
"Kak El..!" panggil Ginna pada Teivel.Gadis itu menghampiri pria dari kerajaan petir yang sedang rebahan diatas rumput.
"Ada apa Na?" tanya Teivel pada Ginna yang menoleh kearah Ginna dengan kedia telapak tangannya sebagai bantalnya.
"Ginna mendapat kabar kalau pembunuh kedua orang tua Ginna ada di sebuah kios bunga di kota." jawab Ginna yang kemudian dia ikut rebahan di samping Teivel.
"Benarkah?" tanya Teivel yang memastikannya.
"He..em!" jawab Ginna seraya menganggukkan kepalanya.
"Kalau begitu, ayo kita cari mereka!" seru Teivel yang kemudian bangkit dari rebahannya dan kini dalam posisi duduk.
Ginna pun ikut bangkit dari posisi rebahannya dan juga saat ini dalam posisi duduk,
"Ayo kak El!" balas Ginna dan keduanya berdiri lalu melangkahkan kaki mereka.
Keduanya berjalan beriringan dan menuju ke kios yang di maksudkan informan Ginna.
Tak berapa lama, mereka sudah berada di depan kios bunga Rose.
Dan Ginna mengenal wajah Luna.
"Gadis itu salah satu yang ada waktu kedua orang tuaku meninggal!" ucap Ginna yang mengingat kembali kejadian masa silamnya.
"Yang sedang melayani pelanggan itu?" tanya Teivel seraya menunjuk ke arah gadis yang menunggu kios bunga Rose yang tak lain adalah Luna.
"Iya, dia salah satu dari empat orang itu!" jawab Ginna geram.
"Ayo kita mulai aksi kita!" seru Teivel dengan semangat.
"Biar aku dulu yang meneror dia kak El!" seru Ginn yang tak kalah semangatnya.
"Baiklah, aku tetap di belakangmu, untuk melindungimu sayangku!" ucap Teivel seraya mengusap lembut kepala Ginna.
Ginna melangkahkan kakinya mendekati kios bunga rose, dan dia berada tepat di hadapan kios tersebut.
Gadis siluman ular kobra itu terus memandang Luna dengan tatapan penuh kebencian.
Sementara Luna yang melihat dirinya diawasi seseorang dengan tatapan yang aneh itu sedikit bergidik.
Tak berapa lama, ada beberapa orang yang menghampiri Luna.
"Ginna, kita menyingkir sebentar!" ucap Teivel yang memegang tangan Ginna dan dalam sekejap mereka berubah menjadi asap hitam dan menghilang.
Mereka menampakkan diri mereka setelah berjarak setengah kilo meter dari kios bunga Rose.
"Ada apa kak? aku kan baru asyik-asyiknya mengganggu gadis itu!" seru Ginna yang kesal.
"Gadis itu berkawan dengan anggota kerajaan Langit!" ucap Teivel yang khawatir.
"Aku tahu, dua laki-laki yang jadi sasaranku juga Dewa dari kerajaan langit"! seru Ginna yang menatap Teivel.
"Apa!" seru Teivel yang juga menatap Ginna seolah tak percaya.
"Apa kamu tak sanggup menolongku?" tanya Ginna yang penasaran.
"Bukan-bukannya begitu, kita harus lebih berhati-hati!" jawab Teivei seraya kedua telapak tangan Teivel memegang lengan kanan dan kiri Ginna.
"Iya kak El, Ginna ngerti!" ucap Ginna yang menatap Teivel dengan wajah sendunya.
__ADS_1
"Bagus!" ucap Teivel yang kemudian memeluk Ginna.
Beberapa saat kemudian, keduanya kembali mengawasi Kios Bunga Rose.
Sementara itu Luna sedang melayani pembeli bunga yang mulai berdatangan.
Walaupun sibuk melayani pembeli, Luna merasakan sesuatu yang menganggu pikirannya.
"Seperti ada yang mengawasi ku, tapi siapa?" Luna yang membatin.
Saat keadaan sepi, Luna melangkahkan kaki ke dalam kios untuk mengambil minuman.
"Sreeet..!!"
"Jlebb...!"
Sebuah belati yang berlumuran racun, hampir saja mengenai pipi Luna.
Dan belati itu menancap ke tiang kayu penyangga genting Asbes di teras Kios.
Gadis itu menyadari adanya pergerakan yang cepat itu.
Rupanya Teivel sedang melancarkan aksinya.
"Siapa itu..!" seru Luna yang menoleh ke arah dimana belati itu berasal.
Namun tak ada tanda-tanda yang mencurigakan.
"Aneh, siapa yang melemparkan belati ini ya?" Luna yang membatin.
