SYSTEM KEKAYAAN BERKEDIP

SYSTEM KEKAYAAN BERKEDIP
System Kekayaan Berkedip 132 Dengar Uang Saja Langsung Siap!


__ADS_3

"Berapa semuanya?" tanya Yosep sama Devi. "Sisanya


"Ini ada sekitar 300.000 sama gorengan," jawab Devi sambil menyiapkan pecel dan gorengan untuk Albert. 10 porsi untuk Yosep dan gorengannya juga 20 biji, sisanya Yosep menyuruh Devi untuk membagi-bagikannya ke tetangga sekitar.


Yosep memberikan uang ke Devi 500.000, itu pecahan 100.000. "Ini kebanyakan Yos, kan cuma 300.000 itu pun masih kembali 5.000," tolak Devi.


"Tidak apa-apa. Anggap saja bonus dari bos muda ini, hehehe ..., kita ini kan sudah berteman lama. Terima saja, toh gak ada salahnya, sesama sahabat saling membantu. Oh ya, nanti datang ya ke pernikahanku awal bulan depan," pinta Yosep.


"Wuis keren! Mentang-mentang bos muda mau menikah di umur 19 tahun," ujar Devi yang merasakan hatinya sedikit sakit, ketika mendengar Yosep mau menikah. Devi sejak SD memang sudah menyukai Yosep tapi urung ia utarakan karena malu.


"Selamat ya!"


"Ya terima kasih. Awas loh datang jangan lupa tidak datang. "Kalau butuh pekerjaan hubungi saja saya ini nomornya," Yosep mengambil hp Devi yang berada di tas kecil miliknya lalu memasukan nomor smartphone miliknya. Yosep dengan Devi sudah biasa seperti itu, sudah tidak ada sopan santun di antara mereka karena saking akrabnya


"Sekali lagi terima kasih. Ya nanti tak hubungi, sebenarnya aku juga lagi butuh pekerjaan tapi ya ijazahku ini cuma SMP mana bisa," ujar Devi dengan raut muka murung. "Aku juga malu mengutarakannya ketika kamu membuka lapangan pekerjaan baru-baru ini, karena ijazahku pas-pasan. Ditambah lagi ibu sedang sakit parah jadi aku tambah bingung, tidak bisa meninggalkan ibu."


Yosep langsung menelepon Nyotnyokong untuk ke desa membawa mobil Mercedes AMG One untuk menjemput Devi dan ibu Lastri lalu mengantarkannya ke rumah sakit Budi Asih Technology. Yosep juga menelepon Dokter Boyke untuk menangani Ibu Lastri, semuanya Yosep yang bayar.


Yosep memberikan nomor Nyotnyokong pada Devi, agar Nyotnyokong bisa menemukan rumah Devi dengan membagi lokasi rumahnya pada aplikasi Mangap.


"Saya sudah menghubungi saudara saya untuk menjemput ibu dan kamu Dev, rumah sakit juga sudah saya pesan untuk merawat ibu. Jadi kamu tinggal berangkat saja ya," ujar Yosep sambil izin pamit lalu meninggalkan Devi.


Devi bergegas pulang ke rumahnya untuk menunggu Nyotnyokong, "meskipun kamu sudah jadi orang kaya, kebaikan dan ketulusan hatimu tak pernah berubah. Aku mencintaimu Yosep, meskipun aku tidak pernah bisa memilikimu," batin Devi dengan raut muka sedih.

__ADS_1


Yosep sampai di jalan dekat gudang pupuk yang disulap menjadi kantor PT. Raimu Farm. Yosep terheran-heran dengan 10 mobil Koyota Avanza yang sudah berbaris di lapangan gudang. Albert dan Yosep turun dari mobil, "pak Awi, pak! ini ada apa?" panggil Yosep.


"Itu bos datang!" ujar Pak Awi sambil menunjuk Yosep dengan jempolnya. Semua orang ketakutan dengan wajah pucat pasi, takut Yosep marah karena mereka membeli mobil tanpa meminta pendapat Yosep terlebih dahulu. Sebenarnya mereka membeli cash tapi tempo satu bulan sisanya.


