
Kifli dan Yosep sudah pulang dari pasar terisi membeli daging sirloin 10 kg. Yosep sedang mengiris tipis-tipis dengan tipis 0.5 cm, tentu saja skill chefnya sangat membantu dalam mengidentifikasi daging mana yang lebih empuk untuk barbeque. Akhirnya Yosep memilih daging sapi bagian sirloin.
Yosep sudah membagi 5 kg untuk sirloin steak dan 5 kg untuk barbeque. Yosep juga anak-anak yang sedang bermain di lapangan olahraga untuk makan, para wanita yang menyiapkan tempatnya, Yosep yang membuat bumbu dan memanggangnya.
"Mas baunya harum sekali!" puji Rany.
"Ya mas aku malah ga sabar ingin mencicipinya!" imbuh Zahra.
"Ajarin aku donk mas memasak! Biar nanti setelah menikah aku bisa memasak untuk mas!" pinta Ziva.
Ryuna malah mengambil potong tipis dagibg sirloin yang sudah jadi dari tempat pemanggamgan, "ini baru mantap dan lembut, tak kendol-kendol ngeunah!" Ryuna menikmati sirloin barbeque dan sirloin steak.
Yosep yang melihatnya hanya menggeleng-gelengkan kepala, 40 anak dan 10 orang bapak termasuk ayah Kifli pak Usman, ikut mengantri untuk menikmati barbeque.
Yosep membakar daging sirloinnya di depan jalan, sambil membakar Yosep memperhatikan bakat-bakat anak dalak berolahraga. Sebagai seorang jenius yang sudah banyak mendapatkan banyak medali emas, Yosep ingin mengajari pengalamannya pada anak-anak. Meskipun medalinya sudah jadi abu, ikut terbakar dengan rumahnya yang dibakar oleh Udin suruhan juragan Sudrajat.
Yosep sudah selesai membakar semua irisan daging sirloin, dan menikmati barbeque serta sirloin steak. Yosep memanggil pak Usman ayah Kifli, "pak tolong kemari!" Yosep melambaikan tangan, pak Usman menghampiri Yosep.
"Ya mas Yosep ada apa?" tanya Usman dengan raut muka bingung.
"Pak, bapak mau kerja mengurusi semua lapangan ini dan mengelolanya? Jika bapak mau saya akan berikan vending machine di setiap sudut lapangan untuk bapak kelola sebagai modal. Tugas bapak hanya mengatur warga yang menggunakan secara gratis, tapi untuk peralatan olahraganya bapak bisa sewakan. Bagaimana pak?" tanya Yosep.
Usman mengelus dagunya cukup lama, Usman memang sedang tidak ada pekerjaan dan butuh biaya untuk Kifli sekolah. "Baiklah mas, saya terima. Saya juga lagi nganggur, hehehe. Tapi ...." Usman bingung mau mengutarakan maksudnya tentang Kifli yang mau di biayai sekolah oleh Yosep. Kifli tadi cerita pada Usman di lapangan, bahwa ia akan dibiayai semua sekolahnya oleh Yosep dan dipindahkan ke sekolah yang lenih bagus.
"Tapi apa pak? Masalah saya akan membiayai sekolah Kifli dan memindahkannya ke sekolah yang bagus?" tanya balik Yosep.
__ADS_1
"Ya mas," jawab singkat Usman.
"Bapak tidak usah khawatir, calon istri saya Rany sudah mengurusnya. Minggu depan Kifli sudah bisa sekolah di tempat sekolah yang baru," jelas Yosep.
"Terima kasih mas, terima kasih. Selama ini saya sudah bekerja keras untuk menyekolahkan Kifli namun Kifli selalu cerita ia sering dibuli oleh teman-temannya karena Kifli miskin, jadi Kifli males ke sekolah," balas Usman.
"Tenang saja pak, mulai esok hari tidak ada lagi yang bisa membuli Kifli lagi! Saya yang menjamin!" ucap Yosep dengan nada yang meninggi.
***
Keesokan paginya.
Yosep seperti biasa bangun pagi dan melakukan aktifitas paginya, karena rumah Yosep berada di depan masjid, Yosep diminta takmir masjid untuk mengimami shalat subuh.
