
Kirana dan Aaron saling pandang dan saling mengulas senyum mereka.
Tak berapa lama mereka telah sampai di tepi pantai pesisir Z.
"Kami akan tunggu kamu disini sembari kami menikmati indahnya pantai dan merdunya deburan ombak pantai Pesisir Z ini." ucap Kirana diantara semilirnya angin pantai pesisir Z.
"Iya, terima kasih untuk kalian berdua" ucap Adelia yang sembari mengulas senyumnya.
Adelia terus berjalan menyusuri bibir pantai pesisir Z untuk menuju ke teluk Athemoissa.
Dalam waktu kurang lebih setengah jam, Adelia telah sampai di tepi teluk Athemoissa.
Adelia menunggu lumayan lama, dan tiba-tiba langit mendung, dan hujan turun dengan lebatnya dan mengakibatkan laut pasang.
Ibunda dari Caterina itupun mencari tempat berteduh yang nyaman di sebuah batu karang yang membentu goa.
Cukup lama hujan turun dan Wallache tak nampak batang hidungnya, hal itu membuat Adelia cemas.
"Apa pangeran Wallache berbohong padaku ya?" kata tanya dalam hati Adelia yang mulai gelisah.
Ibunda dari Caterina itu mengingat kejadian diman dia pertama kali bertemu dengan Wallache.
Yaitu saat dimana dia, Kirana, Ruby, Dicky dan Tony yang berusaha untuk membantu membebaskan Ariel yaitu ibunda Wallache dan juga Wallache dari prajurit Hibrida luar dan juga para Siren.
Setelah itu mereka kembali untuk membebaskan para manusia yang di tahan oleh para Siren.
🗓️fashback on
Waktu itu Adelia dan Wallache yang menghadapi sisa-sisa prajurit Siren itu, dengan mudahnya mereka mengalahkan lawan mereka.
Wallache dengan trisulanya melawan dua prajurit Siren dan Adelia dengan menggunakan kekuatan sihirnya, juga melawan dua prajurit para Siren itu.
"Hop hiaaat...!"
"Trang..! Trang...! Trang..! Trang...!''
"Jleb..!" trisula Wallache mengenai perut prajurit para Siren itu.
"Aaaghh...!" suara erangan salah satu prajurit para Siren itu.
Kembali Wallache menyerang lawannya yang tinggal satu orang itu.
"Trang..! Trang...! Trang..! Trang...!''
"Jleb..!" trisula Wallache mengenai perut prajurit para Siren itu.
"Aaaghh...!" suara erangan salah satu prajurit para Siren itu. Dan kini habislah lawannya.
Sementara itu Adelia dengan sihirnya menghempaskan kedua prajurit itu dengan mudahnya dan keduanya terpental menjauh dari perkelahian itu.
"Bugh...! bugh...!"
"Aghh..!"
Para prajurit Sriren itu menghembuskan nafas mereka yang terakhir.
"Kau lumayan juga rupanya!" puji Wallache pada Adelia saat menghampiri Ibunda Caterina itu.
__ADS_1
"Kamu juga lumayan!" seru Adelia sembari mengulas senyumnya.
"Oiya, kita belum saling mengenal intens, aku pangeran Wallache dari kerajaan Blue Minch" ucap Wallache yang memperkenalkan dirinya.
"Aku Adelia, baru saja jadi janda dan punya anak satu." balas Adelia yang sedikit tak enak hati dengan statusnya saat ini.
"Janda punya anak satu? aku kira kamu masih gadis!" ucap Wallache seraya mengulas senyumnya.
"Apa kamu keberatan dengan statusku saat ini?" tanya Adelia yang penasaran.
"Kamu jandanya kenapa? maksud aku suami kamu menikah lagi atau.." tanya Wallache yang belum dia lanjutkan sudah dipotong oleh Adelia.
"Ditinggal mati, suamiku sudah meninggal beberapa hari yang lalu." jelas Adelia seraya menatap Wallahche seakan ingin tahu isi hati Wallache pada dirinya.
"Aku tak perduli dengan status janda kamu, yang terpenting kamu tidak ada yang memiliki selain putri kamu." ucap Wallache yang juga menatap Adelia dengan intens.
"Lantas bagaimana?" tanya Adelia yang meminta kepastian dan kejelasan dari Wallache.
"Sejak pandangan kita bertemu, ada rasa di dada ini yang tak menentu. Aku tak paham apa yang menimpaku, Yang aku inginkan kau selalu di hatiku." ucap Wallache yang saat ini posisi mereka di perairan dan Wallache memegang erat kedua tangan Adelia yang diletakkan di dadanya.
Keduanya saling menatap intens, semakin dekat dan semakin dekat.
Hampir saja kedua bibir mereka saling bertemu, tiba-tiba dari goa tahanan bermuncullah para tahanan yang berlarian keluar dan berkumpul di depan goa tahanan kerajaan Para Siren itu.
"Ah, sial!" umpat Wallache kesal dan Adelia mengulas senyum melihat Wallache mengumpat dan mengusap kepalanya dengan kasar.
Tak berapa lama, Ruby dan Dicky keluar dari goa tahanan itu.
