
Mereka alihkan pandangan pada bayangan itu, namun hilang ditelan gelap.
Mereka masih mencoba, menggerak-gerakkan lampu center, dengan harapan dapat hidup.
"Byar..., syukurlah" lampu center kecil itu kembali hidup.
Namun betapa kagetnya mereka, ketika cahaya diarahkan ke depan, terlihat wajah seram itu adalah seorang wanita berambut panjang.
Mukanya putih pucat, bibirnya lebam, sedikit mengeluarkan darah. Selain pucat, wajah wanita itu juga terlihat membengkak seperti mayat yang baru saja ditemukan tenggelam di sungai. Dia adalah si Kunti penguasa sumur tua yang ada di asrama.
Mereka mencoba mengusai diri, mereka coba kucek matanya. Memastikan apa yang mereka lihat.
Namun, mereka terkejut ketika mereka buka kembali matanya, si Kunti itu menghilang.
"Astaga...Ah cuma ilusiku saja!" kata salah satu diantara mereka.
Antara takut dan penasaran terus mengusai mereka. Tujuan utama mereka ke sekolah adalah untuk memecahkan teka-teki keberadaan Vivian.
Namun di sisi lain, mereka pasti akan ketakutan bila kembali melihat wajah pucat pasi si Kunti.
Mereka melanjutkan perjalanan ke Sumur Tua. Mereka sudah mulai terbiasa dengan suara pintu yang terbuka sendiri. Meja yang bergerak-gerak. Suara cekikikan di dalam kelas. Sampai pada bunyi goresan spidol.
Suara itu hilang, saat mereka mengarahkan cahaya ke sumber suara. Namun ketika mereka memindahkan lampu centernya, suara gaduh itu kembali lagi.
Langkahnya terhenti, ketika tiba-tiba mereka mendegar bisikan:
"Diko..... Diko... kau mau ke mana...? Diko.... Diko.... Tolong aku.
Nyali mereka mulai ciut. Suara itu parau, namun terngiang-ngiang. Ia arahkan lampu center ke arah suara, namun tak ada sesiapa di sana.
Sebenarnya semakin merinding dan berdebar-debar. Kakinya mulai gemetaran, langkahnya tak semantap di awal mereka memaksuki sekolah. Apa boleh dikata, mereka harus tetap kuat dan berani agar sampai ke tujuan akhir yaitu Sumur Tua, tempat dimana salah satu dari teman mereka pingsan.
Sampai di ruang kelas XII, mereka kembali dikejutkan dengan kelebatan orang yang lari ke arah Sumur Tua.
Lampu senter mereka berhasil menangkap kelebatan lari sosok tersebut.
"Berhenti, Berhenti..." Sia-sia saja mereka berteriak. Sosok bayangan hitam tersebut tak akan mungkin terkejar. Ia berlari secepat kilat. Tapi, kalau tidak dicoba tidak akan membuahkan hasil.
Mereka berencana memacu gerakan untuk mengejar, namun tiba-tiba kaki dari salah satu mereka tersandung sebuah benda. Seperti ada yang menarik kakinya.
"brak...." siswa itu terjatuh, lampu center terlempar dua meter dari jangkauan tangannya, namun tidak mati, masih bersinar. Dari sinar itu, mereka melihat bahwa kakinya tersandung sosok wanita yang berbaring di tengah jalanan koridor.
__ADS_1
Siswa itu mencoba bangkit, namun kakinya berasa kaku, tanganya pun bergetaran. Ia melihat sosok wanita tengah berbaring menghadap dirinya.
"Oh tidak." Ujar siswa itu dengan menggigil ketakutan.
Baunya anyir luar biasa. Darah mengalir, dari pelipis matanya. Mukanya pucat, matanya melotot seolah sedang marah pada siswa itu.
Mulut siswa itu masih kaku, baru kali ini mereka melihat makhluk aneh hanya berjarak 1,5 meter darinya. Samar-samar dari cahaya lampu center, makhluk itu ingin mengatakan sesuatu pada mereka, tapi tiba-tiba menghilang, secara misterius. Yang tersisa di sana, hanya pot bunga yang tergeletak di tengah jalan.
Mereka bergumam, tak mungkin siswat tadi tersandung pot bunga ini.
Karena dia merasakan benar, kakinya tersandung benda yang tidak keras, seperti tubuh manusia. Dan apa yang dia lihat barusan, sangat jelas. Bukan ilusi, bukan pula fantasi. Bahkan ia masih mengingat bau anyir, dari makhluk yang penuh darah di mukanya.
