
Tak berapa lama Maggie menyusul mereka, jadinya mereka membagi tugas yaitu dua orang untuk memasak dan dua orang untuk bersih-bersih rumah.
Matahari sudah muncul dan mereka telah selesai dengan pekerjaan masing-masing.
Tak berapa lama ada sebuah mobil sport masuk ke halaman rumah.
Mobil itu ternyata adalah mobil milik Aaron yang telah selesai dalam menyelesaikan tugasnya di desa Lawers.
Kirana dan Adelia menyambut mereka dengan suka cita.
"Ibunda!" panggil Caterina dan sekaligus memeluk ibundanya.
"Putriku!" seru panggil Adelia yang juga memeluk putrinya itu dengan eratnya.
Sementara itu kirana juga memeluk putranya Kiaro dengan eratnya.
"Putraku kamu juga baik-baik saja kan?"tanya Kirana saat memeluk putranya itu seraya membelai lembut kepala putranya Kiaro.
"Hm...hmm...! apa nggak ada yang kangen sama aku ya?" tanya Aaron yang sambil mengulas senyumnya mendekati istri dan anaknya.
Kirana dan Kiaro saling pandang dan mengulas senyum mereka, kemudian Kirana melepas pelukannya pada Kiaro dan memeluk suaminya dengan erat.
"Sini sayang!" ucap Kirana seraya memeluk Aaron dengan eratnya.
"Aku rindu sekali sama kamu" ucap Aaron yang memeluk istrinya dengan kerinduan teramat dalam.
"Aku juga rindu padamu sayang" ucap Kirana yang membalas pelukan suaminya.
"Ayo masuk, bersihkan diri kalian dan lalu kita makan bersama" ajak Maggie yang keluar dari dalam rumah dan melihat mereka berlima.
"Iya aku juga sangat lapar nih" ucap Kiaro yang merangkul kedua orang tuanya dari belakang dan demikian pula dengan Caterina yang melangkahkan kaki mereka untuk masuk ke dalam rumah.
Setelah membersihkan. diri, mereka sarapan bersama, saling canda dan bercerita bersama.
Aaron, Kiaro dan Caterina menceritakan ketika mereka tahu siapa sebenarnya si kunti itu.
🗓️Flashback on
Dan akhirnya mereka sampai di pekarangan rumah orang tua Ricky.
Setelah Aaron menepikan mobilnya, dia dan yang lainnya keluar dari mobil tersebut.
Rumah baru beberapa minggu ditinggalkan pemiliknya itu, sudah terlihat tak terawat.
Rumput liar bermunculan dan ketika merekelangkahkan kaki ke teras rumah, terdapat banyak rumah laba-laba yang menghiasi atap sampai dinding rumah.
Ditambah lampu rumah yang belum dinyalakan, menambah kesan seram rumah orang tua Ricky itu.
Rumah yang telah terjadi kasus tiga kematian yang tak wajar itu, yang kini tak dihuni satupun manusia, dan hanya tikus serta binatang-binatang pengerat lainnya yang menempati rumah itu.
"Ricky, apa lampu rumah ini masih menyala?" tanya David yang terlihat tegang.
"Masih bisa menyala,ada yang mau temani aku menyalakan lampu?" tanya Ricky yang sedikit gemetaran
"Kiaro, temani Ricky. Coba kalian nyalakan lampu ponsel kalian!" seru Aaron yang sudah menyalakan lampu ponselnya.
__ADS_1
Mereka kemudian menyalakan lampu ponsel mereka.
"Blekk.....blekk....blekk...!"
Tiba-tiba banyak bayangan hitam yang lewat diatas mereka.
Aaron melihat semuanya itu demikian pula Caterina dengan mata kucingnya dia melihat banyak makhluk halus yang ada di sekitar mereka.
"Berikan pemuda itu padaku! hi...hi....hi...hi...!"
Terdengar suara melengking yang memekikkan telinga dan diikuti suara lolongan binatang malam.
"Kiaro! waktunya tugas kamu!" seru Aaron yang ingin melihat kemampuan putranya dalam menghadapi si Kunti ini.
"Baik ayah!" seru Kiaro yang mengumpulkan segala keberaniannya untuk menghadapi makhluk halus yang ada dihadapannya itu.
"Hei kau! tampakkanlah wujud kamu!" seru Kiaro yang melangkahkan kakinya menuju ketengah-tengah ruang tamu yang luas itu.
Tiba-tiba bermunculan wanita-wanita yang berpakaian putih dan berambut panjang terurai yang mengelilingi Kiaro.
Dan Aaron menyadari adanya si Kunti merah yang menghampiri dia dan yang lainnya
Dengan cepat Aaron mengeluarkan jurus pagar cahaya untuk melindungi mereka, terutama David dan Ricky.
Karena Aaron mengetahui sasaran para Kuntilanak itu adalah Ricky dan David.
Si Kunti itu terpental pada saat menabrak pagar cahaya yang dibuat oleh Aaron.
