
Dalam kepala Yosep langsung muncul komposisi bahan-bahan yang untuk membuat roti sandwich itu. "Jangan panggil saya nyonya tuan dokter. Saya masih seorang diri belum bersuami, panggil saja Vera. Terima kasih atas pujiannya, itu adalah resep turun temurun keluarga kami. Setelah ayah meninggal aku yang melanjutkan usaha food trucknya, namun setelah aku jatuh sakit selam 8 bulan lebih dan mengandalkan kiriman dari Myke, aku berhenti berjualan food truck," ucap Vera.
"Baik, Vera. Saya juga sudah memikirkan menu masakan apa saja yang harus saya jual, salah satunya adalah sandwich ini dan beberapa jenis sandwich dengan isian yang lain. Dan juga beberapa makanan khas Indonesia yang mudah di masak seperti sate baik ayam, atau sapi. Nanti Vera bisa mencobanya, hehehe." Yosep tertawa ringan lalu menyeruput kopi yang dihidangkan Vera, racikan kopinya juga sangat enak. Beberapa racikan minuman sebagai pelengkap juga sudah Yosep siapkan.
"Nanti aku bantu untuk membeli daging ayam dan sapi yang bagus tapi tidak terlalu mahal. Aku punya toko langganan khusus pembelian sayur, daging, dan buah," balas Vera.
"Terima kasih Vera, kamu sudah banyak membantu saya di Belanda, budi baikmu pasti saya akan balas nanti," ucap Yosep.
"Tidak, tidak." Vera menggeleng-gelengkan kepala dan telapak tangannya yang menghadap Yosep. "Justru aku yang seharusnya sangat berterima kasih pada tuan dokter, kalau tuan dokter tidak mengobati kanker paru-paruku mungkin aku sudah tiada. Harga itu tak sebanding dengan pengorbanan tuan dokter, seandainya tuan dokter belum punya istri, aku rela menjadi istri tuan dokter sebagai penebus semua budi baik tuan dokter."
"Begini resiko jadi orang sangat tampan, baik hati dan suka menabung. Sedikit-sedikit wanita cantik kepincut, padahal tidak punya pelet yang ada ilmu si kampret," batin Yosep.
"Maaf Vera, bukannya tidak mau. Kalaupun saya masih sendiri saya siap menikahi Vera sekarang juga. Tapi saya sudah punya dua istri, kalau mau menikah minta saja Argadhafa atau teman-teman saya, banyak kok yang masih Jomblo. Ada Miramen, Esgusrut, Gerome, Lontong, dan Kupat, masalah tampan pasti tak jamin semuanya sangat tampan. Argadhafa saja sebelum saya permak mengerikan mukanya, tapi lihat setelah saya permak tampannya gak ketulungan, hehehe," Jelas Yosep.
Tak sadar Yosep dan Vera mengobrol sudah 30 menit. Argadhafa bersama Myke dan kurir menaiki mobil pick up membawa mesin kompresor serta cat yang Yosep pesan. Mobil Trading tools masuk ke halaman dan menuju gudang bagian belakang rumah Vera. Beberapa saat kemudian Lotus Exige merah milik Adila tiba, untuk menjemput Yosep.
Yosep sudah menyelesaikan perbaikan sistem hidrolik pada mobil food truck, tinggal menyelesaikan proses pengamplasan dan membuat desain tulisan Yo and Ra dengan isolasi. "Bro bos sudah aku saja yang mengecat mobil ini, begini-begini juga aku ahli art dan desain, dijamin beres, rapi serta bagus," Myke menepuk-nepuk dadanya.
"Ya bos, ada urusan yang lebih penting dan darurat," ucap Argadhafa sambil melirik ke arah Adila yang sedang berjalan ke arah gudang.
"Aduh, aku lupa!" Yosep menepuk jidatnya sendiri. "Ya sudah, saya serahkan mobil ini ke kalian. Saya mau membersihkan diri dahulu, menolong nyawa orang lain lebih penting."
