
Pak Reval menurunkan pistolnya dan menyarungkannya. "Maaf mas! Tapi semua yang mengalahkan komplotan suku Kabaratan ini mas Yosep?" tanya Revald.
"Bukan pak, saya dibantu 3 calon istri saya. Itu mereka!" tunjuk Yosep ke arah mobil Koyota Alphard miliknya dimana Rany, Ziva dan Ryuna bersembunyi di bagian belakang mobil.
Mereka bertiga keluar dari bagian belakang mobil dengan tersenyum manis dan menonktifkan cyborg armor suit. "Nona Ziva!" teriak Bu Santi Kanit Reskrim polsek Losarang.
"Bu Santi! Ya ini saya," sahut Ziva. "Kenapa ibu Santi ada disini?"
"Kami ingin membantu, tapi kalian telah membereskan bajingan tengik ini semua. Mereka sudah hampir ratusan dekade meresahkan masyarakat disini. Terima kasih telah menyelamatkan warga desa Losarang khususnya," ujar Santi yang sangat mengenal Ziva dan Rany yang merupakan putri konglomerat di Indramayu sekaligus pemilik three tower distrik bisnis di Losarang.
"Sama-sama bu, ini sudah menjadi kewajiban kami sebagai warga negara Indonesia untuk bela negara," balas Ziva.
Yosep masuk mobil, ia tak ingin berurusan dengan interogasi polisi dan menyerahkan semuanya pada Ziva, Rany dan Ryuna. "Bu kami izin pamit, mohon bantuannya!" ujar Rany.
"Baik nona silahkan!" balas Santi.
"Sebaiknya kalian jangan berurusan dengan dua keluarga naga kembar itu, apalagi laki-laki di dalamnya, dia adalah calon menantu sekaligus pewaris tahta bisnis naga kembar," imbuh Santi dengan berbisik.
"Maksud ibu? Mas Yosep itu adalah calon menantu Kedua keluarga konglomerat di Indramayu," ujar Wawan dengan membulatkan mata.
"Ya!" jawab Santi dengan singkat.
Wawan menggelengkan kepala dan memijat keningnya, "tak disangka pemuda yang sangat beruntung, dijadikan calon menantu dua keluarga kaya. Tapi memang tak ada laki-laki lagi apa selain mas Yosep itu?"
"Sudahlah jangan terlalu dipikirkan, yang jelas kita sudah tahu kemampuan dokter super Yosep bagaimana bukan? Mungkin ada alasan lain dua keluarga yang konglomerat itu memperebutkan tuan dokter Yosep, lebih baik kita tidak ikut campur," balas Santi yang tidak sempat mengenali Yosep, tapi setelah melihat Ziva ia langsung mengenali jika itu Yosep.
__ADS_1
Setelah kejadian pengkhianatan Siska, Yosep agak sedikit sinis dengan kepolisian dan membuatnya luntur kepercayaan terhadap kepolisian. Rany duduk di depan, Ziva dan Ryuna duduk di belakang. Muka Yosep ditekuk dan datar ada rasa kebencian terpancar dari kedua bola matanya.
"Mas!" Panggil Rany sambil memegang tangan Yosep yang berada di perseneling gigi mobil dengan lembut, Yosep siap memacu mobilnya. "Mas, Rany paham dengan keadaan mas. Tapi dendam tak akan menyelesaikan masalah, Rany yakin ini hanya kesalahanpahaman dan tak semua kepolisian seperti itu."
"Makasih sayang," ujar Yosep sambil mengecup kening Rany dengan lembut dan agak lama.
"Ehem ...!" Ziva dan Ryuna berdeham keras karena cemburu dengan mereka berdua.
Yosep melepaskan ciuman di kening Rany dan mengengok ke arah mereka berdua dengan hanya tersenyum lebar. "Kami juga ingin dicium tahu!" teriak serentak Ziva dan Ryuna.
"Ya nanti, tapi kalau sudah malam pertama, kan bisa indehoy, hehehehe ...," ujar Yosep sambil tertawa.
"Tunggu mas, memangnya mas akan menikahi Ryuna juga?" tanya Ziva.
"Ya kalau kalian setuju, mas sih tidak masalah. Biar enak pas malam pertama berlima blaem-blaemnya," ujar Yosep.
"Memangnya kamu kuat mas melayani kita berempat sekaligus?" tanya Ziva.
