
"Hai, kalian berdua kenapa kok tegang sekali?" tanya Seorang laki-laki yang tak lain adalah Tony.
"Apa kamu merasakan sesuatu tidak?" tanya Kirana yang penasaran.
"Memangnya ada apa?" tanya Tony yang bingung dengan maksud Kirana.
"Ada yang mencoba meneror Luna!" seru Kirana.
"Apa? meneror Luna?" tanya Tony yang minta kejelasan.
"Iya, lihatlah belati itu!" jawab Luna seraya menunjukkan belati yang digunakan untuk meneror Luna.
Tony segera memeriksa belati itu. Dan dia mengetahui jawabannya.
"Racun ini mengandung bisa ular cobra. Nampaknya Siluman ular kobra ini masih muda." jelas Tony yang meneliti belati dan racun itu.
"Siluman ular kobra yang masih muda!" seru Kirana yang seperti mengingat sesuatu.
"Iya, apa kamu tahu sesuatu, Kirana?" tanya Tony penasaran.
"E...yang saya tahu, Ratu siluman Ular Kobra yang menikah dengan siluman naga laut, mempunyai seorang putri.!" jawab Kirana yang kemudian menatap Luna.
"Luna, apa kamu ingat dengan yang di katakan Siluman kura-kura yang terakhir kalinya?" tanya Kirana pada Luna, dan Luna sedikit mengernyitkan kedua alisnya.
🗓️Flashback On.
Saat-saat terakhir Siluman Kura-kura.
Ekin, walaupun kamu bukan cucuku, kamu sudah aku anggap cucuku sendiri. Carilah cucuku yang juga siluman ular kobra , tolong berikan tongkat ini padanya. Di dalam tongkat ini ada kalung mutiara yang aku rangkai sendiri khusus untuk cucuku yang cantik itu, namanya Ginna" ucap siluman kura-kura itu, yang beberapa menit kemudian siluman kura-kura itu menghembuskan nafas terakhirnya.
"Siluman kura-kura ..!!" seru semuanya yang bersedih.
Dan keluarlah mutiara siluman dari dalam tubuh siluman siluman kura-kura itu.
Mutiara siluman kura-kura itu berwarna pelangi. Kirana segera mengambilnya.
Semua orang yang berada di sekitar siluman kura-kura, meneteskan air mata karena kepergian siluman kura-kura itu.
Tak berapa lama kemudian mereka menguburkan jasad siluman kura-kura.
🗓️Flashback Off.
"Iya, aku ingat sekarang" kata Luna.
"Kalau benar itu putri siluman ular kobra dan siluman naga laut, Ekin harus ada di sini!" ucap Kirana.
"Iya, benar! agar ada kejelasannya." kata Luna yang menatap Kirana dan Tony bergantian.
"Sebaiknya kita tunggu Bibi Rosa dan paman Andy, mungkin mereka bisa memanggil Ekin untuk turun ke bumi." kat Tony.
"Iya, sebaiknya aku temani kamu dulu Luna." kata Kirana untuk memastikan tidak ada lagi yang meneror Luna jika Luna ada temannya.
"Terima kasih Kirana." balas Luna.
__ADS_1
"Ok, kalau ada apa-apa bisa hubungi aku ya!" ucap Tony.
"Iya Ton!" jawab Luna dan Kirana kompak.
Tony kemudian menemui Maggie dan mengambil makanan untuk para tukang bangunan yang membangun rumah Andy dan Bocan.
"Maggie, apa makanannya sudah siap?" tanya Tony saat sudah masuk ke kios.
"Eh, kamu Ton! sudah siap." jawab Maggie seraya menyerahkan dua rantang makanan pada Tony.
"Terima kasih sayang! kamu sudah cocok buat pendampingku dan ibu untuk anak-anakku!" bisik Tony sambil tersenyum.
"Oiya, trus kapan kita menikahnya?" tanya Maggie sambil tersenyum.
"Kan kurang tiga Minggu lagi! masak lupa sih!" seru Tony yang nampak gemas sama Maggie.
"He..he..! ma'af hanya mau ngetes saja!" canda Maggie dan Tony dengan gemas mengacak-acak rambut kekasihnya.
"Tony....!" seru Maggie dengan manja.
"Sudah ah! kasihan para tukangnya, keburu lapar! he..he..!" kata Tony yang terkekeh.