"Blukk ...... aaaaa.....!"
Suara dari si Kunti merah yang terpental itu.
"Kalian ini mau berniat baik atau jahat! kalau baik, saya mohon pergilah! Tapi kalau kalian berniat baik, maka bersiaplah untuk terbakar oleh jurus bola-bola cahaya dariku!" seru Kiaro yang menebarkan pandangannya ke sekitarnya.
Kiaro bersiap dengan jurus bola-bola cahaya yang baru saja dia pelajari dari ayahnya.
"Kiaro..! jangan gunakan jurus itu didalam ruangan, kamu bisa merobohkan bangunan ini!" seru Aaron dalam telepatinya pada Kiaro.
Dan Kiaro mendengarkannya, dia kemudian mencari strategi lainnya,
Diambilnya belati pemberian Kirana ibundanya, dan Kiaro mengaliri belati itu dengan jurus bola-bola cahayanya yang mengakibatkan belati yang ada di tangan Kiaro itu bercahaya.
"Aaaghhh....!":
Sebagian dari Kuntilanak putih itu pergi tanpa pamit dan sebagian lagi nekat menyerang Kiaro.
Dengan cekatan Kiaro menyabetkan belati yang bercahaya itu, dan sebagian dari si Kunti itu terkena belati bercahaya itu.
"Sret...! sret.....! sret....!"
"Aaaghhh....!"
Kuntilanak putih yang terkena sabetan belati Kiaro itu menghilang dengan sendirinya.
Dan tiba-tiba muncullah kembali Kuntilanak-kuntilanak yang berpakaian warna merah.
__ADS_1
Kiaro kembali mengaliri belatinya dengan jurus bola-bola cahayanya.
Kembali cahaya kemilau berwarna kebiruan keluar dari belati yang dipegang Kiaro.
Tiba-tiba saja lengan para Kuntilanak merah itu memanjang dan hendak mencekik Kiaro.
"Kiaro awas!" seru Caterina di dalam pagar cahaya yang dibuat oleh Aaron.
Dengan sigap Kiaro menghentakkan kakinya ke tanah dan dia melesat naik tepat diatas para Kunti merah itu.
Kemudian Kiaro menggunakan belati nya dan diarahkan pada para Kunti merah itu secara berputar saat belati mengeluarkan sinar seperti laser yang berwarna biru.
"Sreeet....sreeet....sreeet....!"
"Aagh.....!" dan para Kunti merah itu menghilang dengan tiba-tiba.
"Kurang ajar....!" umpat si Kunti Merah yang tadi hendak menyerang Ricky.
Si Kunti itu saat ini berada dihadapan Kiaro yang kedua matanya mengeluarkan sinar merah yang terlihat di balik rambut terurainya.
"Sebetulnya siapa kamu sebenarnya! kenapa mengganggu keluarga Ricky,ha..gerutu kiaro dengan geram.
"Itu bukan urusan kamu! hi...hi...!" seru si Kunti merah itu yang kemudian menyerang Kiaro dengan memanjangkan tangannya dan mencekik Kiaro dengan cepat, sampai-sampai Kiaro tak sempat menghindarinya.
"Aaaghhh...!" suara yang keluar dari tenggorokan Kiaro yang di cekik oleh Si Kunti merah itu.
"Kiaro..!":panggil Caterina yang melihat situasi Kiaro yang dalam bahaya.
Caterina hendak melangkahkan kaki untuk membantu Kiaro, namun tindakannya dicegah oleh Aaron.
"Biarkan dia berusaha sendiri!" seru Aaron yang sebetulnya juga tak tega melihat putranya yang kesakitan itu.
Sementara itu Kiaro yang masih menggenggam belati yang bercahaya itu, dengan cekatan menghujam perut dan yang membuat si kunti itu mundur beberapa langkah.
"Aagh...!" si Kunti merasakan energi panas dari belati yang dialiri jurus bola-bola cahaya itu.
Kiaro memanfaatkan situasi si Kunti yang sedang lemah itu, dia menyabetkan kembali belati bercahayanya.
"Sreeet...!"
Si Kunti merah berhasil mundur dan dan belati Kiaro menebas rambut panjang si kunti yang panjang dan tergerai kedepan itu sekarang terpotong membentuk poni sebatas alis si Kunti merah itu.
Dan kini terlihat jelas wajah cantik dan pucat dari si Kunti.
Tiba-tiba saja Ricky mengenali wajah tersebut.
...~¥~...
...Terima kasih untuk para Readers , terutama yang telah dukungan berupa like/komen/favorite/rate 5/gift maupun votenya pada novel SI OYEN PACARKU BUKAN MANUSIA ini....
...Semoga sehat selalu dan selalu dalam Lindungan...
...Allah Subhana Wa Ta'alla...
...Aamiin Ya Robbal alaamiin...
__ADS_1
...Terima Kasih...
...BERSAMBUNG...