
Setelah selesai, Adelia segera menaburkan bubuk kerang itu ke bagian tubuh Ariel yang terluka.
Dan dalam sekejap luka-luka Ariel lenyap tak berbekas dan Adelia melakukan hal yang sama dengan Wallache dan Asia.
"Terima kasih bibi Adelia, kami sudah sehat dan pulih seperti sedia kala!" ucap Wallache dengan mengulas senyumnya.
Demikian juga dengan Asia dan Ariel yang mengungkapkan perasaan bahagia mereka.
Wallache segera menghampiri Ruby, ingin menyapa sahabat masa kecinya itu.
"Ruby, apa kabarnya?" tanya Wallache seraya tersenyum menatap Ruby.
"Wallache, Aku baik-baik saja. Kalau saja Asia tidak menelepati, aku mungkin tak akan tahu kabar kamu yang seperti ini" ucap Ruby yang mendekati Wallache dan kemudian memberikan pelukan sebagai sahabat.
"Gadis itu bukankah putrinya Ekin?" tanya Tony yang penasaran pada Kirana.
"Benar, dia adalah putrinya Ekin dan Ayumi!" jawab Kirana sambil mengulas senyumnya.
Namun berbeda dengan Adelia, dia sedikit cemburu , namun tetap dia simpan sendiri untuk saat ini.
"Aku tadi sempat lihat, kalau gadis bernama Ruby yang merupakan putri dari paman Ekin ini sangat cerdas dan tangguh. Apakah dia dengan Wallache ada perasaan ya?" tanya dalam hati Dicky yang penasaran.
"Wallache, Ibunda dan adikmu Asia akan kembali ke kerajaan Blue Minch, Apakah kamu mau ikut bersama kami?" tanya Ariel pada putranya.
"Ibunda, Wallache masih ingat kalau ada manusia yang masih ditahan di kerajaan Para Siren. Wallache mau membebaskan mereka terlebih dahulu!" jawab Wallache.
"Kalau itu mau kamu, kamu harus hati-hati. Jangan-jangan masih ada Siren yang masih hidup" ucap Ariel yang khawatir.
"Jangan khawatir saudariku, saya akan temani Wallache membebaskan para tahanan itu!" ucap Adelia yang penuh semangat.
Aku mau ikut, siapa tahu aku bisa bantu-bantu disana nanti!' seru Ruby dengan semangat.
"Tapi..!" ucap Adelia yang sebetulnya tak ingin adanya Ruby dalam misi dia dan Wallache ini.
"Aku juga ikut, aku khawatir dengan kesehatan dan keselamatan kalian!" ucap Dicky sembari menatap ke arah Wallache, Adelia dan Ruby satu persatu.
"Baiklah kalau itu mau kalian, Ibunda dan Asia akan tunggu kalian di teluk Athemoissa sambil membersihkan tempat ini bersama Saudari Kirana dan Saudara Tony. Benar bukan?" tanya Ariel seraya menatap ke arah Kirana dan Tony secara bergantian.
"Iya, kami setuju yang mulia Ratu Ariel. Lagi pula, aku juga ingin tahu, apakah mereka bisa menyelesaikan misi ini" balas Kirana sembari menatap tiga orang dan satu putra duyung itu.
"Dicky, kamu yang kondisi tubuh yang paling prima saat ini, jaga mereka! jangan sampai kalian tertangkap ataupun terluka!" pesan Tony pada Putranya Dicky.
"Beres ayah, percayakan pada putramu ini!" balas Dicky sembari mengulas senyumnya.
"Baik, ayah percaya padamu!" ucap Tony sembari menepuk pundak putranya.
"Semuanya, kami pamit!" ucap Dicky, Wallache, Adelia dan juga Ruby yang kemudian Adelia, Ruby dan Dicky menelan mutiara air mata duyung yang tersimpan di cincin bermata biru milik Ruby.
Ketiga anak manusia itu tak memakai ekor duyung, mereka menyelam tetap menjadi manusia.
Ini untuk memudahkan mereka untuk bergerak cepat dalam menyelam dan menghajar lawan, jika mereka bertemu dengan lawan mereka.
Wallache menggandeng tangan Adelia, hal itu sangat dia inginkan sedari tadi.
Dan tanpa Wallache dan Adelia ketahui, di belakang mereka Ruby melihatnya dengan sedikit rasa kecewa.
__ADS_1
"Jangan khawatir, aku akan menggandeng kamu!" celetuk Dicky yang langsung saja menggandeng tangan Ruby dan menyempatkan mengulas senyumnya.
Ruby pun membalas senyuman Dicky dengan senyumannya juga.
Ke empatnya menyelam kembali menuju ke kerajaan para Siren.
Kerajaan Siren yang berada di karang-karang di dasar tepian pantai sebelah selatan dari kerajaan Blue Minch.
"Apakah masih jauh letak kerajaan Para Siren itu?" tanya Dicky pada Ruby untuk membuat suasana yang hening kembali bersemangat.
"Tidak itu di balik karang itu adalah kerajaan Siren!" seru Ruby sembari menunjuk ke arah batu karang yang membentuk goa di sekitar tempat itu
"Kita kesananya pelan-pelan saja, dan jangan sampai kita tertangkap!" seru Adelia.
"Iya, aku setuju!" seru Wallache yang kemudian mereka menyelam mendekati pagar kerajaan para Siren itu.
Dan mereka kemudian dengan mengendap-endap masuk ke kerajaan Siren itu.
Di istana Para Siren pada saat ini sedang dalam keadaan sepi karena sebagian dari mereka sedang melakukan pengejaran pada tahanannya dan yang membebaskan tahanan mereka.
