
"Iya-iya! sudah sana pergi, dan jangan nganggu pekerjaan kami. Karena kami sudah capek dan ingin cepat istirahat!" seru Kirana seraya mengangkat dan memindahkan piring bekas ke dapur,
Dan kemudian para lelaki melangkahkan kaki mereka menuju ke ruang keluarga.
Setelah selesai para perempuan itu ikut bergabung dengan para lelaki dan kembali mereka berbincang-bincang mengenai rencana mereka sebulan yang akan datang.
Beberapa jam kemudian mereka menuju ke kamar mereka masing-masing untuk beristirahat.
...***...
Pagi harinya setelah sarapan, Tony dan Dicky bersiap-siap pergi ke kerajaan petir.
Sedangkan yang lainnya bersiap-siap untuk aktifitas mereka masing-masing.
"Tony, kalian pakai saja Awan putih kecil. Agar cepat sampai ke istana petir." ucap Aaron yang menawarkan bantuan dengan awan putih kecil miliknya.
"Apakah dia mau mengantarkan kami?" tanya Tony.
"Kita coba saja!" ucap Aaron yang kemudian mengambil peluit dan membunyukannya.
"Priiiiit...!"
Dan Awan putih kecil datang secara tiba-tiba sampai dihadapan Aaron dan Tony.
"Awan putih kecil, aku mau minta bantuan kamu untuk mengantarkan saudaraku Tony dan putranya Dicky ke kerajaan petir" ucap Aaron pada Awan putih kecil, dan awan putih kecil itu menganggukkan kepala dan merendah, supaya Tony dan Dicky bisa naik ke atasnya.
"Tony, bawalah peluit ini dan pergunakanlah jika kamu butuh bantuan awan putih kecil." ucap Aaron seraya menyerahkan kalung yang berliontin peluit itu
"Terima kasih saudaraku" ucap Tony yang kemudian memeluk Aaron, dan Aaron menepuk pundak Tony.
"Ibu, paman, bibi dan semuanya, Dicky pamit ya" ucap Dicky dihadapan semua orang yang mengantarnya sampai ke depan pintu rumah.
"Hati-hati dan semoga segala urusan kamu lancar!" pesan Kirana.
"Iya Amin, makasih bibi" ucap Dicky seraya melambaikan tangan pada semuanya.
"Ayo Dicky cepat naik!" seru Tony yang sudah naik diatas awan putih kecil itu.
"Iya Ayah!" ucap Dicky yang kemudian melompat naik ke atas punggung Awan putih kecil dan mereka melambaikan tangan pada semua orang yang mengantarkannya.
"Daa semuanya!" seru Dicky dan Tony.
__ADS_1
"Daa Dicky dan Tony...!" balas seru Aaron, Kirana, Maggie dan yang lainya.
Awan putih kecil yang membawa Tony dan Dicky melesat menuju ke langit.
Kiaro dan Caterina menuju ke ruko, Adelia dan Kelly membantu Maggie, Jimmy mengantarkan Vivian ke asramanya sedangkan Kirana membantu Aaron menghandel perusahaan-perusahaan Papanya Kirana yang sebelumya dihandel Tony.
Sementara itu Tony dan Dicky telah sampai di kerajaan petir.
Setelah sampai di depan pintu gerbang istana petir, Awan putih kecil itu meninggalkan keduanya untuk kembali ke tempatnya.
Sedangkan Tony dan Dicky melangkahkan kaki menuju pintu gerbang yang kebetulan Steven sedang berada di pintu gerbang karena sedang mengawasi keadaan di sekitar kerajaan Petir.
"Panglima Steven!" panggil Tony pada saat melihat jelas sosok Steven.
"Hai, saudaraku Tony!" balas Steven seraya melambaikan tangan kanannya.
Tony dan Dicky mempercepat langkahnya untuk segera sampai dihadapan Panglima Steven.
"Pastinya ada sesuatu hal penting, sehingga kalian datang kemari!" Panglima Steven yang mencoba menebaknya.
"Memang benar ada hal penting yang ingin kami sampaikan pada yang mulia raja Ekin dan ratu Ayumi." ucap Tony sembari mengulas senyumnya.
"Oh, baiklah kalau begitu ikutlah dengan saya" ucap panglima Steven dan mereka melangkahkan kaki masuk ke dalam istana petir melewati halaman istana Petir.
