Si Oyen Pacarku Bukan Manusia

Si Oyen Pacarku Bukan Manusia
Black Shadow di tubuh LucIfer dan Tewasnya Teivel


__ADS_3

Semua anggota kerajaan langit tersentak kaget, atas kedatangan salah satu sosok siluet dari kepulan asap itu.


"Black Shadow..!" seru Ekin geram.


"Semuanya hati-hati!" seru Bocan yang sangat khawatir akan kedatangan seteru kerajaan langit yang bernama Black Shadow itu.


"Tony jaga istrimu, Kirana dan yang lainnya!" seru Andy yang sudah dalam posisi siaga.


"Aku akan membantumu paman!" seru Tony yang tidak mau berdiam diri.


"Kamu itu pengantin baru Tony! jangan berperang dulu!" seru Bocan yang kini bersama Andy, Aaron dan Ekin dalam posisi siaga di depan yang lainnya.


"Lagi pula kami tak ingin membuatmu jadi anak durhaka! Dia kan Ayah kamu!" ucap Andy.


"Walaupun dia ayahku, kenapa tak ada rasa rindu di dadaku! yang ada hanya kebencian!" ucap dalam hati Tony.


Dua kepulan asap yang membentuk siluet dua orang laki-laki yang sangat di kenal oleh para merapat kerajaan langit, yaitu black Shadow dan Teivel.


Sementara itu Kirana seperti tak asing saat melihat wajah Black Shadow.


"Lucifer...!"


"Lucifer, siapa dia Kirana? "tanya Tony penasaran.


"Kakaknya Alexander, dia kakak ya Alexander!" seru Kirana seraya menunjuk ke arah Black Shadow.


"Jadi tubuh Black Shadow itu Lucifer!" seru Tony yang semakin penasaran.


"Kakaknya Alexander, Alexander si vampir itu kah?" tanya Maggie yang ikut penasaran.


"Iya" jawab singkat Kirana dengan rasa kekhawatirannya.


"Aku akan hadapi panglima pensiun dan istrinya, lainnya kalian! " seru Black Shadow dengan senyum sinisnya.


"Baik yang mulia!" seru Lucifer yang menghampiri Ginna dan membisikkan sesuatu.


"Ginna, kamu serang orang-orang di belakang empat orang itu! Mengerti maksudku kak?" perintah Teivel.


"Iya, aku mengerti!" ucap Ginna.


Dan perseteruan itu terjadi, Black shadow atau Lucifer melawan Andy dan Bocan.


Teivel melawan Aaron dan Ekin, sedangkan Ginna melawan Tony dan Kirana.


"Apa kabar panglima pensiun beserta Istri, Oh Rosa..!kamu masih saja cantik seperti dulu! he .he..!" ucap Black Shadow yang mencoba menggoda Bocan.


"Jangan coba-coba menggoda istriku black shadow!" seru Andy sedikit geram.


"Rayuanmu tak mempan untukku!" seru Rosa yang juga geram.


"Kalian tak bisa diajak bercanda ya, rasakan ini..!" seru black Shadow seraya merentangkan tangannya ke depan dan keluarlah sinar hitam di antara telapak kedua tangan black shadow.


"Buumm... buumm... buumm...!!"


Andy dan Rosa melompat untuk menghindar dan perlahan mereka menuju ke halaman samping rumah Nikholas.


Pada saat ada kesempatan, Andy menyerang balik Black shadow dengan bola-bola cahayanya dan demikian Rosa menggunakan serangan duri-duri mawarnya.


Adu jurus itupun berlangsung sangat seru dan belum ada yang terkena jurus lawannya.


Sementara itu Aaron dan Ekin yang melawan Teivel juga sama serunya.


Mereka berseteru di halaman belakang rumah Nikholas.


Teivel menggunakan serangan petirnya dan Aaron menggunakan serangan bola-bola cahayanya.

__ADS_1


"Slash..!"


"Boumm..!!"


"Jederr...!"


"Slash..!"


"Boumm..!!"


"Jederr...!"


Pertemuan serangan petir dan bola-bola cahaya yang begitu dahsyat, memunculkan bunyi yang menggelegar.


Beberapa jurus kemudian Aaron terpukul mundur dari pukulan petir Teivel , karena sebelumnya ternyata dia terluka parah saat terkena pukulan dari Black shadow.


"Bagh... bugh... Bagh.. bugh...!"


"Aaagh...!!" Aaron terdorong dan jatuh terduduk.


"Aaron, kau tak apa-apa?" tanya Ekin yang khawatir.


"Aghh, dadaku sesak!" jawab Aaron lirih.


"Apa kau mau seperti panglimamu hai putra selir!" seru Teivel dengan senyum sinisnya.


"Aku akan melumpuhkan mu!" seru Ekin yang bersiap dengan pedang cahayanya.


"Pedang cahaya!" seru Ekin dan muncullah pedang cahaya di tangannya.


