Si Oyen Pacarku Bukan Manusia

Si Oyen Pacarku Bukan Manusia
Si Kunti (Penampakan Si Kunti)


__ADS_3

"Mungkin saja sosok  kuntilanak  merah tersebut, terganggu karena suara musik yang kamu putar pada malam hari" tebak Kiaro.


"Aku juga berpikiran begitu!" seru si kakek yang juga mendengarkan cerita David.


"Hei, kalian mau tetap disini atau melanjutkan perjalanan kalian! lihatlah hari sudah beranjak malam!" seru pemilik warung makan yang sudah berberes-beres karena hendak menutup lapaknya.


"Iya, kami akan kembali melanjutkan perjalanan kami!" seru David yang kemudian bangkit dari duduknya.


Diikuti dengan si kakek, dan yang lainnya. Sedangkan Aaron membayar makanan dan minuman dia, Kiaro, Caterina dan juga Ricky.


Tiba-tiba saja mereka mencium sesuatu yang aneh dan berbeda-beda.


"Apa kalian mencium bau darah?" tanya David yang menggosok-gosok hidungnya dengan jari telunjuk tangan kanannya.


"Iya aku juga mencium bau darah!" jawab Ricky yang juga menggosok-gosok hidungnya dengan jari telunjuk tangan kanannya.


"Caterina tidak mencium apa-apa." kata Caterina yang merasa aneh dengan apa yang dikatakan Ricky dan David.


"Ayah mencium bau wangi bunga Kamboja, kamu mencium baunya tidak?" tanya Aaron pada putranya Kiaro.


"Kiaro juga mencium wangi bunga Kamboja. Kakek dan pemilik warung makan, apa kalian merasakan hal yang sama pada kami?" tanya Kiaro yang penasaran.


"Kakek tak mencium apa-apa, hanya semilir angin yang membuat bulu kuduk kakek berdiri" jawab Si Kakeh.


"Aku juga tak merasakan apapun!" ucap si pemilik warung makan.


Tiba-tiba terdengar suara tawa yang melengking.


"Hi...hi...hi...hi....!"


"Apa itu!" seru Caterina yang kemudian memeluk lengan Kiaro.


Suara tawa itu semakin lama semakin mendekat, dan terdengar seperti ada suara kepakan sayap burung yang terbang diatas mereka.


"Hi...hi...hi...hi....!"


Suara tawa itu kembali terdengar melengking dan tiba-tiba muncul di hadapan mereka sesosok wanita berbaju merah dengan rambut panjang yang tergerai ke depan.


"I..itu Si..si Kun..Kunti...!" seru David dan Ricky yang bersamaan.


"Hem, mau kemana lagi kau bocah! ha..haa...ha....!" seru si Kunti dengan tawa khasnya.


Ricky, David, si Kakek dan pemilik warung makan dengan seketika bersembunyi di belakang Aaron yang berdiri sejajar dengan Kiaro dan Caterina.


"Siapa kamu, dan mau apa kamu disini!" seru Aaron yang tak merasa gentar.

__ADS_1


"Aku mau dia!" seru si Kunti yang tiba-tiba tangannya memanjang dan mengarah pada David.


"Meow...!" tiba-tiba saja Caterina berubah menjadi Caty.


Dan seketika tangan si Kunti kembali memendek dan tiba-tiba dia menghilang.


"Apa! dia pergi begitu saja?' tanya Aaron yang penasaran.


"Iya yah, setelah lihat Caterina jadi Caty!" jawab Kiaro yang sudah menggendong Caty.


"Jadi benar dia takut kucing?":tanya Aaron yang penasaran.


"Eh, kenapa gadis cantik tadi berubah menjadi Kucing?" tanya Si Kakek yang penasaran.


"Apakah kucing ini siluman?" tanya David yang penasaran.


"Kucing ini memang manusia setengah kucing, karena ayahnya pangeran kucing dan ibunya manusia" jawab Kiaro sembari membelai si Caty.


"David dan Ricky, aku mau tanya. Apa kalian punya masa lalu, misalnya pernah menyakiti hati seseorang. Apalagi menyakiti hati perempuan?" tanya Aaron dengan penasaran.


"Aku tidak ingat, tapi sepertinya tidak pernah!" jawab Ricky yang masih mencoba mengingat kembali masa lalunya.


Demikian pula dengan David yang juga merasa tak pernah menyakiti seseorang.


"Hm, sepertinya mereka mengatakan yang sebenarnya." gumam dalam hati Aaron.


"Kakek dan pemilik warung makan, silahkan kalian pulang ke tempat kalian masing-masing.David dan Ricky tetap ikut dengan kami!" seru Aaron dengan tegas.


"Ikut dengan kalian? kemana?" tanya David yang gemetaran.


"Ke desa Lawers!" jawab Kiaro dan Aaron secara bersamaan.


