
"Ini bu, formulanya!" Kata Yosep sambil memberikan rumus formula kimia yang sudah ditulis di laptop Sarmila. "Bahan-bahanya juga mudah didapat dan diekstraksi, saya yakin 1000% formula pupuk ini bisa membuat tanaman tahan cuaca ekstrim, tahan tanpa air dan tahan semua hama serta masa panennya hanya 15 hari untuk semua tanaman."
"Mas dokter yakin?" Kata Sarmila dengan raut wajah sangsi.
"Makanya kita akan melakukan percobaan di lahan sawah saya yang 10 hektar. Saya tetap membayar pupuk ibu 30 ton, pupuk yang dibuat dengan formula saya. Bagi saya bisnis adalah bisnis bu, sekalipun saya punya saham 10% saya akan tetap membayarnya." Kata Yosep.
" Saya suka dengan prinsip mas dokter yang optimistis, berintegritas dan mau mengambil resiko besar. Baik saya akan mengurus surat kepemilikan saham untuk mas dokter, nanti notaris saya yang akan membuatnya. Esok hari mas dokter kesini lagi ya untuk tanda tangan surat kepemilikan saham."
"Kalau meminta mas dokter ke bandung kan takut mas dokter sibuk, soalnya kantor kami di bandung." Kata Sarmila. "Lalu dengan hak paten formula ini, bagaimana mas dokter. Apa saya juga harus membayarnya?"
"Tidak apa-apa bu. Anggao saja sumbangsih saya terhadap perusahaan, masa punya saham tapi tidak punya kontribusi. Setidaknya jika perusahaan terus berkembang tentu nilai uangnya juga akan meningkat. Bukan begitu bu? heheheh." Kata Yosep terkekeh.
"Ya saya setuju dengan prinsip mas Yosep." Kata Sarmila.
"Baik bu. Saya juga mau ke kafe, rumah saya juga deket tinggal sama ibu saya di VJC 01. kapan-kapan ibu bisa main ke rumah saya." Kata Yosep dengan raut muka tersenyum.
"Woalah! ternyata kita tetanggan toh. Saya kira mas dokter rumahnya jauh. Ternyata mas dokter yang punya vila super mewah itu. Ibu tak menyangka masih muda tapi sudah sukses besar." Kata Sarmila.
"Ah tidak juga bu. Ya begitulah, heheheh!" Kata Yosep sambil tertawa. Lalu meninggalkan rumah Sarmila di VJC 011.
Yosep menelepon Ziva untuk menjemputnya di sekitar pasar Jatibarang dengan mobil lamborghini Veneno miliknya yang dititipkan pada Ziva. Yosep pulang ke rumah untuk membersihkan diri dan ganti baju, meskipun Yosep suka memakai kaos oblong, celana training dan sandal sky boat.
Yosep sambil berlari menuju kantor bank ABC cabang Jatibarang untuk menarik uang 1 milyar. Uang itu untuk proyek pembelian traktor dan pupuk yang sudah disepakati antara Yosep serta pak kades. Yosep tidak ingin mengingkari perjanjian meskipun ia sudah menemukan suplier besar pupuknya. Memberikan rizki orang adalah bagian dari menolong itu adalah prinsip Yosep.
Yosep memasuki pintu bank yanh dijaga security, semua karyawan dan karyawati bank langsung ketakutan setelah tahu bahwa Yosep yang datang.
__ADS_1
"Selamat datang tuan mu-mu-muda!" Kata Security bank dengan raut muka takut dan nada terbata-bata.
"Selamat datang tuan muda!" Kata karyawan dan karyawati serentak.
"Ada yang bisa dibantu tuan muda?" Tanya teller wanita satu.
Beberapa nasabah yang pernah bertemu Yosep juga ketakutan. "Tolong tarik uang 1 milyar!" Kata Yosep dengan raut muka tersenyum.
"Baik tuan muda!" Kata teller wanita satu.
Ziva sudah tiba berada di depan pintu masuk. Yosep sudah memberi pesan kalau ia berada di kantor bank abc cabang Jatibarang. "Mas Yosep!" Panggil Ziva yang sudah melewati pintu masuk bank.
