
Saat langkah kedua putra dewa menuju ke Ruko, keadaan di ruko sangatlah genting.
"Bocan, bagaimana dengan keadaan Luna sekarang?' tanya Kirana saat berada di kamar atas dimana Luna di baringkan.
"Aku tak bisa memastikan, racunnya menjalar begitu cepat." kata Bocan yang duduk di samping Luna dengan rasa cemas dia.
Sedangkan Luna yang terbaring lunglai dengan rona wajah yang memucat dan bibir yang berkeruh.
"Semoga saja Ekin dan yang lainnya membawa penawar atau paling tidak mutiara siluman ular Kobra itu." kata Kirana yang penuh harap.
"Aku tak menyangka, putri Ratu siluman ular kobra mempunyai bisa racun melebihi ibunya." kata Bocan yang sangat khawatir.
"Kenapa perasaanku nggak yakin, jika ketiga anak itu bisa membawa penawar racun siluman ular kobra itu" ucap Andy tiba-tiba.
"Ayah, jangan bicara seperti itu. Walaupun aku juga punya perasaan yang sama dengan ayah, tapi kita jangan berhenti berharap dan berdoa!' ucap Bocan yang kemudian bangkit drai duduknya.
"Luna, cepat sembuh. Kami sangat merindukanmu!"ucap Maggie yang berdiri di samping Luna.
Demikian pula dengan Kelly, "Kak Luna, nanti siapa yang menemani Luna jaga Kios kalau kak Kirana dan kak Maggie antar pesanan. Kak, Kelly sangat rindu canda dan tawa kak Luna." Racau Kelly seraya menyeka air matanya yang jatuh.
"Kak Ekin, kak Aaron dan kak Tony datang!" seru Jimmy yang sejak tadi berada di pintu ruangan.
"Mereka datang!" seru Andy dan semuanya berdiri untuk menyambut ketiga putra dewa itu.
"Ekin! bagaimana, dapat penawar itu?" tanya Bocan saat Ekin yang pertama kali masuk.
"Ma'af bibi, kami semua tak ada yang berhasil!" jawab Ekin dengan wajah sendu dan langsung menuju ke tempat tidur dimana Luna terbaring.
"Mutiara dan mustikanya?" tanya Andy yang penasaran.
"Kami juga tak mendapatkannya!" jawab Tony yang terlihat sangat menyesal.
"Ternyata Siluman ular kobra itu adalah Putri ratu siluman kobra yang berniat balas dendam dengan kematian kedua orang tuanya. Dan dia di bantu Teivel!" jelas Aaron.
"A..apa Teivel!" seru Andy yang memang tahu siapa itu Teivel.
"Maka dari itu, waktu Tony akan menghabisi Ginna, Teivel membawa kabur Ginna." jelas Ekin yang tetap memandang wajah kekasihnya yang sangat lemah.
"Ginna? Ekin, bukankan kamu dapat amanat dari Siluman kura-kura sebelum meninggal?" tanya Kirana yang mengingatkan kejadian saat-saat terakhir siluman kura-kura.
🕒Flashback on
__ADS_1
Ekin, walaupun kamu bukan cucuku, kamu sudah aku anggap cucuku sendiri. Carilah cucuku yang juga siluman ular kobra , tolong berikan tongkat ini padanya. Di dalam tongkat ini ada kalung mutiara yang aku rangkai sendiri khusus untuk cucuku yang cantik itu, namanya Ginna" ucap siluman kura-kura itu, yang beberapa menit kemudian siluman kura-kura itu menghembuskan nafas terakhirnya.
"Siluman kura-kura ..!!" seru semuanya yang bersedih.
🕒Flashback off.
"Tongkat itu! berikan tongkat itu padaku!":seru Bocan pada Ekin.
Walaupun penasaran dengan apa yang akan di perbuat oleh Bocan.
Ekin menengadahkan kedua telapak tangannya dan mulutnya berkomat-kamit, muncullah tongkat yang dimaksudkan.
Dan tongkat itu diserahkan pada ibunda Aaron.
"Apa yang akan bibi lakukan dengan tongkat itu?" tanya Ekin yang penasaran.
"Ini demi kebaikan kalian berdua! Bila kalian berjodoh, maka di kehidupan yang lain kalian pasti akan bertemu!" ucap Bocan yang segera mengambil kalung mutiara siluman yang ada di dalam tongkat itu.
Bocan pun memakaikannya pada Luna.
