SYSTEM KEKAYAAN BERKEDIP

SYSTEM KEKAYAAN BERKEDIP
System Kekayaan Berkedip 288


__ADS_3

"Mas kamu pulang?" Rany langsung menyambut Yosep dan memeluknya, tapi Yosep tetap bersikap dingin. "Ayo mas mari makan!"


Ryuna masih menangis di kamar mereka bertiga, Yosep yang mendengar tangisan Ryuna tak memperdulikannya. Kali ini hatinya benar-benar sakit, merasa perjuangannya disia-siakan. Yosep masuk kamar tamu dan mandi lalu memakai baju yang sama, lalu ke taman atas sambil termenung memandang hamparan sawah di arah utara rumahnya.


Rany membawakan Yosep makan ke atas taman, lalu menaruh makanan pada meja di depan Yosep. "Mas Rany minta maaf. Jika memang mas masih marah sama Rany dan Ryuna, Rany akan pulang ke rumah papah. Mungkin dengan mas tidak lagi melihat muka Rany yang selalu membuat mas terbebani, mas bisa lega!" ucap Rany menundukan wajahnya cairan bening dikelopak matanyan jatuh pada kedua pipi Rany. Karena Rany sudah putus asa membujuk Yosep, jadi ia memutuskan untuk meninggalkannya.


"Kenapa sih semu orang ingin meninggalkan saya? Salah saya apa sama kalian? Jika memang ingin pergi dan meninggalkan saya silahkan. Saya diam bukan berarti marah tapi hanya lelah, percuma saja saya mempertahankan rumah tangga ini. Uang, ketampanan, kesaktian, kerja keras dan kasih sayang tidak bisa merubah kebencian seseorang, paham!" Emosi Yosep kembali memuncak, kata-kata Rany membuatnya semakin marah. "Percuma saya pulang ke rumah!"


Yosep bangkit lalu berjalan ke arah lift rumahnya, Rany mengejar dan memeluknya dari belakang. "Maafkan Rany mas, Rany bingung dengan sikap mas yang terus seperti ini. Rany mohon, mas jangan marah lagi, Rany mohon mas. Rany janji tidak akan mengulangi lagi, Rany janji mas, hiks, hiks, hiks!"


Yosep melepas pelukan Rany dan memeluknya dari depan. "Maafkan mas sayang, mas hanya sedang stres dan frustasi untuk menemukan satu artefak lagi. Gudang pupuk juga lagi dalam masalah, karyawan wijaya shield juga lagi ada masalah dengan Truna Jaya Guard, saingan Wijaya Shield. Mas hanya ingin menenangkan diri, dan mas tidak ingin masa lalu mas muncul di antara kita bertiga. Ya sudah mas mau makan tapi disuapin ya, hehehe."


"Ya sayang!" Rany menyeka air matanya lalu mengajak Yosep duduk di meja makan dengan duduk di pangkuan Yosep dan menyuapinya. "Makan yang banyak ya mas!"


Sesudah makan Yosep masuk ke kamar membawakan makanan untuk Ryuna karena tadi siang dia hanya makan ketoprak saja. Yosep menaruh makanan di nakas, Ryuna masih menangis dengan membenamkan wajahnya di pangkuannya. Yosep mengelus lembut Ryuna, "Sayang makan!" lirih Yosep, "maafkan mas, ini semua demi kebaikan masa depan kita."


"Haaaaa!" Ryuna menangis keras. "Maafkan Ryuna mas. Maafkan, hiks ... hiks ... hiks ... Ryuna janji tidak akan memint itu lagi!"


"Sudahlah sayang tak usah dibahas, ayo makan! Mas suapin ya, kasihan anak kita!" Yosep menyuapi Ryuna dengan lembut penuh kasih sayang. "Makan yang banyak ya!"


___

__ADS_1


___


___


Malam hari Yosep berjaga sendirian di gudang pupuk, hanya berteman satu teko kopi hitam. Malah semakin larut angin sepoi-sepoi berhembus, membuat siapapun orangnya pasti akan mengantuk dibuatnya. "Oh jadi mau beradu ilmu sirep. Ok, saya layani!" Yosep menyeringai licik. "Ajian sirep megananda!"


