
"Dicky, Kiaro siapa gadis cantik ini?" tanya Maggie saat keadaan Kios bunga Rose mulai lengang.
"Oh, dia Caterina Bu. Teman kami di kampus" jawab Dicky saat sambil memindahkan bunga dari halaman belakang kios ke teras kios bunga Rose.
"Caterina, saya Maggie ibu dari Dicky" ucap Maggie yang menghampiri Caterina.
"Sa..saya Caterina" ucap Caterina yang tiba-tiba tubuhnya merasakan getaran yang aneh. Dan membuat wajahnya kini nampak pucat pasi.
"Kamu sakit ya?" tanya maggie yang melihat perubahan di wajah Caterina.
"Sa..saya!" ucap Caterina dengan gugup, jika berbohong hidungnya akan semakin memerah.
"Sebetulnya hal ini yang ingin saya tanyakan sama bibi dan ibu" kata Kiaro yang sedang mencuci tangannya.
"Apa kamu alergi sesuatu?" tanya Maggie yang penasaran.
"Caterina tidak alergi" ucap Caterina.
"Terus kamu tinggal dimana? dan dimana orang tua kamu?" tanya Maggie yang penasaran.
"Saya tidak punya rumah, kedua orang tua saya ada di tempat jauh" jawab Caterina sedikit terbata-bata karena takut hidungnya semakin memerah jika berbohong lagi.
"Bi, boleh kan kalau Caterina kerja bantu bibi?" tanya Kiaro yang memohon.
"Boleh saja kalau Caterina tidak ada pekerjaan lainnya!" ucap Maggie yang menatap Caterina seorang ingin tahu kepribadian gadis di depannya itu.
"Apa Caterina tinggal di rumah kita Kiaro?" tanya Dicky yang penasaran.
"Iya kalau ibu dan ayah Kiaro mengijinkan" kata Kiaro.
"Semoga saja mengijinkan, karena aku tahu siapa ibu dan ayah kamu!" ucap Maggie.
"Sudah sore, aku mau antar Caterina ke rumah bi. Biar dia bisa membersihkan diri!" ucap Kiaro.
"Oke, Dicky kamu bantu ibu menyiram bunga dan menutup Kios!" pinta Maggie.
"Tapi Bu, aku juga ingin mengantarkan Caterina ke rumah Bu" pinta Dicky yang memelas.
"Dicky bantu ibu dulu!" seru Maggie dan Dicky dengan terpaksa membantu ibunya.
Kiaro dan Caterina melangkahkan kaki menuju ke rumah Kiaro.
Setelah masuk ke rumah, Kiaro menunjukkan kamar tamu pada Caterina.
"Nah Caterina, Disini kamar tamu kami, masuklah dan bersihkan diri kamu."ucap Kiaro saat ada didepan kamar tamunya.
Dan Caterina segera masuk dan melangkahkan kakinya menuju ke kamar mandi dan dia melakukan ritual membersihkan dirinya.
Sedangkan Kiaro melangkahkan kaki menuju ke kamarnya.
Beberapa menit kemudian jam dinding sudah menunjukkan jam lima sore.
Semua keluarga Kiaro sudah pulang dari aktifitas masing-masing, termasuk Kirana, Aaron, Jimmy, Kelly, Vivian dan Tony.
__ADS_1
Jam dinding menunjukkan pukul enam sore, sesuatu terjadi di kamar tamu rumah Kiaro.
Caterina yang sebelumnya seorang gadis cantik, kini berubah menjadi seekor kucing kecil dengan tiga warna bulunya.
"Aku sudah menjadi Caty, akan aku cari dompet itu!" seru Caty yang kemudian dia melangkahkan kaki menuju ke pintu.
Sesampainya didepan pintu, Caty tersadar kalau dia tak bisa membuka pintu.
"Ah iya, aku kan jadi kucing. Tak bisa aku membukanya, terpaksa aku menunggu di sini!" gumam Caty.
Tak berapa lama ada seseorang yang mengetuk pintu.
"Tokk...tokk..tokk..!"
Dan dia kembali mengetuk pintu.
"Tokk...tokk..tokk..!"
Tak ada respon sama sekali. Kiaro , membuka pintu dengan perlahan-lahan.
Caty keluar dari kamar dengan melangkah diantara kaki-kaki Kiaro.
"Caterina, Caterina!" panggil Kiaro saat masuk ke dalam kamar.
Namun tak di dapatnya gadis cantik yang kini mengganggu hatinya itu.
"Apakah dia pergi?" ucap dalam hati Kiaro yang terus mencari di tiap sudut kamar tamu itu.
Tak juga dia menemukan gadis yang tadi siang bersamanya.
