
"Tidak apa-apa ayah. Kita tetap menikah tapi biasa saja dan jangan merepotkan Yos lagi, kasihan dia." Dawi melepas pelukan Albert dan menyeka air mata Albert. "Roda akan terus berputar dan tak mungkin kita tetap di atas atau di bawah."
"Tapi siapa orang yang telah berhasil menemukan Ochobot City? Tunggu!" Albert membulatkan mata, mengingat sesuatu. "Apakah Dokter Yadna? Tidak mungkin?!"
"Kenapa ayah? Ada apa? Apa ada sesuatu hal yang penting?" tanya Dawi dengan raut muka khawatir melihat Albert.
[Pesawat sebentar lagi akan melandas di bandara Kertajati, Majalengka. Mohon kencangkan sabuk pengaman, jangan kencangkan tiang tegak anda]
Raiden dan Kokoci sudah menunggu di bandara Kertajati menyiapkan mobil mewah untuk menjemput Albert dan Dawi.
Setelah hancurnya Ochobot City, Aset Yosep hanya Yoo and Ra Grup senilai 2000 triliun dan masih terus bertambah. Kedudukannya masih tetap menjadi orang terkaya nomor satu di Indonesia tapi merosot langsung ke orang terkaya nomor 101 di dunia.
Albert dan Dawi beserta pilot, keluar dari pesawat. Ketika Albert baru melangkahkan kakinya masuk ke dalam bandara, pesawat jet OT meledak hebat.
Boom!
Duar!
Untung saja tidak ada pesawat lain yang berada di sekitar pesawat jet OT. "Bedebah, ternyata pesawat OT juga dipasangi bom waktu?!" teriak Raiden yang sudah mendapat pesan suara dari Komandan Miramen. "Aku harus menuntut balas, haaaaa!"
"Sabar bro!" Kokoci memijat bahu Raiden. "Kita susun rencana dahulu dan menyelidiki dalangnya siapa? Kita harus membawa ayah dan ibu pergi dari sini!"
Albert dan Dawi yang panik berlari, semua orang juga panik berlarian setelah pesawat OT meledak, pilot pesawat OT bernama Satoru juga ikut berlari sambil mengamankan Albert dan Dawi, menuju Raiden.
"Hahaha, mampus kau Albert kali ini Yosep sudah tak ada lagi yang membantu, Ochobot City hancur. Jalan kebangkitanku ke dunia akan mulus, semulus paha tukang ngobor kodok, hahahaha." Dokter Yadna yang dirasuki oleh Bayanaka tertawa jahat melihat monitor di depannya.
___
___
___
__ADS_1
Albert, Dawi, Kokoci, dan Raiden bersama Satoru, sampai di rumah sakit Budi Asih Technology. Kenshin dan Sazaki juga baru tiba, mereka berdua juga sudah mendengar jika semua markas Ochobot City di dunia hancur dan dihancurkan oleh pasukan mereka sendiri yang dikendalikan oleh Bionex. "Bro Kenshin, bagaimana kondisi Una dan Rany sekarang? Dan nak Yosep dimana?" tanya Albert dengan raut muka khawatir.
Rany juga tidak memberitahukan tentang perihal Ryuna dan Yosep yang koma. Rany hanya tak ingin membuat mereka khawatir, padahal kondisi dirinya sendiri pun mengkhawatirkan.
"Nak Yosep sedang berada di ruangan bersalin, tak ada satu pun dokter atau suster yang mampu mendekati Rany dan Ryuna. Jika mereka menyentuh Rany atau Ryuna, energi mereka akan langsung terhisap dan membuat mereka lemas tak berdaya," jawab Jayus.
"Apa tidak ada cara lain, bro Jayus?" tanya Kenshin yang sangat mengkhawatirkan Rany, Ryuna dan Yosep di dalam ruang bersalin.
"Tidak ada, aku malah sangat mengkhawatirkan nak Yosep. Dia baru saja sadar dari komanya, sudah satu bulan ia koma, setelah sadar malah terjadi hal seperti ini." Jayus memijat keningnya memikirkan apa yang akan terjadi, pemikiran buruknya Yosep, Rany dan Ryuna akan meninggal tapi bayinya selamat.
