SYSTEM KEKAYAAN BERKEDIP

SYSTEM KEKAYAAN BERKEDIP
System Kekayaan Berkedip 225


__ADS_3

Ayo vote, like, dan koment terus novel author, hari ini author akan up 4 chapter/hari selama 4-5 hari ke depan.


Yosep berjalan melewati pintu kontrakan, jantungnya berdebar kencang. Sandal yang dilihatnya adalah milik Zahra dan Ziva, "Kalian kembali sayang?" raut wajah Yosep sumringah. "Akhirnya kalian mau juga tinggal bersama mas."


Ziva dan Zahra menghubungi Rany, dan meminta lokasi dimana mereka mengontrak. Tapi Ziva da Zahra tidak memberitahukan tujuan mereka ke Rany mau apa.


"Mohon maaf mas, kami berdua telah sepakat untuk meminta cerai dengan mas Yosep," ucap Zahra.


Jdar!


Bagai tersambar petir disiang bolong, hati Yosep terasa sakit. Rany yang duduk disebelah Yosep juga menangis dan memegang lengan Yosep kuat-kuat, Rany merasakan sakitnya hati Yosep diceraikan karena kehilangan harta. "Hiks, hiks, hiks, apa kalian sudah mempertimbangkannya? Aku mohon sister berdua pertimbangkan baik-baik! Hiks, hiks, hiks!"


"Kami sudah mempertimbangkannya Ran, mana mungkin kita bisa tinggal berempat di kontrakan sekecil ini?" cibir Ziva. "Mulai sekarang mas jangan meminta lagi profit dividen perusahaan Wijaya Group karena memang mas sedari awal sudah memberikan semua saham Wijaya Group sebagai hadiah padaku, bukan?"


Yosep tidak bisa berkata apa-apa. "Begitu juga Raimu CRC, mas jangan ungkit lagi dan meminta sepeser pun profit dividennya, ok!" tegas Zahra memberikan amplop putih. "Dan ini surat cerainya mas tanda tangani, aku sudah mengurusnya tadi pagi. Kalau mas tidak mau tanda tangan nanti mas bertemu saja dengan pengacaraku di ruang pengadilan."


Setyo dan Mala sudah melarang mereka untuk bercerai dari Yosep. Tapi Ziva dan Zahra keras kepala, bersikukuh untuk cerai dari Yosep.


"Baiklah!" Yosep menyeka air matanya dengan raut tersenyum, mencoba tegar dan menerima kenyataan. Dua amplop putih itu ia buka dan keluarkan surat gugatan cerai milik Ziva serta Zahra. "Sudah tidak ada lagi kan yang kalian inginkan?"


"Satu lagi! Jangan ganggu aku lagi!" bentak Zahra dan Ziva, lalu pergi meninggalkan kontrakan Yosep dengan raut muka menyeringai kesal.

__ADS_1


"Kalau akhirnya seperti ini, kenapa aku mau sampai menungu satu tahun lamanya agar aku menikah dengan pria miskin itu. Lebih baik aku terima saja Angga waktu itu," batin Ziva.


"Ironis benar-benar ironis. Kalau hanya mengandalkan cinta, aku mau makan apa nanti? Belum harus shoping dan perawatan, mana mampu pria yang jatuh miskin itu memberikannya untukku. Aku ini masih cantik dan seksi, lebih baik aku cari pria kaya saja lagi," batin Zahra.


Yosep menyeka air mata Rany, "Sudah sayang, tidak usah menangis. Mas yakin mereka akan menyesal setelah 6 bulan, mas akan mereka bangkrut nanti."


"Memangnya setelah 6 bulan kenapa mas?" tanya Rany menelisik.


"Tidak apa-apa sayang." Yosep mencium bibir Rany, dan menutup pintu kontrakan Lalu memulai pergumulan dua sejoli yang menghilangkan rasa frustasi dengan bertempur di atas tikar. 5 ronde pertempuran antara Rany dan Yosep lalu menyelimuti Rany dengan handuk kering miliknya . "Tidur ya sayang, esok siang mas akan bawa kamu beli baju dan alat masak."


