
Prok!
Prok!
Prok!
Yosep bertepuk tangan, "Sungguh hebat!Sungguh hebat, berani berulah di wilayah kekuasaanku! Sekarang semua di wilayah Sorento adalah milikku, jika kalian keberatan. Ayo lawan maju, kita buktikan siapa yang kuat dan siapa yang sampah. Kita selesaikan di luar!" tegas Yosep.
Yosep keluar restoran Sambalado, Frederico dan 29 anak buahnya sudah siap menunggu Yosep di luar. "Oh rupanya mau main keroyokan, baik saya hadapi. Tapi saya tidak mau melawan orang yang tidak punya tiang tegak beraninya keroyokan, kampret!" ejek Yosep menatap sinis Frederico.
Tsuk!
Tsuk!
Tsuk!
Tubuh Yosep hilang dari pandangan dan menotok 29 anak buah Frederico dengan jurus jari bumi tingkat satu untuk membuat mereka tidak bergerak. "Apa yang kau lakukan sialan, terhadap anak buahku?" Frederico menyeringai kesal dan mencabut pisau belati dari pinggangnya.
"Mafia sampah!" Yosep diam saja badannya ditusuk belati oleh Frederico, karena sudah menggunakan ajian serat wadag brajawesi.
Klang!
Klang!
Klang!
Frederico menusuk-nusuk perut Yosep sekuat tenaga. Ujung belati itu pun tak mampu menusuk perut Yosep, hanya menyisakan nafas Frederico yang terengah-engah, seperti menusuk dinding baja yang tebal. "Huff ... huf ... huff ... sial, perut macam apa ini?" ucap Frederico menyeringai kesal dan duduk bersimpuh di hadapan Yosep.
Dua puluh sembilan anak buah Frederico, juga bukan hanya dibuat mematung tapi mulut mereka terkunci dan kata tiada lagi. Yosep menangkap Belati Frederico dan meremasnya menjadi bola besi kecil, "Sudah lelah? Sekarang pergi atau saya patahkan semua tiang tegak kalian!" teriak Yosep.
Frederico tak menggubris peringatan Yosep, malah mengambil pistol magnum yang terselip di pinggangnya.
__ADS_1
Dor!
Klang!
Pistol itu di arahkan ke kepala Yosep, namun tak dapat menembus kepalanya yang sekeras baja. Frederico badannya mulai gemetar, raut mukanya pucat pasi dan keringat dingin mengucur di tengkuknya, setelah ia menusuk Yosep serta menembaknya namun tidak mempan.
Krak!
Yosep memegang tangan kanan Frederico, dan meremasnya kuat-huat hingg remuk, pistolnya Frederico jatuhkan dan memekik keras, "Aaaaakh! Aaaakh! Ampun tuan, ampun! Lepaskan!"
Yosep melepaskan genggaman tangannya pada tangan Frederico, Kepala Frederico menoleh ke kanan dan kiri dengan raut muka meringis kesakitan, lalu berlari secepat mungkin. "Dasar iblis, aku akan menutup balas, lihat saja nanti," batin Frederico.
"Sekarang giliran kalian, para preman kampret mania!" Yosep menatap dua puluh sembilan anak buah Frederico dengan menyeringai jahat. Yosep menotok bagian ginjal dan lambung untuk menghukum mereka satu persatu dengan sangat cepat, "Rasakan ini, hukuman dariku!"
Preet!
Preet!
Preet!
Yosep tertawa terbahak lalu masuk lagi ke dalam restoran untuk menjemput Del Piero. "Terima kasih tuan, sudah menolong kami," ucap Veduchi membungkuk hormat.
"Tidak perlu sungkan. Jika ada masalah lagi katakan saja, biar saya habisi mereka sekalian.
Polisi tiba di tempat, menatap jijik semua anak buah Frederico, celana mereka basah dan bau kotoran manusia. Semuanya pingsan dalam keadaan berdiri mematung karena dehidrasi. Puluhan ambulan tiba, untuk membawa dua puluh sembilan anak buah Frederico.
"Benar-benar meyebalkan! Siapa yang berani mengacau di wilayahku?!" teriak Baloteli, kepala polisi Sorento, dia merupakan polisi korup yang selalu di suap Mastuchi untuk melancarkan bisnis penjualan minuman keras dan narkoba di wilayah Sorento.
Yosep menggendong Del Piero menuju rumah Del Piero di gubuk reot kecil di atas batu karang. "Itu om kuat rumahnya," tunjuk Del Piero. "Terima kasih sudah menyelamatkan Del Piero, om kuat."