Pencuri pupuk yang bernama Sarpin, merupakan preman kampung yang mempunyai kesaktian pendekar tanpa tanding. Tapi karena Sarpin mempunyai ajian welut putih, ajian gendam permoda, dan juga ajian malih rupa tingkat kedua, menjadikannya Sarpin sebagai pendekar tingkat iblis.


Sarpin menyadari jika ia diserang balik, ia langsung berlari cepat dengan ajian meringankan tubuh. "Sial, ternyata yang menjaga bukan orang yang biasa menjaga. Sepertinya punya ilmu kanuragan!" Sarpin terus berlari melompat dari satu rumah ke rumah lain tanpa suara bak seorang shinobi.


"Hai, pencuri!" Yosep tiba-tiba muncul di depan Sarpin dan mengagetkannya. "Kau mencariku?"


Sarpin menciptakan ilusi lima kembaran dirinua untuk mengecoh Yosep menggunakan ajian gendam permoda. "Hahaha, kamu tak akan bisa tahu dimana aku yang asli, hahahaha!" kelima kembaran diri Sarpin termasuk Sarpin yang asli berpencar.


Duar!


Sarpin berhasil menghindar, Yosep menembakan kembali pukulan ajian serat gulung jagat pada Sarpin, dan mengenai bahu sampai lengan kirinya, membuat hancur menjadi debu. "Bedebah, ajian lanka swasena!" Sarpin menembakan ratusan jarum kecil dari mulutnya masih dalam keadaan tak terlihat.


Trang!


Trang!

__ADS_1


Boff!


Ratusan jarum mengenai tubuh Yosep, namun tak dapat menembusnya. Sarpin melempar bom asap, untuk mengelabui pandangan mata Yosep dan berhasil kabur. Yosep membiarkan Sarpin kabur, karena ia mempunyai firasat jika Sarpin disuruh oleh seseorang.


Yosep terus mengedarkan pandangnnya ke arah Sarpin kabur, ternyata ia kabur berlauri ke arah hutan tebu di perbatasan desa Jatisura menggunakan ajian meringankan tubuh. "Guru! Guru!" Sarpin menggetuk pintu gubuk yang sudah reot. "Guhak! Buka guru!"


Dukun Mi'un membuka pintu gubuk, dan mendapati Sarpin tergeletak di tanah depan pintu. "Pin, kenapa kamu? Apa yang terjadi? Siapa yang melakukannya?!" tanya Dukun Mi'un menyeringai geram.


"Tidak tahu gu-guru, aku tak mengenalnya, guhak!" Sarpin terus memuntahkan banyak darah, Dukun Mi'un menotok bagian dada untuk menghentikan pendarahan di bagian dada. "Huff ... huff ... huff ... te-terima kasih gu-guru. To-tolong balaskan den-dendamku!"


Dukun Mi'un memapah Sarpin dan menaruhnya di tempat tidur kayu. "Kamu beristirahatlah!" Dukun Mi'un menelankan pil jarwo kuat untuk menetralisir sisa-sisa radiasi tenaga dalam yang terus menggerogoti tubuh Sarpin. "Bedebah! Aku pasti akan membunuhnya!"


"Tidak perlu tua bangka!" Yosep sudah tiba di depan gubuk Dukun Mi'un, sedari tadi Yosep memang memperhatikan Sarpin kemana ia kabur dengan reinka aksa. "Saya yang akan membunuhmu! Keluarlah atau saya hancurkan gubukmu!"


Dukun Mi'un melompat menerobos atap rumahnya yang terbuat dari jerami, "Ajian rawarontek, ajian brajamusti!" tubuh Dukun Mi'un diselimuti aura hitam, urat ototnya menonjol tapi berwarna hitam, dengan mata berwarna hitam. Kemudian Dukun Mi'un melesat cepat ke arah Yosep.


Bang!


Krasak!


"Ajian baladewa, brajamusti!" Yosep mengadu pukulan ajian brajamusti milik Dukun Mi'un dengan ajian baladewa, brajamusti miliknya. Dukun Mi'un terpental sejauh 500 meter ke arah pepohonan tebu yang rimbun. Sedangkan Yosep sendiri masih berdiri tegak, bagai tiang tegak yang sedang baca.

__ADS_1


"Guhak!" Dukun Mi'un memuntahkan seteguk darah dan memegang dadanya yang sangat sakit seperti terbakar. "Bedebah! Haaa! Aku akan membunuhmu! Ajian pancasona!"


__ADS_2