
Kirana melangkahkan kaki menuju ke dapur, Ibunda Kairo itu merasakan tenggorokannya yang kering sehingga butuh meneguk satu gelas air putih.
"Tenggorokanku kering, sepertinya aku harus minum!" ucap dalam hati Kirana yang mengusap lehernya sebentar.
Kirana sampai di dapur, dia mengambil gelas dan kemudian melangkahkan kakinya menuju ke lemari es.
Dibukanya lemari es itu dan diambilnya botol yang berisi air putih yang untuk diminum sehari-hari itu.
Tiba-tiba Kirana mendengar sesuatu yang tak asing di telinganya.
"Suara itu seperti yang aku dengar dalam mimpi tadi" ucap dalam hati kirana saat mendengar suara tangisan yang menyayat hati itu.
"Apa yang ada di mimpiku tadi nyata?" gumam dalam hati Kirana yang kemudian mencari sumber suara.
Dari tiap ruangan-ruangan dia terus mencari, namun tak juga menemukannya.
"Suaranya, iya itu suara Asia!" gumam dalam hati Kirana yang terus mencari sumber suara itu.
Setelah sekian lama mencari dan penasaran, pandangan Kirana mengarah pada sebuah jendela.
Jendela itu mengarah pada ke pantai, Kirana membuka pelan-pelan korden yang menutupi jendela tersebut.
Suasana gelap hanya di terangi cahaya bulan, Kirana menangkap sesosok ikan yang berkepala manusia dan berambut panjang duduk di sinari cahaya bulan.
Tak Walaupun tak nampak jelas wajahnya, namun yang pasti dia putri duyung.
"Apakah dia Asia?" batin Kirana uang penasaran.
Tiba-tiba ada yang menepuk pundak Kirana pelan namun mampu membuat Kirana spot jantung.
"Astaga naga!" umpat Kirana yang terkejut.
"Bibi, bibi membuatku kaget saja!" seru Kirana yang mengelus dadanya.
"Ma'af nyonya, kenapa nyonya ada di sini?" tanya seorang wanita separuh baya yang sangat dikenal oleh Kirana
"Bibi pengurus, buat jantung Kirana loncat-loncat saja!"seru Kirana seraya mengatur nafasnya.
"Nyonya sedang ngapain di jendela ini?" tanya bibi pengurus villa itu yang penasaran.
"I..itu tadi Kirana dengar sesuatu, lalu Kirana coba cari sumber suara itu!' jawab Kirana pelan-pelan.
"Terus apakan anda melihat sesuatu?' tanya Bibi pengasuh itu penasaran.
__ADS_1
Kirana mengangguk lalu membuka kembali korden itu dan dia mencoba menunjukkan apa yang dilihatnya itu pada bibi pengasuh.
Namun dia terkejut, karena sesosok seperti putri duyung itu telah menghilang.
"Eh, kemana dia?' gumam Kirana yang membuat bibi pengurus villa itu penasaran.
"Apa yang akan nyonya tunjukkan?" tanya bibi pengurus villa yang ikut melihat keluar jendela.
"Bi, apa yang kita bicarakan tadi sore itu benar ada ya bi?" tanya Kirana yang penasaran.
"Sebaiknya kita jangan bicara hal itu malam ini, nyonya sebaiknya istrirahat. Dan jangan memikirkan apapun lagi." pesan Si bibi pengurus villa itu yang kemudian melangkahkan kakinya menuju ke ruang tamu.
"Tapi hal ini akan mengganggu pikiran ku bi!" seru Kirana yang benar-benar penasaran mengikuti langkah bibi pengurus villa itu.
"Nyonya, aku kurang tahu pasti ceritanya. Konon orang yang bisa melihat Siren dan putri duyung itu hanya orang-orang yang terpilih saja. Kurang lebihnya saya kurang tahu" ucap bibi pengurus villa itu.
"Orang yang terpilih? maksudnya apa?" tanya kirana yang penasaran.
"Orang yang bisa melihat wujud dari Siren atau Putri duyung itu, dialah orang terpilih itu' jelas si bibi pengurus villa itu.
"Apakah aku yang dimaksudkan bibi pengurus?" gumam dalam hati Kirana.
"Iya, karena nyonya tadi mendengar sesuatu hingga nyonya mencarinya" jawab bibi pengurus villa.
"Apa ada cerita lainya bi?" tanya Kirana yang penasaran.
"Apakah bibi pengurus berusaha menakutiku?" gumam dalam hati Kirana yang tetap setia mendengarkan apa yang bibi pernhurus itu katakan.
