
Ziva terdiam sejenak lalu berkata. "Mas! Ziva mengerti dengan perasaan mas Yosep saat ini. Ziva juga tidak memaksakan jika mas Yosep tidak ingin menikahi Ziva, semua ini juga nadzarnya papah, Ziva hanya menuruti papah saja. Sejujurnya Ziva juga menyukai mas Yosep pada pandangan pertama."
"Sungguh? tapi saya ini miskin Ziva, saya tak pantas untuk Ziva yang orang kaya." Sangkal Yosep.
"Ya mas, Ziva tak memandang manusia dari apa yang dilihat mata, karena mata ini penuh kepalsuan. Tapi Ziva memandang dengan mata hati yang penuh kebenaran." Kata Ziva dengan tatapan mata serius.
"Baiklah! biar waktu yang menjawab tentang jodoh di antara kita. Untuk sementara prioritas saya adalah kebahagiaan ibu, belum memikirkan pernikahan. Karena pernikahan itu hal yang sakral tidak hanya dilakukan sekali tapi sampai maut memisahkan kita. Saya harap Ziva mengerti dengan keputusan yang saya ambil dan setelah ini saya harap Ziva masih bisa berteman dengan saya." Kata Yosep sambil memegang tangan Ziva dengan tatapan mata yang serius.
"Tentu mas!" Kata Ziva sambil menganggukan kepala.
Ziva dan Yosep lalu menuju ruangan Setyo. Namun Setyo tidak ada karena sedang rapat di ruangan meeting bersama direktur Wijaya shield yang bernama Angga. Semenjak dahulu Angga diam-diam menyukai Ziva dan tak pernah mengatakan perasaannya pada Ziva.
Ketika Ziva di rawat dirumah sakit Angga selalu mencuri waktu untuk menemui Ziva. walau tak pernah menunjukan batang hidungnya di depan Ziva hanya melihat dari luar pembatas kaca kamar VVIP 1A tempat dimana Ziva dirawat.
Ziva memasuki ruangan meeting, wajah Angga berseri-seri dan menatap Ziva dengan tatapan penuh cinta. Ziva mendekati Setyo dan membisikan hal penting bahwa Yosep sudah berada di kantor dan sudah menunggu di ruangan Setyo. Dengan muka riang Setyo segera beranjak dari tempat duduknya dan pergi tanpa sepatah katapun, kepada semua orang yang berada di rung meeting dengan Ziva mengikutinya dari belakang.
"Pak Setyo kenapa tiba-tiba meninggalkan ruang meeting tidak seperti biasanya." Ucap Marni sekretaris di kantor pusat Wijaya group dengan raut wajah penuh kebingungan.
"Ya, tidak seperti biasanya padahal ini meeting yang sangat penting. Kamu tahu kenapa Marni?" Tanya Angga dengan raut wajah sedikit kesal.
"Kamu Angga saya juga tidak tahu malah balik tanya. Dasar jomblo memang labil." Ejek Marni.
"Sialan kau Marni! apa hubungannya kejomblowanku dengan masalah ini! sesama jomblo jangan saling mencaci apalagi menghina, hmmm!" Bentak Angga lalu mendengus kesal.
"Dasar kalian berdua selalu saja bertengkar memperdebatkan hal yang tidak jelas. Kalian ini orang kepercayaan tuan Setyo masa tidak tahu, kalau tuan Setyo mau menjodohkan nona Ziva dengan dokter yang telah menyembuhkan kanker stadium 3 yang di derita nona Ziva. Kalian berdua benar-benar payah!" Ucap Sarkali salah satu direktur di cabang perusahaan Wijaya group bernama PT.Pertamini.
__ADS_1
Muka Angga langsung memerah menahan amarah dan membatin. "Aku akan memberinya pelajaran, Ziva itu miliku dan taka ada satu pun orang yang bisa memilikinya."
Sementara itu di ruangan Setyo Yosep sedang duduk di sofa dan melihat-lihat bebagai lukisan dan guci yang terpampang di ruangan Setyo. "Guci itu dan beberapa lukisan itu memang asli dilihat dari detailnya yang sangat rumit. Tapi ada juga yang palsu, lalu kenapa tuan Setyo membelinya?" Pikir Yosep sambil mengelus dagunya, Yosep hanya berpikir kalau orang kaya seperti Setyo bisa membeli barang palsu dengan sengaja atau ditipu oleh kolektor barang antik.
Setyo dan Ziva masuk ruangan, "Dokter Yosep sudah lama menunggu ya. Saya minta maaf jika membuat dokter Yosep lama menunggu." Kata Setyo dengan nada sungkan.
