
Tok!
Tok!
Tok!
Myke mengetuk pintu, lalu masuk kamar Vera, "Kak, tuan Yosep sudah datang. Beliau mau memeriksa kakak," jelas Myke. "Silahkan tuan Yosep!"
"Maaf nyonya Vera!" Yosep masuk lalu memegang denyut nadi Vera. "Maaf nyonya Vera, sepertinya anda terkena kanker paru-paru stadium akhir."
Jdar!"
Seperti mendengar suara petir menyambar, Vera terhenyak, menjatuhkan rahangnya, dan membulatkan mata. "A-aku ter-terkena kanker paru-paru?" ucap Vera terbata-bata. "Berapa lama lagi hidupku dok?"
Vera masih ingin hidup menjalani kehidupannya, ditambah ia masih punya banyak hutang yang belum dilunasi dan besaran hutangnya mencapai 300.000 euro pada tuan Van Amblas sang mafia dan rentenir di kota Amsterdam. Myke tidak mengetahui perihal Vera mempunyai hutang sebesar itu, walaupun tahun Myke tidak akan bisa membayar hutang senilai 300.000 euro plus bunganya 100.000 euro totalnya 100.000 euro.
"Tenang saja nyonya, saya pasti bisa menyembuhkannya," jawab Yosep tersenyum ramah, telapak tangannya mengalirkan hawa murni pada tubuh Vers untuk menetralisir sel kanker ganas pada paru-paru Vera. "Jurus jari petir tingkat tiga belas!"
Tsuk!
Tsuk!
Yosep menotok bagian dada Vera dengan sangat cepat total ada seratus tiga belas totokan. "Ajian kusuma jiwa!" energi haws murni berwarna biru mulai menjalar ke seluruh bagian tubuh Vera. Energi hawa murni berwarna biru itu mulai menghancurkan sel-sel kanker yang betqda di dalam paru-paru Vera.
"Guhak!" Vera memuntahkan darah berwarna hitam pekat. Wajah meringis kesakitan, lama-kelamaan berteriak keras, "Aaaargh! Aaaargh! Aaaargh! Sakit sekali dok! Sakit!"
"Tahan sedikit lagi nyonya Vera, tahanlah!" Yosep mencoba menenangkan Vera, Myke memegang tangan kanannya dan Argadhafa memegang tangan kir Vera yang terus berontak. Alice sendiri sedang main boneka di ruang utama sambil melihat televisi.
"Guhak!" Vera beberapa kali memuntahkan darah hitam pekat lagi. Wajahnya yang pucat pasi mulai segar kembali, sel-sel di dalam tubuhnya meregenerasi dengan sangat cepay menyembuhkan organ vitalnya. Sel-sel kanker di bagian dada sudah lenyap, nafasnya mulai tenang, matanya terpejam perlahan karena kelelahan lalu tertidur pulas.
Myke menyeka darah di bagian dagu Vera lalu menyelimutinya. "Tuan Myke berikan 3 butir pil ini setelah nyonya Vera sadar, saya akan keluar sebentar!" Yosep memberikan 3 butir pil Kintamani pada Myke lalu pergi keluar kamar Vera. "Argadhafa, kamu diam saja di rumah, ini uang untukmu. Jika ingin keluar jangan lama-lama, kamu harus menjaga nyonya Vera selama saya pergi bersama tuan Myke!"
__ADS_1
Yosep memberikan uang 10.000 euro pada Argadhafa, "Terima kasih big bos. Aku akan meenjaga nyonya Vera! Siap big bos!" ucap Argadhafa bersikap hormat tentara.
"Sial! Gara-gara sistem gendeng, saya harus mencari modal untuk membuat food truck. Tapi saya harus mencari kemana? Untuk mendapatkan uang, benar-benar tak ada modal sedikitpun untuk saya bisa mencari modal. Apa saya harus mengamen?" batin Yosep.
[Majikan Barjo mendengarnya, potong batas waktu satu hari karena menghina sistem]
Yosep menghela nafas panjang mendengar Barjo sang sistem kampret, dengan wajah bermuram durja Yosep keluar dari rumah Vera, dan mulai berjalan perlahan menyusuri jalanan kota Amsterdam.
Yosep melihat sekeliling jalanan banyak mobil berlalu lalang di jalan, untuk mencari tempat strategis untuk mengamen. "Sang kaisar rich harus turun pangkat jadi pengamen jalanan, apa kata dunia?" gumam Yosep dan berdiri dekat air mancur dimana para pemuda-pemudi warga Amsterdam sedang bersantai ria.
Karena Yosep tidak sedang di Indonesia ia akan menyanyikan lagu You raise me up dari Josh Groban, kalau di Indonesia paling Yosep akan menyanyikan lagu dangdut. Yosep membuka bajunya sebagai alas untuk tempat uang dan menaruhnya di depannya, lalu memejamkan mata lalu mulai bernyanyi dengan penuh penghayatan.
When I am down and, oh my soul, so weary
When troubles come and my heart burdened be
Then, I am still and wait here in the silence
Until You come and sit awhile with me.
You raise me up, so I can stand on mountains
You raise me up, to walk on stormy seas
I am strong, when I am on your shoulders
You raise me up, so I can stand on mountains
You raise me up, to walk on stormy seas
I am strong, when I am on your shoulders
__ADS_1
You raise me up, so I can stand on mountains
You raise me up, to walk on stormy seas
I am strong, when I am on your shoulders
You raise me up, so I can stand on mountains
You raise me up, to walk on stormy seas
I am strong, when I am on your shoulders
Di awal-awal bait lagu, tak ada satupun orang yang ingin melihat Yosep bernyanyi dengan pakaian seperti gelandangan. Lama-kelamaan para pemuda-pemudi mengerumuni dan menyaksikan pentas panggung suara emas Yosep yang alakadarnya itu.
Prok!
Prok!
Ada lebih 24 laki-laki dan 26 perempuan yang menonton konser dadakan Yosep, lalu melempar uang masing-masing 5 euro. Dari mengamen ini Yosep mendapatkan uang 250 euro, "Hai bro!" panggil Alida pada Yosep yang sedang membereskan uang hasil mengamennya. "Boleh aku berkenalan denganmu?"
"Boleh, nama saya Yosep dari Indonesia. Saya harus berjuang hidup disini," Yosep menyimpan uangnya di saku kanannya lalu menjabat tangan Alida. "Senang berkenalan dengan ...."
"Alida, namaku Alida Arabella. Senang berkenalan denganmu juga bro Yosep, aku mau menawarimu menyanyi di kafe ku, mau? Gajinya cukup lumayan 1000 euro, bagaimana?" pinta Alida.
"Baiklah, saya mau karena saya juga butuh uang untuk membeli food truck dan mengurus perizinan untuk berjualan makanan di Amsterdam," jawab Yosep.
"Sungguh? Kamu bisa memasak juga? Benar-benar lelaki sejati," puji Alida tulus. "Tapi aku harus merubah penampilanmu sebelum tampil, tidak apa-apa kan?"
Yosep mengelus dagunya, memikirkan cara lain lagi untuk mendapatkan uang selain bernyanyi di kafe, agar ia bisa mendapatkan banyak uang untuk membeli food truck senilai 50.000 sampai dengan 150.000 euro.
"Baiklah, tapi aku meminta 2.000 euro, bagaimana?" tanya Yosep yang menaik-turunkan alisnya.
__ADS_1
"Baik, aku akan memberimu 5000 euro, asal kamu bisa membuat tuan Van Amblas puas terhadap pertunjukanmu," jawab Adila menatap dengan sorot mata yang tajam pada Yosep.