Si Oyen Pacarku Bukan Manusia

Si Oyen Pacarku Bukan Manusia
Ginna dan Teivel yang Menyerang Dua Dewa


__ADS_3

"Aaaghh..! kau bukan Ekin!" racau Luna yang disisa tenaganya saat sudah terbaring lunglai diatas lantai..


"Aku memang bukan Ekin, tapi aku adalah Ginna. Putri ratu siluman ular Kobra" balas Siluman ular kobra itu.


"Aku datang untuk menuntut balas atas kematian kedua orang tuaku!" seru Ginna dengan senyum seringainya.


Sementara itu Teivel sudah meninggalkan ruko terlebih dahulu.


"Aku akan menghentikan balas dendammu!" seru Tony yang ada di belakang Ginna.


"Apa! ada dewa di sini, lebih baik aku menjauh dari mereka!" gumam dalam hati Ginna yang bersiap untuk kabur dari ruko.


Ginna pun melesat keluar dari ruko dan Tony mengejarnya.


"Tunggu, jangan lari!" seru Tony yang menambah kecepatannya mengejar Ginna.


"Berhenti kau siluman ular!" seru Tony yang telah menyusul Ginna, dan mereka saat ini berada di tengah lapang.


"Oh, rupanya bisa juga mengejar ku!" seru Ginna yang sudah berubah wujud menjadi gadis cantik itu dengan senyum sinisnya.


"Kau harus bertanggung jawab dengan keadaan Luna!" seru Tony.


"Apa bertanggung jawab? kalau aku balik meminta pertanggung jawaban kematian kedua orang tuaku, apa kalian mau?" ucap Ginna dengan kemarahannya.


"Kau!" seru Tony yang tetap bersiaga.


"Saudaraku, serang dia!" seru Ginna yang tiba-tiba muncul ratusan ular kobra yang mengepung dan menyerang Tony.


Tony menyerang ular-ular itu dengan bola-bola cahayanya.


"Boumm....! Boummm...! Boummm....! Boummm...!"


Tak sedikit dari ular-ular itu yang terkapar, dan sepertinya mereka semakin lama semakin banyak.


Dan mereka mengepung Tony dan siap memberi Tony racun-racun mereka.


"Gelembung cahaya!"


Tony melindungi dirinya dengan gelembung cahayanya.


Benar saja ular-ular itu menyemprotkan bisanya ke arah Tony, tapi untung Tony telah melindungi dirinya dengan gelembung cahayanya.


Saat semua ular kobra itu menempel di gelembung cahaya itu, dengan kekuatannya Tony membuat gelembung cahaya itu membesar dan semakin membesar dan pada akhirnya meledak membuat semua ular kobra itu terpanggang dan semuanya mati.


Kini tinggallah Tony dan Ginna yang saling berhadapan.


"Tunggu apa lagi Tony, hajar dia!" seru suara seorang laki-laki yang mengikuti Tony sedari tadi.


"Aaron kau rupanya!" balas Tony seraya melirik ke sampingnya dimana Aaron sudah berada di situ.


Tiba-tiba saja ada kilatan petir yang membentuk siluet seorang laki-laki tinggi dan gagah yang berada di samping Ginna.


"Sebelum menghadapi Ginna, hadapilah aku!" seru sesosok laki-laki itu.


"Bukankah itu Teivel?" tanya Tony pada Aaron dengan berbisik karena seperti pernah mengenal sosok laki-laki itu.

__ADS_1


"Benar, dia anak buah Black Shadow. Kenapa Teivel bisa bersama Ginna?" Aaron yang menjawab sekaligus bertanya.


"Entahlah, yang terpenting kita harus lawan dia!" seru Tony yang tetap dalam posisi siap.


"Kau urusi Ginna, aku akan hajar si Teivel ini!" seru Aaron yang sudah bersiap dengan bola-bola cahayanya.


"Hati-hati dengan serangan petirnya!" seru Tony yang kini bersiap menghadapi Ginna.


Benar saja Teivel mengeluarkan petir-petirnya dan dilemparkanlah ke arah Aaron.


"Flash..! flash...! flash..!"


Teivel melempar petir-petir itu ke arah Aaron.


"Hop..! hop...! hop...!"


Aaron berusaha menghindarinya dengan melompat kesana dan kemari.


Saat ada kesempatan, Aaron melemparkan bola-bola cahayanya ke arah Teivel.


"Aarghh..!!"


Aaron terjatuh saat menghindari lemparan petir dan Teivel terdorong beberapa meter karena bola-bola cahaya dari Aaron yang mengenai tubuh Teivel.


"Huflp...!"


Dan mereka kembali beradu jurus.


Sementara itu Ginna sudah melawan Tony dengan sinar merah di kedua matanya.