Yosep berdiri untuk berjabat tangan dengan Setyo. "Tidak tuan Setyo, saya baru saja sampai."
"Mari dok silahkan duduk!" Seru Setyo. "Ziva tolong buatkan minuman untuk dokter Yosep!"
"Baik pah!" Ziva segera pergi ke belakang ruangan Setyo, karena di dalam ruangannya sudah seperti rumah ada tempat tidur dan dapur juga.
"Bagaimana penawaran saya dok?" Tanya Setyo terus terang tanpa basa-basi pada Yosep dengan senyum ramah.
"Saya meminta maaf pada tuan Setyo, saya sudah mendiskusikan semuanya pada Ziva. Bahwa saya menolak untuk menikahi Ziva untuk sekarang ini. Saya lagi fokus mengelola restoran dan tanah pertanian, prioritas saya saat ini adalah kebahagiaan ibu saya, tuan. Saya ini orang miskin tak pantas bersanding dengan Zahra." Jawab Yosep dengan nada sopan agar tak menyinggung Setyo.
Hati Yosep dipenuhi kebimbangan lagi, karena perubahan hidupnya yang begitu tajam naik dari orang miskin menjadi kepala dokter, kini di amanati perusahaan terkemuka di jawa barat yang bergerak dibidang keamanan yaitu Wijaya Shield. "Saya ini dokter tuan, saya tidak bisa membagi waktu saat ini." Tolak Yosep.
"Tenang saja, masalah kepengurusan Wijaya Shield nanti biar Angga saja yang mengurusnya. Dokter Yosep cukup menandatangani dokumen ini dan sesekali meninjau Wijaya Shield, masalah waktu terserah dokter Yosep kapan saja. Saya juga memberikan 60% saham Wijaya Group buat dokter Yosep."
"Untuk pernikahan tidak harus sekarang, bisa saling mengenal dahulu. Jika kalian sudah siap ya tinggal menikah, kan mudah tak usah dibikin pusing, selow saja, hehehehe." Kata Setyo lalu terkekeh.
Ziva yang mendengarkan di ruangan belakang tersipu malu mendengar rayuan gombal Ayahnya untuk membujuk Yosep agar mau menikahinya tanpa membebani Yosep saat ini. "Baiklah saya menerimanya tanggung jawab ini namun tuan Setyo harap mengerti dengan pernikahanku dan Ziva. Biarlah waktu yang menjawabnya." Kata Yosep lalu menandatangani dokumen pemindahan aset untuk Yosep.
"Papah memang jago bukan hanya melobi klien dan koleganya. Mas Yosep yang punya pendirian bagai batu karang saja mudah di runtuhkannya. Misalnya mas Yosep menikahi Zahra dan Rany juga aku rela asal bisa bersama mas Yosep selamanya. Batin Zahra sambil mengaduk-aduk kopi untuk Setyo dan Yosep.
__ADS_1
"Nanti malam datang kerumah papah ya nak Yosep, sekarang nak Yosep sudah jadi bagian dari keluarga Wijaya. Sore nanti kan keluarga kami mau mengadakan syukuran atas sembuhnya Ziva, jadi tolong datang ya!" Pinta Setyo.
"Baik tuan, insyaa Allah!" Jawab Yosep.
"Jangan tuan panggil papah atau ayah oke!" Kata Setyo dengan tersenyum ramah.
"Ya ayah!"
[Telolet]
[Selamat majikan mendapatkan hadiah dari misi tersembunyi : mendapatkan saham pertama dan perusahaan pertama.
Hadiah : kotak platinum.
Hadiah kotak platinum sudah ditransfer ke inventory majikan]
"Hadiah kotak platinum? Inventory? Barjo apakah inventory bagian dari menu di system?" Tanya Yosep dalam batinnya.
[Ya majikan itu adalah bagian dari menu system. Untuk membukanya cukup katakan open inventory maka jendela inventory akan muncul]
"Lalu kotak platinum itu apa?"
[Setiap majikan berhasil menyelesaikan misi baik misi utama atau tersembunyi. Majikan bisa mendapatkan hadiah kotak secara acak. Kotak hadiah dibagi atas kotak bronze, kotak silver, kotak gold, kotak diamond dan kotak platinum. Semakin tinggi kotak yang di dapat semakin menarik juga isi hadiah dalam kotaknya]
[Apakah majikan mau membuka kotak platinum sekarang]
__ADS_1
"Nanti saja jo! waktunya kurang tepat."
[Baik majikan. Selamat menghabiskan uang majikan]