Gadis itu pun bergegas masuk ke kios dan segera menghampiri Maggie.
"Ada yang melempari aku dengan belati yang berlumuran racun tadi!" jawab Luna sedikit takut.
"Betulkah? coba seperti apa belatinya?" tanya Maggie yang penasaran dan dia berserta Luna melangkahkan kaki ke depan kios dan mencari dimana belati itu menancap.
Namun ternyata belati itu sudah tidak ada dan menghilang tanpa bekas, seolah tak terjadi apa-apa.
Karena Teivel telah membuat keadaan menjadi seperti semula.
"Dimana belati itu Luna?" tanya Maggie yang penasaran.
"Ta..tadi ada disini!" seru Luna yang masing ingat betul keberadaan belati yang tadi menyerang dirinya.
"Ah, halusinasi kamu saja kali!" kata Maggie yang kemudian kembali masuk ke kios untuk menyelesaikan tugas memasaknya.
Luna tak habis fikir, berkali-kali dia melihat ke arah dimana belati tadi menancap.
"Tadi nyata, bukan halusinasi. Aku yakin itu!" gumam Luna dalam hati.
Kemudian Luna kembali melayani pembeli yang baru datang.
Gadis itu kembali merasakan seperti ada yang mengawasi dirinya.
"Perasaan ini muncul lagi!" batin Luna yang gelisah.
"Ah, sudahlah!" ucap Luna seraya menghela nafasnya.
Luna kemudian memindahkan beberapa pot bunga ke depan kios.
__ADS_1
Tiba-tiba saja "Pyaarr...!!", kembali sebuah belati hampir saja mengenai Luna, dan belati itu mengenai pot bunga yang di bawa gadis itu.
Pot bunga yang terbuat dari tanah liat itu pecah dan jatuh ke tanah seketika itu juga.
"Siapa itu!" kembali Luna mencari tahu asal belati itu, pandangannya terus ke tepi jalan dan dia menangkap sosok bayangan hitam dengan kedua matanya yang memancarkan sinar merah.
Dia adalah Ginna yang berusaha membuat Luna takut.
Namun yang sebaliknya, Luna semakin penasaran.
"Apa itu? manusia apa siluman atau syetan?" gumam Luna dalam hati yang terus menatap keberadaan bayangan itu yang lama-lama menghilang.
Kembali Luna menghela nafasnya, kekasih Ekin itu kemudian membersihkan pot-pot yang pecah tadi.
Setelah selesai, kembali Luna melayani para pembeli yang semakin sore semakin banyak.
Tak berapa lama Kirana datang dan tak selang lama, Jimmy dan Kelly juga pulang sekolah.
Ginna dan Teivel kembali bersembunyi dan terus mengawasi Kios Bunga Rose.
"Aneh! jika ada temannya begini aku, si peneror tadi tidak muncul!" gumam dalam hati Luna.
"Luna, kamu kenapa?" tanya Kirana yang penasaran dengan raut wajah Luna yang nampak pucat
"Kirana, kamu jangan kemana-mana ya!" bisik Luna seraya memegang tangan Kirana.
"Memangnya ada apa Luna? ceritakanlah!" ucap Kirana merasa iba melihat sahabatnya yang nampak sekali cemasnya.
"Seperti ada yang menerorku Kirana!" balas Luna yang membuat Kirana penasaran.
"Apa menerormu?" tanya Kirana yang menatap kedua mata Luna.
"Iya, dia melempariku dengan pisau belati itu!" jawab Luna seraya menunjukkan pisau belati yang telah dia singkirkan ke tepi kios.
Kirana mendekati pisau belati itu, dan memperhatikannya dengan seksama.
"Seperti ada racunnya!" seru Kirana saat melihat ada sesuatu yang hijau menempel di mata pisau belat itu.
"Jadi benar pisau belati itu ada racunnya?" gumam Luna yang semakin penasaran.
"Sepertinya dia ingin membunuhmu Luna!" ucap Kirana yang juga penasaran.
"Iya, siapa ya si peneror itu?" tanya Luna yang kemudian dia dan Kirana saling pandang dengan tatapan yang tegang dan penasaran.
Teivel dan Ginna saling berpandangan dan tersenyum puas.
...~¥~...
...Terima kasih untuk para Readers semuanya, terutama yang telah memberikan dukungan berupa like/komen/favorite/rate 5/gift maupun votenya pada novel SI OYEN PACARKU BUKAN MANUSIA ini....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan...
...Allah Subhana Wa Ta'alla.....
...Aamiin Ya Robbal alaamiin...
...Terima Kasih...
...BERSAMBUNG...
__ADS_1
"