__ADS_1
Yosep berjalan cepat dan masuk ke kamarnya untuk membersihkan diri. Adila menyambangi gudang untuk melihat pekerjaan yang sedang dilakukan Yosep, sambil menunggu Yosep membersihkan diri.
10 menit kemudian Yosep selesai membersihkan diri, dan memakai kaos andalannya serta sandal jepit. "Maaf nona Adila jika menunggu lama. Saya lupa jika pagi ini ada janji dengan nona," ucap Yosep tersenyum ramah.
"Tidak apa-apa bro dokter, ayo mari!" seru Adila lalu menuju mobil Lotus Exige miliknya diikuti Yosep di belakang Adila.
___
___
___
"Lakukan tindakan apapun dok, asal istriku bisa sembuh. Berapapun biayanya aku pasti akan membayarnya, dok," balas Vlad dengan raut muka mengiba.
"Tidak perlu ayah!" Adila berteriak dari pintu utama. "Aku sudah membawakan dokter hebat, bisa menyembuhkan kanker tanpa operasi."
"Hahahahaha, sungguh konyol nona!" Dokter Brad tertawa dengan tatapan sinis. "Nyonya Alia kanker ususnya masuk stadium akhir dan harus segera di angkat. Jika tidak nyawanya akan bahaya, hahahaha. Aku ini dokter Ahli kanker sudah biasa menangangi berbagai macam penyakit kanker, operasi adalah cara pencegahan terbaik, supaya sel kankernya tidak menyebar."
"Maaf tuan dokter, diagnosaku nyonya Alia bukan menderita kanker usus, tapi ada yang meracuninya dengan racun kalajengking emas. Bukankah begitu tuan dokter?" Yosep menyunggingkan senyumnya.
"Omong kosong, kau ini bukan dokter, mana tahu diagnosa penyakit kanker usus nyonya Alia." Dokter Brad berkeringat dingin.
__ADS_1
"Adila, bawa teman sampahmu itu keluar, dia selalu membawa kesialan pada keluarga kita. Cepat bawa dia pergi! Ayah muak melihatnya!" Vlad menyeringai geram dengan mengibaskan tangannya mengusir Yosep.
"Tunggu tuan! Nyonya Alia hanya bisa bertahan 30 menit lagi. Jika tidak segera ditangani nyonya akan tewas. Atas nama kemanusiaan, saya dokter super Yosep dari rumah sakit Budi Asih Technology bersumpah, jika gagal mengobati nyonya Alia, saya akan berhenti menjadi dokter," sela Yosep lalu berlari menarik tangan Adila.
Yosep sudah mengamati nyonya Alia sejak pertama kali menginjakan kakinya di halaman mansion Arrabela menggunakan reinka aksa. "Aaakh!" pekik Alia memegangi lehernya, reaksi racunnya semakin cepat dari perkiraab Yosep. "To-tolongkh!"
"Bunda! Bunda! Bertahanlah!" Adila masuk ke kamar Alia lalu memegangi tangan Alia. "Aku sudah membawakan dokter yang hebat untuk bunda, bertahanlah!"
Yosep segera membaringkan lurus tubuh Alia, "Terpaksa aku harus menggunakan jurus ini, jurus totok jari api tingkat tiga belas!" telunjuk kanan Yosep diselimuti api hijau berkobar-kobar lalu menotok bagian perut dan dada dengan sangat cepat.
Tsuk!
Tsuk!
Tsuk!
Dokter Brad dan Vlad berlari ke kamar Alia mau menghentikan pengobatan Yosep, namun ditahan oleh Adila. "Jangan mengganggu! lebih ayah dan dokter gadungan ini pergi!" teriak Adila.
"Sial, jika begini rencanaku bisa gagal membalaskan dendamku pada Alia. Padahal tinggal satu langkah lagi, Alia yang aku sayangi sekaligus aku benci mati," batin Dokter Brad.
"Adila minggir, biar ayah hentikan pengobatan ini. Jika dia yang mengobati ibumu bisa mati, biarkan ayah masuk dan cukup ayah saja yang merawat ibumu!" balas Vlad berteriak juga.
__ADS_1