
Sementara Ruby tak menyadari kedatangan pemuda yang menjadi kekasih hatinya, yang sedang mengawasinya saat ini.
Beberapa menit kemudian latihan itu telah berakhir, dan para dayang membawa kembali kecapi itu ke tempatnya.
Dan saat ini tinggalah Ratu Ayumi dan Putri Ruby yang berada di gazebo tersebut.
Panglima Steven, Tony dan Dicky melangkahkan kaki menuju ke gazebo dimana mereka berada.
"Yang mulia Ratu Ayumi hamba menghadap bersama dua orang tamu dari bumi" ucap hormat panglima Steven pada Ratu Ayumi seraya menundukkan kepalanya.
"Dua orang tamu dari bumi?" tanya Ratu ayumi yang kemudian menoleh dan memandang tamunya satu persatu.
"Ayah Tony, Dicky!" panggil Putri Ruby dengan antusias.
"Kami menghadap yang mulia Ratu, dan tuan putri Ruby. Apa kabarnya dengan kalian berdua?" tanya Tony seraya menundukkan kepalanya.
"Kami baik-baik saja saudaraku dari bumi, mari silahkan duduk!" ucap Ratu Ayumi dan semuanya kemudian duduk di kursi yang sudah tersedia di Gazebo itu.
"Panglima Steven, tolong suruh para dayang membawakan minuman dan juga makanan untuk tamu kita" perintah Ratu Ayumi.
"Baik yang mulia Ratu" ucap Panglima Steven seraya menundukkan kepalanya dan kemudian melangkahkan kaki meninggalkan gazebo dan menuju ke dapur istana.
"Ada perlu apa kalian ke istana petir ini, dan sepertinya ada hal penting?" tanya Ratu Ayumi yang penasaran.
"Iya yang mulia, ada hal penting yang harus kami sampaikan. Tapi sebaiknya menunggu yang mulia Raja Ekin untuk lebih baiknya." ucap Tony seraya menunduk hormat.
"Begitu ya, baiklah kita tunggu kehadiran yang mulia Raja." ucap Ratu Ayumi sembari mengulas senyum dan memandang putrinya dan Dicky yang yang tanpa sadar mereka saling bertatap muka sampai tak berkedip.
"Hm..Hem..hm...!" Ratu Ayumi berdehem, yang membuat kedua sejoli itu terkejut dan mereka salah tingkah.
"Ibunda..!" panggil Ruby yang tersipu malu.
"Jadi dia yang pemuda yang membuat kamu jatuh hati putriku Ruby?" tanya ratu Ayumi seraya mengulas senyumnya.
"I..iya ibunda" jawab Putri Ruby seraya mengangguk pelan, dan wajahnya nampak kemerahan seperti kepiting rebus.
"Kalau begitu, bisa kamu ceritakan, awal kalian berjumpa?" tanya Ratu Ayumi yang penasaran.
Ruby dan Dicky saling pandang dan akhirnya Ruby menceritakan saat dia ke bumi yang sebelumnya berniat membantu teman masa kecilnya Wallache, dari kerajaan Blue Minch, kerajaan Siren hingga pertempuran di tepi pantai pesisir Z.
🗓️Flashback on.
Asia dan Wallache yang juga dalam keadaan terluka menghampiri ibunda mereka tanpa menghiraukan lagi prajurit kerajaan Hibrida luar itu mengepung Kirana.
Kirana dengan sekuat tenaga melawan semua prajurit Hibrida luar itu, namun apalah daya kekuatannya tak mampu mengatasinya.
Demikian pula dengan Ruby dan Adelia, tenaganya sudah tak bisa di kendalikan lagi.
Mereka berdua terdesak dan tak bisa lagi menahan suara nyanyian dari para Siren itu.
"Aaaaghh...! aku tak tahan lagi, hentikan nyanyian mereka! hentikan...!" seru Ruby yang kini telinganya mengalirkan darah.
__ADS_1
Demikian dengan Adelia yang terus menutup telinganya dan berusaha tetap menyanyi dengan suara merdu, walaupun telinganya saat ini sedang sakit dan mengeluarkan darah.
Kini tinggal Kirana yang tidak terluka, namun tenaganya telah terkuras habis dan dia mengandalkan Pedang Awan yang bergerak sendiri dengan mengikuti hawa membunuhnya.
"Pedang Awan, bantu kami!" seru Kirana dengan sisa-sisa tenaganya.
Pedang Awan terus bergerak dan tidak bisa dihentikan. Kemudian para Siren menggunakan kekuatan untuk membelenggu pedang awan, dan Pedang Awan tak tak berkutik.
Kondisi mereka sangatlah memperhatikan pada saat ini, terpojok dengan banyak luka di tubuh mereka.
Tiba-tiba muncullah bola-bola cahaya yang sangat banyak yang menyerang para prajurit kerajaan Hibrida luar dan juga para Siren.
"Boummm...boummm...boummm...!"
"Boummm...boummm...boummm...!"
"Boummm...boummm...boummm...!"
"Aaaghhh...!" Secara bersamaan prajurit kerajaan Hibrida luar dan juga para siren berjatuhan dan sudah tak berkutik lagi.