Yosep menoleh, "Ya! sudah lama datang? maaf membuat Ziva menunggu."
"Tidak, aku mengambil uang satu milyar untuk proyek produksi lahan sawah saya." Jawab Yosep.
"Mas kalau perlu uang bilang saja. Simpan saja uang itu, biar aku berikan berapapun yang mas Yosep mau. Mas Yosep kan pemilik saham Wijaya Group jadi mas Yosep berhak atas profit dividen dari Wijaya Group." Kata Ziva.
"Jadi dia pemilik saham Wijaya group, berarti bos besar dari Bank abc. Untung saja tuan muda tidak marah besar kepada kami waktu itu." Batin teller wanita satu dengan raut muka yang pucat pasi.
"Selamat, selamat!" Batin teller laki-laki satu
"Untung saja tuan muda bermurah hati kalau tidak habislah nasibku waktu itu!" Batin security.
"Tidak perlu sayangku. Ini adalah bisnisku, aku tak mau melibatkanmu dan ayah, biar aku berusaha sendiri. Uang segitu tak masalah." Kata Yosep sambil mencolek hidung Ziva.
__ADS_1
Ziva mendapat perlakuan seperti itu membuat pipinya merah merona karena malu. Teller wanita satu memberikan tas berisi uang satu milyar pada Yosep, lalu mereka berdua pergi menuju desa Mundakjaya untuk bertemu pak kades. Yosep menelepon pak kades untuk memastikan, apakah pak kades masih di rumah atau sudah dikantor balaidesa.
"Bos motor akan segera dihantar hari sekarang." Tulis Darmin di pesan masuk akun mangap Yosep.
"Ok, good job! saya tunggu ya!" Balas Yosep.
Pak kades sudah berada di kantor balaidesa ternyata jadi Yosep segera mengemudikan arah mobilnya ke Balaidesa Mundakjaya.
Yosep keluar dari mobil lamborghini Veneno Miliknya, dan membukakan pintu untuk Ziva. Semua staff dan penduduk yang sedang berada diluar Balaidesa, sangat terpana dengan kecantikan Ziva. Rahang mereka seperti akan jatuh melihat kecantikan Ziva, ada beberapa staff sampai ternganga meneteskan air liurnya karena saking terpesonanya ada kecantikan Ziva.
"Hai bro! ada apa nih, tumben kemari. Mau daftar nikah ya, sama pak ustadz lebe rohmat?" Ledek Alim melihat Yosep membawa wanita cantik. Ziva pipinya merah merona mendengar pernyataan Alim.
"Gak, saya ada janji temu dengan pak kades. Beliau ada kan?" Tanya Yosep.
"Ada. Eh bro kapan lagi dapat perempuan secantik itu, cepetan sikat keburu digondol orang. Nanti kalau sudah digondol orang lain, baper lagi nangis dipojokan, hahahaha." Ledek Alim sambil tertawa.
"Santai sajaz jodoh mah tak akan kemana!" Jawab Yosep. "Mari!"
Yosep dan Ziva masuk ke ruangan pak kades. "Permis pak, assalamualaikum."
"Walaikumsalam. Silahkan duduk nak Yosep. Ada apa nih, pagi-pagi buta sudah kesini." Kata pak kades sambil melambaikan tangannya.
"Pak, ini uang satu milyar yang sudah saya janjikan beserta nomot kontak suplier pupuk PT. Alkimia Bharata Jaya. Saya sudah memesan pupuk 30 ton tapi belum negosiasi harga, nanti bapak negosiasikan dengan pihak ABJ. Semua keperluan saya percayakan sama pak kades." Kata Yosep.
"Terima kasih mas Yosep, tapi uang ini terlalu banyak untuk biaya pengelolaan sawah 10 hektar termasuk pembelian traktor." Kata pak kades. "Mas Yosep benar-benar orang baik, padahal dia sudah menemukan suplier dan bisa bernegosiasi dengan mereka, tapi malah saya yang suruh menanganinya. Benar-benar pemuda dengan sikap seorang ksatria." Batin Pak kades.
__ADS_1