"Pedang petir!" seru Teivel yang memanggil pedang petirnya.


"Trang... Trang.... Trang.... Trang..!!"


"Ini untuk Luna, hiaaat... jlebb!"


Pedang Cahaya bersarang tepat di perut Teivel, Ekin kemudian menarik kembali pedangnya, dia berputar kemudian pedang itu memisahkan kepala dari tubuhnya.


"Sreet...!"


Dan serangan terakhir Ekin, di keluarkannya jurus bola cahaya yang besar.


"Bouummm...!"


Bola cahaya itu menghantam tubuh Teivel yang sudah menjadi dua itu, kini tubuh itu jadi berkeping-keping dan menjadi abu yang akhirnya tertiup angin.


Ekin menancapkan pedangnya ke tanah dan Ekin duduk berlutut seraya memegang pedang cahayanya dan dia tertunduk.


Air matanya tak henti-hentinya mengalir, Ekin teringat dengan Luna kekasihnya.


"Luna, kematianmu telah terbalaskan. Kini tinggal gadis ular kobra itu! Luna...luna...!" racau Ekin sejadi-jadinya.


Aaron tak kuasa melihat sahabatnya yang meratapi kekasihnya itu.


"Ekin, sekarang kita lihat Kirana dan yang lainnya" ucap Aaron dan Ekin menganggukkan kepalanya.


Keduanya melangkahkan kaki kembali masuk ke rumah Nikholas di mana Kirana dan Tony sedang menghadapi Ginna.


Sementara itu di dalam rumah, Ginna dan Kirana saling berhadapan.


"Tony, biar aku yang melawan ular betina ini!" seru Kirana yang geram.


"Hati-hati dengan bisa racunnya!" seru Tony yang tetap dalam posisi siaga.


"Iya, aku tahu itu!" balas Kirana.

__ADS_1


"Rupanya kamu mau menyusul teman kamu ya, he..he..!" seru Ginna dengan tawa khasnya.


"Iya, tapi sebelumnya akan aku binasakan kamu!" seru Kirana yang beberapa detik kemudian mengeluarkan pedang Awan-nya.


"Pedang Awan...!"


Pedang Awan muncul dari dalam tubuh Kirana dan memancarkan sinar birunya yang menyilaukan mata Ginna yang bersinar memerah itu.


"Ah cahaya ini menyilaukan!" seru Ginna yang kemudian dia mencoba menyemprotkan bisa racunnya ke arah Kirana.


Dengan cepat pedang awan melindungi Kirana dengan gelembung yang sama fungsinya dengan pagar gaib yang di buat Tony.


Bisa racun itu berulang kali mengarah pada Kirana, namun berkali-kali pula terhalang oleh gelembung gaib dan racun itu jatuh ke bawah.


"Ah, sial! bisa racunku jadi terbuang sia-sia" gerutu Ginna geram.


"Ginna, jadilah orang baik. Aku tahu kamu itu pada dasarnya adalah orang baik. Jadilah orang baik Ginna!" kata Kirana mencoba menenangkan Ginna


"Cihh..! jangan mengguruiku. Kalian sendiri saja yang katanya orang baik, nyatanya tega menjadikanku yatim-piatu!" seru Ginna dengan geregetan.


"Itu karena ibu kamu telah jahat pada Raja sebelumnya!" seru Kirana yang bicara dengan nada tinggi.


"Aku tak percaya!" seru Ginna yang bersiap dengan laser merah dimatanya.


"Kakekmu siluman kura-kuralah yang juga mengatakannya dan beliau juga telah membunuh ibu kamu" jelas Kirana.


Dan Ginna mencoba mengingatnya.


📆Flashback on.


Ekin, nampaknya kita harus melawan satu orang satu siluman!" kata Aaron yang kemudian mengeluarkan pedang cahaya.


"Pedang cahaya...!!"


Dan Ekin pun mengikutinya.


"Pedang cahaya...!!"


Keduanya loncat kesana kemari, bersalto dan bahkan melemparkan diri untuk menghindari Patukan serta semburan dari siluman ular kobra raksasa itu.


"Pedang cahaya biru....!!" seru Aaron.


"Pedang cahaya kuning..!!" seru Ekin.


Keduanya menyerang secara bersamaan dengan cahaya pedang yang berkilauan.


"Hiaaat...!!"


"Seeet...! seeettt..,.!!"


Keduanya berhasil membabat siluman ular kobra raksasa itu menjadi tiga bagian.


...~¥~...


...Terima kasih untuk para Readers semuanya, terutama yang telah memberikan dukungan berupa like/komen/favorite/rate 5/gift maupun votenya pada novel SI OYEN PACARKU BUKAN MANUSIA ini....


...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan...


...Allah Subhana Wa Ta'alla.....


...Aamiin Ya Robbal alaamiin...


...Terima Kasih...


...BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2