"Iya, saya Dicky paman." jawab Dicky yang sejak tadi diam karena melihat kemegahan kerajaan petir setelah kepemimpinan Raja Ekin.
"Sudah besar rupanya, waktu sungguh tak terasa. Sepertinya baru kemarin aku berkompetisi sama Panglima Jacky, dan sekarang kami sama-sama menduduki posisi sebagai panglima. Walaupun tidak sama kerajaannya, paling tidak posisi kita sama-sama panglima. He..he..he...!" ucap panglima Steven yang mengingat masa lalunya.
"Roda memang terus berputar, tak mungkinkan kita terus berdiri di tempat yang sama!" ucap Tony yang terus melangkah.
"Iya, benar juga! he..he..!" balas panglima Steven yang terkekeh.
Tak berapa lama mereka telah sampai di aula kerajaan Petir.
"Kalian disini lebih dulu, biar aku menghadap yang mulia terlebih dahulu!" seru Panglima Steven pada saat mereka tiba di depan pintu aula istana Petir.
"Iya, lakukanlah tugas kamu panglima Steven!" balas Tony yang kemudian menghentikan langkahnya di depan pintu aula pertemuan bersama putranya Dicky.
Sementara Panglima Steven melangkahkan kakinya masuk ke dalam aula pertemuan dan menghadap Raja Ekin yang saat ini sedang berkumpul dengan para petinggi kerajaan.
Sementara Ratu Ayumi dan Ruby sedang berada di taman kerajaan yang sedang dalam tahap renovasi.
__ADS_1
"Ma'af yang mulia, hamba menghadap!" ucap laporan panglima Steven yang menghadap raja Ekin.
"Ada hal apa sehingga kamu menghadapku?" tanya Raja Ekin yang penasaran dengan kedatangan Panglima Steven.
"Ma'af yang mulia, di luar ada Saudara Tony dan putranya Dicky, Ingin menghadap yang mulia!" jawab panglima Ekin seraya menunduk hormat.
"Tony dan Dicky?" tanya Raja Ekin yang memegang dagunya.
"Benar yang mulia!" jawab Panglima Steven.
"Kalau begitu antarkan mereka ke taman kerajaan. Disana ada ratu dan juga putriku Ruby. Aku akan menyusul setelah urusan kerajaan selesai!" perintah raja Ekin dan panglima Steven menunduk hormat dan undur diri.
"Baik yang Mulia, hamba mohon diri!" ucap panglima Steven yang beberapa langkah berjalan mundur dan kemudian melangkahkan kaki menuju ke pintu keluar aula pertemuan dan menghampiri Tony dan juga Dicky.
"Bagaimana panglima Steven?" tanya Tony yang penasaran.
"Yang mulia meminta saya untuk mengantarkan anda berdua ke taman dimana Ratu Ayumi dan Putri Ruby berada saat ini." ucap panglima Steven.
"Baiklah! ayo kita ke taman sekarang" ucap Tony dan mendengar ada Ruby di taman kerajaan, Dicky pun bersemangat untuk melangkahkan kakinya menuju ke taman kerajaan.
Tak berapa lama mereka telah sampai di taman kerajaan Petir.
Nampak lah Ratu Ayumi yang mengajari putrinya Ruby alat musik kecapi dan di temani oleh para dayang istana kerajaan petir.
Panglima Steven, Tony dan Dicky berhenti agak jauh dari gazebo tempat Ratu Ayumi dan Putri Ruby berada.
Mereka tidak mau mengganggu mereka yang sedang latihan, dan sayup-sayup mereka mendengarkan melodi indah dari kecapi yang dipetik Ayumi dan Ruby.
Dicky memperhatikan Ruby dengan seksama, bertambahlah rasa kekagumannya pada gadis cantik Putri Raja Ekin dan Ratu Ayumi itu.
Sementara Ruby tak menyadari kedatangan pemuda yang menjadi kekasih hatinya, yang sedang mengawasinya saat ini.
...~¥~...
...Terima kasih untuk para Readers , terutama yang telah dukungan berupa like/komen/favorite/rate 5/gift maupun votenya pada novel SI OYEN PACARKU BUKAN MANUSIA ini....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan...
...Allah Subhana Wa Ta'alla...
...Aamiin Ya Robbal alaamiin...
__ADS_1
...Terima Kasih...
...BERSAMBUNG...