SYSTEM KEKAYAAN BERKEDIP

SYSTEM KEKAYAAN BERKEDIP
System Kekayaan Berkedip - 96 Operasi Kodok Buntal


__ADS_3

Yosep sudah sampai di Polres Indramayu dan memarkirkan mobinya di tempat parkir yang telah di sediakan. Lalu masuk ke dalam kantor khusus bagian reskrim untuk menemui Siska, "permisi pak! saya ada janji dengan ibu Siska. Beliau ada dikantor?" tanya Yosep.


"Ada mas, sebentar saya panggilkan," jawab pak polisi yang berjaga di depan kantor reskrim.


Setelah beberapa saat Siska keluar dari ruangannya, "hai mas Yosep! Sudah lama menunggu?" tanya Siska basa basi.



Nama : Siska Rakuti


Umur : 23 tahun


"Tidak, baru saja datang," jawab Yosep.


"Mari masuk!" ajak Siska. Mereka berdua masuk di ruangan kantor Siska.


"Tumben bu kanit mau menerima tamu laki-laki. Bu kanit kan sangat galak sama laki-laki yang menyukainya," ujar pak Gatot.


"Hust ... jangan asal ngomong nanti di dengar bu Siska. Dia itu orang yang selalu membantu kepolisian menangkap penjahat," sanggah pak Trisno.


"Oh aku kira dia itu pacarnya bu Siska," ujar pak Gatot.


"Ehem ... ehem ..., saya dengar ya dari dalam," Siska berdehem keras lalu berteriak. Nyali pak Gatot langsung menciut, Siska bukan hanya cantik dan manis, ia itu sangat tegas terhadap bawahannya. Tapi para bawahannya salah mempersepsikan ketegasan Siska, bahwa Siska itu galak.


"Ya bagaimana? Apa yang aku bantu?" tanya Yosep yang sudah duduk dengan raut muka datar.


"Aneh sekali mas Yosep ini, biasanya dia selalu tersenyum," batin Siska.

__ADS_1


"Begini mas kami sedang menyelidiki Dasmad alias Brock. Kami menduga dia adalah gembong narkoba terbesar di jawa barat yang mengendalikan transaksi dari dalam lapas. Brock sendiri sudah keluar dari penjara beberapa bulan lalu, tapi ia mempercayakan pada anak buahnya dari dalam lapas untuk mengorganisir semua transaksi narkoba termasuk menyuap para petugas dan petinggi polda maupun petinggi kodam III/siliwangi," jelas Siska.


"Lalu apa yang bisa saya lakukan?" tanya Yosep.


"Tolong selidiki siapa petinggi polda dan kodam yang di belakang Brock, pasti dia melakukan transaksi non perbankan. Jika melakukan transaksi dengan perbankan kami sudah pasti tahu, karena kami diam-diam meminta data transaksi dari akun semua petinggi polda dan petinggi pada perbankan, dan hasilnya nihil," jawab Siska.


"Kami juga menyelediki kasus ini tanpa sepengetahuan petinggi polres karena takut informasinya bocor," imbuh Siska.


"Baik kami akan membantu. Kita melakukan penyelidikan ini harus pindah markas agar tak diketahui musuh, bawa semua orang yang ibu percayai. Untuk mengantisipasi adanya mata-mata di dalam anggota kita akan menggunakan sandi operasi bernama kodok buntal dan sandinya Kroek, kroek, kroek," jelas Yosep.


"Kita berhadapan bukan dengan gembong narkoba biasa. Kita membutuhkan rencana yang matang untuk membuka kebusukan mereka yang tega menghancurkan generasi bangsa," imbuh Yosep dengan sorot mata yang tajam.


"Aku tidak mempunyai anggota yang bisa aku percayai saat ini. Semua informan berada dalam kendali mereka," ujar Siska dengan raut muka murung.


Yosep menghela nafas panjang dan berujar, "hmmm ... baiklah tak masalah. Aku masih punya cara, ibu cepat ganti baju kita akan berangkat ke markas operasi kita yang baru. Operasi kita ini akan dilakukan diam-diam. Untuk masalah Anggota tidak masalah, aku punya solusi."


Yosep langsung menghubungi Albert untuk meminta izin agar Ryuna menemuinya di depan dan mengikuti Yosep sementara. Yosep dan Siska sudah masuk ke dalam mobil, Yosep memacu kendaraanya cukup cepat, hanya dalam waktu 5 menit Yosep sampai di depan rumah sakit.