"Serrr.... duarr...! serr... duaaarr...!!"


Tony balik menyerangnya dengan bola-bola cahayanya dan satu bola cahaya Tony mengenai Ginna tepat di bagian perut gadis itu.


"Uuugh...!"


"Ginna..!" seru Teivel yang melihat ke arah Ginna karena khawatir, hal itu membuat dia terkena juga bola cahaya dari Aaron.


"Aaagh...!"


"Ginna, menyerahlah kamu! berikan penawar racun kamu!" seru Tony berdiri tepat di hadapan Ginna.


"Penawar racun? heh..! enak saja, Sampai aku mati, tidak akan aku berikan!" seru Ginna dengan menawan rasa saikitnya.


"Kurang ajar! masih bersikekeh juga kamu ya!" seru Tony yang kembali menyerang Ginna dengan bola-bola cahayanya.


Dan Ginna terus menggunakan sinar mata merahnya.


Dan untuk ke dua kalinya Ginna kembali terkena bola-bola cahaya dari Tony.


"Uuugghh..!"


Tak berapa lama Ekin datang dan langsung menghampiri Ginna.


"Ginna, kenapa kamu menyerang kami?" tanya Ekin yang penasaran.

__ADS_1


"Itu karena kalianlah pembunuh kedua orang tuaku!" seru Ginna geram.


"Tapi Ginna, kamu tak tahu persoalan yang sebenarnya!" balas Ekin yang berusaha agar tak ada perkelahian.


"Apa kau kira aku buta, hah..! aku melihatnya sendiri!" seru Ginna dengan geramnya.


Aku sudah mengawasi kalian sejak pertama kali kalian menginjakkan kaki ke istana kami!" lanjut Ginna yang kemudian membayangkan yang terjadi beberapa bulan yang lalu saat penyerangan di istana ratu siluman ular kobra.


"Karena itulah akan aku bunuh kalian satu-persatu. Terutama kamu putra Selir Selena, tak akan aku biarkan kamu dan lainnya bahagia! Camkan itu..!" seru Ginna dengan wajah penuh dendam dan keluarlah aura api di balik punggungnya.


"Ginna, tapi ibumulah yang membuat dunia siluman kacau!" seru Ekin yang berusaha membela diri.


"Aku tak perduli! yang jelas,kalianlah penyebab kematian kedua orang tuaku!" seru Ginna.


"Ekin, dia tidak bisa diajak kompromi. Biar aku habisi dia! " kata Tony yang membaca situasi yang terjadi.


"Ok, lakukanlah!' ucap Ekin yang kemudian menepi dan tetap mengawasi jalannya perseteruan itu.


Merasa terancam, Ginna menyemprotkan cairan racun ular kobra dari mulutnya.


Tony yang menyadari hal itu, kembali membuat gelembung cahaya untuk menangkis racun itu agar tak mengenai tubuhnya.


Di saat Ginna lengah, Tony mengeluarkan jurus bola-bola cahaya dan bola-bola cahaya itu kembali mengenai Ginna.


"Uuughh...!!'


Ginna mengerang kesakitan, dan Teivel mengetahuinya.


"Ginna dalam bahaya, sebaiknya aku tolong Ginna terlebih dahulu sebelum terlambat." ucap dalam hati Teivel.


Kemudian Teivel menghampiri Ginna dan menjadikan keduanya menjadi kepulan asap hitam yang menghilang setelah ada kilatan petir.


Teivel membawa Ginna ke tempat tinggal mereka.


"Aaaghh..!" Ginna yang mengerang karena masih kesakitan.


"Kau terluka, diam sebentar aku akan mengobatimu." kata Teivel yang kemudian mengeluarkan tenaga dalamnya untuk menyembuhkan luka-luka Gina.


"Tak apa aku terluka, yang terpenting aku sudah berhasil memberi racun pada gadis itu!" ucap Ginna yang masih menahan rasa sakitnya.


"Lain kali kamu juga harus hati-hati dengan kondisi kamu" ucap Teivel yang khawatir.


"Iya, dan kita masih lanjutkan dendam ku pada satu lagi gadis yang memancarkan cahaya biru tadi." ucap Ginna.


"Ok, tapi pulihkan dulu tenaga dan kesehatanmu!" seru Teivel yang dibalas anggukan kepala oleh Ginna.


...~¥~...


...Terima kasih untuk para Readers semuanya, terutama yang telah memberikan dukungan berupa like/komen/favorite/rate 5/gift maupun votenya pada novel SI OYEN PACARKU BUKAN MANUSIA ini....


...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan...


...Allah Subhana Wa Ta'alla.....


...Aamiin Ya Robbal alaamiin...

__ADS_1


...Terima Kasih...


...BERSAMBUNG...


__ADS_2