
"Lunaaaaa..!!" teriak Kirana yang segera menghampiri tubuh sahabatnya yang sudah tak berdaya itu.
Kirana langsung mendekap sahabatnya itu dengan erat.
Merasa situasi sudah aman, Kelly dan Maggie turun ke bawah dan menghampiri kirana yang sedang memeluk Luna yang tak berdaya.
"Luna..!" panggil Kelly dan Maggie, kedua kakak beradik satu ayah beda ibu itu.
Sementara itu Aaron, Ekin dan Jimmy yang melangkahkan kaki mereka menuju ke ruko.
Sekelebat Aaron melihat bayangan Tony yang mengejar sesuatu.
"Aku akan bantu Tony!" seru Aaron yang sudah melesat meninggalkan Jimmy dan Ekin.
Ekin dan Jimmy kembali melangkahkan kaki menuju ke ruko.
Betapa terkejutnya Ekin saat sudah berada di dalam ruko dan mendapati kekasihnya yang tak berdaya itu.
"Lunaaaaa...!!" panggil Ekin dengan suara paraunya karena dadanya sesak menahan tangisnya
Laki-laki itu langsung menghampiri Luna dan dia duduk berlutut di samping Luna.
"E..kin? benarkah ini Ekin?" tanya Luna dengan suara lemah karena banyak busa di mulutnya dan memandang Ekin, untuk memastikan bahwa dirinya tak tertipu lagi.
"Sayang, ka..kamu kenapa?" tanya Ekin yang sangat cemas.
Luna tak menjawab karena dia sedang mengatur nafasnya yang tak beraturan.
"Luna terkena racun ular kobra!" jawab Kirana yang masih berada di dekat Ekin dan Luna beserta Maggie dan Kelly.
Tak berapa lama Bocan dan Andy datang dan Bocan langsung memeriksa keadaan Luna.
"Luna...! Ekin menepi sebentar, akan aku periksa Luna sebentar" ucap Bocan saat tiba di depan Ekin dan melihat keadaan Luna.
"Baik Bi, tolong sembuhkanlah Luna bi!" ucap Ekin yang sangat mengkhawatirkan kekasihnya itu.
"Saya usahakan!" ucap Bocan yang sudah menggosokkan telapak tangannya dan keluarlah cahaya putih yang kemudian di salurkan pada tubuh Luna yang terbaring tak berdaya.
"Ekin, sepertinya keadaan Luna sangat parah! kamu harus selesaikan urusanmu pada siluman ular kobra kecil itu" ucap Andy seraya menepuk pundak Ekin.
"Huekk...!"
Luna mengeluarkan darah kental di mulutnya.
"Ekin, racun siluman ular kobra kecil ini lebih ganas dari racun ibunya. Bibi hanya bisa menahannya agar tak menjalar ke seluruh tubuh Luna." kata Bocan yang sedikit terengah-engah setelah membuat Luna memuntahkan racun dalam darah Luna.
"Ekin harus bagaimana bi?" tanya Ekin dengan suara paraunya.
"Kamu harus buat siluman ular kobra kecil itu memberikan penawar racun dia, atau ambil mutiara silumannya! kemungkinan mutiara siluman ular kobra itu bisa jadi penawar racun empunya!" kata Bocan pada Ekin.
Ekin mengangguk mengerti dan tanpa menunggu lama, Ekin melangkahkan kaki keluar dari ruko mencari keberadaan Aaron dan Tony yang mengejar siluman ular kobra kecil itu.
Sementara Bocan terus mencoba mengobati Luna, dan Kirana mengambil air hangat untuk membersihkan darah bercampur racun di mulut Luna.
...****...
Sementara itu Tony telah berhasil, mengejar si Ginna, siluman ular kobra kecil itu.
__ADS_1
"Berhenti kau siluman ular!" seru Tony yang telah menyusul Ginna, dan mereka saat ini berada di tengah lapang.
"Oh, rupanya bisa juga mengejar ku!" seru Ginna yang berwujud gadis cantik itu dengan senyum sinisnya.
"Kau harus bertanggung jawab dengan keadaan Luna!" seru Tony.
"Apa bertanggung jawab? kalau aku balik meminta pertanggung jawaban kematian kedua orang tuaku, apa kalian mau?" ucap Ginna dengan kemarahannya.
"Kau!" seru Tony yang tetap bersiaga.
"Saudaraku! serang dia!" seru Ginna yang tiba-tiba muncul ratusan ular kobra yang mengepung dan menyerang Tony.
Tony menyerang ular-ular itu dengan bola-bola cahayanya.
"Boumm....! Boummm...! Boummm....! Boummm...!"
