Si Oyen Pacarku Bukan Manusia

Si Oyen Pacarku Bukan Manusia
Si Caty My Secret Girl (Pertempuran di Pesisir Z)


__ADS_3

Walau merasakan perih dan sakit, Wallache berusaha tetap menahannya agar tak terlihat oleh Ruby.


Dengan susah payah, akhirnya mereka sampai di perairan.


Wallache segera menceburkan diri dan saat ini keadaannya sudah menjadi lebih baik dari sebelumnya.


"Syukurlah kamu sudah pulihh Wallache!" seru Ruby yang kemudia dia ikut menceburkan diri ke perairan.


"Ruby mau membantu teman-teman Ruby lebih dulu!" seru Ruby yang langsung menuju ke arah kirana sedang melawan para anggota Siren yang masih menjaga kerjaan Siren.


Bunyi perpaduan suara senjata antara trisula dan pedang terjadi.


"Trang.... Trang..... Trang.... Trang...!'"


"Trang.... Trang..... Trang.... Trang...!''


Dan suaranya terus menggema, dan mulailah satu persatu pasukan penjag istana Siren berjatuhan.


"Jlebb....! aaaaaghhh......!"


Suara perpaduan senjata berganti dengan suara kesakitan.


Wallache memperingatkan untuk segera pergi dari kerajaan Siren., karena Wallache tahu jam-jam Siren yang keliling ke sekitar kelautan tempat itu, kembali dari misi mereka.


"Kita sebaiknya cepat pergi dari sini, sebelum para Siren lainnya kembali dari misi mereka!" seru Wallache.


"Cepatlah kalian menyingkir, biara aku yang bereskan mereka!" seru Ruby yang sudah bersiap dengan jurus bola-bola Cahaya yang dia pelajari dari ayahnya.


"Hop hiaat...!"


"Boumm.... boumm... boumm...!"


Walaupun jurus bola-bola cahaya tak sedahsyat waktu di atas perairan, namun tetap mampu membawa efek pada lawannya.


Semua lawan Ruby terpental beberapa meter ke belakang. Dan kesempatan itu digunakan oleh kelima Duyung itu untuk pergi meninggalkan istana Siren.


Disaat mereka berusaha lari dari Istana para Siren, ternyata lima puluh prajurit dari kerajaan Hibrida luar telah menghadang empat duyung perempuan dan satu duyung laki-laki itu.


"Gawat! di depan kita ada bahaya. Ayo cari jalan lain!" seru Wallache yang kemudian berbalik arah dan prajurit Hibrida luar mengetahuinya dan terus mengejar mereka.


Sedangkan dari depan Kirana dan kawan-kawannya, muncullah rombongan Para Siren yang dari misi berkelilingnya.


"Ah, sialan! kenapa di depan kita ada mereka juga!' seru Wallache.


"Jalan satu-satunya kita ambil jalan ke pesisir Z, lanjut kita ke teluk Athamoissa, agar bisa ke kerajaan Blue Minch!" usul Asia.


"Benar juga, lagi pula kita tak akan mampu melawan mereka bersamaan" kata Kirana yang melihat dua kelompok lawan yang jumlahnya lumayan banyak itu.


Sementara itu di rombongan para Siren, mereka juga melihat Wallache yang menghindari mereka.


"Itu bukannya tahanan kita!" seru salah satu dari Para Siren, pada saat mereka melihat Wallache.


"Oh ternyata mereka membebaskan tahanan kita!" seru para Siren lainnya.


"Mereka akan kabur rupanya! ayo kita kejar, sebelum mereka menjauh!" seru salah satu dari mereka.

__ADS_1


Para Siren mengejar Kirana dan kawan-kawannya,dan mereka bertemu dengan rombongan prajurit dari kerajaan Hibrida Luar.


Para Siren dan prajurit Hibrida Luar secara bersamaan mengejar Kirana dan Kawan-kawannya.


Kirana, Adelia, Ruby, Asia dan juga Wallache terus menyelam hingga tak terasa sudah di pantai pesisir Z.


Mereka terkepung dari sisi kanan oleh Para Siren dan sisi kiri prajurit Hibrida Luar.


"Apa boleh buat, kita harus lawan mereka!" seru Kirana yang sudah bersiaga.


"Andai saja kekuatanku sudah pulih, mungkin aku bisa atasi mereka" ucap Wallache dengan rasa penyesalan atas apa yang menimpa dirinya.


"Jangan khawatir, kami bisa hadapi mereka! Kamu tetap di belakang kami dan pulihkan tenagamu secepat mungkin!" seru Adelia dengan yakinnya.


"Baiklah, tapi kalian juga harus berhati-hatilah!" pesan Wallache dengan rasa cemasnya.


"Tentu saja kak! jangan khawatirkan kami!" seru Asia dengan mengulas senyumnya.


Sementara para lawan sudah bersiap menyerang.