"Luna, ma'afkan kami. Kami tak bisa menolongmu di kehidupan saat ini. Dan semoga kamu dan Ekin berjodoh di kehidupan yang lain." ucap Bocan yang memakaikan kalung mutiara siluman itu dan Bocan mengucapkan mantera agar kalung mutiara itu menyatu untuk dengan Luna.
"Lu..Luna sayang, kamu harus kuat sayang. Ayahanda dan Ibunda sudah merestui kita, kita akan menikah dalam waktu dekat ini sayang" racau Ekin yang kemudian duduk di samping Luna.
"Sa..sayang, peluk aku u..untuk yang te..rakhir kalinya" ucap Luna yang semakin lirih.
Ekin kemudian memposisikan dirinya memangku kepala dan tubuh Luna, dengan tangannya yang memegang tangan kekasihnya.
"Sa..yang Hukk...!" panggil Luna dan meneteskan air mata di sudut mata gadis yang lemah itu.
"Tidak, kamu pasti sembuh sayang! bibi, apa tak ada ramuan lainnya? dari bunga kah atau apalah!" racau Ekin diantara isakan tangisnya.
"Tidak ada Ekin, racunnyabsudah menjalar ke jantung Luna. Saat ini adalah saat terakhir kita bersama Luna." jelas Bocan yang juga tak henti-hentinya menyeka air matanya.
Kirana menarik tangan Aaron dan mereka berjalan mendekat ke samping Luna dan Ekin.
"Luna, kami minta ma'af jika kami punya salah padamu, dan kami juga telah mema'afkan semua kesalahanmu pada kami!" ucap Kirana yang memegang kaki Luna.
Dan Luna hanya bisa mengedipkan kedua matanya.
"Luna, aku juga mewakili semua yang ada di sini. Meminta ma'af atas segala kesalahan kami dan kami mema'afkan semua kesalahan kamu pada kami." ucap Andy dan Luna lagi Luna menjawabnya dengan mengedipkan kedua matanya
__ADS_1
"Luna, aku sangat menyayangi dan mencintaimu sayang!" racau Ekin yang terus memeluk dan mencium kening Luna.
"A..aku juga menyayangimu dan Ju..ga mencintaimu sa..yang!" kata Luna dan dia menghembuskan nafas yang terakhirnya.
"Lunaaaaa....!!" teriak Ekin yang memecahkan keheningan malam, semakin erat memeluk kekasihnya yang telah tiada itu.
Dan juga diikuti yang lainnya, di ruko itu yang terdengar suara tangisan karena sangat kehilangan orang yang mereka sayangi.
Karena tak kuasa melihat apa yang terjadi, dengan Luna dan Juga dengan Ekin, Bocan memeluk suaminya Andy.
Kirana memeluk Aaron, Maggie memeluk Tony dan juga Kelly memeluk Jimmy.
Tangis kesedihan mereka terus berlangsung sampai matahari menyingsing dari timur.
Pagi itu juga jenasah Luna di kremasi dan di makamkan di pemakaman umum di dekat kios Bunga Rose.
Tujuannya agar dekat dengan semuanya yang sayang pada Luna.
Ratu Flower dan Selir Selena yang mengetahui kabar kematian Luna, menyempatkan diri untuk turun ke bumi dan memberi semangat pada Ekin.
"Ekin, kalau kalian masih ada jodoh. Pasti akan bertemu di kehidupan yang lain." Kata Ratu Flower saat mereka masih berada di makam Luna.
"Walaupun aku belum sempat melihat wajah kamu, aku yakin kamu itu cantik. Hingga putraku tergila-gila padamu!"ucap Selir Selena yang merasa menyesal karena belum sempat melihat wajah kekasih putranya yang telah tiada kini.
"Luna itu gadis cantik, cantik wajah cantik pula Budi pekertinya. Pantaslah Ekin mencintai Luna, gadis yang selalu ringan tangan membantu sahabat-sahabatnya." kata Kirana selesai menaburkan bunga mawar di pusara Luna.
...~¥~...
...Terima kasih untuk para Readers semuanya, terutama yang telah memberikan dukungan berupa like/komen/favorite/rate 5/gift maupun votenya pada novel SI OYEN PACARKU BUKAN MANUSIA ini....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan...
...Allah Subhana Wa Ta'alla.....
...Aamiin Ya Robbal alaamiin...
...Terima Kasih...
...BERSAMBUNG...
"
__ADS_1