
"Apa maumu Teivel?" tanya Andy yang keluar dari pagar gaib buatannya dengan istrinya.
"Aku tak ada urusan denganmu Panglima pensiun!" jawab sekaligus seru Teivel.
"Kalau tak ada urusan denganku, kamu mau berurusan dengan Siapa?" tanya Andy dengan tangan yang bersedekap di depan perutnya.
"Aku mau berurusan dengan gadis yang melukai Ginna!" seru Teivel geram.
"Yang kamu maksud itu adalah calon menantuku! Dan aku pun tak mengijinkan siapa pun melukai calon menantuku!" seru Andy yang mengubah posisinya menjadi posisi siap.
"Kalian memang harus aku habisi!" seru Teivel yang bersiap dengan serangan petirnya.
"Clashh.....! boummm...!"
"Clashh.....! boummm...!"
"Clashh.....! boummm...!"
"Clashh.....! boummm...!"
Adu jurus antara serangan petir dan bola-bola cahaya pun terjadi.
"Clashh.....! boummm...!"
"Clashh.....! boummm...!"
"Clashh.....! boummm...!"
"Clashh.....! boummm...!"
"Kurang ajar! jurus-jurus panglima pensiun ini memang lumayan juga!" gumam Teivel dalam hati.
Tak berapa lama Teivel merubah petirnya menjadi sebuah pedang yang di sebut pedang petir.
"Pedang Cahaya..!"
Dan Andy mengeluarkan pedang cahayanya.
"Trang...! Trang...! Trang..! Trang .!"
"Trang...! Trang...! Trang..! Trang .!"
"Trang...! Trang...! Trang..! Trang .!"
"Trang...! Trang...! Trang..! Trang .!"
Pedang cahaya dan pedang petir itu pun beradu dengan mengeluarkan dencingan suara yang sangat khas.
"Bugh..!"
"Aghh..!"
"Menyerahlah Teivel!" seru Andy saat berhasil mendorong Teivel mundur beberapa langkah.
"Sayang sekali, belum aku pikirkan!" seru Teivel yang kembali melawan Andy.
Ayah Aaron itu pun meladeninya dengan segala kemampuannya.
Kembali bunyi melodi suara kedua pedang itu yang saling beradu.
"Trang...! Trang...! Trang..! Trang .!"
"Trang...! Trang...! Trang..! Trang .!"
__ADS_1
"Trang...! Trang...! Trang..! Trang .!"
"Trang...! Trang...! Trang..! Trang .!"
"Bugh...! aaargh...!"
Kembali Teivel terdorong mundur ke belakang.
"Ah sial! lebih baik aku pergi dari sini!" seru Teivel yang tak berapa lama berubah menjadi asap hitam dan menghilang.
"Hei, main kabur saja si Teivel itu!" seru Andy yang kemudian menyimpan kembali pedang cahayanya.
Andy melangkahkan kakinya kembali ke Kios Bunga Rose.
"Bagaimana suamiku?" tanya Bocan saat melihat suaminya yang masuk ke dalam kios bunga rose.
"Dia kabur!" jawab Andy yang kemudian duduk diatas Sofa dan dia memikirkan sesuatu.
"Apa yang ayah pikirkan?" tanya Kirana penasaran.
"Teivel itu seharusnya tingkat beladirinya setingkat dengan ayah, tapi kenapa dia beberapa kali terkena pukulan ayah ya? Dan sekarang dia kabur!" ucap Andy yang penasaran.
"Kok bisa begitu ya?" tanya Maggie yang ikut penasaran.
"Sepertinya aku tahu apa yang dialami si Teivel itu." kata Bocan yang duduk di samping Andy.
"Katakanlah istriku, suamimu ini sangat penasaran!" ucap Andy yang jujur.
"Aku pernah dengar dari Ratu Flower, bahwa kelemahan dari anggota kerajaan petir itu di bumi. Yang artinya, semakin lama mereka di bumi, maka tenaga mereka akan terkuras oleh medan maghnet bumi." jelas Bocan dan semuanya terpaku dan menganggukan kepala mereka.
"Kalau begitu kita buat dia di bumi selamanya saja!" ucap Kelly yang sedari tadi diam saja.
"Iya, tapi caranya bagaimana?" tanya Maggie yang mengusap kepala adik tirinya itu.
Ketiganya masuk ke ruangan Bocan, Kelly tidur bersama Maggie di tempat tidur, sedangkan Kirana tidur di sofa.
Sedangkan Andy dan Bocan duduk bersila, mereka bersemedi untuk keamanan kios yang mereka tinggali itu.
