
Kiaro dan Dicky naik sepeda motor sport mereka masing dan menuju ke kampus mereka.
Setelah sampai di kampus, mereka segera memarkirkan kendaraan mereka di tempat parkir.
"Kiaro, ayo balapan siapa yang kalah cepat sampai fakultas, dia yang akan traktir makan siang!" seru Dicky seraya meletakkan helm di tempatnya.
"Baik, siapa takut!" seru Kiaro yang juga meletakkan helmnya di spion sepeda motor sportnya.
Keduanya pun berlari dan melewati beberapa mahasiswa dan mahasiswi di lorong kampus mereka.
Karena tak ada yang mau mengalah, mereka terus berlari hingga tanpa sadar Kiaro menubruk seorang gadis yang sedang bertanya-tanya pada mahasiswa dan mahasiswi lainnya.
"Brugh..!" gadis itu terjatuh.
"Aduh..!" suara kesakitan dari gadis itu.
"Ma..ma'af, apa ada yang sakit?" tanya Kiaro seraya mengulurkan tangan kanannya, berniat membantu gadis itu berdiri.
"Ma..ma'af-ma'af, sakit tahu..!' seru gadis itu yang menampik uluran tangan Kiaro dan dia berusaha berdiri sendiri.
Kiaro menarik kembali uluran tangannya dan berusaha tetap tersenyum pada gadis di depannya yang sedang membersihkan tubuhnya dari debu yang menempel.
Setelah selesai gadis itu menyibakkan rambutnya dan berdiri tegak berhadapan dengan Kiaro.
Putra Aaron dan Kirana itu terpesona akan kecantikan gadis yang ada dihadapannya dan demikian pula si gadis itu yang juga terkesima akan
ketampanan pemuda dihadapannya.
Kurang lebih dua menit mereka saling menatap intens pada kedua netra mereka.
"Foto! ah iya foto itu!" ucap gadis itu yang kemudian menundukkan kepalanya, berkeliling di sekitar tempat dimana dia terjatuh tadi.
"Dimana foto itu ya?" gumam gadis itu yang terus mencari sesuatu.
"Apa yang kamu cari?" tanya Kiaro, namun tak digubris boleh gadis itu.
Pandangan gadis itu tertuju pada sebuah kertas yang menempel di hak sepatu seorang dosen.
Gadis itu terus mengejar dosen itu dan sudah tak menghiraukan pemuda yang menabraknya tadi.
"Hei nona! siapa nama kamu?" seru Kiaro yang terus memandang gadis itu.
"Kiaro! kamu sedang memandang siapa?" tanya Dicky yang kembali menghampiri Kiaro penasaran.
"Ada gadis cantik, aku bantu berdiri. Eh malah dia sok jual mahal!" jawab Kiaro yang kemudian mereka berdua melangkahkan kaki menuju ke fakultas mereka.
Sementara itu gadis itu yang ditabrak Kiaro, tak lain adalah Caterina.
Gadis itu terus memburu dosen yang sepatunya membawa selembar kertas yang berupa foto seseorang.
"Pak..! tolong berhenti sebentar !" seru gadis itu, namun sang dosen tak mendengarkannya.
Dosen itu seperti memburu waktunya untuk mengajar. Dan tak menyadari kalau ada yang mengikutinya.
__ADS_1
Gadis itu terus mengikuti dosen itu tanpa mengenal lelah hingga dosen itu sampai di depan sebuah fakultas dan dia masuk ke dalam fakultas itu.
"Yah, dia masuk ke dalam fakultas. Mana bukan fakultas aku lagi!" gerutu gadis itu yang sedikit bingung.
"Ah masuk saja! dan pura-pura aku mahasiswi disana." ucap gadis itu yang nekat untuk masuk ke dalam fakultas itu.
Ternyata di dalam fakultas itu ada Kiaro dan juga Dicky.
"Kiaro! lihat ada gadis bening!" seru Dicky yang terus memperhatikan gadis yang baru masuk itu tanpa berkedip.
Kiaro yang semula cuek, akhirnya penasaran dengan sikap Dicky.
Kemudian Kiaro memperhatikan gadis yang dimaksud oleh Dicky.
"Hei, diakan gadis sombong tadi!" seru Kiaro geram.
"Jadi dia gadis yang menampik kamu tadi?" tanya Dicky yang penasaran.
"Iya, memang dia!" jawab Kiaro yang mengalihkan pandangannya pada dosen pembimbing mereka.
"Pantas saja dia sombong. Cantiknya setara dengan artis begitu!" celetuk Dicky yang tak lepas memandang gadis itu.