"Ya sayang, i love you so much mas." Rany mencium bibir Yosep lalu memeluknya dan memejamkan mata, keduanya tertidur pulas tanpa sehelai benang pun, hanya underwear yang Yosep pakai.


"Mas, belum puas sama Rany?" tubuh Rany Yosep angkat ala bridal style setelah mandi tanpa sehelai benang. "Jika belum puas Rany akan layanin mas sampai puas."


"Puas kok sayang, kasihan nanti sayang capek. Mas juga mau kerja, mas beli sarapan dulu ya." Yosep mencium bibir Rany lalu menurunkannya. Yosep memakai kaos oblong hitam dengan celana training berwarna putih.


Rany tetap memakai pakaian mahalnya yaitu dres putih sepaha. Rany tetap cantik naturak meskipun tidak memakai riasan wajah. Kulitnya yang putih pucat, rambut pirang lurus kecoklatan sepinggang, dan bibirnya yang merah muda natural merupakan candu bagi Yosep.


Yosep membawa tiga bungkus nasi kuning dan 10 gorengan. Dua bungkus buat Rany dan satu bungkus buat Yosep sendiri, mereka makan saling suap menyuap membuat suasana romantis di antara mereka berdua.


Mereka selesai makan, "Oh ya ini ada uang 10.450.000 semuanya mas dapat 10,5 juta tapi mas bawa tiga puluh ribunya buat uang saku mas. Nanti sayang simpan ya!" Yosep mencium pipi Rany dan memberikannya pada Rany.

__ADS_1


"Mas tidak dapat uang ini dari pasang togel kan mas?" tanya Rany.


"Ya ampun sayang uang ini halal. 10.000.000 dikasih mas Andre sebagai rasa terima kasih sama mas, karena mas menolongnya dari percobaan pembunuhan di pasar. 500.000 mas dapat dari bengkel pak Darmin karena membantu menyerviskan 10 motor pelanggannya termasuk motor mas Andre," jawab Yosep tegas.


"Jika mas mau bisa buat kita berdua kaya dalam sekejap. Sayang kan tahu mas ini hacker nomor satu di dunia, jika mas mau semua bank didunia mas jebol tapi itu kan mencuri tidak halal," imbuh Yosep.


"Ya sayang maafin Rany ya. Mas berangkat kerjanya yang semangat ya, makasih uangnya nanti Rany simpan buat tabungan kita nanti. Siapa tahu nanti Rany hamil." Rany mencium tangan Yosep. "Doakan ya mas, biar Rany cepat hamil."


"Ya sayang pasti, bye!" Yosep mencium ubun-ubun Rany lalu pergi menuju pasar.


Di pasar Yuli begitu gelisah, mondar-mandir tak karuan. Yuli sama sekali belum membuka satu pun kunci gembok yang terkunci di salah satu pintu roling door toko berasnya. "Ses, kok belum buka? Sini biar saya bukakan!" pinta Yosep.


"Tidak usah, kamu pulang saja hari ini. 10 Suplier tokoku tidak ada yang bisa mengirim berasnya kemari, di dalam kan sudah tidak ada stok beras satu karung pun. Kita mau jualan apa kalau buka? Mau jualan karung kosong?" Yuli mondar-mandir sambil memijat keningnya.


"Oh masalah itu, tenang ses saya punya solusinya," ucap Yosep tersenyum.


"Jangan bercanda! Aku sedang pusing ini, gara-gara stok beras kosong. Padahal hari ini aku mau order 100 ton buat stok satu minggu ke depan." Yuli terus menelepon para suplier langganan Yuli tapi tak ada satu pun yang menjawab telepon dari Yuli.


"Justru itu saya serius, ses! Jangankan 100 ton, 1000 ton juga mampu dikirim sekarang juga," tegas Yosep.


"Baik aku percaya, tapi buktikan sekarang! Suruh suplier yang kamu bicarakan itu untuk mengirim berasnya, bisa?" tanya Yuli dengan tatapan sinis pada Yosep, seolah raut mukanya mencerminkan keraguan sekaligus meremehkan Yosep sang kuli angkut beras.

__ADS_1


__ADS_2