Para prajurit Hibrida luar menggunakan Trisulanya dalam pertempurannya. Sedangkan Para Siren menggunakan lagu-lagu yang biasa mereka bawakan untuk menghancurkan apa yang menjadi mereka kehendaki.


"Adelia! kamu bersama Ruby melawan Para Siren, sedangkan aku bersama Asia akan melawan Prajurit Hibrida Luar!" rencana Kirana.


"Baiklah, aku setuju! Ruby ayo kita mulai bermain dengan mereka!" seru Adelia yang sudah memposisikan dirinya di depan para Siren.


Mereka menggunakan lilin lunak yang diambilkan oleh Ruby dari cincin penyimpanannya yang berwarna biru itu untuk menutup telinga mereka.


Adelia bersiap dengan lagu-lagu kebanggannya mulai dari judul Let it go untuk melawan para Siren. Dan di dalam setiap hentakan musik keluarlah kekuatan dari dalam tubuh Adelia.


"Boum...! boum...! boum....!"


Perpaduan lagu dan ledakan pun terjadi.


Dan para Siren ada yang menghindar dan ada yang menangkis serangan-serangan bola-bola cahaya dari Ruby.


Sementara itu Kirana dan Asia menggunakan senjata mereka trisula dan juga pedang Awan untuk melawan Prajurit-prajurit dari kerajaan Hibrida luar.


"Hop hiaaat...!"


"Trang... Trang.... Trang... Trang...!"


"Trang... Trang.... Trang... Trang...!"


Suara dentingan terus bersautan dan riuh sekali di selingi suara erangan kesakitan dari para prajurit dan Asia yang sekali dua kali terkena ujung mata trisula lawannya.


"Aaargghhh..!" Suara erangan kesakitan Asia yang memang dia masih muda yang belum mampu melawan lawan sebanyak itu.


Di saat dia kelelahan dan lengah, Asia terluka terkena ujung mata trisula lawannya.


"Asia...!" seru Wallache yang tak tega melihat adiknya terluka.


Wallache mengeluarkan trisullanya dan maju menghampiri adikknya.


Dengan kekuatannya yang baru kembali setengahnya itu, Wallache nekat melawan prajurit-prajurit Hibrida luar itu.

__ADS_1


"Hop hiaaat...!"


"Trang... Trang.... Trang... Trang...!"


"Trang... Trang.... Trang... Trang...!"


Banyak prajurit-prajurit Hibrida luar yang terluka karena serangan dari Kirana yang menggunakan pedang Awan, dan juga serangan dari Wallache walau dengan setengah kekuatannya.


"Aaaghh...!"


Darah prajurit-prajurit Hibrida luar berserakan di mana-mana.


Dan kembali pertarungan itu kembali terjadi.


"Hop hiaaat...!"


"Trang... Trang.... Trang... Trang...!"


"Trang... Trang.... Trang... Trang...!"


"Aaaghh....!" dan kali ini lengan Wallache yang karena telat menghindar, terkena ujung mata trisula lawannya.


"Wallache..!" seru Kirana yang terlihat cemas.


"Kak Wallache..!" panggil Asia seraya masih melawan prajurit-prajurit Hibrida luar itu dengan sisa-sisa kekuatannya.


"Aaaghh....!" Asia dan juga Wallache terkena bagian perut mereka.


"Putra-putriku..!" terdengar suara wanita memanggil dari arah teluk Athemoissa.


Namun suara panggilan itu seolah terpendam oleh suara dentuman ledakan peetempuran antara Para Siren dengan Adelia dan Ruby, dan juga suara dentingan perpaduan Pedang Awan dan trisula.


Melihat kedua lawannya sudah tak berdaya, para prajurit kerajaan Hibrida luar itu semakin bersemangat menyerang ke arah Wallache dan Asia


Ketika ujung mata trisulla itu mengarah ke arah dada Wallache, tiba-tiba ujung mata trisulla itu bersarang di dada seorang wanita duyung setengah baya.


"Aaaarghhh...! tak akan ku biarkan kalian melukai putra-putriku!" seru wanita duyung itu yang tak lain adalah Ariel, Ibunda Asia dan Wallache, yang merasakan akan terjadi sesuatu pada kedua anaknya.


Ariel keluar dari istana Blue Minch sendirian tanpa adanya pengawalan.


"Ibunda...!" seru Wallache pada saat mengetahui yang menjadikan dirinya tameng itu adalah ibundanya Ariel.


"Ibunda..!" Asia yang juga terkejut mana kala mengetahui siapa yang dipanggil ibunda oleh kakaknya Wallache itu.


...~¥~...


...Terima kasih untuk para Readers semuanya, terutama yang telah memberikan dukungan berupa like/komen/favorite/rate 5/gift maupun votenya pada novel SI OYEN PACARKU BUKAN MANUSIA ini....


...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan...


...Allah Subhana Wa Ta'alla.....


...Aamiin Ya Robbal alaamiin...


...Terima Kasihf...

__ADS_1


...BERSAMBUNG...


__ADS_2