
Mereka berlima makan siang dengan nasi bungkus dan air mineral dengan lahapnya.
Setelah selesai, selain Kirana mereka bersiap untuk pergi ke desa Lawers.
"Kamu tidak apa-apa kan sayang, jika kami tinggal sendirian?" tanya Aaron yang sebenarnya juga merasa khawatir dengan keadaan istrinya yang sendirian di ruko.
"Tidak apa-apa, jangan khawatir. Selama ada pedang awan di tanganku, aku akan baik-baik saja. Yang Kirana khawatirkan malah kalian yang sedang melakukan misi!" jawab Kirana seraya mengulas senyumnya.
"Jangan khawatir, kami akan baik-baik saja, dan pastinya kami akan kembali dengan selamat!" seru Aaron yang mencoba membuat suasana hati istrinya tenang dan tidak khawatir lagi.
"Iya, kalian yang hati-hati ya!" ucap Kirana sembari memeluk satu persatu keluarganya itu.
"Kami pamit ya bunda!" ucap Kiaro.
"Sebentar nak!" seru Kirana yang kemudian mengambil sesuatu dari dalam laci meja kerjanya.
"Apa itu bi?" tanya Caterina yang penasaran.
"Berhubung kalian berdua belum mempunyai senjata, benda ini semoga berguna untuk kalian nanti disana." jawab Kirana seraya memberikan Kiaro sebuah belati yang terbungkus kain dan cermin tangan untuk Caterina yang juga dibungkus dengan kain.
"Oh, terima kasih Ibunda" ucap Kiaro yang menerima belati itu dan kemudian menyimpannya di dalam tas pinggang yang dibawanya.
"Terima kasih Bi" ucap Caterina, yang
kemudian menerima dan memasukkan cermin itu ke dalam tas kecilnya.
"Daa bunda!" seru Aaron, Kiaro dan Caterina seraya melambaikan tangan mereka.
"Daa semuanya, hati-hati ya!" ucap Kirana seraya membalas lambaian tangan kekuarganya.
Aaron, Kiaro, Caterina dan Ricky melangkahkan kaki keluar dari ruko dan menuju ke arah mobil sport milik Aaron.
Kirana mengikuti mereka dan melambaikan tangannya mana kala semuanya sudah masuk ke dalam mobil, dan Aaron mengemudikan mobilnya dengan perlahan menuju ke jalan raya.
Kiaro dan Caterina membalas lambaian tangan Kirana.
Roda mobil sport itu terus menyusuri jalan raya yang sedang lengang itu.
Di dalam mobil itu posisi duduk mereka Aaron di belakang kemudi, Ricky duduk disampingnya sebagai penunjuk arah.
Sedangkan Kiaro di belakang Aaron dan Caterina duduk disamping Kiaro.
__ADS_1
Di sepanjang jalan, Caterina dan Kiaro menyempatkan diri kembali untuk mencari informasi cara menaklukkan si Kunti.
Mereka berdua sebenarnya sedikit gugup karena ini adalah tugas pertama mereka.
"Bagaimana, kamu sudah menemukan cara menaklukkan si Kunti belum?" bisik Kiaro yang melirik ke ponsel Caterina.
"Selain senjata tajam dan cermin, lainnya belum ada" jawab Caterina yang tatapan kedua matanya masih sibuk melihat layar ponselnya,
"Aku juga begitu!" ucap Kiaro yang kemudian kembali melihat kembali ke layar ponselnya.
"Ini ada nih, tentang si Kunti!" seru Caterina yang bersemangat.
"Coba kamu bacakan, biar kami bisa mengetahuinya!" pinta Aaron yang menyempatkan diri untuk menoleh ke belakang.
"Iya, aku juga ingin mendengarkannya!" seru Kiaro yang penasaran.
Kemudian Caterina membacakan artikel yang telah dia temukan itu.
...Benda-benda pencegah si Kunti. Setidaknya ada dua jenis pohon yang sangat ditakuti oleh kuntilanak, yakni: bambu kuning dan kelor. Kesaktian kuntilanak akan pudar bila berhadapan dengan kedua pohon yang memang dikeramatkan ini....
...Disamping itu, kuntilanak juga akan menyingkir apabila melihat benda-benda tajam. Karena itu, di sejumlah daerah Indonesia ada kepercayaan ibu hamil agar selalu membekali dirinya dengan sebuah gunting kecil atau pisau lipat. Hal ini salah satunya dimaksud agar tidak diganggu kuntilanak....
...Dalam banyak kepercayaan di berbagai daerah di negara kita, kelemahan kuntilanak ini terletak pada rambutnya yang panjang menjuntai hingga lutut. Konon, di antara helai rambutnya yang panjang riap-riapan ini, maka ada sehelai rambut yang keras laksana kawat atau lidi....
