
"Iya-iya ayah percaya kemampuan kamu. Jadi nanti kamu buktikan pada ayah kalau kamu mampu mengalahkan si Kunti itu!" seru Aaron sembari mengulas senyumnya.
"Caterina juga percaya dengan kemampuan Kiaro, jadi semangat ya Kiaro!" seru Caterina yang mengulas senyumnya dan memandang ke arah Kiaro.
"Aku juga mendukung kamu Kiaro, karena aku tak mengenal siapa itu Dicky. He. he .!" ucap Ricky sambil terkekeh.
"Terima kasih semuanya, nah kalau begini kan Kiaro jadi tambah semangat!" seru Kiaro yang mengulas senyum khasnya.
Matahari sudah bergulir ke barat, dan langit dihiasi dengan bias-bias jingga dari sinar matahari yang melewati awan-awan senja.
"Kita istirahat sebentar ya!" seru Aaron yang melihat adanya lapak warung makan di pinggir jalan yang kemudian dia menepi.
"Iya yah, badanku sudah pegal-pegal semua, perut lapar dan tenggorokanku kering nih!" seru Kiaro yang melepaskan sabuk pengamannya mana kala mobilnya g mereka tumpangi sudah di berbetikan oleh Aaron menepi di samping lapak warung makan di pinggir jalan itu.
"Ayo semuanya, kita makan dulu! mengisi perut untuk mendapatkan sumber tenaga untuk tubuh kita!" seru Aaron yang juga melepaskan sabuk pengamannya.
Tak berapa lama, semuanya keluar dari mobil dan melangkahkan kaki mereka mendekati warung makan yang mereka tuju itu.
"Mari silahkan masuk, mau makan apa ya tuan-tuan dan nona?" tanya pemilik warung makan itu.
"Makan nasi komplit sama lauk dan sayurnya untuk kami berempat ya bi!" pesan Aaron seraya mencari tempat duduk yang nyaman untuk mereka berempat.
"Iya tuan!" jawab si pemilik warung.
"Jangan lupa dengan minumnya ya bi!" seru Kiaro yang juga mengikuti ayahnya untuk duduk bergabung bersama yang lainnya.
"Kalian pada mau kemana?" tanya seorang kakek yang duduk di bangku sebelah mereka.
__ADS_1
"Kami mau ke desa Lawers kek!" jawab Aaron yang sebenarnya.
"Apa kalian tahu cerita tentang hantu kuntilanak di desa Lawers?" tanya si kakek itu seraya menatap wajah Aaron dan yang lainnya satu persatu.
"Hantu Kuntilanak?" tanya Aaron seraya tangannya memberi kode pada yang lain untuk tidak bicara.
"Iya, kalian harus hati-hati. Di desa Lawers sedang diteror oleh hantu Kuntilanak!" seru Pemilik warung yang sedang menghidangkan minuman yang Kiaro pesan tadi.
Kiaro membantu membagikan minuman tersebut sambil mendengarkan percakapan ayahnya dengan si kakek itu,
"Aku mau cerita tentang Kuntilanak, tapi bukan kuntilanak dari desa Lawers. Ini cerita Kuntilanak dari negara lain, yang kisahnya benar-benar nyata terjadi!" ucap si Kakek itu setelah menyeruput minumannya.
"Silahkan kakek ceritakan, kami ingin mendengarkannya" ucap Aaron yang penasaran dengan cerita si Kakek.
"Baiklah seperti inilah ceritanya...!" ucap si kakek yang mulai bercerita.
🗓️Flashback on.
Cerita ini berasal dari ‘hantu Lasmi’ sendiri. Lasmi bercerita kepada Falen tentang dirinya dengan medium adiknya sendiri. Jadi begini ceritanya.
Sebelum bergentayangan seperti sekarang, 100 tahun yang lalu Lasmi adalah seorang perempuan cantik yang hidup saat zaman penjajahan Belanda. Lasmi berprofesi sebagai sinden. Pada umur 12 tahun Lasmi menemukan belahan hatinya, seorang pria bernama Asep. Mereka bertemu di kebun teh di daerah Lembang dan saling jatuh cinta. Lasmi menikah dengan Asep yang bekerja sebagai peniup suling yang jadi pengiring saat ia nyinden. Di zaman itu menikah di umur 12 tahun itu hal lumrah. Pernikahan Lasmi dan Asep bahagia. Mereka hidup dan bekerja bersama.
Setelah 5 tahun pernikahan, Asep dan Lasmi belum juga dikaruniai anak. Tetangga mereka mulai bergunjing. Bergosip kalau Lasmi mandul. Teman-teman Asep juga nggak kalah sengit dengan para ibu-ibu soal bergosip. Mengetahui hal ini, Lasmi merasa sedih sebab nggak mampu memberi Asep momongan. Bahkan Lasmi selalu mengusap-ngusap perut tetangganya yang sedang hamil dan berharap suatu saat ia dapat hamil jua.
