
"Kurang ajar..! kalian harus mati sekarang juga!" seru siluman ular kobra yang cantik itu.
"Coba saja..!" seru Ekin yang mulai bersiap-siap untuk menghabisi siluman ular kobra cantik itu.
"Heeeh, rasakan ini!” seru siluman ular kobra yang cantik itu seraya, mengarahkan matanya yang memancarkan sinar warna merah itu menyerang Ekin dan Aaron.
Kedua pemuda itu mampu menghindarinya dengan melemparkan diri kesamping dan juga bersalto.
Dan tanpa di sadari Ekin, pancaran sinar merah di mata ratu siluman ular yang seperti sinar laser itu mengenainya.
"Aaargh...!" Ekin yang mengerang kesakitan.
"Ekin.....!" seru Luna.
"Aku tak apa-apa!" seru Ekin yang berusaha bangkit kembali dan ikut melawan ratu siluman ular itu.
Ratu siluman ular kobra ini sulit untuk di kalahkan.
Berkali-kali Aaron berusaha melawan dia, berkali-kali pula pancaran matanya hampir melukainya.
Tiba-tiba terdengar suara seruling yang menggema, dan tampak siluman kura-kura yang sedang meniup seruling.
Ratu siluman itu pun menari dengan gemulainya.
"Kurang ajar kau tua Bangka, apa yang sedang kau lakukan ini!" seru ratu siluman itu dengan kemarahannya.
Ratu siluman itu malah semakin mengganas, dia menyemburkan racunnya ke sembarang arah.
Aaron dan Ekin mundur beberapa langkah guna melihat keadaan dan menghindari semburan racun dari siluman ular itu.
"Aaron, Ekin..gunakan bola-bola cahaya kalian secara bersamaan!" seru Kirana yang terus memantau pertempuran itu.
"Benar...ayo kita lakukan!" seru Aaron seraya melihat ke arah Ekin.
Dan Ekin pun mengangguk." Ya"
Mereka berdua bersamaan melawan ratu siluman ular itu secara bersamaan.
"Bouuumm..."
"Bouuumm..."
"Bouuumm..."
"Bouuumm..."
Serangan bola-bola cahaya biru dan kuning bergantian menyerang ratu siluman ular kobra.
"Aaaghh...!"
Ratu siluman ular kobra itu terpental dan tersungkur.
Keluarlah darah segar dari mulut ratu siluman ular kobra itu.
Kembali siluman kura-kura meniup serulingnya dan ratu siluman ular kobra itu menari walau dengan rintihan sakitnya.
"Hentikan seruling itu!" seru ratu siluman ular kobra itu seraya menutup telinganya.
"Hentikan..! tidak akan sebelum kamu menyerah!" seru Ekin yang terus mengawasi keadaan.
"Kalian mau apa!" seru Ratu siluman itu yang terus menari.
"Berikan mustika siluman ularmu pada kami...!!" seru Aaron lantang.
"A...apa...! tidak mungkin!" seru ratu siluman ular kobra itu.
__ADS_1
"Kenapa tidak mungkin?" tanya Ekin yang geram.
"Dengan mustika itu, aku bisa menjadi ratu, kalian memaksaku turun tahta!" seru ratu siluman ular kobra itu.
"Itu lebih baik, dari pada kau kmi bunuh!" ucap Luna dengan geramnya.
"Ba..baiklah" ucap ratu siluman ular itu dengan terpaksa dia mengeluarkan mustika siluman ularnya.
Aaron pun mengambilnya dengan hati-hati, dan kemudian kembali ke tempatnya semula.
Tanpa di duga sebelumnya, siluman kura-kura yang menaruh dendam pada ratu siluman ular itu meraih pedang cahaya milik Ekin dan berkali-kali membekas kan goresan di leher dan lengan ratu siluman kobra itu.
Dan pada akhirnya, siluman kura-kura itu menghunuskan pedang cahaya yang ada di genggamannya itu ke ulu hati ratu siluman ular kobra itu.
"Seeett....sreeeettt....aaghh...!"
Ratu siluman ular kobra itu mengerang kesakitan.
"Kau..curang tua bangka, dasar siluman kura-kura!" racau ratu siluman ular kobra itu dengan diiringi rintihan.
"Itu untuk nyawa istriku yang kau bunuh...dan ini karena kau membuat anakku tak berbakti lagi padaku...!!" seru siluman kura-kura yang susah di liputi amarah dan dendam, kembali menghunuskan pedang cahaya milik Ekin ke jantung ratu siluman ular kobra itu.
"Aaargghhhh.....!"
Ratu siluman ular kobra itu menghembuskan nafas terakhirnya.