"Kalian semuanya, ayo kita keluar dari tempat ini! Wallache dan tante Adelia beri petunjuk pada yang lainnya!" seru Dicky yang kemudian Adelia dan Wallache berjalan lebih dulu untuk memberi petunjuk jalan keluar dari kerajaan para Siren itu.
Karena mereka masih berpikir tak mungkin akan melewati perairan itu tanpa naik perahu atau pakai perlengkapan menyelam.
"Kalian sudah menelan mutiara air mata duyung, kalian menyelam saja. Kalian sudah bisa bernafas dalam air":jelas Ruby dan para tahanan yang kesemuanya laki-laki itu, mengerti dan mereka memberanikan diri untuk menyelam.
Dan semuanya menyelam dan meninggalkan kerajaan Siren yang sekarang ini sudah tak berpenghuni itu.
Dengan petunjuk Wallache dan Adelia mereka akhirnya sampai di tepi pantai pesisir.
Sesampainya di tepi pantai pesisir, mereka berkumpul terlebih dahulu.
"Adelia, apakah kamu bisa membuat para tahanan ini melupakan kejadian yang telah mereka lalui!" tanya Kirana dengan penasaran.
"Bisa, aku bisa lakukan itu!" jawab Adelia dengan semangat.
Kemudian Adelia mengambil kerang dan dengan kekuatannya dia membuat kerang itu menjadi bubuk dan kemudian dia memantrainya.
Bubuk kerang itu Adelia sebar diatas para tahanan itu secara berkeliling.
Tak berapa lama kesemuanya tertidur diatas pasir.
"Apa mereka tak apa-apa?" tanya Ruby yang penasaran.
"Tidak apa-apa satu jam lagi mereka akan tersadar.":Ucap Adelia.
"Karena semuanya sudah beres, sebaiknya kita cepat tinggalkan tempat ini!" seru Tony yang mengajak semuanya untuk segera kembali ke GuangZhou.
"Yang mulia Ratu Ariel , Wallache dan Asia, saya mewakili Dicky, Kirana, dan Adelia mohon pamit untuk kembali ke kota Ghuangzhou." ucap pamit Tony.
__ADS_1
"Aku ikut kalian boleh?" tanya Ruby yang secara tiba-tiba.
"Kamu, apa tidak segera pulang ke kerajaan petir?" tanya Kirana yang penasaran.
"Aduh bibi, sekalian kan mumpung bisa keluar dari istana petir. Tahu tidak kalau aku itu jenuh sekali jika berada di dalam istana setiap hari!" jawab Ruby sembari mengulas senyumnya.
"Ya sudah, tapi kami tak mau tanggung jawab jika ayahanda dan Ibunda kamu marah!" seru Kirana seraya membalas senyum Ruby.
"Iya-iya bi, beres! jangan khawatir!' ucap Ruby.
"Ya sudah, daaa semuanya!" ucap Kirana yang melambaikan tangannya diikuti adelia dan yang lainnya.
Ariel, Asia dan Wallache juga membalas lambaian tangan mereka.
"Adelia,..!" panggil Wallache pada Adelia.
Adelia yang hendak membalikkan tubuhnya, mendengar suara ada yang memanggil namanya.
"Pangeran Wallache kamu memanggilku?" tanya Adelia yang penasaran.
"Bisakah kita bertemu di teluk Athamoissa tepat bulan purnama besok?" tanya Wallache pada Adelia.
"Iya, bisa. Akan aku usahakan kita bisa bertemu nanti di bulan purnama" jawab Adelia yang memberi harapan pada Wallache.
"Baiklah, aku akan membantu ayahanda dan Ibunda untuk membenahi kerajaan Blue Minch yang telah lama di tinggalkan oleh ayah dan bunda pada saat kerajaan di kuasai oleh Creepy dan Merfolk." jelas Wallache dan Adelia mengerti maksud dari Wallache.
Setelah berpamitan, mereka segera meninggalkan pantai pesisir Z.
Kirana dan Adelia melangkahkan kaki menuju ke mobil yang mereka titipkan pada saat berangkat tadi pagi.
"Ayah, ikut sama Tante Kirana ya. Dicky mau jalan berdua dengan Ruby'' ucap di saat melangkahkan kaki menuju ke tempat parkir mobil mereka.
"Ouw rupanya kalian mau Quality time berdua ya!" goda Tony sambli tersenyum.
"Iya, begitulah yah. Usaha buat cari menantu buat ayah dan ibu. He..he...!" bisik Dicky sambil tersenyum.
"Baik, ayah mau tunggu Tante Kirana lewat. Kalian naiklah ke mobil!" ucap Tony.
"Iya Ayah!" balas Dicky dan Ruby yang
Dua mobil itu berjalan dengan kecepatan sedang menuju ke arah kota GhuangZhou.
Sementara itu Ariel, Wallache dan Asia melanjtkan perjalanan mereka menuju ke kerajaan Blue Minch melalui teluk Athamoissa.
...~¥~...
...Terima kasih untuk para Readers , terutama yang telah dukungan berupa like/komen/favorite/rate 5/gift maupun votenya pada novel SI OYEN PACARKU BUKAN MANUSIA ini....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan...
...Allah Subhana Wa Ta'alla...
...Aamiin Ya Robbal alaamiin...
...Terima Kasih...
...BERSAMBUNG...
__ADS_1