Nggak sampai disitu, Lasmi pernah dirayu dan dilecehkan oleh Londo saat ia selesai pentas di acara orang-orang Belanda. Kejadian tersebut semakin membuatnya sedih dan merasa nggak pantas menjadi seorang ibu. Melihat sang istri yang bersedih hati, Asep meyakinkan Lasmi kalau ia nggak akan meninggalkanya meski mereka belum dikaruniai keturunan.
Di titik ini, Asep mulai sakit-sakitan. Ia memiliki penyakit gula turun-temurun dari keluarganya. Tepat saat usia pernikahan Asep dan Lasmi menginjak 10 tahun, doa dan harapan keluarga kecil tersebut terkabul. Lasmi hamil. Lasmi mengusap-ngusap perutnya dan mengatakan “Utun”. Gunjingan tetangga berhenti, semua berubah menjadi doa.
__ADS_1
Suatu malam selepas pulang bekerja, sebuah mobil pengangkut tanpa lampu menerjang Lasmi yang sedang mengandung. Nyawa Lasmi nggak tertolong dan ia menghembuskan nafas terakhirnya
Oiya, Menurut penuturan Falen, sosok kuntilanak merah ini tinggal di pohon mangga di jalan Wastukencana, Bandung. Nah mari kita lanjut ceritanya ya. Setelah mengetahui Lasmi hamil, Asep yang kala itu sakit gulanya semakin parah mulai menemukan semangatnya kembali. Asep tetap bekerja seperti biasa dan meminta Lasmi untuk tetap berada di rumah. Namun Lasmi tetap memaksa pergi nyinden meski cepat kelelahan. Saat hamil muda Lasmi merasa nggak betah diam di rumah dan nggak tega melihat suaminya bekerja sendirian.
Suatu hari, sebuah kejadian yang nggak diduga terjadi. Malam itu, selepas kerja, Lasmi berpamitan untuk pulang lebih dulu. Ia berjalan kaki sendirian menapaki jalan Wastukencana. Di zaman itu, jalan Wastukencana masih minim penerangan. Lasmi yang kala itu sedang mengandung 3 bulan berjalan pelan menahan kantuknya sebelum sebuah mobil pengangkut tanpa lampu menabraknya.
Tragedi berdarah tersebut berjalan sangat cepat. Tubuh Lasmi terseret dan wajahnya menghantam tanah berbatu sejauh 8 meter kedepan, merobek mulut sampai ke telinganya. Supir yang menyadari menabrak seorang perempuan sempat keluar dan melihat kondisi Lasmi.
Kedua orang yang mengendarai mobil sempat berdebat soal nasib Lasmi, namun mereka akhirnya memilih untuk meninggalkannya. Lasmi mendengar perdebatan tersebut samar-samar. Ia menahan rasa sakit yang ada di perutnya, nggak ingin kehilangan anaknya. Lasmi hanya bisa melihat mobil yang menabraknya pergi, ia mengenang seluruh masa hidupnya, ia mengenang harapannya membesarkan anak dari pernikahannya dengan Asep. Perlahan, roh Lasmi meninggalkan jasadnya yang tergeletak tragis.
Setelah tragedi berdarah itu, roh Lasmi berubah menjadi sosok kuntilanak merah pendendam yang selalu menemani suaminya yang kesepian meski dunia mereka berbeda
Sejak saat itulah sosok Lasmi berubah menjadi kuntilanak merah.
Tepat pukul 5 pagi, jasad Lasmi ditemukan oleh sepasang suami istri yang sedang berjalan menyusuri jalan Wastukencana. Suami istri tersebut nggak menyangka akan melihat jasad di tempat tersebut. Mereka kalut dan memanggil warga. Seorang warga yang mengetahui Lasmi lantas membawa jasadnya menggunakan andong. Asep yang juga sedang khawatir istrinya belum juga pulang terpukul mendengar kematian sang istri.
Tangisan Asep pecah saat ia melihat jasad istrinya. Ia juga melihat kaki Lasmi yang dipenuhi darah. Ia telah kehilangan dua orang yang dicintainya dalam hidup.
...~¥~...
...Terima kasih untuk para Readers semuanya, terutama yang telah memberikan dukungan berupa like/komen/favorite/rate 5/gift maupun votenya pada novel SI OYEN PACARKU BUKAN MANUSIA ini....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan...
...Allah Subhana Wa Ta'alla...
...Aamiin Ya Robbal alaamiin...
__ADS_1
...Terima Kasih...
...BERSAMBUNG...