Dan muncullah mutiara siluman yang berwarna hitam dan mengkilat dari tubuh ratu siluman ular kobra itu.
Ekin, ambil mutiara siluman itu!" seru siluman kura-kura.
Ekin pun mengambil mutiara siluman berwarna hitam itu dan kemudian menyimpannya.
"Fyuh...akhirnya beres juga" ucap Luna lega.
📆Flashback Off.
"Walaupun aku tahu kalau kakekku siluman Kura-kura juga ikut andil di dalamnya." lanjut kata Ginna yang kembali bersiap menyemburkan bisa racunnya.
Lagi-lagi pedang Awan membuat sebuah tameng untuk melindungi Kirana.
"Kurang ajar! " umpat Ginna yang kemudian mengubah dirinya menjadi manusia dan memunculkan sebuah tongkat berkepala ular dan dengan cepat menyerang Kirana .
"Trang...Trang...Trang..!"
"Trang...Trang...Trang..!"
Kirana meladeninya dengan pedang awan.
Tanpa di duga Ginna menggunakan sinar mata merahnya menyerang Kirana dan kirana terlambat menghindarinya.
"Cashh...!" Sinar merah itu mengenai tangan kiri kirana.
"Aaaghhh...!" Kirana mengerang kesakitan.
"Kirana..!" panggil Aaron saat masuk ke dalam rumah bersama Ekin.
Aaron bergegas menghampiri Kirana dan Ekin bersiap menyerang Ginna.
"Aaron, coba kamu tiup seruling ini!" seru Kirana seraya memberikan Aaron sebuah seruling pemberian Siluman kura-kura.
Setelah menerima seruling itu, Aaron meniupnya.
Tiba-tiba saja tubuh Ginna meliuk-liuk mengikuti irama alunan nada seruling sakti itu.
Keluarlah darah segar dari mulut dan telinga putri siluman ular kobra itu.
__ADS_1
Aaron terus meniup serulingnya dan putri siluman ular kobra itu terus menari walau dengan rintihan karena sakitnya.
"Hentikan seruling itu...!" seru Ginna putri siluman ular kobra itu yang menutup telinganya.
"Hentikan..! tidak akan sebelum kamu menyerah!" seru Ekin yang terus mengawasi keadaan.
"Ekin, biarkan perempuan ini jadi urusanku!" seru Kirana yang berusaha berdiri dan mencoba dalam posisi siaga walau kakinya sedang terluka.
Sementara Aaron terus meniup seruling sakti itu.
"Kamu yakin Kirana?" tanya Ekin yang cemas.
"Iya, aku yakin sekali!" ucap Kirana mantap.
"Hati-hati!" ucap Ekin dan di jawab anggukan kepala oleh Kirana.
"Aaron, hentikan serulingnya!" ucap Kirana yang sudah bersiap dengan pedang awannya.
"Ginna, ayo kita lanjutkan perseteruan kita!" seru Kirana yang sudah berhadapan dengan Ginna.
"Siapa takut!" balas seru Ginna yang mengeluarkan sinar merah di matanya.
Kirana memakai pedang Awan sebagai tamengnya.
"Ting..Ting..Ting...!"
Berkali-kali pedang Awan membantunya menangkis serangan Ginna.
"Kurang ajar!" umpat Ginna yang terus menyerang Kirana dengan tongkatnya.
"Trang...Trang...Trang..!"
"Trang...Trang...Trang..!"
"Trang...Trang...Trang..!"
Dan pada saat ada kesempatan, Kirana menghunuskan pedang awan ke perut Ginna.
"Aaaghhh...! ka...kau..!"
"Ini untuk sahabatku Luna!" seru Kirana dan kekasih Aaron itu menarik kembali pedang awannya.
Beberapa detik kemudian pedang awan itu memisahkan kepala Ginna dari badannya.
"Sreet...!"
"Ini untuk pernikahan Sahabatku Maggie yang telah kau hancurkan!" seru Kirana dengan geram dan mulailah nampak senyum kemenangannya.
"Aih, Aaron kekasihmu ikutan sadis seperti kamu!" celetuk Ekin yang kemudian dia tertawa lebar.
"Ini semua demi persahabatannya!" seru Aaron yang kemudian menghampiri Kirana yang telah menyimpan pedang awan dan kini memegangi lengan kirinya yang terluka.
...~¥~...
...Terima kasih untuk para Readers semuanya, terutama yang telah memberikan dukungan berupa like/komen/favorite/rate 5/gift maupun votenya pada novel SI OYEN PACARKU BUKAN MANUSIA ini....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan...
...Allah Subhana Wa Ta'alla.....
...Aamiin Ya Robbal alaamiin...
...Terima Kasih...
...BERSAMBUNG...
__ADS_1
.