"Apa desa Lawers? ti..tidak, aku tidak mau kembali kesana!" seru David yang wajahnya berubah menjadi pucat pasi.


"Jangan khawatir, ada kami yang akan melindungi kamu!" ucap Kiaro yang yakin bisa menghadapi Si Kunti.


"Ta...tapi...!" ucap David yang gemetaran.


"Sudah, aku yang memanggil mereka untuk melawan Si Kunti. Aku yakin mereka bisa mengatasinya!" ucap Ricky yang akhirnya membuat David melemah dan mau mengikuti ajakan Aaron untuk masuk ke desa Lawers,


Setelah berpamitan dengan si kakek dan si pemilik warung, ke empat laki-laki dan seekor kucing tiga warna itu kemudian masuk ke dalam mobil.


Posisi mereka Aaron sebagai pengemudi, Kiaro yang memangku Caty duduk di samping Aaron.


Sedangkan David duduk tepat di belakang Kiaro dan Ricky duduk di belakang Aaron yang sedang mengemudi itu.

__ADS_1


Mobil sport itu melaju dengan kecepatan sedang masuk ke kawasan desa Lawers,


"Tuan Aaron, kenapa anda yakin kalau aku pernah menyakiti seseorang?" tanya Ricky yang penasaran.


"Karena yang mencium bau darah hanya kalian berdua. Aku yakin kalau kalian ada sangkut pautnya dengan si Kunti. Apa lagi keluarga kamu Ricky, yang kata kamu hampir semua tewas dibantai oleh si Kunti itu!" jelas Aaron.


"Iya, aku tak mengerti kenapa hanya keluarga aku yang dia bantai dan dia memburuku!" ucap Ricky yang penasaran.


"Dan dia juga memburuku dan teman-temanku, aku tak mengerti. Memangnya apa salah aku?" tanya David yang belum tentu tahu jawabannya.


Semuanya pun terdiam, terbuai dalam pikiran masibg-masing.


"Dulu, aku dengar cerita tentang Kuntilanak itu dari teman aku. Sempat aku tak percaya, tapi kali ini aku alami sendiri." ucap David uang mengusap wajahnya secara kasar.


"Coba kamu ceritakan!" ucap Kiaro seraya mengusap-usap tubuh Caty yang membuat kucing itu tidur manja dipangkuan Kiaro.


"Kejadian ini dialami oleh seorang temanku yang suka berpetualangan, bernama Andika. Suatu hari Andika bersama teman-temannya merencanakan untuk touring ke rumah temannya di daerah Cilo." cerita David .


"Singkat cerita mereka pun berangkat menuju ke lokasi pada pagi sekira pukul 09.00. Pukul 12.00 mereka sampai dan memutuskan untuk istirahat dan makan."


“Di sana kita cuma main-main aja sampe petang hari, kita semua pamit pulang. Di sini bagian ngerinya, mereka memutuskan untuk lewat jalan yang berbeda dengan jalan waktu mereka datang. Apesnya, jalan pulang yang mereka lewati waktu itu adalah jalan bekas longsor." masih Cerita David.


"Jalan tersebut gelap gulita karena tidak ada sama sekali lampu yang menerangi. Hanya lampu kendaraan saja yang jadi satu-satunya sumber penerangan jalan yang ada"


"Berhubung jalan tersebut bekas longsor, Andika dan kawan-kawan harus ekstra hati-hati, pasalnya bagian kiri jalan (posisi motor di kanan jalan) itu jurang. Sementara di sebelah kanan mereka kebun."


"Andika mulai merasakan perasaan tidak enak dari awal masuk ke jalan tersebut. Tak hanya harus hati-hati, ia juga merasakan hawa tidak enak yang membuat bulu kuduknya berdiri. Setelah melewati jalan bekas longsor tadi, mereka harus melewati jalan yang dikelilingi oleh perkebunan."


“Gelap, sepi plus dingin. Andika sendiri sebenernya males buat nengok ke kiri sama kek kanan. Tapi entah kenapa dia iseng nengok deh ke kanan, dan dia melihat si Kunti ngintip dari balik pepohonan. Awalnya sih Andika pikir dia salah liat. Andika coba nengok lagi… Gak ada. Tapi, pas ke arah sebaliknya ada".


"Namun saat itu Andika masih merasa bahwa ia salah lihat. Seketika berdoa menurut kepercayaannya." ucap David dan semua menyimaknya.


...~¥~...


...Terima kasih untuk para Readers , terutama yang telah dukungan berupa like/komen/favorite/rate 5/gift maupun votenya pada novel SI OYEN PACARKU BUKAN MANUSIA ini....


...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan...


...Allah Subhana Wa Ta'alla...


...Aamiin Ya Robbal alaamiin...


...Terima Kasih...


...BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2