Yosep juga meminta bantuan Jayus untuk meminjam pulau komodo miliknya, agar dijadikan markas sementara dan mengirimi Yosep helikopter di rumah sakit untuk menjemputnya. Jayus langsung mengiyakan, karena baginya Yosep adalah calon menantu yang terbaik.


Yosep juga meminta Gendhis dari Pancawijaya dan Serena dari Hanoka ikut dalam operasi ini. Ryuna, Serena dan Gendhis sudah berada di halaman rumah sakit. Yosep memarkirkan mobinya di basement rumah sakit lalu menelepon Dawi kalau Yosep sudah pulang tapi ia akan pergi lagi dalam jangka waktu yang lama dan tidak ditentukan kapan pulangnya.


Dawi bersedih mendengarnya, tapi ya sudahlah lagipula Yosep sudah dewasa dan bisa menjaga diri. Yosep tidak menghubungi gobel group (Rany, Ziva, Vanya, Wulan, dan Zahra), karena masih marah dengan mereka. Meskipun dalam kasus ini Rany tidak bersalah hanya jadi korban.


Helikopter sudah menunggu Yosep di atas gedung, Yosep menghampiri mereka bertiga. Tapi Yosep menyuruh mereka berempat untuk pergi dahulu ke atas gedung, sedangkan Yosep ingin menemui Rany sebentar dan meminta maaf karena telah melukai hatinya.


Yosep memasuki ruangan Rany dengan perlahan dan mengendap-endap sampai langkah kakinya tidak terdengar oleh Rany. Yosep melihat Rany sedang menangis, kelopak matanya sembab sepertinya Rany menangis cukup lama dan bergumam, "hiks .. hiks ... hiks ... apa salahku mas? Hingga kamu juga marah padaku, padahal aku juga tertidur denganmu."

__ADS_1


Yosep langsung memeluk Rany erat, dan mengelus kepalanya dengan lembut, "Maafkan mas sayang. Maafkan mas, aku tidak marah dengan Rany, tidak sama sekali. Maaf jika aku marah dan membuat Rany sakit hati, maafkan mas ya!" pinta Yosep.


Tangis Rany semakin pecah dan suaranya terdengar keras sampai luar ruangan, "Rany kira ... hiks ... hiks ... hiks ... mas juga marah sama Rany, hiks ... hiks ... hiks ...," ujar Rany yang masih dalam pelukan Yosep sambil menyeka air matanya.


"Tidak sayang, mas tidak marah sama Rany. Sudah, jangan menangis lagi nanti matanya kaya panda mau? Cantiknya nanti luntur kalau menangis terus," ledek Yosep melepaskan pelukannya pada Rany dan menarik-narik pipi Rany dengan gemas.


"Gemas, gemas, gemas," ujar Yosep yang sangat menikmati tarikan tangannya pada pipi Rany.


"Swakwkit twawhu mwasw (sakit tahu mas)!" ujar Rany.


"Habisnya Rany ngegemesin, hehehe," balas Yosep sambil tertawa.


"Mas akan pergi cukup lama, tolong bantu dokter Boyke untuk merawat paman Albert," pinta Yosep.


"Memang mas mau kemana, Rany boleh ikut?" tanya Rany dengan raut muka penasaran.


"Aku sedang membantu kepolisian menyelidiki gembong narkoba. Jangan! bahaya, Rany disini saja. Nanti mas kabari kalau butuh bantuan, tenang saja mas ditemenin ibu Siska dari kepolisian, Serena dari Hanoka, dan Gendhis dari Pancawijaya, serta Kaizo dari Wind Direction Army," jelas Yosep.


Rany matanya berkaca-kaca, baru saja ia bertemu harus berpisah kembali, Yosep mencium kening Rany lalu meninggalkannya tanpa berkata sepatah kata apapun. Yosep tak ingin hatinya goyah setelah melihat Rany.



Selamat sore sahabat readers, author izin promosi novel terbaru author.


Judulnya Ksatria System : Kokobot. Tenang saja novel system kekayaan berkedip akan update biasa dua chapter perhari dan novel terbaru 1 chapter perhari.


Jadi author tak akan meninggalkan Yosep, hehehehe. Tos dulu ah biar ga selek.

__ADS_1


__ADS_2