...Syahdan, rambut yang akas/keras ini adalah jimat kesaktian kuntilanak. Dengan sebab rambut aneh inilah kuntilanak dapat terbang dan seketika menghilang dari pandangan mata....
...Nah, itulah 5 misteri tentang kuntilanak. Mungkin, sesuai dengan perkembangan zaman, jenis hantu ini memang sudah sangat jarang dijumpai. Para kuntilanak seperti sudah enggan untuk menampakkan wujudnya. ...
...Caterina mengakhiri membaca artikel itu....
"Ricky, coba kamu buka laci di depan kamu itu!" perintah Aaron pada Ricky setelah mendengarkan Caterina membaca artikel tentang si Kunti.
"Baik!" balas Ricky yang kemudian membuka laci tersebut.
"Memangnya ada apa yah?" tanya Kiaro yang penasaran.
"Diantara kita hanya Ricky yang tidak membawa senjata tajam, sedangkan nyawa Risckylah yang jadi incaran dari si Kunti itu. Jadi ayah ingat kalau ayah kemarin menaruh gunting di dalam laci mobil" jelas Aaron sembari mengemudi dan pandangan kedua matanya jauh lurus ke depan.
"Jadi saya mengambil gunting ini ya tuan Aaron?" tanya Ricky sembari mengambil gunting yang terdapat di dalam laci mobil tersebut.
"Benar, gunting itu untuk kamu berjaga-jaga, kalau saja kita tidak berada disamping kamu Ricky!" ucap Aaron yang melirik ke arah Ricky.
__ADS_1
"Terima kasih Tuan Aaron, kalian sangat perhatian pada saya" ucap Ricky yang tak enak hati.
"Sudahlah, kami ini membantu orang itu sudah bagian dari hidup kami. Kami senang bila melihat kebahagiaan dari orang-orang yang telah kami bantu" ucap Aaron yang melirik ke arah Ricky sembari tersenyum.
Ricky pun membalas senyuman dari Aaron.
"Kami biasanya melawan para siluman dan juga penyihir, saat ini aku ingin tahu rasanya melawan para hantu sekalian mengajari kedua anak muda dibelakang kita cara membela diri dan melawan musuhnya dengan tangan mereka sendiri tanpa mengandalkan orang lain. Karena hal ini sangat penting untuk kehidupan mereka suatu saat nanti'" ucap Aaron dengan panjang lebar.
"Iya, bagus itu. Seandainya saja saya sedikit bisa bela diri" ucap Ricky yang memelankan nada bicaranya.
"Jangan khawatir, nanti kami akan melindungi kamu" ucap Aaron seraya mengulas senyumnya.
"Ayah saja yang melindungi kak Ricky, Kiaro mau melindungi Caterina saja!" canda Kiaro sambil memandang Caterina.
"Apa tidak salah? jangan-jangan malah Caterina yang melindungimu!" goda Aaron diiringi suara tawa kecilnya dan juga ulasan senyum dari Ricky dan Caterina.
"Ayah! ayah nggak percaya sama kemampuan Kiaro sekarang! Kiaro harap ayah tidak membanding-bandingkan kemampuan Kiaro dengan Dicky lagi!" gerutu Kiaro dengan wajah masamnya.
"Iya, iya Kiaro memang hebat bisa mengalahkan para maling! tapi Dicky lebih hebat bisa mengalahkan para Siren dan Prajurit duyung Hibrida Luar!" seru Aaron yang tetap fokus ke depan.
"Dicky ya Dicky yah! Kiaro ya Kiaro! jangan banding-bandingkan lagi!' gerutu Kiaro yang terlihat amat kesal.
Selain Kiaro, semuanya tertawa melihat wajah masam dan kekesalan Kiaro itu.
"Iya-iya ayah percaya kemampuan kamu. Jadi nanti kamu buktikan pada ayah kalau kamu mampu mengalahkan si Kunti itu!" seru Aaron sembari mengulas senyumnya.
"Caterina juga percaya dengan kemampuan Kiaro, jadi semangat ya Kiaro!" seru Caterina yang mengulas senyumnya dan memandang ke arah Kiaro.
...~¥~...
...Terima kasih untuk para Readers semuanya, terutama yang telah memberikan dukungan berupa like/komen/favorite/rate 5/gift maupun votenya pada novel SI OYEN PACARKU BUKAN MANUSIA ini....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan...
...Allah Subhana Wa Ta'alla...
...Aamiin Ya Robbal alaamiin...
...Terima Kasih...
...BERSAMBUNG...
__ADS_1