Mereka makin penasaran, karena mereka melihat sekilas, makhluk tadi ingin mengatakan sesuatu.
Mereka bangkit kembali, untuk melanjutkan perjalanan ke sumur.
Mereka melangkah dengan pasti, meski rasa takut masih menghantui.
Baru satu langkah mereka berjalan, pundak kanan salah satu dari mereka ditepuk oleh seseorang.
Tangan itu masih menempel di punggung siswa itu. Tangan itu dingin, mereka arahkan cahaya ke pundak siswa itu,nampak tangan putih pucat pasi. Kukunya hitam dan panjang.
Namun rasa penasaran mengalahkan rasa takut mereka, sehingga mereka memutuskan untuk berbalik arah, dan
"aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa........"
Makhluk yang tadi berbaring dan menjatuhkan mereka berteriak keras bukan kepalang. Sampai telinga mereka berdenging. Mereka pun secara reflek teriak:
"aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa..."
Wajah makhluk itu kelihatan sangat murka. Bagai wajah zombie yang menggeleng ke kanan dan ke kiri, seolah ingin menerkam mereka malam itu juga. Mulutnya pun sudah mengelurakan taring. Darah, dari pelipis matanya belum juga berhenti mengalir.
Untung saja mereka masih bisa menguasai diri. Pelan tapi pasti, Diko mulai berdoa.
Mereka melihat si Kunti itu menggeliat seolah kepanasan, hingga akhirnya ia benar-benar menghilang dari pandangan mereka.
Mereka bernafas sedikit lega. Setidaknya mereka mampu mengusir makhluk misterius yang menghantui mereka. Semoga mereka tidak datang mengganggu lagi.
Namun, di luar dugaan. Ruang kelas di ujung, dekat Sumur Tua gaduh sekali. Kursi terdengar dibanting, meja pun terdengar terpelanting. Suara jeritan terdengar dari dalam kelas silih berganti. Papan tulis terdengar diketuk-ketuk. Gaduh sekali, namun mereka sengaja abaikan semua itu.
Pandangan mereka lurus ke depan menuju sumur tua. Mereka sama sekali tak berani menoleh kelas yang dilewatinya. Mereka terus berjalan, padahal sekujur tubuhnya merinding dan keluar keringat dingin.
__ADS_1
Sesampainya di sumur, Mereka menemukan siswa yang pingsan di samping sumur tua itu.
Dan mereka membopong siswa itu menuju ke tempat penjaga asrama.
Sesampainya di pos penjaga, mereka menceritakan semua kejadian di kelas dan di sumur tua tadi.
Penjaga pos itu menelepon kepala sekolah dan para siswa itu melihat siswa yang pingsan tadi sudah tersadar.
Setelah sadar sepenuhnya dihadapan teman-temannya, penjaga dan kepala sekolah, siswa itu menceritakan pada saat terakhir dia melihat Vivian yang melihat Vivian berjalan di sekitar sumur tua itu dan tiba-tiba ada yang menariknya ke dalam sumur tua itu.
...~~~~...
"Jadi sumur tua ya? bisa kalian tunjukkan di mana sumur tua itu?" tanya Jimmy yang penasaran.
"Mari akan saya tunjukkan dimana sumur tua itu berada" jawab kepala sekolah asrama itu dan dia melangkahkan kakinya menuju ke halaman belakang Asrama.
Jimmy, Kelly mengikutinya demikian pula dengan siluman harimau dan siluman macan kumbang yang juga mengikuti mereka tetap tanpa menunjukkan wujud mereka.
Tak berapa lama mereka telah tiba di dekat sumur tua itu.
Siluman Harimau dan siluman macan kumbang mencium adanya makhluk tak kasat mata si Kunti itu, dan siluman harimau juga mencium keberadaan Vivian di dalam sumur itu.
"Kumbang! nampaknya kita harus masuk ke dalam sumur itu!" seru siluman harimau yang terus menatap ke arah sumur tua itu.
...~¥~...
...Terima kasih untuk para Readers , terutama yang telah dukungan berupa like/komen/favorite/rate 5/gift maupun votenya pada novel SI OYEN PACARKU BUKAN MANUSIA ini....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan...
...Allah Subhana Wa Ta'alla...
...Aamiin Ya Robbal alaamiin...
...Terima Kasih...
...BERSAMBUNG...
__ADS_1