Si Oyen Pacarku Bukan Manusia

Si Oyen Pacarku Bukan Manusia
Siapa Peneror Luna?


__ADS_3

Setelah acara pemakaman Senja, Andy, Bocan dan Kirana beristirahat sebentar di Vila milik Andy itu.


"Istriku, apa kamu bisa melihat dimana Adel sekarang?" tanya Andy yang penasaran.


"Adel di sebuah dunia yang sangat jauh, aku tak bisa menggapainya." kata Bocan yang sangat khawatir.


"Jadi kita tidak bisa menemuinya?" tanya Kirana.


"Kalau begitu kita balik saja ke kios bunga rose!" kata Andy.


"Iya, dan sebentar lagi adalah Acara pernikahan Tony dan maggie." kata Bocan.


Dan mereka bertiga Bocan,Andy dan Kirana menuju ke mobil dan mereka kembali menuju ke kota dan tepatnya kembali ke Kios Bunga Rose.


Perjalanan lancar tanpa hambatan berarti. Dan mereka telah sampai di kios Bunga Rose.


Mereka disambut oleh Tony, Maggie, dan Luna.


"Kenapa cepat sekali?" tanya Maggie yang penasaran.


"Lho, Senja dan Adel dimana? kenapa tidak ikut?" tanya Tony yang juga penasaran.


"Pada waktu kami ke Villa pesisir, kami sudah tidak menjumpai kedua gadis itu." jawab Andy dengan nada rendah.


"Mereka kemana?" tanya Luna yang ikut penasaran.


"Senja di culik siluman Ubur-ubur, dan kini sudah tiada" jawab Kirana.


"Ya Tuhan, gadis yang malang. Semoga dia tenang disana. Amin!" Do'a Maggie.


"Terus Adel dimana?" tanya Tony yang khawatir.


"Gadis itu di culik Siluman dari kerajaan Kucing yang letaknya sangat jauh." jawab Bocan dengan nada rendah.


"Kasihan sekali" kata Maggie dan Luna bersamaan.


"Jimmy dan Kelly kemana?" tanya Kirana mengalihkan topik, saat tak mendapati adiknya Jimmy bersama kekasihnya tak berada di tempat.


"Mereka sedang mencari kampus yang sesuai jurusan mereka." jawab Tony.


"Oh begitu" jawab Kirana yang kemudian masuk ke kios beserta lainnya.


"Bocan, tadi ada pembeli bunga seorang gadis, tatapannya begitu aneh!" ucap Luna yang mengingat hal kemarin seraya duduk di sofa bersama yang lainnya.


"Aneh bagaimana?" tanya Bocan penasaran.


"Dia menatapku dengan rasa kebencian, seperti bukan manusia saja!" jelas Luna.


"Apakah Tony di kios?" tanya Bocan yang penasaran.


"Tony mengurusi pembangunan rumah, dan Maggie mengantar pesanan. Jadi aku sendirian yang menjaga Kios." jelas Luna.


"Oh begitu, anggap saja angin lalu! mungkin dia salah mengira!" ucap Kirana yang mencoba menenangkan sahabatnya Luna.


Mereka kemudian melakukan aktifitas seperti biasa.


Sedangkan Tony masih mengurusi bangunan rumah Andy dan Bocan.

__ADS_1


"Luna, tolong kamu tunggu kios lagi ya, Saya sama suamiku mau ambil beberapa bunga dari petani. Kirana antar buket ke Rumah sakit dan Maggie yang mengurusi makanan untuk para tukang bangunan." jelas Bocan saat sudah bersiap pergi bersama Andy.


"Iya Bocan." ucap Luna sembari tersenyum.


Kemudian Bocan dan Andy berjalan menuju ke mobil mereka dan melajukan mobil mereka.


"Aku berangkat dulu ya!" pamit Kirana yang sudah membawa dua buklet bunga mawar merah.


"Iya, hati-hati!" jawab dan pesan Kirana.


Dan Kirana melambaikan tangannya.


"Kalau aku mau ke pasar dulu ya, mau beli sayuran." kata Maggie yang sudah membawa dompetnya dan melangkahkan kakinya menuju ke pasar yang tak jauh dari Kios.


"Iya" jawab singkat Luna.


Luna kemudian melayani pembeli bunga yang mulai berdatangan.


Walaupun sibuk melayani pembeli, Luna merasakan sesuatu yang menganggu pikirannya.


"Seperti ada yang mengawasi ku, tapi siapa?" Luna yang membatin.


Saat keadaan sepi, Luna melangkahkan kaki ke dalam kios untuk mengambil minuman.


"Sreeet..!!"


"Jlebb...!"


Sebuah belati yang berlumuran racun, hampir saja mengenai pipi Luna.