Tony kemudian keluar dari kios dan menuju ke tanah lapang dengan membawa dua rantang makanan di tangannya.
Sementara itu Maggie ke depan kios dan membantu Luna dan Kirana yang kewalahan melayani pembeli yang tiba-tiba banyak yang datang.
Matahari bergulir ke barat, pertanda hari sudah beranjak sore.
Bocan dan Andy melangkahkan kaki menuju ke kios.
"Sudah waktunya pulang, kenapa nggak siap-siap tutup kios?" tanya Bocan saat menghampiri Luna dan Kirana, sementara Andy menghampiri Tony di tanah lapang.
"Iya Bocan, ini kami sedang buat pesanan yang akan diambil sore ini" jawab Kirana seraya membuat beberapa buket bunga.
Tak berapa lama pemesan itu sudah datang. Dan Kirana menyerahkan buket-buket bunga itu pada pemesannya.
Setelah selesai, mereka menyirami bunga-bunga di semua sudut kios.
Sedangkan Tony dan Andy kembali ke kios, karena para tukang bangunan sudah pulang ke tempat masing-masing
"Bocan, ada yang ingin aku ceritakan sebelum kami pulang." ucap Kirana.
"Ada apa Kirana?" tanya Bocan yang penasaran.
"Tadi pagi Luna di teror sesosok bayangan, dan dia menggunakan belati yang sudah di lumuri racun ular kobra. Kami mengira kalau yang meneror itu adaa hubungannya dengan Ratu siluman ular kobra yang sudah tewas di dunia siluman kemarin." jelas Kirana.
"Belati yang dilumuri racun ular kobra, bisa jadi itu anak siluman ular kobra yang menaruh dendam." kata Bocan yang juga sedang berpikir.
"Jadi, kita bagaimana?" tanya Luna yang khawatir.
"Sementara ini kalian selalu bersama, jangan sampai terpisah, mengerti?" ucap Bocan yang nampak serius.
"Iya, benar kalian harus selalu bersama!" pesan Andy yang khawatir.
__ADS_1
"Iya Iya tuan Andy, Bocan!" balas Kirana, Luna dan Maggie bersama-sama.
"Kami pamit ya Bocan!" ucap Kirana seraya mengulurkan tangan pada Bocan dan Andy dan di ikuti yang lainnya.
"Iya hati-hati kalian ya!" pesan Bocan.
"Iya Bocan, daa.. Bocan dan Ayah Andy!" pamit Kirana seraya melambaikan tangannya.
"Daa Bocan, tuan Andy!" pamit Luna dan Maggie yang juga melambaikan tangan mereka
"Iya hati-hati!" balas Bocan yang juga melambaikan tangannya.
Dan ketiga gadis itu masuk ke dalam mobil Tony, dan Tony sudah duduk di belakang kemudi menunggu ketiga gadis itu masuk ke dalam mobil.
"Sudah masuk semua!" seru Tony seraya melihat kearah para penumpangnya.
"Sudah..!" jawab ketiga gadis itu kompak.
Tony segera melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang menyusuri jalan raya.
"Aku jadi was-was dengan si peneror itu!" kata Maggie yang duduk di samping Tony.
Maggie semula tak percaya adanya si peneror itu, kini akhirnya mempercayainya.
"Iya, semoga saja tidak meneror kita saat di ruko nanti!" ucap Kirana.
"Iya, nggak bisa bayangin deh! kita tidak akan bisa tidur semalaman!" ucap Luna yang sangat cemas.
"Bisa saja kalian!" ucap Tony yang menggelengkan kepala seraya tersenyum.
"Ton, kamu tidur di ruko saja ya!" kata Maggie dengan memohon.
"Apa! nggak boleh!" seru Luna
"Kenapa?" tanya Tony seraya menengok ke spion atas untuk melihat kedua penumpangnya.
"Bikin kita ngiri saja!" seru Luna dan Kirana kompak.
Maggie dan Tony saling pandang dan tertawa, karena berhasil mengerjai kedua sahabatnya itu.
...~¥~...
...Terima kasih untuk para Readers semuanya, terutama yang telah memberikan dukungan berupa like/komen/favorite/rate 5/gift maupun votenya pada novel SI OYEN PACARKU BUKAN MANUSIA ini....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan...
...Allah Subhana Wa Ta'alla.....
...Aamiin Ya Robbal alaamiin...
...Terima Kasih...
...BERSAMBUNG...
__ADS_1