Tak sedikit dari ular-ular itu yang terkapar, dan sepertinya mereka semakin lama semakin banyak.
Dan mereka mengepung Tony dan siap memberi Tony racun-racun mereka.
"Gelembung cahaya!"
Tony melindungi dirinya dengan gelembung cahayanya.
Benar saja ular-ular itu menyemprotkan bisanya ke arah Tony, tapi untung Tony telah melindungi dirinya dengan gelembung cahayanya.
Saat semua ular kobra itu menempel di gelembung cahaya itu, dengan kekuatannya Tony membuat gelembung cahaya itu membesar dan semakin membesar dan pada akhirnya meledak membuat semua ular kobra itu terpanggang dan semuanya mati.
Dan kini tinggallah Tony dan Ginna yang saling berhadapan.
"Tunggu apa lagi Tony, hajar dia!" seru suara seorang laki-laki yang mengikuti Tony sedari tadi.
Tiba-tiba saja ada kilatan petir yang membentuk siluet seorang laki-laki tinggi dan gagah yang berada di samping Ginna.
"Sebelum menghadapi Ginna, hadapilah aku!" seru sesosok laki-laki itu.
"Bukankah itu Teivel?" tanya Tony yang mengenal sosok laki-laki itu.
"Benar! kenapa anak buah Black Shadow bersama Ginna?" Aaron yang menjawab sekaligus bertanya.
"Entahlah, yang terpenting kita harus lawan dia!" seru Tony yang tetap dalam posisi siap.
"Kau urusi Ginna, aku akan hajar si Teivel ini!" seru Aaron yang sudah bersiap dengan bola-bola cahayanya.
"Hati-hati dengan serangan petirnya!" seru Tony yang kini bersiap menghadapi Ginna.
Benar saja Teivel mengeluarkan petir-petirnya dan dilemparkanlah kearah Aaron.
"Flash..! flash...! flash..!"
Teivel melempar petir-petir itu ke arah Aaron.
"Hop..! hop...! hop...!"
Aaron berusaha menghindarinya dengan melompat kesana dan kemari.
Saat ada kesempatan, Aaron melemparkan bola-bola cahayanya ke arah Teivel.
__ADS_1
"Aarghh..!!"
Aaron terjatuh saat menghindari lemparan petir dan Teivel terdorong beberapa meter karena bola-bola cahaya dari Aaron yang mengenai tubuh Teivel.
"Huflp...!"
Dan mereka kembali beradu jurus.
Sementara itu Ginna sudah melawan Tony dengan sinar merah di kedua matanya.
"Serrr.... duarr...! serr... duaaarr...!!"
Sinar merah itu selalu meleset ketika hendak mengarah pada Tony.
Tony balik menyerangnya dengan bola-bola cahayanya dan satu bola cahaya Tony mengenai Ginna tepat di bagian perut gadis itu.
"Uuugh...!"
"Ginna..!" seru Teivel yang melihat ke arah Ginna karena khawatir, hal itu membuat dia terkena juga bola cahaya dari Aaron.
"Aaagh...!"
"Ginna, menyerahlah kamu! berikan penawar racun kamu!" seru Tony berdiri tepat di hadapan Ginna.
"Penawar racun? heh..! enak saja, Sampai aku mati, tidak akan aku berikan!" seru Ginna dengan menawan rasa saikitnya.
"Kurang ajar! masih bersikekeh juga kamu ya!" seru Tony yang kembali menyerang Ginna dengan bola-bola cahayanya.
Dan Ginna terus menggunakan sinar mata merahnya.
Dan untuk ke dua kalinya Ginna kembali terkena bola-bola cahaya dari Tony.
"Uuugghh..!"
Tak berapa lama Ekin datang dan langsung menghampiri Ginna.
"Ginna, kenapa kamu menyerang kami?" tanya Ekin yang penasaran.
"Itu karena kalianlah pembunuh kedua orang tuaku!" seru Ginna geram.
"Tapi Ginna, kamu tak tahu persoalan yang sebenarnya!" balas Ekin yang berusaha agar tak ada perkelahian.
"Apa kau kira aku buta, hah..! aku melihatnya sendiri!" seru Ginna dengan geramnya.
...~¥~...
...Terima kasih untuk para Readers semuanya, terutama yang telah memberikan dukungan berupa like/komen/favorite/rate 5/gift maupun votenya pada novel SI OYEN PACARKU BUKAN MANUSIA ini....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan...
...Allah Subhana Wa Ta'alla.....
...Aamiin Ya Robbal alaamiin...
...Terima Kasih...
...BERSAMBUNG...
__ADS_1
"