Setelah shalat shubuh Yosep mengadakan senam pagi bersama bersama warga di lapangan sepak bola, warga sangat antusias. tim ZZRR dan tim SVWD juga ikut senam, tentu saja musiknya dari aplikasi tiktok, membuat para peserta senam ikut semangat.
"Yo babang tamvan kembali lagi yo! Angkat tangan kanannya semua yo! 1,2,3,4,5,6,7,8. Sekarang yang kiri 1,2,3,4,5,6,7,8!" Yosep mencontohkan gerakan mengangkat tangan kanan kemudian tangan kiri.
Warga yang dominan mengikuti senam tentu saja ibu-ibu dengan memakai celana legging ketat.
Senam selesai, Yosep sudah mengirim pesan pada Guavani yang sedang berada di Ochobot City untuk membuatkan 20 vending machine minuman yang terhubung ke aplikasi smartphone, untuk di tempatkak di lapangan. Guavani akan mengirimnya siang ini dengan teleportasi.
Yosep memberikan modal awal 10 juta untuk membeli banyak minuman botol, guna mengisi mesin minuman. Yosep membersihkan tubuhnya, tim ZZRR dan tim SVWD juga sedang membersihkan diri bergantian. Semua warga laki-laki takut menatap para perempuan cantim Yosep walau sedikit pun, serasa mata Yosep berada di mana-mana mengawasi mereka, ketika mereka ingin menatap para wanita Yosep.
Semua sudah bersiap berangkat dengan mobil masing-masing, Vanya langsung pergi ke kantor kafe. Devi, Wulan, dan Sylvia mengikuti Yosep yang mengemudikan mobil Koyota Alphard berisi tim ZZRR, menuju Sunyaragi Cirebon.
__ADS_1
"Mas Yosep punya calon istri dan karyawan cantik-cantik semua. Apalagi gosip yang beredar satu minggu lagi mas Yosep mau menikahi 4 wanita sekaligus. Satu saja sudah capek apalagi 4, gimana ya?" pikir Usman yang sedang membersihkan lapangan di bantu Kusno dan Kusna, Satim serta Samiyaji.
Yosep sampai di depan gedung Moontoen berlantai 15, Sunyaragi Cirebon. Yosep berjalan ke arah lobi di iringi 7 wanita cantik memakai mini dres. "Selamat pagi, saya Yosep, mau bertemu pak Suparta. Saya sudah ada janji temu dengannya!" sapa Yosep.
"Oh ya, tuan Yosep sudah di tunggu pak Suparta di ruang meeting. Mari saya hantar!" balas Resepsionis gedung dengan nada lembut.
Yosep dan Suparta berjabat tangan, "silahkan duduk tuan Yosep!"
"Terima kasih pak Suparta. Baik saya tidak ingin basa-basi, karena saya tidak punya banyak waktu. Saya mendengar dari bapak Prapto bahwa gedung ini dijual seharga 50 milyar, saya beli harga 60 milyar!" tegas Yosep.
Suparta bingung mendengar pernyataan Yosep, dimana-mana pembeli itu menawar, ini malah Yosep menambahi 10 milyar.
"Deal!" Suparta memberikan nomor rekening PT.Moontown pada Yosep.
"Deal!" Yosep langsung mentransfer uang 60 milyar dan Suparta memberikan surat jual beli dan Yosep menandatangainya. "Sylvia simpan beberapa surat penting ini jangan sampai hilang."
"Baik pak big bos!" sahut Sylvia.
"Tuan Yosep boleh saya berbincang sedikit dengan anda, saya ingin dimentori tuan Yosep bisa tuan?" tanya Suparta. "Saya sedang membuat aplikasi e-comerce namun stuck di masalah dana, sumber daya, dan juga pemrograman."
"Bisa, pak Suparta datang dan daftar ke perusahaan saya di PT. Raimu DAT ke ibu Wulan. Nanti Ibu Wulan akan mengatur jadwal coachingnya kapan," jawab Yosep. "Wulan berikan kartu nama dan kartu VVIP pada pak Suparta!"
"Baik pak big bos!" balas Wulan.
Yosep meninggalkan gedung Moontown, menuju ke Karangampel, untuk menemui para petani buah di sana.
__ADS_1