
Dan mereka berunding tentang pakaian dan makanan-makanan yang akan disajikan untuk pernikahan kelak .
Mobil terus menyusuri jalan raya yang menuju ke kota Ghuangzhou dengan kecepatan sedang.
Hari menjelang sore mereka telah sampai di kota Ghuangzhou.
Aaron menepikan mobilnya disaat masuk ke area kios bunga dan masuk ke halaman rumah.
Setelah mobil berhenti, Aaron dan Kirana serta Adelia keluar dari mobil.
Mereka disambut oleh Caterina, Kiaro dan Vivian yang kebetulan sedang liburan sekolah di asramanya.
"Paman dan bibi!" panggil Vivian dengan gayanya yang imut.
"Vivian!" balas Aaron yang kemudian menganggat tubuh Vivian.
"Paman, Vivian berat lho!" seru Vivian dengan kocaknya yang membuat semuanya tertawa.
"Nggak apa-apa, paman kamu masih kuat kok Vian!" ucap Kirana yang melirik ke arah suaminya seraya mengulas senyumnya.
"Awas ya nanti malam!" bisik Aaron sambil tersenyum genit.
"Dasar ya, tua-tua makin genit!" bisik Kirana sembari memberi cubitan pada suaminya.
"Paman dan bibi bicara apa sih? Vian nggak dengar!" celetuk Vivian seraya menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Eh Vian, ini masalah pekerjaan. Vian belum saatnya tahu ya!" seru Kirana.
Dan Aaron pun tertawa karenanya dan mereka melangkahkan kaki masuk ke rumah.
Sementara itu Caterina menyapa ibunya, sedangkan Kiaro masuk bersama ibu dan ayahnya serta Vivian.
"Ibu, bagaimana keadaan ibu saat di pantai pesisir Z?" tanya Caterina yang penasaran.
"Nanti ibu csritakan, sekarang ibu mau mandi dan ganti pakaian dulu!" ucap Adelia yang kemudian melangkahkan kaki menuju ke kamar tamu dimana biasa tempat dia beristirahat di rumah Aaron bersama Caterina.
Putri Caterina memandang calon ibu mertuanya, seakan meminta jawaban dari Kirana.
"Iya Bu, kami ingin tahu ceritanya!" seru Kiaro yang sejak tadi diam saja.
"Saat makan malam kita bahas semuanya, sekarang ibu dan Ayah juga mau Dandi dan mengganti pakaian kami" ucap Kirana yang memberi kode pada Aaron untuk menurunkan Vivian.
Aaron mengerti dan menurunkan Vivian di sofa ruang tamu, sedangkan Aaron dan Kirana melangkahkan kakinya menuju ke kamar mereka.
Kiaro dan Caterina saling pandang dan mengangkat bahu mereka masing-masing.
Beberapa jam kemudian semuanya berkumpul untuk makan malam bersama.
Dan ketika semuanya telah berkumpul, semua bercerita tentang apa yang terjadi pada mereka.
__ADS_1
"Kiaro dan Caterina, bagaimana perjalanan kalian pada saat menghadiri pernikahan Ricky dan Samantha?" tanya Aaron sembari mengambil lauk kesukaannya.
"Semua berjalan dengan lancar yah, dan karena itulah kami bisa pulang dengan cepat " jawab Kiaro sembari mengulas senyum nya.
"Oh, syukurlah kalau begitu." ucap Aaroon.
"Bagaiman dengan ibunda?" tanya Caterina yang bertanya pada Adel dengan rasa penasaran.
"Setelah diantarkan oleh paman Aaron dan bibi Kirana, ibunda bertemu dengan pangeran Wallache dan Ibunda diajak bertemu dengan Ayahanda dan Ibunda Pangernan Wallache." Jawab Adelia.
"Wah, sudah bertemu calon mertua saja nih ibunda!" goda Cateina seraya mengulas senyumnya.
"Caterina sayang, dengarkan ibunda Adelia melanjutkan ceritanya terlebih dahulu. Baru kamu beri komentar." ucap Kiaro.
"Iya, ma'af" ucap Caterina yang menundukkan kepalanya.
"Sudahlah Caterina dan Kiaro, biarkan Adelia melanjutkan ceritanya, kami juga penasaran dengan ceritanya." ucap Maggie seraya menyantap makanannya.
"Baik Bu" ucap Kairo dan Caterina bersamaan.
"Saya lanjutkan ceritanya, setelah bertemu dengan kedua orang tua Pangeran Wallache, saya dibawa pangeran Wallache ke kerajaan Siren." ucap Adelia.
"Kerajaan Siren?" tanya Kirana yang memastikan pendengarannya.
"Iya ke kerajaan Siren, dan Pangeran Wallache ternyata telah merenovasi kerajaan Siren menjadi sangat cantik dan nyaman." jawab Adelia.
"Iya, dan sejak itu nama kerajaan Siren dirubah oleh pangeran Wallache menjadi Kerajaan Ryugu." jawab Adelia seraya menatap satu persatu keluarganya yang telah menyimak ceritanya.