"Koma satu bulan?! Tapi kenapa tidak ada yang memberi kabar padaku?!" Dawi membulatkan mata, raut muka merah padam. "Chris jawab!"
"Maaf nyonya besar, ini permintaan nona Rany. Nona tidak mau merepotkan nyonya dan tuan besar yang akan menikah, jadi kami tidak diperbolehkan memberitahu pada nyonya dan tuan besar. Maafkan aku juga tuan besar Kenshin!" Chris membungkuk hormat pada Dawi dan Albert, lalu Kenshin dengan raut muka sedih.
Di dalam ruang bersalin, Yosep terus menelan pil nawadewanata,dan mencoba menarik bayi Akira dan Agito dengan ajian serat chakra manggilingan. Urat otot di perut Rany dan Ryuna perlahan menghilang, tapi Rany dan Ryuna berteriak semakin keras. "Aaaargh! Sakit mas, sakit! Cepat keluarkan bayi ini mas!"
"Belum sayang, belum saatnya! Deityas Aksa!" pupil mata Yosep berubah menjadi pupil riak air berwarna hitam legam. "Bedebah, kau ingin mengambil energi dari anak-anaku hah!"
Bayanaka melesat cepat keluar ruangan bersalin sambil membawa batu mustika berwarna putih dan hitam.
Brak!
Yosep berlari keluar ruangan bersalin lalu berhenti sebentar, "Ayah Jayus tolong bawa Rany dan Ryuna ke pulau Komodo! Kita akan melahirkan disana, saya harus mengejar iblis yang memenjarakan anaku!" teriak Yosep lalu melesat secepat kilat hingga tubuhnya hilang dari pandangan.
Shua!
Jayus langsung menelepon Anto untuk menyiapkan helikopter karena sekarang Anto adalah tangan kanan Jayus. Semua orang panik termasuk tim throne army, "Chris, Jin, Kardawi, Steve, dan Satrio bawa nona Rany dan nona Ryuna ke rooftop rumah sakit!" titah Albert.
"Siap tuan besar!" kata mereka berlima serentak.
Sepuluh helikopter datang dan landing satu persatu, helikopter pertama membawa Rany, Ryuna, dan tim dokter persalinan mereka berdua.
__ADS_1
Zahra dan Ziva yang mendapat kabar dari Devi bahwa Ryuna dan Rany akan melahirkan segera ke rumah sakit, namun mereka tak berhasil menemui mereka berdua karena sudah dipindahkan ke pulau Komodo.
"Hai! Kau datang sis?" tanya Zahra.
"I-iya, aku mendapat kabar dari Devi, hanya ingin menyemangati. Tapi mereka sudah dibawa ke pulau Komodo kata Sylvia yang baru saja berpapasan denganku di lobi resepsionis," jawab Ziva.
"Sayang sekali ya, kita malah berbuat kesalahan fatal. Jika saja terutama diriku sendiri tidak melakukannya dan mengajakmu, mungkin kita akan melahirkan berempat bersama," kenang Zahra tak sadar cairan bening di sudut kelopak matanya mengalir.
"Sudahlah, nasi sudah menjadi bubur, bubur sudah dimakan dan menjadi tahi, semuanya sudah terlambat sister. Lebih baik kita jalani hidup ini dan terus melangkah ke depan," balas Ziva mengelus lembut pundak Zahra.
___
___
___
Bayanaka sedang terbang cepat tujuannya adalah kutub selatan, ia merasakan makam nawadewanata ada di sana sambil membawa kedua jiwa bayi Yosep, Akira Pratama dan Agito Himura yang sudah diekstraksi menjadi batu mustika hitam serta putih.
Yosep mengejar di belakang menembakan bola-bola energi dari kedua tangannya, "Kemari kau bedebah! Jangan lari, rasakan ini!"
Swing!
Swing!
Duar!
Bayanaka dengan lincah menghindari bola-bola energi itu dan meledak di udara. "Coba saja kau kejar, kalau bisa bodoh! Hahahaha!" Bayanaka tertawa jahat meledek Yosep, "Gelombang kegelapan!"
Swush!
Bayanaka melepaskan bola gelombang kejut dari dalam tubuhnya semakin lama semakin membesar dan menghempaskan Yosep. "Rasakan itu, sebentar lagi kau akan masuk perangkapku," gumam Bayanaka menyeringai licik.
__ADS_1