"Siapa takut, jangan berlima sepuluh pun kuat dan mas pastikan kalian akan K.O. dalam sekali hantaman," ujar Yosep sambil mengangkat kedua tangannya berpose ala binaragawan.
"Aaakh ...! Kamu mesum mas!" ujar Ziva yang pipinya merah merona dan menutup mukanya juga membayangkan begitu perkasanya Yosep.
"Dasar wanita baru bilang begitu saja saya dibilang mesum," batin Yosep.
"Ayo mas kita berangkat!" pinta Rany dan Yosep mulai mengemudikan mobil Koyota meninggalkan daerah desa Jangga menuju kafe raimu CRC yang setiap hari padat pengunjung.
__ADS_1
"Mas kita mau kemana?" tanya Ziva.
"Kita ke kafe," jawab Yosep
"Tapi lihat muka badan mas, bau keringat dan penuh darah, lebih baik kita ke salah satu resort dan hotel milik keluarga Wijaya di Lohbener hotel untuk membersihkan diri. Bagaimana mas? Dekat Kok dari sini," pinta Ziva.
"Oke sayang kita kesana," balas Yosep dan memacu minumnya dengan kecepatan 90 km/jam dan sampai di sebuah hotel megah bertuliskan Lohbener resort dan hotel. Yosep memarkirkan mobilnya di depan pintu masuk hotel, sekuriti menyambut Yosep dengan menundukan pandangangannya setelah melihat Ziva.
"Selamat datang nona Ziva!"
Yosep hanya tersenyum, Ziva menggandeng tangan kanan Yosep lalu berjalan diikuti Rany dan Ryuna ke arah resepsionis, "mba tolong siapkan 4 kamar untuk kami berempat!" pinta Ziva.
"Baik nona!"
Resepsionis lalu memberikan 4 kunci kamar berbentuk kartu vvip ke Ziva. Mereka berempat bergegas menuju kamar di lantai paling atas untuk membersihkan diri.
Yosep segera masuk ke dalam kamarnya dan ke kamar mandi menanggalkan semua pakaiannya lalu masuk ke dalam bak mandi dengan membenamkan semua badannya. "Segar dan rileks sekali," gumam Yosep yang mulai memejamkan mata menikmati kehidupan santainya. "Setiap hari otot ini mengejang tapi anu ini tak pernah mengejang sama sekali. Mungkin aku akan cepat menikahi mereka berempat setelah urusan dengan Patrick ini selesai. Tapi Ryuna itu keturunan orang mana, dari wajahnya dan namanya seperti orang jepang."
Tiba-tiba dari balik jendela Ryuna yang hanya memakai handuk kimono membuka jendela dan masuk ke dalam kamar mandi Yosep. "Tuan, izinkan aku melayanimu dengan sepenuh hatiku dan ragaku. Aku sangat mencintaimu tuan," ujar Ryuna.
Yosep terkejut dan bangun dari bak mandinya dalam keadaan tanpa sehelai benang, ia mencoba meraih handuk kimono yang terpasang di atas gantungan namun ditahan oleh tangan Ryuna. "Ryuna ini tidak baik, kita ini belum sah. Apa yang ingin kau lakukan?" tanya Yosep dengan raut muka memerah dan menutupi bagian burungnya dengan kedua tangannya.
"Tuan aku mencintaimu dan aku yakin tuan juga menyukai yang sangat rupawati ini," ujar Ryuna yang mulai melepas ikatan handuk kimono dengan tangan kirinya dan terlihat belahan dadanya yang sangat besar dan seksi.
"Ryuna jangan lakukan ini," cegah Yosep namun Ryuna tak menggubris kata-kata Yosep yang terus menanggalkan handuk kimono miliknya. Ryuna sudah polos tanpa sehelai benang pun, Yosep hanya menelan salivanya sedangkan burung miliknya sudah bagai ayam jantan berkokok tegak melihat keindahan tubuh Ryuna yang begitu sintal, putih, dan sangat seksi.
__ADS_1
Tiba-tiba terdengar suara gebrakan pintu dan suara Rany memanggil, "mas! Mas! Kamu tidak apa-apa?"
Yosep terbangun dari mimpi indahnya dan membuka matanya lalu keluar dari bak mandinya, "fyuh ... untung saja itu hanya mimpi, kalau kenyataan habis sudah keperjakaanku," gumam Yosep sambil keringat di kepalanya dan memakai handuk kimononya.