Dan lagi serangan bola- bola cahaya itu menyerang secara berurutan.
"Boummm...boummm...boummm...!"
"Boummm...boummm...boummm...!"
"Boummm...boummm...boummm...!"
Sekali lagi bola-bola cahaya itu menyerang para Siren dan prajurit kerajaan Hibrida luar yang tersisa.
"Aaaghh....!' suara erangan kesakitan mereka yang terakhir kalinya, sang akhirnya mereka semua telah terkapar.
Kirana, Adelia, Ruby, Asia dan Wallache sangat terkejut mana kala mendapat bantuan yang tepat pada waktunya itu.
"Jurus bola-bola cahayanya sedahsyat jurus yang ayah kuasai? siapakah orang ini?" tanya dalam hati Ruby.
"Tony, Dicky...!" panggil Kirana pada saat melihat secara langsung siapa yang datang, dua orang laki-laki anak dan ayah yang sangat dia kenal.
"Apa kalian baik-baik saja?" tanya Tony yang menghampiri Kirana dan Adelia yang memang dia kenal.
"Tony, apa kamu baca pesan kami?" tanya Kirana yang penasaran.
"Iya, dan hanya kami yang bisa datang kesini, karena di Ghuangzhou juga sedang ada masalah." jelas Tony yang kemudian membopong Kirana sampai ke bibir pantai pesisir Z.
Demikian dengan Dicky yang membopong Adelia sampai ke bibir pantai juga
"Anak muda ini bukankah yang menyukai Caterina?" tanya dalam hati Adelia
Ibunda dari Caterina ini melihat ke arah Wallache yang terluka. Tiba-tiba saja dia merasakan desiran di jantungnya yang seakan dia telah menemukan sesuatu yang indah dalam hidupnya.
Demikian pula dengan Wallache yang merasakan sesuatu yang berbeda tatkala tanpa sengaja kedua matanya bertemu dengan kedua mata Adelia dan keduanya saling berbalas senyuman.
__ADS_1
"Aneh, perasaan ini tak seperti yang aku rasakan pada Ruby atau wanita yang lainnya!" gumam dalam hati Wallache.
Setelah meletakkan Adelia disamping Kirana, Dicky kembali ke perairan untuk membopong dan memindahkan Ruby yang juga sudah tak berdaya ke tepi pantai, demikian pula dengan Tony yang membopong Wallace.
Kemudian Dicky membopong Asia dan memindahkan ke tempat yang sama dengan Kirana
Dan yang terakhir, Tony membopong dan memindahkan Ariel Ibunda Asia dan Wallache itu dan bergabung dengan lainnya.
Kirana , Adelia dan Ruby berubah kembali menjadi manusia seperti seharusnya.
"Kirana, Adelia dan kamu Ruby, pulihkan tenaga kalian masing-masing. Aku akan mengobati ketiga duyung ini!" seru Tony seraya melihat luka-luka semuanya dan yang paling parah adalah para duyung itu.
"Baik!" jawab Kirana, Adelia dan Ruby yang hampir bersamaan
Kirana, Adelia dan Ruby segera mengatur hawa murni mereka untuk mengembalikan tenaga mereka yang telah terkuras habis karena pertempuran tadi.
Sementara itu Tony dan Dicky menyalurkan hawa murninya ke tubuh Wallache dan Asia.
Beberapa menit kemudian Kirana, Adelia dan Ruby telah selesai dengan mengembalikan tenaganya.
Mereka menghampiri Ariel ibunda Asia dan Wallache yang terluka parah itu dan berusaha mengobati wanita duyung itu.
Kirana mengeluarkan mutiara silumannya yang berwarna hitam dan menyuapkannya pada Ariel.
"Saudari Ariel, telan saja mutiara siluman warna hitam ini. Suamiku biasanya menelannya untuk memulihkan kondisi tubuhnya jika sudah kehabisan tenaga pada saat berkelahi" ucap Kirana yang menyodorkan dua mutiara siluman warna hitam itu.
Ariel menerima mutiara siluman warna hitam itu dan melihat ke orang-orang disekitarnya, karena sedikit ragu.
Semuanya menganggukkan kepalanya, dan Ariel pun mulai yakin. Akhirnya dia menelan mutiara siluman warna hitam itu juga.
Adelia kemudian mengambil kerang dan dengan kekuatannya kerang itu menjadi debu yang lembut.
"Saudari Ariel, ma'af biar saya obati luka luar anda" ucap Adelia yang saudah bersiap dengan manteranya.
"I..iya!" jawab Ariel dan Adelia segera merapalkan manteranya.
Setelah selesai, Adelia segera menaburkan bubuk kerang itu ke bagian tubuh Ariel yang terluka.
...~¥~...
...Terima kasih untuk para Readers , terutama yang telah dukungan berupa like/komen/favorite/rate 5/gift maupun votenya pada novel SI OYEN PACARKU BUKAN MANUSIA ini....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan...
...Allah Subhana Wa Ta'alla...
...Aamiin Ya Robbal alaamiin...
...Terima Kasih...
...BERSAMBUNG...
__ADS_1