keluarga kan?" tanya Arini dan di angguki oleh Kirana
" cerita kan apa yang terjadi?" tanya Arini
" sebenarnya saya kesini ingin menebus obat papi saya bun,dia sedang di rawat di sini" ucap Kirana jujur
" papi kamu bukan nya di penjara?" tanya Arini
" iya,papi sekarang kritis dia terkena stroke selama di penjara,karena tidak ada yang mengurus nya,polisi memberikan keringanan pada nya untuk di rawat di rumah sakit"jelas Kirana
" kenapa kamu tidak cerita?" tanya Bagas
__ADS_1
" saya takut pak,, takut kalian marah...karna bagaimanapun juga penyebab kematian mami adalah papi saya" ucap Kirana tertunduk
" kasihan sekali kamu,masih muda begini sudah menanggung beban berat,,,kamu tidaka perlu takut kami akan membantu mu, masalah kematian mami mu itu sudah jalan tuhan,jadi tidak usah di ungkit kembali lagi pula papi mu sudah dapat hukuman setimpal,,sakit yang di berikan oleh tuhan adalah penggugur dosa nya..." ucap Arini memeluk Kirana