Para petani memberikan uang awal 175 juta per orang yang mereka dapat dari Yosep semuanya 193 juta. Sedangkan harga mobilnya 207 juta dipotong diskon 7 juta/orang, mereka berhutang pada dealer 25 juta/orang.


Mereka menundukan kepala, tak ada yang berani menatap Yosep. "Bapak-bapak membeli mobil?" tanya lagi Yosep dengan tersenyum ramah.


"I-i-iya bos. Maafkan kami tidak memberitahu bos, kami berhutang 25 juta pada dealer dengan syarat bulan depan kami harus melunasinya," jawab Pak Sumadi dengan terbata-bata.


Yosep menepuk jidatnys sendiri, "kenapa tidak bilang pada saya dahulu bapak-bapak. Kalau bapak bilang saya bisa memberikan mobil merk toyota yang lebih mewah lagi, dan gratis pula," ujar Yosep.


"Benarkah bos?" tanya pak Samun membulatkan mata.


"Ya masa saya bohong, wong koyota itu saya yang punya kok," ujar Yosep sedikit menyombongkan diri. "Pak apakah manajer dealer ikut datang kesini juga?"


"Tidak perlu. Tolong panggilkan bapak/ibu manajernya saja!" pinta Yosep.


Sales satu bernama Suminta memanggilkan ibu Rori, wanita muda seksi berambut panjang hitam dengan rok mini hitam dan blazer hitam. "Selamat siang pak big bos!" Sapa Rori dengan menundukan kepala. "Apakah ada yang bisa kami bantu?"


Perusahaan Koyota juga melakukan hal yang sama seperti bank Abc dengan memajang foto Yosep di semua dealer dan pabrik agar mereka tidak berbuat kesalahan. "Tidak apa-apa. Ini saya lunasi kekurangan uang para petani saya," ujar Yosep lalu mengambil koper miliknya dan memberikan uang 250 juta dari kopernya. "Tolong berikan tanda terima dan tolong semua surat kendaraan serta surat kepemilikannya segera dikirim!"


"Baik pak big bos, kami akan segera mengurusnya!" balas Rori lalu membuatkan 10 surat tanda lunas untuk para petani. Lalu mereka izin pamit untuk pulang ke dealer.

__ADS_1


"Bos terima kasih. Kami sudah berhutang pada bos 25 juta," ujar Pak Awi.


"Sudah tak usah dipikirkan. Mari masuk! Saya mau memberitahukan sesuatu pada bapak-bapak semua!" titah Yosep. Para petani mengikuti Yosep dan masuk le dalam kantor, pak Awi sudah mengubah bagian depan gudang menjadi kantoe dengan fasilitas seperti kantor pada umumnya.


Yosep duduk di kursi utama, Albert berada di sampingnya, "perkenalkan ini ayah angkat saya, tuan Albert!" ujar Yosep sambil menunjuk Albert dengan jempolnya.


"Selamat siang tuan Albert!" ujar tim petani serentak.


"Selamat siang!" sahut Albert.


"Begini, bagaimana persiapan untuk menanam selanjutnya?" tanya Yosep.


"Sudah hampir selesai, besok tinggal penanaman bibit ke lahan. Maaf bos jika kami mempercepatnya, cuaca sedang tidak mendukung beberapa hari ini, jadi kami mempercepatnya," jawab pak Awi.


"Good! Terima kasih atas keputusan tepat bapak-bapak. Oh ya saya mau menambah lahan, tolong bapak-bapak carikan lahan sawah yang mau dijual. Kalau bisa yang bersebelahan dengan lahan kita, totalnya 20-30 hektar," pinta Yosep.


"Apa?!" teriak serentak tim petani.


"Bos itu lahan yang cukup luas. Semua orang belum tentu mau menjualnya begitu saja," tolak pak Sumadi.


"Bapak-bapak kan tahu harga jual tanah sawah disini cukup murah hanya 500.000/meter, itu pun dekat jalan. Saya akan beli 3 kali lipat, dan saya akan berikan komisi 10 juta/satu hektar, untuk bapak-bapak," ujar Yosep.


"Siap bos, kami akan carikan!" teriak para petani serentak.

__ADS_1


"Carikan juga para petani lain, yang mau menggarap dengan sistem seperti ini," titah yosep.


"Siap bos!"


__ADS_2