Dan belati itu menancap ke tiang kayu penyangga genting Asbes divteras Kios.


"Siapa itu..!" seru Luna yang menoleh ke arah dimana belati itu berasal.


Namun tak ada tanda-tanda yang mencurigakan.


"Aneh, siapa yang melemparkan belati ini ya?" Luna yang membatin.


Gadis itu pun bergegas masuk ke kios dan segera menghampiri Maggie.


"Kamu kenapa Luna?" tanya Maggie yang penasaran.


"Ada yang melempari aku dengan belati yang berlumuran racun tadi!" jawab Luna sedikit takut.


"Betulkah? coba seperti apa belatinya?" tanya Maggie yang penasaran dan dia berserta Luna melangkahkan kaki ke depan kios dan mencari dimana belati itu menancap.


Namun ternyata belati itu sudah tidak ada dan menghilang tanpa bekas, seolah tak terjadi apa-apa.


"Dimana belati itu Luna?" tanya Maggie yang penasaran.


"Ta..tadi ada disini!" seru Luna yang masing ingat betul keberadaan belati yang tadi menyerang dirinya.


"Ah, halusinasi kamu saja kali!" kata Maggie yang kemudian kembali masuk ke kios untuk menyelesaikan tugas memasaknya.


Luna tak habis fikir, berkali-kali dia melihat ke arah dimana belati tadi menancap.


"Tadi nyata, bukan halusinasi. Aku yakin itu!" gumam Luna dalam hati.

__ADS_1


Kemudian Luna kembali melayani pembeli yang baru datang.


Gadis itu kembali merasakan seperti ada yang mengawasi dirinya.


"Perasaan ini muncul lagi!" batin Luna yang gelisah.


"Ah, sudahlah!" ucap Luna seraya menghela nafasnya.


Luna kemudian memindahkan beberapa pot bunga ke depan kios.


Tiba-tiba saja "Pyaarr...!!", kembali sebuah belati hampir saja mengenai Luna, dan belati itu mengenai pot bunga yang di bawa gadis itu.


Pot bunga yang terbuat dari tanah liat itu pecah dan jatuh ke tanah seketika itu juga.


"Siapa itu!" kembali Luna mencari tahu asal belati itu, pandangannya terus ke tepi jalan dan dia menangkap sosok bayangan hitam dengan kedua matanya yang memancarkan sinar merah.


"Apa itu? manusia apa siluman atau syetan?" gumam Luna dalam hati yang terus menatap keberadaan bayangan itu yang lama-lama menghilang.


Kembali Luna menghela nafasnya, kekasih Ekin itu kemudian membersihkan pot-pot yang pecah tadi.


Setelah selesai, kembali Luna melayani para pembeli yang semakin sore semakin banyak.


Tak berapa lama Kirana datang dan tak selang lama, Jimmy dan Kelly juga pulang sekolah.


"Aneh! jika ada temannya begini aku, si peneror tadi tidak muncul!" gumam dalam hati Luna.


"Luna, kamu kenapa?" tanya Kirana yang penasaran dengan raut wajah Luna yang nampak pucat


"Kirana, kamu jangan kemana-mana ya!" bisik Luna seraya memegang tangan Kirana.


"Memangnya ada apa Luna? ceritakanlah!" ucap Kirana merasa iba melihat sahabatnya yang nampak sekali cemasnya.


"Seperti ada yang menerorku Kirana!" balas Luna yang membuat Kirana penasaran.


"Apa menerormu?" tanya Kirana yang menatap kedua mata Luna.


"iya, dia melempariku dengan pisau belati itu!" jawab Luna seraya menunjukkan pisau belati yang telah dia singkirkan ke tepi kios.


Kirana mendekati pisau belati itu, dan memperhatikannya dengan seksama.


"Seperti ada racunnya!" seru Kirana saat melihat ada sesuatu yang hijau menempel di mata pisau belat itu.


"Jadi benar pisau belati itu ada racunnya?" gumam Luna yang semakin penasaran.


"Sepertinya dia ingin membunuhmu Luna!" ucap Kirana yang juga penasaran.


"Iya, siapa ya si peneror itu?" tanya Luna yang kemudian dia dan Kirana saling pandang dengan tatapan yang tegang dan penasaran.


...~¥~...


...Terima kasih untuk para Readers semuanya, terutama yang telah memberikan dukungan berupa like/komen/favorite/rate 5/gift maupun votenya pada novel SI OYEN PACARKU BUKAN MANUSIA ini....


...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan...


...Allah Subhana Wa Ta'alla.....


...Aamiin Ya Robbal alaamiin...

__ADS_1


...Terima Kasih...


...BERSAMBUNG...


__ADS_2