Dalam hati Kiaro sebetulnya juga penasaran dengan gadis itu.
Diam-diam dia juga memperhatikan apa yang dilihat gadis itu.
"Kenapa gadis itu selalu memandang kaki dosen itu ya?" tanya dalam hati Kiaro yang penasaran.
"Kertas putih itu! iya, gadis itu mengincar kertas putih yang menempel di sol sepatu dosen itu!" Kiaro yang membatin.
Demikian dengan Dicky yang hendak keluar dari raungan, namun dia menyempatkan diri memperhatikan gadis yang membuatnya penasaran itu.
Sementara Kiaro melangkahkan kaki mendekati dosen yang juga hendak keluar dari ruangan.
"Mister tunggu!" panggil Kiaro yang ada di belakang dosen yang dipanggilnya itu.
"Ada apa ya?" tanya Dosen itu dengan penasaran.
"Ma'af, ada sesuatu yang menempel di sol sepatu Mister."Jawab Kiaro seraya menunjuk kearah sol sepatu dosen itu yang ada kertas putih yang menempel dibawahnya.
"Wah iya, nak Kiaro, Terima kasih ya sudah memberitahu" ucap Dosen itu yang kemudian mencoba melepaskannya.
Dan ketika hendak membuang kertas itu, Kiaro menahan dosen itu.
"Tunggu pak, saya boleh minta kertas itu?" tanya Kiaro dengan hati-hati.
"Boleh saja! memangnya ada apa?" tanya Dosen itu dengan penasaran dan memberikan kertas yang terkena permen karet itu.
"Tidak tahu, ada yang menginginkannya!" jawab Kiaro seraya menerima kertas dan melihat ada bekas permen karetnya.
"Hiyuh, jijik sekali!" Kiaro yang membatin namun tetap dia menerima kertas itu.
Setelah dosen itu pergi, gadis yang sedari tadi memperhatikan Kiaro bersama dosen itu, segera menghampiri Kiaro.
__ADS_1
"Kak, boleh minta kertas itu?" tanya gadis itu pada Kiaro.
"Kertas ini?" tanya Kiaro yang pura-pura tidak tahu dan menunjukkannya pada gadis itu.
"I..iya kak!" jawab gadis itu memohon.
"Baik, akan aku berikan kepadamu. Tapi itu tidak gratis!" seru Kiaro yang mencoba memanfaatkan situasi.
"Tidak gratis? apa maksud kamu?" tanya Gadis itu penasaran.
"Iya, tidak gratis! karena dari awal kamu tidak ada itikad baik denganku!" jawab Kiaro yang menatap netra Gadis itu tajam dan demikian dengan gadis itu.
Walaupun ada gejolak rasa diantara mereka, namun perseteruan itu semakin menjadi.
"Oh, kalau begitu saya minta ma'af yang sebesar-besarnya!" ucap gadis itu seraya menunduk hormat.
"Bukan itu yang aku inginkan!" seru Kiaro dengan geram.
"A..apa? terus aku harus bagaimana?" tanya Gadis itu yang tak mengerti.
"Kamu harus jadi pembantuku selama seminggu!" seru Kiaro yang kali ini hanya melirik pada gadis itu.
"Ha..! apa sampai segitunya?" tanya gadis itu yang penasaran.
"Iya, mau tidak!" seru Kiaro dengan mengulas senyum sinisnya.
"E.. .!" gadis itu berpikir.
"Karena tidak cepat dijawab, aku naikkan menjadi sepuluh hari!" seru Kiaro dengan senyum sedikit sinis.
"Sepuluh hari, gila! melebihi renternir!" seru Gadis itu dengan geram.
"Tiga puluh hari! kalau tidak mau juga aku robek kertas ini!" ancam Kiaro yang jarinya siap merobek kertas itu.
"Jangan dirobek..!" seru gadis itu yang begitu khawatir.
"Jadi deal jadi pembantuku selama tiga puluh hari!" seru Kiaro untuk menegaskan kembali.
"Ba..baiklah, Deal!" seru gadis itu dengan terpaksa.
Dan mereka saling bersalaman untuk memantapkan perjanjian mereka.
...~¥~....
...Terima kasih untuk para Readers semuanya, terutama yang telah memberikan dukungan berupa like/komen/favorite/rate 5/gift maupun votenya pada novel SI OYEN PACARKU BUKAN MANUSIA ini....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan...
...Allah Subhana Wa Ta'alla.....
...Aamiin Ya Robbal alaamiin...
...Terima Kasihh...
__ADS_1
...BERSAMBUNG...