SYSTEM KEKAYAAN BERKEDIP

SYSTEM KEKAYAAN BERKEDIP
System Kekayaab Berkedip - 105 Suku Kabaratan


__ADS_3

Ryuna mengidentifikasi semua kabaratan, ternyata mereka tidak mempan dengan semua senjata sampai tingkat berlian. Panah yang dilesatkan Ziva saja tidak mampu melukai mereka, belati ganda Rany juga tak mampu menggores sedikitpun kulit mereka.


"Rany! Ziva! Tingkatkan molekul senjata kalian ke tingkat yang lebih tinggi dari tingkat berlian. Senjata kalian itu di tingkat perak jadi tak mampu menggores ilmu kebal mereka. Aku pun tak paham tapi dari informasi yang diberikan oleh topeng ini, mereka menggunakan ajian batara kala tingkat berlian!" teriak Ryuna.


"Pantas saja, tidak mempan," gumam Yosep. "Baiklah bagaimana kalau ini, jurus angkusa sangkara!"


Yosep mengeluarkan siluet pedang berwarna hitam, energinya lebih keras dari berlian bahkan bisa membuat retak material sekeras vibranium. Yosep melesat dan menebas kepala salah satu kabaratan.


"Slash ...!" Kabaratan kepalanya terpenggal rapi dan darah langsung muncrat dari lehernya seperti air mancur. "Berhasil, mantap!"


Warga yang bersembunyi dari dalam rumah sedikit lega, setelah salah satu kabaratan bisa ditumbangkan. Sepertinya melihat Yosep berhasil menebas salah satu kabaratan ada solusi untuk melukai tubuh mereka yang selama ini tubuh mereka kebal terhadap jenis senjata apapun.


"Siapa mereka ya? Kenapa mereka memakai pakaian seperti robot? Atau jangan-jangan mereka memang dari masa depan," ujar warga Jangga yang berada di dalam rumahnya, mengintip dari balik gorden jendela.


Ziva mengatur ulang molekul senjatanya ke tahap material vibranium, "rasakan ini!" Ziva melepaskan anak panah yang terisi ulang sendiri, hanya perlu menarik busur panah, anak panah itu tepat mengenai tenggorokan 5 kabaratan sekaligus. Ziva sangat lihai memainkan panah, bidikannya tepat dan lesatan panahnya juga sangat cepat.


Rany melindungi Ziva, ia di depan menghalau kabaratan agar tidak mendekati Ziva. Ryuna kali ini mengeluarkan katana yang yang terbuat dari material adamantium, dan menebas badan kabaratan menjadi dua, gerakan Ryuna sangat cepat dalam sekali tebas ia berhasil membunuh 10 kabaratan.


Rany gerakanya juga sangat lincah dan lentur, melempar belatinya dengan sangat akurat, setiap lemparannya tepat mengenai jantung kabaratan. Setiap berhasil mengenai jantung mereka, Rany langsung melompat untuk menarik belati yang tertancap di dada mereka. Tak terasa mereka berempat berhasil membantai 99 kabaratan dan menyisakan pemimpin mereka.

__ADS_1


Wajahnya sangat garang, badannya lebih besar dari kabaratan yang lain tingginya hampir 2 meter dengan mulut dipenuhi darah dan masih mengunyah jantung warga yang dijadikan santapan oleh mereka. Dia tertawa jahat dengan sorot mata merah tajam, "Rany, segera hubungi polisi. Kalian bertiga menjauhlah! Mas merasa dia bukan orang yang sembarangan!" seru Yosep.


Mereka bertiga segera menyingkir ke tempat yang aman, Rany mencoba menghubungi polisi dan menceritakan kronologinya. Yosep membuka bajunya dan bertelanjang dada, baju Yosep sudah basah kuyup dengan darah kabaratan.


Yosep melesat dan langsung menghantamkan pukulan ke perut pemimpin kabaratan dengan tenaga otot super 20%.


"Bang ...!" pemimpin kabaratan tak bergeming dan membalas serangan Yosep dengan melancarkan pukulan, Yosep merunduk lalu memberikan tendangan memutar pada pelipis kanan pemimpin kabaratan.


"Bang ...!" pemimpin kabaratan terpental ke arah samping dan mengenai tiang listrik yang membuatnya bengkok.