Dari kejauhan mereka melihat ada sebuah ruangan goa yang tertutup dengan batu dekat tempat dimana Wallache kemarin.
"Itu tempat mereka mengurung para manusia yang dipilih Asia!' seru Wallache kakak Asia itu seraya menunjuk ke arah goa yang tertutup pintu batu itu.
"Ayo sebaiknya percepat langkah kita!" seru Adelia yang kemudian naik ke permukaan air di depan goa dan diikuti Ruby dan Dicky.
Ketika mereka hendak menghampiri Goa itu, datang empat prajurit kerajaan Siren yang masih ada beberapa prajurit Siren menghadang mereka.
"Siapa kalian!" seru prajurit itu.
Ke empat prajurit itu sempat membuat Dicky, Wallache, Adelia dan Ruby mundur beberapa langkah karena terkejut tak menyangka kalau masih adanya
"Wallache dan Adelia, kalian hadang mereka. Sedangkan aku dan Ruby akan melepaskan para tahanan!" saran Dicky yang dengan cepat menggandeng tangan Ruby untuk menuju ke tempat tahanan tujuan mereka.
"Hei, padahal aku tadi mau bilang begitu!" seru Ruby yang sedikit kesal dengan memonyongkan mulutnya.
Dicky nampak gemas melihat Ruby yang kesal seperti itu.
"Jadi aku yang lebih cerdas bukan?" goda Dicky sembari mengulas senyumnya.
"Apa'an, aku tak terima, aku yang lebih cerdas!" seru Ruby yang tak mau ada yang melebihi kecerdasannya.
"Baik, ayo kita lihat siapa yang lebih cerdas!" seru Dicky yang saat ini mereka sudah berada di depan pintu tahanan itu.
"Baiklah, aku mau lihat bagaimana cara kamu membuka pintu batu itu?" tanya Ruby yang penasaran dengan aksi Dicky.
"Gampang, tinggal geser, dan pastilah terbuka!" ucap Dicky yang yakin bisa menggeser pintu batu itu.
"Aaaghh..! ternyata sulit juga" ucap Dicky yang geram karena sudah bersusah payah tak bisa menggeser pintu batu itu.
Gadis putri Raja Ekin dan Ayumi itu melangkahkan kaki menghampiri Dicky yang tampak masih sangat kesal dengan pintu batu yang menempel di dinding, untuk menutupi sebuah goa itu.
"Tuan Dicky yang sok cerdas, perhatikan ya!" seru Ruby yang sudah berada di depan pintu batu itu.
"Oh ya? jadi penasaran!" seru Dicky yang melihat semua gerakan Ruby dengan seksama.
__ADS_1
Ruby kemudian meletakkan tangannya di sela-sela pintu batu itu.
Dan Ruby menarik batu itu ke arahnya dan tiba-tiba terdengar bunyi suara benda berat jatuh ke bumi.
"Bumm...!"
Pintu itu terbuka dengan sendirinya.
"Lihatlah! aku cerdas bukan?" tanya Ruby yang sebetul hanya menggoda laki-laki yang ada di sampingnya saat ini.
"Ok aku akui kalau kamu lumayan juga!" jawab Dicky yang kemudian melangkahkan kaki masuk ke dalam goa dan memeriksa keadaan di dalam Goa.
"Nah gitu donk!" seru Ruby yang juga mengikuti langkah Dicky dan tak berapa lama, mereka telah sampai di tengah-tengah tahanan yang di ikat seperti Wallache sebelumnya.
"Aku akan membebaskan mereka, kamu suapi mereka dengan mutiara air mata duyung seperti aku tadi!" seru Dicky yang mulai bereaksi.
"Hei, benar juga apa katanya! mereka harus menelan mutiara airmata duyung ini supaya bisa menyelam dan kembali ke pantai di pesisir Z" gumam dalam hati Ruby yang kemudian menyuapi satu persatu para tahanan itu dengan mutiara air mata duyung yang dia simpan di cincin bermata birunya.
Setelah selesai, Ruby membantu Dicky membuka ikatan para tahanan itu.
"Bagi yang sudah bebas, kalian cepatlah keluar dari tempat ini!" Seru Dicky dan mereka yang mendengarkannya segera meninggalkan tempat tahanan itu.
Sementara itu Adelia dan Wallache yang menghadapi sisa-sisa prajurit Siren itu, dengan mudahnya mereka mengalahkan lawan mereka.
Wallache dengan trisulanya melawan dua prajurit Siren dan Adelia dengan menggunakan kekuatan sihirnya, juga melawan dua prajurit para Siren itu.
"Hop hiaaat...!"
"Trang..! Trang...! Trang..! Trang...!''
"Jleb..!" trisula Wallache mengenai perut prajurit para Siren itu.
"Aaaghh...!" suara erangan salah satu prajurit para Siren itu.
Kembali Wallache menyerang lawannya yang tinggal satu orang itu.
"Trang..! Trang...! Trang..! Trang...!''
"Jleb..!" trisula Wallache mengenai perut prajurit para Siren itu.
"Aaaghh...!" suara erangan salah satu prajurit para Siren itu. Dan kini habislah lawannya.
🗓️Flashback off.
"Dan setelah membebaskan para tahanan itu, kami kembali ke pantai pesisir Z" lanjut ucap Ruby.
...~¥~...
...Terima kasih untuk para Readers , terutama yang telah dukungan berupa like/komen/favorite/rate 5/gift maupun votenya pada novel SI OYEN PACARKU BUKAN MANUSIA ini....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan...
...Allah Subhana Wa Ta'alla...
...Aamiin Ya Robbal alaamiin...
__ADS_1
...Terima Kasih...
...BERSAMBUNG...