"Sudah tak perlu sungkan begitu, apa kamu tinggal bersama orang tua dirumahmu? Ibu atau ayah?" tanya Yosep.
__ADS_1
"Del Piero tinggal sendirian om kuat," jawab Del Piero polos.
"Kasihan juga, anak sekecil ini berjibaku menahan kerasnya hidup. Saya akan bawa saja dia ke Indonesia biar dia sekolah disana, tapi setelah saya berhasil mendapatkan artefak itu," batin Yosep.
"Tenang, mulai sekarang om kuat akan mdlindungi Del Piero, ok. Jadi kamu jangan takut lagi, kalau ada yang mengganggu Del Piero lagi, bilang sama om kuat," ucap Yosep mengelus lembut rambut Del Piero.
"Terima kasih om kuat." Del Piero memeluj Yosep sembari menitika cairan bening di sudut kelopak matanya. "Hiks ... hiks ... hiks ... Del Piero sekarang sudah tak takut lagi hiks ... hiks ... hiks ...."
"Sudah jangan menangis lagi. Jadi laki-laki itu harus kuat, sekuat tiang tegak milikmu, jadi laki-laki itu gak boleh cengeng, karena kamu akan jadi pemimpin untuk istrimu kelak," Yosep melepaskan pelukan Del Piero lalu berjongkok dan menyeka cairan bening di kedua pipi Del Piero. "Kamu mandi dahulu, om kuat mau membeli bahan-bahan untuk jualan bakso esok hari."
Yosep berjalan ke arah pasar di arah selatan, Yosep menggunakan ajian serat tatar bayu agar cepat sampai ke pasar. Yosep sampai di pasar, matanya berkeliling mencari toko daging, toko tepung dan toko peralatan dapur.
"Biasanya memasak tinggal masak, ini harus beli peralatannya juga mebyebalkan! Benar-benar merepotkan, mana uangnya cuma 10.000 euro, banyak sih tapi harus mutar otak lagi," batin Yosep menyeringai kesal, "mungkin saya meminjam dapur restoran Sambalado untuk membuat adonan baso dan kuahnya."
"Ayo tuan, ayo tepungnya, ayo bumu dapurnya juga dan semua kebutuhan sembako sehari-hari!" teriak Mario dengan suara serak, dia sudah berteriak menawarkan jualannya dari pagi sampai mau petang belum ada yang beli.
Yosep melihat Mario kasihan lalu menghampiri tokonya yang bernama Flour Endes. "Permisi tuan, jual tepung, kecap, saus dan bermacam bumbu lainnya?" tanya Yosep.
"Jual tuan, silahkan dilihat dahulu! Baru tuan boleh membeli, tapi toko kami menjamin semua yang dijual dengan kualitas terbaik. Jika tuan kecewa dengan produk dari toko kami, tuan bisa mengembalikannya dan akan kami ganti dua kali," jawab Mario.
"Penjual yang sangat menarik, saya suka dengan konsep cara menawarkan jualannya. Tapi kenapa sepi tokonya, seharusnya toko dengan konsep jualan seperti ini pasti snagat ramai," batin Yosep.
"Tepung tuan 500 kg, Kecap 5 krat, dan saus 10 krat, bawang putih 50 kg, bawang merah 50 kg juga. Sama tambahannya lada putih 10 kg dan lada hitam 10 kg, bisa dihantar tuan ke restoran Sambalado?" pinta Yosep.
"Bisa tuan bisa, tuan mau mengecek semua pesanannya dahulu, takut ada barang yang kami jual kurang berkualitas?" Mario menunduk hormat dan mempersilahkan Yosep untuk mengamati semua jualan Mario.
"Tidak perlu tuan, saya percaya, saya iuga lagi buru-buru. Jadi totalnya berapa tuan?" tanya Yosep.
"Totalnya 1850 euro, kami berikan diskon 150 euro, jadi tuan membayar 1700 euro saja," jawab Mario.
"Tidak perlu tuan." Yosep memberikan uang 3.000 euro. "Ini semuanya buat tuan, kembaliannya ambil saja. Jangan lupa kirim ke restoran Sambalado, jika tuan Veduchi bertanya katakan saja ini milik Yosep."
__ADS_1
"Baik tuan." Mario menganggukan kepala dengan raut wajah sumringah. "Terima kasih banyak tuan, ini uangnya sangat banyak sekali."
"Kadang kita membantu pedagang itu dengan cara memberikan harga lebih atau dengan tidak menawar barang dagangannya. Apalagi jika pedagangnya, penjual kecil yang untung hanya kecil, jika kita menawar sama saja melukai batinnya," batin Yosep.