Di dalam mobil Korps Brimob, "vin memangnya siapa tadi yang menelepon bu kanit?" tanya Jiran salah satu anggota polres Losarang.


"Ya tragedi tahun 2011 juga sama, bukan hanya warga tapi teman-teman kita dari Polri dan TNI jadi korban juga, kalau suku kabaratan itu berhasil di tumpas maka Indramayu tak akan lagi khawatir dengan mereka," imbuh Santo.


Sementara itu banyak media asing maupun lokal meliput tapi tak berani mendekat, banyaknya media hanya meliput dari helikopter. "Tragedi ini lagi," ujar Ibu Bupati Indramayu Rena Septiana sambil menepuk jidatnya sendiri, tatapan matanya kosong penuh kepasrahan.


"Bu! Menurut informasi dari polres Losarang, ada warga yang berhasil melumpuhkan suku kabaratan!" ujar Casmidi ajudan Bupati.


"Apa?!" teriak Bupati Rena dengan membulatkan mata. "Cepat cari siaran langsung yang menyorot warga itu!" titah Bupati Rena.

__ADS_1


Di tempat kejadian perkara, pemimpin suku Kabaratan bernama Bogementah, menyeka darah di mulutnya lalu bangkit dengan menyeringai jahat. Matanya penuh hawa pembunuh yang haus darah, yang dilihat dari mata Bogementah, Yosep seperti ayam sayur segar yang siap disantap.


Bogementah berlari cepat ke arah Yosep lalu melancarkan pukulan bertubi-tubi, Yosep berguling ke kanan dan ke kiri untuk menghindar. Pukulan Bogementah hanya mengenai dinding rumah penduduk dan membuatnya roboh, untung saja tidak ada satu pun penduduk yang berada di dalam rumah, semuanya sudah tunggang langgang.


Bogementah tak berhenti pada gerakan pukulan saja, dia melakukan gerakan menginjak-injak Yosep tapi lagi-lagi Yoseo menghindarinya dengan berguling. Yosep meluncur dan menendang bagian belakang lutut kanan dan kiri Bogementah hingga membuatnya berlutut pasrah serta dengan secepat kilat Yosep menusuk kedua mata Bogementah dengan kedua jari telunjuknya.


"Akh ....!" pekik Bogementah yang langsung menutup kedua matanya yang telah buta akibat pupil matanya dihancurkan oleh Yosep. Tubuh Bogementah perlahan menyusut, sedikit demi sedikit yang awalnya tinggi hampir 2 meter kini hanya 135 cm.


Yosep langsung mengeluarkan jurus rantai bajra Isvara dan mengikatkannya pada sekujur tubuh Bogementah, untuk menghisap energi yin (negatif) pada Bogementah.


"Terima kasih tuan pendekar telah menghilangkan kutukan batara kala pada kami semua, kami sudah hampir hidup 500 tahun sebagai manusia yang haus darah, sudah puluhan juta orang tak berdosa menjadi makanan kami. Sekarang kami siap menghadap padanya untuk mempertanggungjawabkan perbuatan kami," jelas Bogementah. "Penggalah kepala saya tuan pendekar!" pinta Bogementah.


Yosep menuruti permintaan Bogementah untuk memenggal kepalanya, Yosep menghunuskan siluet pedang angkusa sangkara ke leher Bogementah lalu menebasnya.


"Slash ...!" kepala Bogementah terpisah dari badannya, muncul kilauan sinar emas dari leher Bogementah, ada batu mustika putih transaparan bermotif kalajengking emas. Yosep langsung mengambil batu mustika itu dan meremasnya menjadi debu, Yosep mempunyai firasat batu mustika itu bukan hal yang baik jadi memutuskan untuk menghancurkannya.


Rombongan polisi pun datang, jalanan di penuhi oleh darah dan mayat yang bergelimpangan. Para Warga pun keluar dari rumah mereka dengan perasaan lega, "angkat tangan!" teriak salah satu anggota polisi dari polsek Terisi.


"Jangan!" sahut pak Wawan dari polsek Cikedung menepis pistol pak Revald. "Saya mengenalnya dia adalah mas Yosep, bukan bagian dari suku kabaratan."

__ADS_1


__ADS_2