"Begitu ya bi? Kirana mulai mengantuk, saya mohon diri ya bi!" ucap Kirana yang mengulas senyum untuk si bibi pengurus villa.
"Iya nyonya selamat malam!" ucap Bibi pengurus villa itu yang .embalas senyuman pada Kirana.
Kirana membalikan tubuhnya dan melangkahkan kakinya menuju ke kamar di mana dia dan Adelia tadi tidur.
Sesampainya di depan kamar, Kirana membuka pintu dan menutupnya kembali.
Kemudian Kirana melangkahkan kaki menuju ke tempat tidur, dia merebahkan diri dan mencoba untuk memejamkan kedua matanya walaupun dalam pikirannya ada gambaran putri duyung dan Siren.
Kirana tak jua memejamkan kedua matanya. Karena dalam pikirannya berganti dengan bayangan suami dan putranya yang hadir dalam pikirannya saat ini.
"Ah, sedang apa ya mereka? apa mereka juga seperti aku? tak bisa tidur dengan nyenyak?" gumam dalam hati Kirana.
Tak berapa lama Kirana tertidur dengan pulas juga, disamping Adelia yang masih tertidur.
...****...
__ADS_1
Beberapa jam kemudian, pagi telah tiba. Matahari masih malu-malu untuk menunjukkan sinarnya, dan burung-burung berkicau dengan riang gembiranya.
Kirana dan Adelia sudah bangun dari tidurnya yang nyenyak, mereka berdua kemudian membersihkan diri dan berhias diri.
Kirana menceritakan kejadian semalam pada Adelia, dan Adelia menyimaknya dan ikut berpikir.
"Kalau Adel berpendapat nih ya, kita tetap temui dia kak. Siapa tahu dia memang meminta pertolongan, dan mungkin yang dia panggil sebelumnya tak mampu menolong dia" ucap Adelia dengan serius.
"Iya, aku juga berpikir begitu. Tapi kita juga harus minta bantuan dari keluarga kita di Guangzhou juga. Demi keselamatan kita kalau kita tidak mampu mengatasi mereka." ucap Kirana.
"Kakak benar juga, kita tak tahu lawan kita. Dan apa kemampuan kita bisa untuk mengatasi mereka!" balas Adelia.
"Ayo kita ke bawah, bantu bibi menyiapkan sarapan" ajak Kirana.
"Ayo kak!" sahut adelia dan mereka melangkahkan kaki keluar dari kamar bersiap untuk membantu bibi pengurus vila memasak.
Sesampainya di dapur, ternyata bibi pengurus telah menyiapkan semua sarapan mereka.
Dan mereka kemudian sarapan bersama dengan di barengi candaan dan gurauan.
"Nyonya Kirana, ingat ya jangan pedulikan hal semalam. Kalian sebaiknya segera balik, karena keluarga kalian pasti menanti dengan cemas di kota saat ini." kata bibi pengurus villa yang memperingatkan.
"Bibi jangan khawatirkan kita, kita bisa jaga diri, tenang saja ya!" seru Kirana seraya mengulas senyumnya.
"Kami juga sudah hubungi keluarga di kota Ghuangzhou, kemungkinan mereka nanti malam akan sampai ke sini" ucap Adelia yang menambahi.
"Terserah kalian lah bibi cuma memperingatkan saja, hati-hatilah disana nanti. Karena bibi juga tidak tahu seperti apa tempat mereka, jadi bibi tak bisa menggambarkannya" ucap bibi pengurus Villa yang kini pasrah saja apa keputusan dua majikan wanitanya itu.
"Ma'af ya bi, kalau membuat bibi sedikit kecewa. Kami janji kalau urusan kamu sudah selesai kami akan kembali ke Villa dan merasakan masakan bibi yang enak dan lezat ini" kata Kirana seraya mengulas senyumnya.
"Janji ya nyonya-nyonya!" seru si bibi pengurus villa itu yang sedikit tenang
"Janji bi!" seru Adelia dan Kirana seraya mengulas senyum khas mereka.
...~¥~...
...Terima kasih untuk para Readers semuanya, terutama yang telah memberikan dukungan berupa like/komen/favorite/rate 5/gift maupun votenya pada novel SI OYEN PACARKU BUKAN MANUSIA ini....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan...
...Allah Subhana Wa Ta'alla.....
...Aamiin Ya Robbal alaamiin...
...Terima Kasihf...
__ADS_1
...BERSAMBUNG...