"Kiaro, mana Caterina?" tanya Kirana pada saat Kairo menghampiri mereka di meja makan.
"Tida ada Bu, apa mungkin dia lari?" tanya Kiaro yang merasa kehilangan.
"Sudahlah ayo makan dulu, nanti kita lihat apa dia keluar dari rumah atau tidak melalui cctv rumah!" kata Aaron dan Kiaro kemudian duduk di tempat duduknya.
Kemudian mereka makan dengan lahapnya sambil bercerita.
Sementara itu Caterina yang sudah berubah menjadi Caty melangkahkan kakinya menuju ke ruang makan dengan mengendap-endap.
"Aku akan cari dompet Kiaro!" Caty yang membatin.
Tak berapa lama dia sudah sampai di ruang makan dan orang-orang yang di ruang makan itu tak menyadari kedatangan Caty.
Caty mendekati Kiaro dan mencari keberadaan dompet Kiaro.
"Di kantung celana sebelah mana ya Kiaro membawa dompetnya?" tanya dalam hati Caty yang terus mencari keberadaan dompet Kiaro.
Tiba-tiba sendok makan Kiaro jatuh.
Ketika hendak mengambilnya,dia melihat sosok kucing dengan tiga warna di bawah tempat duduknya.
__ADS_1
"Eh ada kucing! imut sekali" batin Kiaro.
"Kiaro, sendok yang sudah jatuh jangan diambil, di meja ada banyak sendok bersih!" seru Kirana yang melihat putranya membungkuk hendak mengambil sesuatu.
"Oiya Bu, maaf Kiaro kebiasaan!" ucap Kiaro yang kemudian mengambil satu potong ayam goreng dan memberikannya pada Caty.
Caty memperhatikan dan senang melihatnya, karena memang dia sangat lapar saat ini.
Kucing itu makan dengan lahapnya.
Kemudian mereka menyelesaikan acara makan malam mereka.
Beberapa saat kemudian mereka semua telah selesai makan, dan Kiaro meminta ijin untuk kekamarnya.
"Ibu, ayah Kiaro mau ke kamar langsung. Kiaro sudah lelah!" ucap Kiaro saat menumpuk piring kotor bekas makannya diatas piring kotor lainya.
"Tumben kamu mau langsung ke kamar? biasanya juga main game dulu sama Ayah?" tanya Aaron yang penasaran.
"Iya yah maaf Kiaro sangat lah lelah" ucap Kiaro, yang sebenarnya dia sangat penasaran dengan foto yang diincar Caterina tadi siang.
"Baiklah, Ayah juga tak memaksa!" ucap Aaron.
"Apa aku boleh ke kamar kamu Kiaro?" tanya Dicky yang merasa kesepian jika tak bersama Kiaro.
"Maaf Dicky, aku butuh privasi" ucap Kiaro dan kemudian Kiaro menggendong dan mengusap-usap tubuh Caty.
"Ohw rupanya dapat mainan baru, sejak kapan kucing itu ada padamu?" tanya Dicky yang merasa tersisihkan dari persahabatan mereka.
"Eh, kak Kiaro kucingnya lucu. Buat Via aja ya kak?" pinta Vivian dengan penuh harap dan menghampiri Kiaro dan mencoba mengusap-usap Caty.
"Eh, minta mama dan papa kamu sana ya! suruh belikan kucing. Jangan suka merampas kepunyaan orang ya!" ucap Kiaro yang kemudian bangkit dan melangkahkan kakinya menuju kekamarnya.
"Mama..papa..! kak Kiaro jahat, aku kan suka kucing itu!' rengek Vivian yang pecah membuat suasana mengharu.
"Sudah Vivian, besok bibi belikan yang lebih imut dari kucing kak Kiaro ya!' ucap Kirana seraya membelai lembut kepala Vivian.
"Via maunya sekarang bi" kata Vivian seraya memeluk Kirana manja.
"Kalau sekarang toko hewannya sudah tutup sayang!" ucap Kirana yang berusaha memberi Vivian pengertian.
"Janji ya bi?" kata Vivian seraya mendongak ke arah Kirana seraya mengulas senyum manisnya dan dibalas oleh Kirana.
Dan mereka kemudian kembali pada kesibukan masing-masing.
...~¥~...
...Terima kasih untuk para Readers semuanya, terutama yang telah memberikan dukungan berupa like/komen/favorite/rate 5/gift maupun votenya pada novel SI OYEN PACARKU BUKAN MANUSIA ini....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan...
...Allah Subhana Wa Ta'alla.....
...Aamiin Ya Robbal alaamiin...
__ADS_1
...Terima Kasihh...
...BERSAMBUNG...