...****...
Kisah antara Ginna dan Teivel terjalin saat Ginna yang kehilangan kedua orang tuanya.
Ginna pergi meninggalkan istana Siluman dalam wujud ular kobra.
Terus berjalan tanpa tentu arah, hingga suatu ketika diatas sebuah bukit.
Ular kobra itu berhenti dibawah sebuah pohon yang rindang.
Kemudian dia merubah wujudnya menjadi seorang gadis cantik yaitu Ginna.
Rambutnya yang terurai dengan memakai pakaian ala India yang berwarna merah merona.
Wajahnya begitu sendu dan kedua matanya tak henti-hentinya mengeluarkan air mata.
"Ibu....ayah..!" Isak tangis Ginna yang terus menjadi-jadi.
"Kalian semuanya jahat, akan aku ingat selalu wajah kalian!" racau Ginna.
"Jederr.....! jedderr...!!"
Tiba-tiba langit menjadi mendung dan petir menyambar-nyambar.
"Bless....! blesss...! blesss.,!"
__ADS_1
Hujan pun turun dengan lebatnya, namun Ginna masih tak bergeming dari tempatnya.
Dibiarkannya tubuh indahnya itu basah terkena air hujan yang turun begitu derasnya.
Tiba-tiba muncul kilatan di belakang pohon dimana Ginna berada.
Setelah kilatan itu, muncullah asap hitam yang kemudian membentuk siluet seorang laki-laki yang gagah dan lumayan tampan yang tak lain dia adalah Teivel yang di tugaskan membuat petir di saat sebelum dan sesudah hujan.
"Ada apa dengan gadis itu? sedari tadi aku lihat dia menangis. Dan wajahnya begitu sembab?" tanya dalam hati Teivel.
Kemudian Teivel memberanikan dirinya mendekati Ginna.
"Nona, kenapa kamu menangis tiada henti?" tanya Teivel saat menghampiri Ginna.
"Si..siapa kau?" Ginna yang balik bertanya.
"Aku prajurit dari kerajaan petir, aku lihat sedari tadi kamu menangis, kalau boleh aku tahu apa yang terjadi pada pada dirimu?" tanya Teivel yang menyeka air mata Ginna.
"Kedua orang tuaku tewas di depan kedua mataku!" jawab Ginna yang kembali menangis.
"Apakah mereka di bunuh?" tanya Teivel yang penasaran.
"Iya, mereka telah dibunuh. Walaupun aku tak tahu nama-nama pembunuh kedua orang tuaku, tapi aku ingat dengan jelas wajah-wajah mereka!" jawab Ginna yang ada di hadapannya kini bayangan para pembunuh kedua orang tuanya.
"Apa kamu mau balas dendam sama mereka?" tanya Teivel seraya memegang dan mengangkat dagu Ginna.
"Iya, tapi bagaimana caranya?" jawab sekaligus tanya Ginna seraya menyeka air matanya.
"Aku akan bantu kamu, asalkan kita selalu bersama. Apa kamu mau bersama denganku selama-lamanya?" Teivel yang menjawab sekaligus bertanya.
"Ginna mau kak!" jawab Ginna yang menatap Teivel dalam-dalam dan demikian pula Teivel yang menatap Ginna dengan penuh cinta.
"Jadi nama kamu Ginna ya! nama yang cantik, seperti pemiliknya" ucap Teivel seraya mengulas senyumnya.
Ginna tersipu malu jadinya, Gadis itu juga tak bisa membohongi dirinya kalau dia ada rasa dengan lelaki di depannya.
"Jangan bersedih lagi, mulai sekarang ada aku yang selalu menjaga dan melindungimu!" ucap Teivel yang kemudian memeluk Ginna.
Dan Ginna pasrah dirinya tenggelam dalam pelukan laki-laki yang bernama Teivel itu.
"Terima kasih kak, Ginna merasa aman dan nyaman sekarang" ucap Ginna yang mempererat pelukannya.
Dan sejak itulah Ginna dan Teivel selalu bersama.
Demi Ginna Teivel melupakan tugasnya di kerajaan petir.
Sementara ginna selalu menuruti semua kemauan Teivel.
...~¥~...
...Terima kasih untuk para Readers semuanya, terutama yang telah memberikan dukungan berupa like/komen/favorite/rate 5/gift maupun votenya pada novel SI OYEN PACARKU BUKAN MANUSIA ini....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan...
...Allah Subhana Wa Ta'alla.....
...Aamiin Ya Robbal alaamiin...
...Terima Kasih...
...BERSAMBUNG...
"
__ADS_1