"Terus lanjutkan Adel!" seru Kelly yang juga penasaran.
"Setelah berkeliling di kerajaan Ryugu, saya dan pangeran Wallache kembali ke kerajaan Blue minch. Dan di kerajaan Blue Minch ini, kamia berunding untuk masa depan saya dan pangeran Wallache." cerita Adelia seraya menghabiskan makanannya.
"Hasil dari rundingan kami adalah kami bersepakat kalau saya dan pangeran Wallache akan menikah di bulan depan dan dilaksanakan di kerajaan Ryugu dan Villa Pesisisr Z" lanjut Adelia.
"Oh, jadi sebulan lagi akan ada pesta ya!" ucap Tony yang sudah menyelesaikan makannya.
"Iya, dan kami berencana kalau Kiaro dan Caterina sekalian menikah disana." sahut Kirana seraya memandang putra dan calon menantunya satu persatu.
"Hukk..Hukk...hukk...!"
Kiaro dan Caterina terbatuk-batuk pada saat namanya di sebut-sebut.
"Ada apa dengan kalian, apa kalian tidak mau menikah?" tanya Aaron yang juga telah menyelesaikan makannya.
"Kiaro sangat setuju ayah, cuma kenapa mendadak sekali? Kiaro kan belum punya tabungan untuk menggelar pernikahan dan biaya hidup setelah pernikahan?" ucap Kiaro dengan pertumbangannya.
"Jangan khawatir Kiaro, kamu kan yang memegang ruko nantinya. Jadi itulah usaha kamu Kiaro. Dan tugas kamu pertahankan dan kembangkan lah usaha kamu itu!" pesan Kirana pada putranya.
Kiaro dan Caterina saling pandang dan Caterina menganggukkan kepalanya, pertanda kalau dia menyetujuinya.
__ADS_1
"Baiklah, Kiaro dan Caterina menyetujuinya ibunda." ucap Kiaro seraya mengulas senyumnya.
"Berarti sudah ada dua pernikahan, bagaimana jika ditambahvsatu pernikahan lagi?" usul Aaron setelah meneguk minumannya.
"Satu lagi pernikahan?" tanya Tony yang penasaran.
"Siapa yang akan menikah selain mereka-mereka?" tanya Maggie yang juga penasaran.
"Ya putra kalianlah!" jawab Kirana yang hal itu membuat Dicky yang sedang meneguk minumannya juga terbatuk-batuk.
"Hukk...Hukk....Hukk...!"
"Dicky, kamu tak apa-apa kan?" tanya Maggie yang khawatir akan putranya.
"Ti..tidak apa-apa bunda!" ucap Dicky yang batuknya sudah mereda.
"Aku sih setuju saja, bagaimana dengan kamu ****?" tanya Tony pada putranya.
"Iya Ayah, Dicky setuju. Dicky juga berencana untuk cepat menikah dengan Ruby" jawab Dicky seraya menatap ayahnya.
"Baiklah, besok pagi kita ke kerajaan petir. Ayah akan antar kamu melamar Ruby dan kita akan berunding dengan kedua orang tua Ruby di kerajaan petir!" ucap Tony.
"Nah, benar itu! lebih cepat lebih baik!" seru Aaron dan semuanya menganggukkan kepala masing-masing, tanda setuju dengan seruan dari Aaron.
"Iya Ayah, Dicky juga setuju" ucap Dicky.
"Wah, kalau sudah ada kesepakatan seperti ini, kita akan bersibuk ria nih bulan depan!" seru Jimmy yang sedari tadi diam karena sedang sibuk makan bersama putrinya Vivian, yang sedang manja dengan ayahnya.
"Ok, kita sudah sepakat untuk bukan depan kita adakan tiga pernikahan. Sekarang waktunya kaum perempuan membereskan semua yang ada dihadapan kita, untuk kaum laki-laki silahkan ke tempat yang kalian suka. Kalau bantu-bantu kami juga boleh! he..he..!" seru Kirana seraya tertawa kecil.
"Kalian sudah berempat, sudah cukuplah melakukan pekerjaan kalian! he..he..!" balas Aaron seraya mengulas senyumnya.
"Iya-iya! sudah sana pergi, dan jangan nganggu pekerjaan kami. Karena kami sudah capek dan ingin cepat istirahat!" seru Kirana seraya mengangkat dan memindahkan piring bekas ke dapur,
Dan kemudian para lelaki melangkahkan kaki mereka menuju ke ruang keluarga.
...~¥~...
...Terima kasih untuk para Readers , terutama yang telah dukungan berupa like/komen/favorite/rate 5/gift maupun votenya pada novel SI OYEN PACARKU BUKAN MANUSIA ini....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan...
...Allah Subhana Wa Ta'alla...
...Aamiin Ya Robbal alaamiin...
...Terima Kasih...
...BERSAMBUNG...
__ADS_1